11. Biang Masalah

1576 Kata
Meskipun terkesan tak tahu malu, Milla akhirnya memilih bertahan. Ya ... ini adalah pilihan terbaiknya. Ia merasa harus bertahan demi mendapatkan informasi mengenai kematian kakaknya. Apalagi tempatnya tinggal memang tak jauh dari tempat kejadian dimana Kakaknya di bunuh. Milla menghembuskan nafasnya pelan seraya menatap kearah bingkai keluarganya yang ia pajang di dalam kamar. Tangannya mengatup kemudian matanya terpejam, dalam hati ia memanjatkan beberapa do’a, demi dirinya dan demi keluarganya. Ayah, Ibu, Kakak ... semoga ini pilihan yang terbaik untukku. Agar aku bisa segera membalaskan dendam kematianmu Kak. Meskipun aku tahu semua yang aku rencanakan ini memang kesalahan. Namun ... aku hanya ingin membalas sakit hati yang aku dapatkan. Karena ... dengan meninggalnya dirimu. Sekarang aku hidup sendiri. Aku tak memiliki siapapun untuk aku bergantung. Jadi ... aku mohon, restui langkahku dan selalu lindungilah aku apapun yang terjadi. Setelahnya Milla menarik nafas kembali sebelum menghembuskannya beberapa saat. Kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dari apartemen itu untuk memulai harinya dengan bekerja di rumah sakit. Milla tahu harinya mungkin tak akan setenang saat bekerja di pinggir kota dulu. Hari-harinya pasti akan sangat berbeda. Namun meski begitu ia harus menghadapinya. Ia harus menghadapi semuanya dengan tekad dan pendirian yang kuat. Sekalipun Michael terus menerus menggodanya dan berusaha mendapatkan perhatiannya ia harus selalu kuat. Ia tak boleh terpesona karena ia sudah memiliki kekasih. Setelah sampai dirumah sakit ia melangkahkan kaki menuju ruangannya di deretan ruangan poli klinik. Ia segera memasuki ruangan itu kemudian menggunakan jas yang tergantung dengan sebuah id card bertuliskan namanya. Milla menarik nafas panjang lagi. Sekarang ia menyadari betapa bersiapnya Michael untuk menyambutnya datang. Mulai dari rumah, kendaraan hingga jas yang ia kenakan sekarang. Semuanya sangat pas. Seolah lelaki itu memang sengaja menyediakan pakaian itu untuknya. Seolah dia sengaja menyiapkan semua hal ini untuknya. Memang ... jika ia tanyakan mengenai hal ini pada Roger, Roger pasti akan mengelak, dia tak akan mengakui jika semua hal yang ia terima merupakan pemberian Michael. Tapi logikanya sekarang sudah tak bisa menerima alasan Roger lagi dan tak bisa lagi menepis keberadaan Michael. Ia juga tak bisa membohongi dirinya sendiri lagi dan berusaha mengelak lagi. Karena kenyataannya, sekarang Michael benar-benar ada di dekat dengannya dan berada tepat disekitarnya. Milla mendudukkan dirinya. Sekarang ia tak tahu harus berbuat seperti apa lagi. Karena ia merasa melawan Michael hanya membuahkan rasa penasaran lelaki itu saja. Mengusir lelaki itu dari dalam hidupnya ternyata membuat lelaki itu lebih dekat dengannya. Apakah ... jika ia menerima semua keadaannya dengan tenang Michael tak akan penasaran padanya lagi? Apakah bersikap biasa saja ketika ia bertemu dengan lelaki itu, akan membuatnya aman dan tidak di dekati lagi? Sungguh, ia tak tahu seperti apa jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya itu. Namun ... ia pikir, mencobanya bukankah lebih baik?   Tok tok tok!   Milla sedikit terjengit mendengar ketukan itu. Namun ia tetap berusaha bersikap biasa saja. “Masuk.” Ujar Milla. Satu detik kemudian seorang perempuan dengan pakaian seperti perawat masuk dengan membawa satu buket bunga mawar berwarna putih di dalam pelukannya, perempuan itu membungkuk sesaat sebelum berucap padanya. “Selamat pagi Dokter, perkenalkan saya Lisa. Sementara waktu ini saya mendapatkan kesempatan untuk mencoba menjadi asisten anda. Apabila anda berkenan dengan cara kerja saya anda bisa bekerja dengan saya kembali, dan apabila anda tidak berkenan anda bisa memilih perawat lain.” Milla menganggukkan kepalanya sesaat kemudian berdiri lalu menjulurkan tangannya. “Terimakasih Lisa, aku Milla. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik.” Ujarnya seraya menyunggingkan sebuah senyuman. Perawat itu membalas uluran tangannya sesaat sebelum dilepaskan kembali. “Oh ya ... Dokter, anda mendapatkan kiriman bunga. Ini ... untuk anda.” Milla menyunggingkan senyumannya kemudian menerima bunga tersebut. “Terimakasih Lisa.” Ujarnya seraya kembali mendudukkan diri dibalik kursi. Setelah itu ia membaca surat yang tergantung pada buket bunga tersebut.   Selamat bekerja Dokter cantik. Semoga hari pertamamu menyenangkan.   Milla memejamkan matanya sesaat lalu menghembuskan nafasnya pelan, menahan gejolak aneh di dalam hatinya. Desiran halus yang bercampur dengan perasaan kesal. Sekuat tenaga ia berusaha menetralkan perasaan itu, agar tidak membuat emosinya meledak. Setelah itu ia berdiri seraya membuka ikat pada buket bunga tersebut, kemudian menyimpan bunga itu pada sebuah vas kosong yang terletak di sudut ruangan. Sementara kertas pembungkusnya ia buang begitu saja. “Lisa tolong isikan air pada vas ini.” ujar Milla seraya memandangi bunga itu sesaat sebelum kembali mendudukkan dirinya dibalik meja kerja. Perlahan Milla menarik nafasnya kembali lalu menyunggingkan sebuah senyuman tipis. Ternyata menetralkan emosi tidak buruk juga. Hatinya justru terasa lebih tenang, tidak merasa terbebani lagi dan terganggu lagi seperti sebelumnya.   ***   Dokter Milla tidak memberikan reaksi apapun Mr. Austin. Dokter Milla justru menyimpan bunga itu pada vas kosong, bahkan meminta saya mengisikan air pada vas tersebut.   Michael mengerutkan kening ketika membaca pesan dari asisten Milla yang baru. Ia merasa sangat heran. Sungguh. Ia tak menduga jika Milla tak akan memberikan reaksi apapun. Padahal sebelumnya ketika masih bersama Lilly dia selalu marah dan kesal. Tapi sekarang ... dia tidak memberikan reaksi sama sekali? Wow! Sungguh sebuah keajaiban. “Ini aneh.” Ujar Michael sesaat setelah menyeruput kopi ditangannya. “Bagaimana bisa dia tidak memberikan reaksi apapun?” ujarnya lagi. “Mungkin dia masih menjaga image-nya. Dia tak mau orang lain curiga dengan sikapnya.” Jawab Christian yang sedang menikmati waffle tanpa menatapnya sama sekali. “Benarkah?” Michael menatap kearah Christian. “Padahal aku ingin mendengar dia kesal lagi dengan kirimanku. Pasti akan sangat menggemaskan.” Christian mendesis sebal karena ucapan sebelumnya di potong oleh Michael begitu saja. “Seharusnya kau bersyukur. Bisa saja tak hanya jaga image, tapi karena dia juga sudah menerima kehadiranmu. Terpaksa menerima kehadiranmu.” Ujar Christian dan meralat ucapannya dengan cepat. Michael terkekeh pelan. “Benar juga. Terpaksa menerima. Tapi tak apa, meskipun terpaksa nanti akan terbiasa. Aku sangat yakin itu.” “Ya ... kau dan semua optimismu memang terbaik Michael.” “Aku bukan kau yang selalu menyerah sebelum berperang Chris, sorry.” Christian mendelik. “Berhenti menyindirku.”   Tak lama setelah itu seorang laki-laki yang sedang mereka tunggu-tunggu mendekati mereka berdua. “Permisi ... benar ini dengan Michael Austin?” Michael yang sedang menikmati kopinya mendongak menatap lelaki asing yang menanyakan dirinya. “Ya ... aku Michael. Kau Gary?” “Benar ... aku Gary. Senang berkenalan denganmu.” Michael menarik ujung bibirnya. “Ya ... aku juga senang. Silahkan duduk.”   ***   Hari pertama Milla bekerja ia tidak menerima terlalu banyak pasien. Ia hanya menerima beberapa pasien saja yang memang semuanya dari kalangan atas. Tidak seperti di tempatnya dulu, hampir setiap waktu ia menerima pasien dan mayoritas di tempat itu memang menengah kebawah. Sementara pasien yang ia hadapi sekarang, jika bukan anak pengusaha kaya raya, maka anak pejabat, begitu seterusnya. Seharian ini ia tidak menerima pasien di luar itu. Mungkin karena biaya yang mahal? Entahlah, ia tak tahu. Ia tidak berurusan dengan harga konsultasi atau perawatan.  “Dokter Milla saatnya anda makan siang, ingin saya ambilkan dari kantin atau anda akan mengambilnya sendiri?” Milla yang menoleh kearah Lisa yang sudah berdiri didepannya. “Sepertinya aku akan ke kantin saja. Jika ada pasien segera hubungi aku.” Lisa menganggukkan kepalanya pelan sebelum mendudukkan dirinya kembali pada sebuah kursi di sudut ruangan. Bertepatan dengan itu ponsel Milla bergetar, pertanda sebuah panggilan masuk. Milla melirik ponselnya yang tergeletak dimeja sesaat kemudian mengulas senyumannya. Setelah itu ia mengambil ponsel tersebut lalu menjawabnya. “Hai Gary ... kemana saja?” “Ada. Dimana sekarang?” Kening Milla berkerut saat mendengar kalimat dingin yang dilontarkan oleh lelaki itu. Karena tak biasanya dia seperti ini, dalam kurun waktu dua tahun ini bahkan rasanya dia tidak pernah seperti ini padanya. Milla menghembuskan nafasnya pelan sebelum menjawab pertanyaan itu. “Aku diruanganku Gary. Ada apa?” “Oh. Bagus. Datanglah ke kantin. Ada yang ingin kukatakan.” “Kantin? Sekarang aku ... .” “Kantin Anatta Hospital.” “Oh. Kau tahu?” “Aku tunggu sekarang.”   Tut!   Milla menatap ponselnya sesaat dengan kening yang berkerut. Sungguh ia sangat heran dengan tingkah kekasihnya itu. Ada apa? Apakah marah? Tapi marah kenapa? Karena sebelum ia kemari ia sudah memberitahu lelaki itu bahwa ia akan pindah. Karena tak mau menduga-duga Milla akhirnya menghela nafas sebelum beranjak meninggalkan ruangan itu.   ***   “Gary ... .” ujar Milla ketika ia sudah berdiri dihadapan sang kekasih yang duduk disudut kantin. “Lama menunguku?” tanya Milla seraya mendudukkan dirinya. “Langsung saja ... .” Milla merasakan perasaannya memburuk saat Gary berujar dengan nada dinginnya lagi. “Ada apa ini?” “Kita putus.” “Hah?” “Kita putus Milla, aku sudah bosan bersamamu.” Kening Milla mengerut. “Apa kau bilang? Bosan?” “Ya ... bosan. Memang siapa yang akan tahan berkencan sekian lama hanya ditinggal bekerja dan bekerja? Aku bosan Milla. Aku juga butuh perempuan yang memperhatikanku. Jadi sebaiknya mulai sekarang jangan pernah menghubungiku karena aku tak ingin menjalin hubungan apapun denganmu lagi.” Milla mengepalkan kedua tangannya dengan erat. “Tapi kau sudah setuju dengan semua pekerjaanku Gary, kau mengatakan tak keberatan jika aku bekerja. Kita bisa membicarakannya baik-baik.” “Manusia kapanpun bisa berubah. Sudahlah aku tak ingin berbicara denganmu lagi.” “Lalu bagaimana Kakakku? Bagaimana dengan kasusnya? Kau harus mencaritahunya Gary! Aku sudah memberimu banyak uang!” Lelaki itu kembali berbalik. “Oh, jadi selama ini kau memanfaatkanku? Bukan benar-benar menyukaiku?” Milla meneguk ludahnya kasar. Lalu menatap Gary lagi. “Tidak Gary tidak. Bukan begitu maksudku. Aku mengatakannya karena kau sudah setuju dengan mencari Kakakku.” Gary mengatupkan rahangnya kemudian menunduk menatap Milla. “Seperti yang aku bilang, manusia bisa berubah Milla ... apalagi jika berkaitan dengan uang.” Bisiknya kemudian menyeringai. “Kau hebat juga mendapatkan mangsa dengan banyak uang seperti Michael. Aku tidak menyesal pernah menjadi kekasihmu dan mengakhiri semuanya seperti ini.” “Apa?!” rahang Milla mengatup. “Michael?” “Ya ... Michael. Selain karena itu, aku memang sudah benar-benar bosan padamu Milla. Michael hanya mempermudahku saja.” Gary menyeringai lagi. “Belajarlah jadi perempuan menyenangkan. Jangan membosankan seperti ini. karena jika kau terus seperti ini, Michael juga akan meninggalkanmu.” Bisik Gary lagi sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan Milla. Rahang Milla mengatup, kedua tangannya pun mengepal dengan sangat eratnya. Menahan luapan emosi yang mulai kembali menggunung dan tak tertahankan lagi. Gigi Milla mengerutuk, sesaat kemudian menggeram marah. “Michael! Kau ... .” Kau pasti yang merubah Gary jadi seperti ini! kau pasti yang menghasutnya! Kau pasti sudah menakut-nakutinya dan mengancamnya agar mengakhiri hubungan kami. Semua ini pasti gara-gara kau Michael! Pasti Kau! Lihat saja nanti ... aku akan membalasmu!    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN