10. Pertemuan

1515 Kata
“Sedang apa kau disini?!.” Milla menatap tajam pada Michael yang tersenyum seperti orang bodoh didalam mobil itu. “Jangan bilang ... kau ... .” Lelaki itu tersenyum miring dengan sebelah alis yang menaik, menggodanya. “Memangnya menurutmu apa lagi? aku hanya ... .” “Kau benar-benar membuntutiku?! Kau mengawasiku?!” seru Milla seraya menunjuk lelaki itu dengan telunjuknya. “Kau ini ... benar-benar, kau sangat tertarik padaku atau bagaimana sampai membuntutiku seperti ini? kau gila Michael.” Michael mendesis seraya keluar dari dalam kendaraan itu. “Aku memang tertarik padamu tapi aku datang karena harus melakukan check up. Bukan membuntutimu.”   Tak!   “Ah!” seru Milla seraya memegangi dahi yang tiba-tiba di sentil oleh lelaki itu. Ia kemudian melirik tajam pada Michael seraya mendesis. “Jangan mengelak, aku tahu kau memang lelaki gila yang sangat obsesif. Tanpa beralasanpun aku tahu maksudmu! Jika bukan membuntutiku, untuk apa kau ada di dalam mobil jemputanku?” Michael menghembuskan nafasnya pelan. “Hanya mengerjaimu? Lucu juga membuatmu terkejut.” Michael terkekeh pelan. “Sangat menggemaskan.” Lanjut Michael seraya terkekeh pelan. “Lihatlah wajah terkejutmu Milla, mata bulatmu, pipimu yang memerah dan bibirmu yang bergerak karena mengomel. Kau pikir tak menggemaskan dimataku?” Rahang Milla mengatup. “Kau! Kau sengaja?!” Michael mengedikkan bahunya. Tangan Milla terkepal. “Kau benar-benar Michael! Kau! Lalu darimana kau tahu mobil ini mobil jemputanku jika bukan kau membuntutiku? Mengaku saja kau membuntutiku! Jangan berbohong seperti itu! Karena aku sangat tahu kau terobsesi padaku! Kau tergila-gila padaku!” “Kau ternyata cukup percaya diri juga Milla.” Michael mendekati Milla, membuat perempuan itu terimpit pintu mobil dan tubuh tinggi Michael. “Memang ... aku memang tergila-gila padamu Milla. Bahkan aku memang akan melakukan apapun untuk mendapatkanmu, termasuk menyeretmu masuk dalam kehidupanku.” Bisik Michael seraya menyeringai. “Sekarang aku hanya beruntung bisa bertemu dengamu, aku bahkan hampir menduga kau datang ke kota ini untuk menyusulku? Kau merindukanku bukan?” “Jangan bermimpi! Jawab pertanyaanku Michael! jangan berbelit-belit!” Michael menghembuskan nafasnya pelan. “Baiklah ... kau sangat tidak sabaran sayang. Mudah saja mengetahuinya. Mobilmu ini terparkir di samping mobilku dan aku mendengar ketika kau menelpon sopirmu itu.” “Tak mungkin! Aku tak percaya!” Michael terkekeh pelan dengan tangan kiri yang mulai memegang daun pintu mobil tersebut. “Lalu ... apa yang kau harapkan Milla? Kau benar-benar berharap aku yang menjebakmu dan membuntutimu? Begitu?” Milla mengerjapkan matanya pelan, kemudian meneguk ludahnya kasar. Setelah itu ia mendorong tubuh Michael dengan cukup kencang. Membuat lelaki itu melepaskan pegangan tangannya lalu mundur. “Sudahlah! Pergi sana! Kau benar-benar mengacaukan hariku yang indah saja! pergi!” Milla mendorong tubuh Michael sebelum dirinya memasuki kendaraan itu lalu menutup pintunya dengan sangat kencang. “Jalan Sir.” Ujar Milla seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kembali. Mengatur nafasnya yang benar-benar memburu karena emosi yang meletup akibat perdebatannya dengan lelaki gila yang sialnya harus ia temui di kota yang besar ini. Jujur saja ... ya ... ia sempat mengira Michael yang menjebaknya dalam situasi yang aneh ini. Ia sempat berpikir dialah dalah dibalik semua ini. Namun setelah mendengar penjelasan Roger dan melihat tanggapan lelaki itu beberapa saat lalu. Sepertinya bukan ... Michael tidak menjebaknya. Mungkin memang benar ... lelaki itu yang beruntung bisa menemukannya. Sementara dirinya yang sial harus bertemu dengan lelaki menyebalkan seperti Michael lagi. Sungguh! Ini sangat menyebalkan! Bagaimana bisa ia hidup di sekeliling Michael lagi? Memang dia datang untuk check up. Tapi mengapa perasaannya mengatakan ia akan selalu bertemu dengan lelaki itu mulai saat ini? Mengapa ia merasa semua ucapan lelaki itu akan menjadi kenyataan? Milla mengeguk ludahnya kasar kemudian menutupkan matanya sejenak. Mencoba membuang prasangka dalam hatinya itu, meskipun tetap gagal. Ia tetap merasa jika Michael memang akan melakukan kegilaan lain padanya. Kegilaan yang bisa ia pastikan akan mengubah hidupnya.   ***   “Anda benar-benar membuat keributan di lobi Mr. Austin?” tanya Roger begitu melihat Michael yang memasuki ruangannya dengan senyuman yang mengembang, sarat akan kebahagiaan. “Sebenarnya aku tidak berniat begitu Roger. Hanya saja tanggapan Milla memang selalu berlebihan ketika bertemu denganku, jadilah terjadi sedikit keributan.” Michael terkekeh pelan seraya mendudukkan dirinya di atas sofa ruangan itu. “Aku lihat dia sangat berbeda ... .” ujar Roger seraya mendudukkan diri dihadapan Michael dan mulai berbicara dengan santai layaknya sahabat biasa. Michael mengulas senyumannya. “Memang, sangat berbeda. Sampai-sampai aku memikirkan hal lain.” Kening Roger mengerut. “Hal lain?” “Aku sudah bertekad akan menjadikannya pasanganku Roger. Bagaimanapun caranya aku akan mendapatkannya. Sekalipun dengan cara yang sangat licik.” Roger mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya ... aku sudah melihatnya. Beruntunglah aku memang pernah mengajarnya dulu dan dia juga mahasiswa terbaik. Jadi bisa kujadikan sedikit alasan dibalik kelicikanmu itu.” “Beruntung juga aku tidak melepaskan rumah sakit ini. Ternyata pada akhirnya rumah sakit ini yang akan menolongku mendapatkannya.” Roger menarik ujung bibirnya. “Benar ... kau memang tepat sekali mempertahankan rumah sakit ini Michael. Ibu-mu pasti bahagia melihat rumah sakit ini berkembang.” Rumah sakit tersebut. Anatta Hospital adalah rumah sakit yang mulai dibangun oleh orangtuanya dulu. Ibu-nya yang berjuang membesarkan rumah sakit ini. Sehingga meskipun pada akhirnya ia tidak menangani langsung rumah sakit ini, namun ia tetap pemegang saham tertinggi yang dengan mudah dapat mengambil kebijakannya sendiri termasuk memasukkan Milla untuk bekerja di tempat ini. Memang langkahnya sedikit gila, tapi ia tidak akan pernah peduli selama ia bisa mendapatkan perempuan itu. Selama ia bisa membuat perempuan itu tinggal dalam jangkauannya. Ia akan melakukan apapun. Ingat! Apapun. “Lalu apa rencanamu sekarang?” Michael menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Menatap kosong pada pemandangan di hadapannya. “Aku akan membuat Milla putus dengan kekasih tak bergunanya itu.”   ***   “Kau bertemu Michael? Bagaimana bisa Dok?” Milla mendesis dengan ponsel yang berada di telinga kanannya, sementara tangan kirinya membawa satu kantung belanjaan untuk mengisi lemari es di apartemen yang ia huni.  “Mana kutahu? Dia bilang dia akan check up. Tapi aku merasa dia lebih dari itu. Kau ‘kan tahu Lilly, bagaimana dia terobsesi padaku? Dia gila!” Milla mendengus. “Sepertinya aku harus mencari tahu sejarah rumah sakit itu. Aku jadi benar-benar curiga pada lelaki itu. Sungguh. Jika kau disini kau juga pasti akan terkejut Lilly.” Ujar Milla seraya meletakkan belanjaannya di atas meja, sebelum ia mendudukkan dirinya di atas sofa yang berada di ruang tengah. Di sebrang sana Lilly justru terkekeh pelan. “Dok setelah mengenalnya kau banyak berubah. Kau jadi lebih banyak bicara Dok. Apakah dia benar-benar membuatmu terganggu? Jangan-jangan kau menikmati pertemuan kalian? Apakah jantungmu berdebar?” “Jangan mengalihkan pembicaraan Lilly! Kau semakin mirip saja dengannya. Terus mengalihkan pembicaraan pada pembicaraan yang tak jelas.” Lilly kembali terkekeh pelan. “Maafkan aku Dok, tapi jujur saja ... aku bingung untuk menanggapi ucapanmu seperti apa. Kau bahkan sudah tahu apa yang harus kau lakukan, memang aku harus memberikan saran apa lagi?” Milla mendesis. “Alasan.” Lilly kembali tergelak. “Aku mengatakannya dengan jujur Dok. Oh ya sudah dulu Dok, aku sudah sampai di rumah sakit. Aku harus bekerja.” Milla menghembuskan nafasnya pelan. “Baiklah. Segeralah pindah kemari Lilly. Agar aku ada teman bicara lagi.” “Hm, ya ... segera. Aku akan melakukannya. Bye bye Dokter.” Milla menggumam sebagai balasan, kemudian ia mengakhiri panggilan tersebut.  Setelah itu ia mulai membuka halaman pencarian, untuk mencari informasi yang ia inginkan. Meskipun mungkin ia terkesan terlambat untuk mencaritahu, tapi tak masalah bukan? Daripada ia tidak mencaritahu sama sekali dan membuat dirinya tetap tinggal dalam ketidaktahuan. Akhirnya Milla mengetikkan beberapa huruf disana.   Anatta Hospital   Setelah itu ia menekan tombol pencarian lalu muncullah semua hal mengenai rumah sakit itu. Pencarian teratas menunjukkan letak rumah sakit tersebut beserta kontak yang bisa dihubungi. Ia kemudian menggulir layarnya, hingga menemukan sejarah mengenai rumah sakit tersebut. Tanpa sadar Milla membasahi bibirnya yang mendadak serasa mengering. Entah mengapa, ia tiba-tiba merasa gugup dengan semua yang akan ia baca itu. Karena jujur saja ... perasaannya benar-benar memburuk. Ia takut jika yang ia temukan sesuai prasangka buruknya. Ia takut ... jika rumah sakit itu benar-benar masih terkait dengan Michael. Milla menarik nafas panjang. Tidak ... tidak Milla. Tidak. Jangan terus-menerus berpikir seperti itu. pasti tak ada kaitannya dengan Michael, pasti tak ada. Percayalah pada Roger. Dia yang mengatakan kebenaran. Percayalah pada dia. Jangan berpikir Michael terlbat. Jangan. Ujar Milla dalam hatinya. Berusaha untuk tetap berpikir positif dengan semua hal yang ada dihadapannya. Milla meneguk ludahnya kasar sesaat setelah membaca paragraf pertama dari artikel tersebut. Tak lama kemudian ia terkekeh pelan, terkekeh kosong seperti orang bodoh. Ternyata dugaannya selama ini benar? Michael terlibat dalam kepindahannya ketempat ini? Michael benar-bener melakukan campur tangan? Milla memegang keningnya, mengurutnya perlahan. Sungguh ... ia tak menduga hidupnya akan benar-benar di kelilingi lelaki itu. Seharusnya ia mencaritahu ini sejak dulu. seharusnya ia mencaritahu ini sebelum ia memutuskan untuk datang. Milla mendesah pelan. apakah ia benar-benar terlihat seperti orang bodoh hingga bisa dengan mudah dipermainkan? Apakah ia benar-benar terlihat seperti itu? Milla mengurut keningnya lagi. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apakah ia harus pergi dan menghindari lelaki itu? Ataukah tetap tinggal dan berpura-pura tak tahu? Karena ... sungguh, sebenarnya ia sangat ingin tinggal. Namun jika harus bertahan dengan lelaki itu ... rasanya ... rasanya sangat berat. Entah mengapa setiap berharapan dengan lelaki itu ia merasa takut, ia merasa ada sesuatu yang sangat mengganjal dalam hatinya yang selalu berusaha menolak kehadiran lelaki itu. Mungkin karena perasaan Michael padanya terlalu berlebihan hingga ia sendiri merasa tak nyaman? Entahlah, ia benar-benar tidak mengerti. Jelasnya ... ia memang merasa tidak nyaman ketika berdekatan dengan lelaki itu. Emosinya sealu tiba-tiba tersulut tanpa alasan. Akan tetapi ... jika ia kembali ke pinggiran kota. Kapan ia bisa kembali ke kota ini? kapan ia bisa menyelidiki tentang pembunuhan kakaknya? Milla mengatupkan rahangnya menghadapi perang batin yang ia rasakan. Apakah yang harus ia lakukan sekarang? Bertahan ... ataukah pergi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN