Milla memandang gedung pencakar langit yang akan ia tinggali dengan tatapan kagum. Sungguh, ia tidak berpikir bahwa apartemen yang dikatakan akan ia tinggali akan berada di gedung semewah ini, di tempat yang sangat strategis dan juga tepat di tengah kota. Tempat ini terasa terlalu mewah dan terlalu berlebihan untuk dirinya yang sebenarnya bukan orang yang spesial. Ia juga bukan Dokter terbaik di negara ini, sehingga rasanya ia tidak begitu pantas menempati tempat ini.
“Apakah benar ini alamatnya?” tanya Milla pada Lilly yang sengaja mengantarnya untuk pindah. Jangankan menjawab pertanyaan Milla. Lilly saja masih termangu, menatap kagum kearah gedung pencakar langit itu. Dia pun masih tak menduga jika tempat yang dikatakan akan ditempati sahabatnya ini ternyata begitu mewah.
Milla segera mengecek kembali alamat yang diberikan didalam surat tersebut. Ternyata benar. Memang benar tempat ini yang dikatakan direktur rumah sakit itu padanya.
“Coba kita tanyakan dulu pada resepsionis.” Lilly menggandeng tangan Milla mendekat pada dua orang yang berada di balik bilik tepat di tengah lobi.
Lilly yang menghadap resepsionis itu. “Permisi ... apakah ini alamat dari gedung ini?” tanya Lilly seraya memberikan alamat yang tertera dalam sebuah kertas yang memang dikirimkan direktur rumah sakit melalui sebuah surel.
Resepsionis itu tersenyum. “Benar, apakah anda Ms. Milla Alexi?”
“Ini, teman saya.” Lilly menunjuk Milla yang berdiri disisinya.
Resepsionis itu kemudian memberikan sebuah amplop kecil berwarna hitam. “Ini kartu kamar anda. Setelah anda tempati anda bisa mengatur sandi apartemen anda. Mari saya antar ke kamar anda.”
Milla mengekori perempuan tersebut menaiki sebuah lift hingga sampailah mereka di lantai dua belas gedung tersebut. Setelah itu mereka berjalan kembali menuju sebuah pintuyang berada di ujung lorong. “Ini kamar anda. Jika anda memerlukan sesuatu silahkan hubungi kami. Semua nomor penting sudah tersedia di dalam didalam. Apakah ada yang ingin anda tanyakan kembali?”
Milla menggelengkan kepalanya sesaat kemudian tersenyum. “Tidak, terimakasih.”
“Baiklah kalau begitu saya pamit. Selamat beristirahat.” Ujar resepsionis tersebut kemudian beranjak pergi meninggalkan mereka.
“Apakah tugas resepsionis mengantar setiap orang ke kamarnya juga? Aku pikir tidak perlu.” Ujar Lilly sesaat sebelum akhirnya perempuan itu menganga lebar ketika melihat ruangan mewah yang tersedia didalam apartemen itu.
Ruangan apartemen itu sudah ditata dengan sangat rapih berikut barang-barang mewah serba modern. Begotu masuk ia disuguhi ruang tamu dengan dua sofa besar dan sebuah meja melingkar, dengan juntaian lampu kristal diatasnya, kemudian ketika kakinya melangkah masuk keruang tengah ia melihat kichen set disana lengkap dengan semua perabotan untuk memasak dan juga makan serta sebuah meja makan dengan empat buah kursi ditengah kichen set itu. Ruang tengah, berdindingkan kaca yang menghadap langsung pemandangan kota. Ada ruang bersantai yang menyatu dengan sebuah sofa yang menghadap kearah televisi tujuh puluh dua inchi. Sangat berbeda dengan televisinya yang berada di flatnya dulu yang hanya berukuran dua puluh satu inchi saja. Berjalan ke sudut lain ia melihat dua buah pintu yang saling bersisian, yang sudah ia pastikan dua pintu itu merupakan dua buah kamar. Ia pun membuka salah satu kamar itu begitu juga dengan Lilly.
“Wah!” seru Lilly ketika melihat isi kamar tersebut yang tak kalah mewah dan luasnya. Namun kamar yang ia buka ternyata lebih luas dari kamar yang dibuka oleh Lilly. Kamar ini bahkan memiliki walk in closet yang cukup luas, berbeda dengan kamar sebelah yang hanya menyediakan satu buah lemari besar saja.
Milla menarik nafas panjang ketika melihat kamar itu. Benar-benar sangat mewah dan sangat luas. Apalagi ranjang queen size-nya hingga memiliki kelambu layaknya tempat tidur ratu. Sungguh ... ini terlalu berlebihan untuknya. Rasanya ia tak pantas menerima ini semua. Tempat ini terlalu mewah dan terlalu luas untuk ia tinggali sendiri. Awalnya ia pikir apartemen yang dimaksud adalah apartemen biasa saja. Sungguh ia tidak menyangka apartemennya akan semewah ini. Ini sungguh diluar nalarnya. Diluar jangkauan imajinasinya.
“Andai aku bisa menginap. Pasti tidurku nyenyak sekali disini. Rasanya nyaman sekali Dokter.” Ujar Lilly yang sudah merebahkan diri diatas pembaringan.
Milla mengalihkan pandangan pada temannya itu lalu mendekatinya yang berada di kamar lain. “Menginap saja satu malam, besok baru pulang.”
Lilly menggelengkan kepalanya pelan. Seraya menatap Milla dengan tatapan penuh kekecewaan. “Aku hanya mengambil cuti satu hari. Mungkin lain kali saja.”
Milla terkekeh pelan. “Melamarlah ke tempatku bekerja, nanti kita bisa bekerja sama lagi dan kau ... boleh tinggal disini bersamaku.”
“Benarkah?”
Milla menganggukkan kepalanya pelan. “Tentu saja. kau temanku Lilly tentu saja boleh.”
“Terimakasih!” seru Lilly seraya berhambur memeluk Milla dengan sangat erat.
Sesungguhnya Milla memang masih ragu dengan tempat ini. Ia masih curiga mengapa ia bisa menempati apartemen semewah ini? Apakah semua karyawan diperlakukan sama? Ataukah semua dokter diperlakukan sama? Karena sungguh ... ia takut, jika hanya dirinyalah yang mendapatkan fasilitas ini.
***
“Untuk apa kau membeli apartemen baru Michael?” tanya Christian tepat setelah seluruh peserta rapat meninggalkan ruangan.
“Untuk Milla, dia akan bekerja mulai besok dirumah sakitku.” Jawab Michael dengan begitu santai.
“Kau benar-benar menjebaknya? Kau gila?” Desis Christian ketika mengetahui Michael membeli sebuah unit apartemen mewah yang tak jauh dari rumah sakit. “Sudah aku katakan jangan macam-macam Michael.”
“Aku tidak macam-macam Chris, aku hanya melakukan satu macam. Mengundangnya untuk bekerja di rumah sakitku.” Elak Michael seraya tersenyum lebar penuh kemenangan.
“Kau bukan mengundangnya Michael, kau menjebaknya. Jika dia tahu pemilik asli rumah sakit itu kau, dia pasti tak akan mau datang. Dia pasti tak akan pernah mau bekerja dirumah sakit itu.” Christian mendengus. “Jika kau tertarik padanya. Tidak bisakah kau melakukan dengan cara baik-baik? Atau ... pilih perempuan lain yang masih sendiri Jackson. Seperti ... perempuan yang bersamamu ke pesta itu.”
Michael memang memiliki rumah sakit yang sebelumnya di kelola langsung oleh ibu-nya yang juga merupakan seorang dokter. Namun sekarang, rumah sakit itu menjadi miliknya meskipun ia tidak menangani rumah sakit itu secara langsung.
Michael lagi-lagi mengedikkan bahunya. “Aku tidak mau perempuan lain. Lagipula aku tidak peduli. Aku tidak akan pernah peduli Milla sudah memiliki pasangan atau tidak. Karena sejak pertama kali aku melihatnya ... aku sudah yakin dia jodohku. Jodoh yang ditakdirkan Tuhan untukku.”
“Darimana kau tahu?” Christian mendesis. “Kau terlalu bekerja keras Michael, sampai kau berpikir semua hal yang ada di dunia ini harus kau dapatkan.”
Christian menghembuskan nafasnya pelan. “Kau harus tahu Michael, cinta bukan bisnis. Itu dua hal yang berbeda. Kau bisa mendapatkan bisnismu dengan cara apapun, tapi tidak dengan cinta. Kau tidak bisa memaksakan perasaan cinta.”
Michael mendongak menatap Christian yang terus menerus menceramahinya tentang cinta, “Kau pikir aku itu kau yang akan menyerah untuk orang yang kau cintai? Berdalih melihatnya bahagia meskipun bersama orang lain, sudah cukup untukmu? Sungguh naif.” Michael menyunggingkan senyumannya. “Sayangnya ... bukan kau. Bagiku ... aku harus mendapatkannya, aku harus menjadi alasannya untuk bahagia. Jika aku tidak bisa mendapatkannya, orang lain pun tidak boleh ada yang bisa mendapatkannya, apalagi memilikinya.”
“Pantas perempuan itu mengatakan kau gila. Kau memang gila Michael.” desis Christian.
Michael terkekeh pelan, kedua tangannya kemudian ia lipatkan didada. “Aku memang gila. Tapi kau harus tahu Christian, meskipun cinta bukan bisnis tapi ada satu hal yang membuat keduanya sama.” Michael menyeringai lalu menatap Christian yang menatapnya penuh selidik. “Sama-sama harus di perjuangkan agar kau dapatkan.”
Bersamaan dengan itu ponsel Michael berdering, memotong ucapan Christian yang baru saja akan menimpali ucapannya lagi. Ia menatap layar ponsel itu sesaat sebelum menjawab panggilan tersebut.
“Hallo Lilly ... bagaimana? Beres?”
“Beres Mr. Austin. Saya sudah mengantar Dokter Milla dengan selamat dan saya sekarang sedang ada dalam perjalanan pulang.”
“Good, thanks Lilly. Kau sudah bekerja dengan sangat baik selama ini.”
“Nope, Saya hanya berharap yang terbaik saja untuk teman saya. Tapi ingat janji anda Mr. Austin. Anda harus benar-benar menyelidiki Gary dan menjaga Dokter Milla dengan baik.”
Michael terkekeh pelan. ”Tanpa kau ingatkan pun aku ingat Lilly, aku memang sedang dalam proses menyelidikinya dan menjaga Milla? Tentu saja sudah menjadi tanggung jawabku. Kau tak perlu khawatir.”
“Terimakasih Mr. Austin.”
Michael menggumam. “Terimakasih juga atas kerjasamanya Lilly. Kau bekerja dengan sangat baik. Sekarang kau bisa kembali ke tempatmu. Tunggu sampai aku memintamu datang dan bekerja dengan Milla kembali.”
“Sama-sama Mr. Austin. Saya harap anda benar-benar menjaga teman saya dengan baik. Jika tidak, aku orang pertama yang akan membunuh anda.”
Michael menarik ujung bibirnya. “Aku pastikan dia akan bahagia bersamaku.”
Lilly memang menjadi jembatan antara dirinya dengan Milla yang berada jauh disana. Ia memang mengawasi Milla melalui Lilly. Namun sungguh ia bukan berniat jahat, Lilly pun mengatakan hal yang sama. Dia mengatakan, dia ingin Milla membuka matanya dan menjauh dari Gary yang selama ini sudah menipu Milla secara mentah-mentah, sayangnya Lilly belum bisa membuktikan akal bulus lelaki itu karena itulah Lilly meminta tolong padanya. Sementara Michael memang membutuhkan Lilly untuk mengawasi Milla dan melaporkan semua hal yang terjadi pada pujaan hatinya itu. Sehingga ia tahu semuanya, termasuk saat Milla rindu padanya saat itu.
Sekarang Milla sudah dekat dengannya, ia hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk semakin mendekatkan dirinya. Michael tersenyum misterius. Ia tak sabar melihat reaksi Milla ketika mengetahui fakta yang ia sembunyikan ini. Kira-kira reaksi seperti apa yang akan perempuan itu berikan padanya?