9. Perlakuan Istimewa

1580 Kata
Milla tak henti-hentinya tercengang sejak ia menginjakkan kakinya di kota ini. Pertama tentang apartemen mewah dan seluruh fasilitas mewah yang ada didalam apartemen itu. Kemudian sekarang ... dihadapannya. Sebuah mobil mewah berlogo kuda jingkrak terpampang jelas dihadapannya lengkap dengan seorang sopir yang sekarang tengah membukakan pintu untuknya. Lagi dan lagi ... sungguh ia tak habis pikir dengan semua hal yang terjadi dalam hidupnya ini. Bagaimana bisa ia mendapatkan fasilitas semewah ini? Padahal ia pikir ia hanya akan mendapatkan mobil biasa saja, atau mobil jemputan biasa saja seperti bis untuk karyawan atau apapun itu. Bukan mobil berlogo kuda jingkrak seperti ini. “Ms. Milla Alexi. Silahkan masuk.” Milla mengerjapkan matanya sesaat sebelum akhirnya memasuki kendaraan itu. Sungguh ia tak habis pikir dengan semua yang ia dapatkan ini. Ia masih tak habis pikir sedikitpun, karena baginya semua yang ia dapatkan sekarang sungguh diluar nalar. Rasanya benar-benar terlalu berlebihan.   ***   “Dokter Milla Alexi akan mulai mengunjungi rumah sakit hari ini. Apakah saya harus mengatur pertemuan anda dengannya, Mr. Austin?” tanya Roger, direktur rumah sakit sekaligus dokter pribadi Michael. “Tidak perlu, aku akan menemuinya sendiri nanti setelah keadaan terkendali. Sekarang kau temui saja dia dan perlakukan dia dengan baik. Pastikan semua yang ada dirumah sakit pun melakukan hal yang sama. Jika sampai ada yang menyakitinya, bahkan jika itu hanya sebuah gunjingan. Aku tak akan segan-segan dan tak akan pernah berpikir dua kali untuk memecat mereka, sekalipun orang itu adalah orang penting. Ingat, perlakukanlah dia dengan baik.” Jelas Michael dengan penuh tekanan dan penegasan di beberapa kalimat penting. Setelah itu Michael menatap layar laptopnya kembali. “Kembalilah bekerja, lakukan pekerjaanmu dengan baik dan jangan sampai membuatnya curiga.” Roger mengangguk sebelum akhirnya mengakhiri panggilan tersebut. Michael menghela nafas panjang dengan senyuman yang kembali tersungging. Sungguh ... ia jadi tak sabar untuk bertemu dengan perempuan itu secara langsung. Ia merindukan ocehan perempuan itu, ia rintu melihat bibir tipis itu bergerak-gerak karena tak henti mengoceh akan tingkahnya yang dikatakan perempuan itu menyebalkan. Rindu ... sungguh rindu serindu-rindunya. “Kau sungguh gila Michael. Aku tidak habis pikir dengan caramu ini. Sungguh licik.” Ujar Christian membuat Michael terkekeh pelan, lelaki itu menyandarkan punggungnya lalu menatap kearah Christian yang sedang berada diruangan lain yang hanya dibatasi lemari kaca. “Kau ini kenapa Christian? Kau seperti seseorang yang sedang dibakar cemburu saja.” Christian mendesis. “Cemburu? Aku hanya malas berurusan dengan perempuan yang sudah berurusan dengnmu. Kau ingat perempuan anak klien kita yang tertarik padamu waktu itu? Dia sampai mengancam akan membatalkan kerjasama saat kau mencampakkannya.” Michael mengedikkan bahunya. “Yang terpenting tidak ‘kan? Sudahlah Chris, kali ini aku sudah sangat yakin. Aku yakin Milla bukan perempuan yang akan melakukan hal aneh, mengancam atau sesuatu hal lain yang akan menyulitkanmu.”   Tok tok tok!   “Masuk.” Ujar Michael. Kate sekretarisnya muncul dengan sebuah map ditangan. “Dokumen yang anda minta dari departemen keuangan.” Michael mengangguk seraya menerima dokumen itu. Ketika dokumen itu terbuka ia melihat secarik kertas yang berada di bagian atas map tersebut. Keningnya berkerut ketika membaca isi kertas itu lalu memandang Kate yang masih berdiri dihadapannya dengan gugup. Michael menghembuskan nafasnya pelan. “Keluarlah.” “Mr. Austin ... .” “Aku anggap kau tak pernah memberikan kertas ini padaku. Keluarlah ... dan jangan pernah sekalipun kau melakukannya lagi.” Kate meneguk ludahnya kasar , seraya mengigit-gigit bibirnya dengan kasar. Ia menarik nafasnya panjang kemudian menunduk, setelahnya ia membungkuk berpamitan lalu beranjak meninggalkan ruangan itu. Christian yang merasa tertarik dengan adegan itu segera mendekati Michael, “Kau apakan dia?” tanya Christian tak terima. Bagaimanapun Kate perempuan yang ia sukai, ia tidak suka jika Kate mendapatkan perlakuan yang buruk dari orang lain, sekalipun itu dari Michael. Michael tak menjawab pertanyaan itu. ia justru memberikan kertas yang sebelumnya berada di dalam map itu pada Christian, membiarkan lelaki itu membacanya dengan seksama.   Mr. Austin. Maaf saya lancang. Hanya saja saya sudah tidak bisa menahannya lagi. Saya sangat menyukai anda. Ah tidak! Bukan hanya suka. Saya mencintai anda Mr. Austin. Sejak pertama kali melihat anda saya sudah terpesona, saya kagum pada anda. Sekarang saya menyadari jika perasaan ini bukan sekedar kagum. Tapi saya mencintai anda.   “Kau pasti berkata buruk padanya.” Ujar Christian. “Tidak, aku hanya memintanya keluar.” Michael mengalihkan pandangan dari dokumen ditangannya itu kemudian mendongak menatap Christian yang tampak termenung. “Kalau kau memang menyukai perempuan itu, dekati Chris, kau harus berani mengambil resiko. Entah di akan menerimamu atau tidak. Itu urusan nanti, yang paling penting kau berusaha mendapatkannya.” “Dia tidak menyukaiku.” “Hati seseorang bisa berubah dengan ketulusan hati. Aku yakin dia akan luluh Chris. Aku tau kau masih tanpa pengalaman. Kau pasti takut di tolak cinta pertamamu ini ‘kan?” Michael menjeda ucapannya kemudian mendongak. “Tapi jika kau tidak mencoba, itu adalah kebodohan yang paling besar.” Christian menatap Michael ragu. Ia tak pernah berpikir untuk mendekati pujaan hatinya dengan terang-terangan seperti yang sudah Michael katakan. Tapi semua yang sahabatnya itu katakan memang ada benarnya juga, meskipun sebenarnya ia tidak begitu yakin dengan gagasan itu. “Kau yakin?” Michael mengangguk. “Aku sangat yakin. Karena itulah yang sedang aku lakukan pada Milla. Memperjuangkannya tanpa memikirkan hasil akhir.” Ujarnya kemudian terkekeh pelan. “Meskipun sebenarnya aku akan memaksakan akhir bahagia untuk kehidupan kami.” Christian mendengus setelah mendengar penuturan Michael. Michael dan obsesi adalah perpaduan yang tidak akan pernah terpisahkan. Sebab Michael dapat berdiri dengan kokoh saat ini karena obsesinya yang besar dan tekadnya yang begitu kuat. Semua yang ia incar, semua yang ia inginkan harus ia dapatkan, begitulah ambisi yang selama ini lelaki itu pegang teguh dengan erat.   ***   Tok tok tok!   Milla mengetuk pintu ruangan direktur sebanyak tiga kali sebelum akhirnya memasuki ruangan itu setelah mendapat persetujuan. “Selamat pagi Dokter Roger Neron.” “Selamat pagi Dokter Milla Alexi. Silahkan ... .” Lelaki yang berada diruangan itu berdiri dari meja kerjanya kemudian menggiring Milla untuk duduk pada sofa yang ada ditengah ruangan. “Saya senang anda akhirnya memenuhi undangan saya untuk bergabung dirumah sakit ini. Saya pikir anda akan menolaknya karena respon yang anda berikan cukup lama.” Milla mengulas senyumannya. “Saya terkejut, tentu saja. Saya merasa sangat terkejut dengan undangan yang anda berikan Dokter. Apalagi saya belum sekompeten itu. Saya merasa tersanjung dan sekaligus bangga bisa diundang secara langsung oleh anda. Apalagi anda Dokter yang paling saya hormati.” Roger tersenyum. “Terimakasih, sayang sekali kita terlambat berkenalan ya ... padahal saya lebih dari dua kali mengisi kuliah umum ketika anda masih kuliah.” “Dokter tidak perlu sungkan Dok, jangan terlalu formal pada saya.” Milla tersenyum lagi. “Saya sudah merasa bangga dan bahagia sekali sekarang memiliki kesempatan ini. Terimakasih Dokter atas kepercayaannya.” Ya ... kemarin setelah Milla curiga dengan berbagai hal akhirnya ia bertanya mengapa ia bisa dapat rekomendasi itu. Tapi ternyata karena dirinya merupakan lulusan terbaik dan pihak rumah sakit menyayangkan dengan kemampuannya itu jika hanya di simpan begitu saja. Sehingga ia sedikit lebih percaya diri untuk datang dan menerima tawaran tersebut. Meskipun pada akhirnya ia masih merasa aneh dengan fasilitas yang ia terima. Ah! Bukankah sebaiknya ia tanyakan saja? “Dokter ... mohon maaf sebelumnya jika saya lancang.” Roger menatap Milla. “Ya?” “Saya ingin bertanya mengenai fasilitas yang anda berikan Dokter.” Roger menatap Milla. “Kenapa apakah kau keberatan? Atau ada yang kurang? Biar nanti saya tambahkan lagi.” “Tidak tidak. Tidak Dokter. Saya hanya merasa fasilitas itu terlalu mewah untuk saya.” Ucap Milla seraya tersenyum canggung. Roger terkekeh pelan, hingga membuat Milla megerutkan keningnya heran. Sungguh, ia tak merasa sedang melucu, tapi mengapa lelaki itu tertawa? “Kau merasa semua itu mewah mungkin karena telalu lama tinggal di desa Dokter Milla. Disini, fasilitas seperti itu lumrah. Semua Dokter menggunakan apartemen mewah dan mobil mewah.” Jelas Roger dengan yakin. “Benarkah?” Roger mengangguk. “Tapi jika kau merasa keberatan, kau bisa membayar semua itu dengan kerja keras dan dedikasimu pada rumah sakit ini.” Milla termenung ... benar juga. Ia bisa membalasnya dengan dedikasi dan mengerahkan semua kemampuan yang ia miliki. Mengapa harus risau? Beberapa saat kemudian Milla menyunggingkan senyumannya. “Terimakasih Dokter, terimakasih banyak atas semuanya. Saya berjanji akan bekerja dengan baik dan melakukan yang terbaik.” Roger mengangguk. “Aku senang mendengarnya, sekarang kau ingin berkeliling? Biar aku panggilkan asistenku.” Milla tersenyum juga menganggukkan kepalanya. “Saya harus mengenali tempat ini segera, terutama ruangan saya. Agar bisa bekerja dengan semakin baik.” Roger kali ini terkekeh pelan. “Tidak perlu terburu-buru Dokter Milla. Santai saja.” ujarnya kemudian beranjak mendekati telepon untuk memanggil asistennya. Milla juga terkekeh pelan, malu dengan tingkahnya sendiri. Setelah beberapa saat ia menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kembali. Sekarang hatinya benar-benar lega, ia merasa sudah sangat lega dengan penuturan yang Roger katakan. Setidaknya praduga dan rasa tak pantasnya sedikit demi sedikit menghilang dan digantikan dengan motivasi untuknya sendiri. Motivasi untuk membuktikan bahwa dirinya memang pantas. Tak lama kemudian seorang perempuan dengan pakaian layaknya perawat masuk. “Dokter Milla ini asistenku, silahkan tanyakan apapun padanya jika ada kesulitan.” Milla mengangguk kemudian segera berdiri. “Terimakasih Dokter.” “Baiklah kalau begitu. Selamat bergabung di rumah sakit ini Dokter Milla Alexi. Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik.” Ujar Roger seraya mengulurkan tangannya. Milla menjabat tangannya itu kemudian tersenyum. “Saya juga berharap demikian. Sekali lagi terimakasih Dokter Roger.” Ujar Milla sebelum akhirnya beranjak pergi ditemani oleh perawat yang ditunjuk oleh Roger untuk berkeliling melihat lebih dekat rumah sakit yang akan ditempatinya itu.   ***   Milla melangkahkan kakinya menuju pintu keluar ketika kendaraan yang pagi tadi menjemputnya sudah terparkir tepat di depan pintu. Setelah selesai berkeliling dan menyesuaikan diri dengan ruangannya, siang hari ... Milla memutuskan untuk kembali ke apartemen karena secara kebetulan hari ini ia memang berencana untuk berkunjung saja dan memang belum sampai di waktu efektifnya bekerja. Sehingga daripada melamun ia lebih baik pulang dan menikmati waktu bersantainya sementara waktu. “Selamat siang Ms. Milla Alexi.” Sapa sopir tersebut seraya membukakan pintu. Milla menganggukkan kepalanya sesaat sebelum ia menghentikan langkah kakinya tepat didepan pintu. Keningnya mengerut ketika melihat seseorang yang berada di dalam kendaraan itu. Tunggu ... Apakah ia salah mobil? Tapi tadi sopirnya benar. Milla menatap lelaki itu seksama, beberapa saat kemudian ia membulatkan mata ketika lelaki itu menurunkan kaca mata dan iPad ditangannya. “Kau!”     “Hai Dokter cantik. Senang bertemu denganmu lagi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN