Milla melangkahkan kakinya dengan lebar memasuki sebuah lobi kantor dengan perasaan penuh tekad dan juga penuh dengan amarah yang siap meledak kapanpun. Semua orang menatapnya aneh, namun ia tidak memedulikan itu. Karena yang ada dalam benaknya hanya satu, ia harus segera bertemu dengan Michael dan memberikan pelajaran pada lelaki itu. Setidaknya ia harus menamparnya sebanyak satu kali agar sakit hatinya terbalaskan.
Ia sungguh menyadari jika Michael memang terobsesi padanya dan sangat gila padanya. Tapi apakah harus benar-benar segila ini? Apakah harus sampai sejauh ini?
“Maaf Miss anda siapa? Anda tidak bisa masuk begitu saja Miss, kecuali jika anda sudah memiliki janji dengan Mr. Austin.”
Milla mendelik pada petugas keamanan yang berjaga dibagian pengecekan identitas. Kemudian menghembuskan nafasnya. “Katakan pada Michael, seseorang bernama Milla Alexi datang.” Ujar Milla seraya mundur satu langkah. Sebenarnya ia ingin menerobos saja tanpa harus memedulikan petugas keamanan itu. Namun ia masih cukup waras. Ia tak mau mempermalukan dirinya sendiri dengan melakukan hal seperti itu.
“Silahkan masuk. Mr. Austin ada di ruangannya. Di lantai tiga belas.”
Milla melangkah begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun. Ia berjalan dengan langkah lurus, lebar dan juga cepat. Merasa dirinya harus benar-benar segera menemui lelaki itu. Memberinya pelajaran sekaligus memperlihatkan kekuatannya. Enak saja dia melakukan hal seenaknya seperti itu padanya. Dia pikir dia itu siapa?
Milla keluar dari lift setelah lift itu berhenti tepat di lantai sebelas. Begitu keluar ia disambut oleh seorang perempuan yang menatapnya penuh selidik namun tidak ia pedulikan, ia segera memasuki ruangan bertuliskan Presedir tanpa mengetuk pintu dan tanpa ijin terlebih dulu.
“Miss anda tak bisa masuk begitu saja.”
Milla melirik tajam pada perempuan yang sebelumnya duduk di bangku depan ruangan Michael. “Lepas, aku tak memiliki urusan denganmu.”
“Kate keluar. Dia tamuku.”
“Tapi Mr. Austin.”
“Keluarlah.”
Perempuan itu kemudian undur diri, setelah melepaskan cengkraman pada tangannya lalu meninggalkan ruangan itu.
“Duduklah, tenangkan dirimu.” Michael berdiri kemudian menunjuk Milla untuk duduk pada sofa yang ada di tengah ruangan.
“Aku tidak menduga ternyata itu yang kau rencanakan. Ternyata kau benar-benar melakukan cara licik dengan membayar kekasihku? Kau sengaja? Hah?! Kau sengaja megancamnya juga sampai-sampai dia tidak mau bersamaku?!” seru Milla dengan menggebu-gebu. Sungguh ia sangat amat marah pada lelaki dihadapannya itu, ia tak bisa menahan dirinya lebih lama lagi.
Michael dengan tenang menghembuskan nafasnya. Setelah itu ia berujar pelan. “Lelaki itu hanya menipumu Milla, dia hanya memanfaatkan uangmu saja. Dia bukan detektif rahasia seperti yang kau pikirkan.”
“Jangan mengarang!" Sergah Milla dengan cepat. "Memangnya kau tahu apa tentangnya? Kau tahu apa tentang kami? Seharusnya kau pergi saja urusi dirimu sendiri! Aku tidak menegur setiap ancamanmu bukan berarti kau bebas melakukan hal itu Michael! Kau sudah melangkah terlalu jauh. Kau sudah sangat keterlaluan!” Seru Milla lagi.
“Aku mengatakan yang sebenarnya Milla! Lelaki itu! dia hanya memanfaatkanmu! Dia hanya memanfaatkan keluguanmu! Kepolosanmu! Lelaki itu membodohimu! Seharusnya kau sadar sejak awal. Jika dia memang benar-benar detektif dia tak akan pernah memerasmu dengan alasan untuk modal. Karena mereka akan menyelesaikan terlebih dulu misinya baru mendapatkan bayaran. Tidak seperti kekasihmu itu!” seru Michael seraya menaikkan nada bicaranya.
“Omong kosong! Kau hanya menjelek-jelekan Gary dihadapanku Michael. Aku tahu motifmu itu!” Balas Milla tak kalah kencangnya.
Michael menggeram setelah itu ia mengambil file dari laci mejanya sebelum ia letakkan dihadapan Milla. “Ini buktinya." Michael menghempaskan file itu kehadapan Milla. "Dia hanya seorang pengangguran Milla. Bahkan uang hasil penjualan barang-barangku dia gunakan untuk bermain wanita di club malam dan mabuk-mabukan!” Michael menjeda ucapannya. “Aku tak mungkin membuat tuduhan tanpa bukti. Aku tak mungkin menuduh seseorang sembarangan Milla."
Michael mengatur nafasnya sesaat. "Aku mencaritahu ini karena aku memikirkanmu, Milla. Aku mengatakan ini karena peduli padamu, aku melakukan ini karena perhatian padamu! Karena aku benar-benar menyayangimu dan tak ingin kau terluka. Aku hanya ingin melindungimu!”
“Omong kosong ... ini semua pasti karanganmu Michael. Ini hanya akal-akalanmu saja!” Milla menghempaskan dokumen ditangannya itu ke atas meja. Ia masih tidak percaya dengan semua yang ada dihadapannya ini. Karena Gary yang ia kenal tidak seperti itu. Gary-nya lelaki yang baik dan tidak pernah berbuat macam-macam. Ia yakin Gary berubah hanya karena Michael, pasti karena ancaman Michael!
“Untuk apa aku mengarang ini semua Milla? Aku benar-benar ingin melindungimu!”
“Untuk apa? Untuk apa kau bilang? Tentu saja untuk membuatku jadi milikmu! Kau! Lelaki yang memiliki kuasa. Kau pasti akan melakukan apapun. Kau bisa dengan bebas mengancamnya agar dia tidak mendekatiku lagi!” Tuduh Milla untuk kesekian kalinya.
“Aku tidak pernah mengancamnya sedikitpun Milla. Lelaki itu! lelaki yang kau cintai itu justru dengan sukarela meninggalkanmu hanya karena aku memberikan uang! Aku tidak pernah berniat menghancurkan hubunganmu secara paksa. Tapi lelaki itu! Dia yang silau akan uang. Dia bahkan dengan mudahnya mengatakan akan melakukan apapun demi mendapatkan uang yang aku bawa. Dia yang mata duitan Milla, bahkan aku sampai berpikir dia tidak mencintaimu sama sekali." Michael menatap Milla dengan sangat intens. "Ingatlah Milla ... jika dia benar-benar mencintaimu. Apapun tak akan pernah memengaruhinya. Sekalipun uang berjuta-juta dollar, hanya untuk mempertahankan hubungan kalian, hanya untuk setia padamu. Tapi ... dia ... lelaki itu. Hanya karena aku mengeluarkan uang sepuluh juta dollar dia rela melakukan apapun? Hingga rela melepaskanmu.”
Michael menatap Milla dengan rahang mengatup. Kesal dengan kekeras kepalaan yang dimiliki perempuan dihadapannya itu. "Harusnya kau sadar! Dia tidak mencintaimu Milla. Dia hanya memanfaatkan uangmu untuk kesenangannya sendiri!”
Milla terdiam ... memikirkan semua perkataan Michael, kemudian memikirkan semua hal yang selama ini terjadi dalam hubungannya. Memang ... selama ini dia datang hanya untuk uang. Lelaki itu datang ketika dirinya membutuhkan uang saja dengan alasan sebagai bahan untuk pencarian Helen. Tapi sedikitpun ia tidak pernah curiga. Ia tidak pernah berpikiran buruk pada kekasihnya itu. Apalagi hingga berpikir Gary menipunya. Tidak sedikitpun terlintas dalam benaknya Gary seperti itu. Tidak.
“Ini bukti penerimaan uang yang aku berikan dan ini bukti rekaman pertemuanku dengan Gary. Jika tak percaya kau bisa mendengarkannya.” Michael menunjukan sebuah bukti penerimaan yang jelas-jelas di tanda tangani oleh Gary dan juga sebuah benda perekam suara.
Tok tok tok!
"Masuk." Michael mengalihkan pandangan kearah pintu masuk. Christian yang berdiri disana.
"Saatnya rapat bersama team lapangan Mr. Austin." ujar Christian sesaat lelaki itu memasuki ruangannya.
Michael menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kembali lalu mengalihkan pandangannya pada Milla. “Dengarkanlah dan diamlah disini. Sementara aku ada rapat dulu sebentar. Tunggu aku, kita masih harus bicara lagi setelah ini.”
Milla tak menjawab ucapan Michael. Ia masih menatap sebuah alat perekam dihadapannya beberapa saat kemudian sebelum ia meraih benda itu. Sementara Michael sudah pergi meninggalkannya seorang diri.
---
"Aku senang bisa bertemu denganmu Gary." Ujar Michael.
"Saya tidak menduga seorang Mr. Austin ingin bertemu dengan saya? Ada apakah ini?" Gary terkekeh pelan. "Apakah ada kaitannya dengan Milla?"
"Kau cukup pintar juga. Tanpa aku repot-repot menjelaskan kau sudah tahu semuanya." ujar Michael lagi.
Gary terkekeh pelan. "Aku bahkan tahu kau tertarik pada kekasihku itu."
"Apa kau mencintainya?" tanya Michael, memotong ucapan Gary.
"Menurutmu?" tanya balik Gary atas pertanyaan Michael.
"Aku tidak merasa kau mencintainya. Bukankah selama ini kau hanya memanfaatkannya saja? Menguras uangnya demi keuntungan pribadimu?" jawab dan tanya Michael dengan nada yang begitu tenang.
Gary tergelak. "Benarkah?"
"Apakah terlihat sangat kentara?" tanya Gary lagi. Namun tak ada jawaban dari Michael. "Jangan salahkan aku, dia saja yang terlalu polos."
Setelah itu terdengar sesuatu yang di letakkan diatas meja.
"Wow. Apakah ini? Kau ingin aku meninggalkannya dengan memberikan semua uang ini?" tanya Gary diiringi dengan kekehan pelan. "Baiklah jika memang itu maumu. Akan kulakukan."
"Aku tidak mengatakan seperti itu." ujar Michael. "Tapi jika kau memang ingin uang ini dan kau secara sukarela melakukannya aku tak akan menolak."
Gary tergelak. "Anda terlalu banyak berbasa basi Mr. Austin." Gary menjeda ucapannya. "Katakan saja jika memang aku harus meninggalkannya. Aku akan melakikannya." Gary menjeda ucapannya lagi. "Jadi, apakah uang itu sekarang jadi milikku?"
"Silahkan, tapi kau tanda tangani dulu." Kali ini Christian yang berbicara.
---
Milla termenung setelah mendengarkan semua percakapan Gary dengan Michael. Sungguh ia tak menduga ternyata lelaki yang selama ini ia percayai hanya memanfaatkannya saja. Lelaki itu ternyata tidak benar-benar mencintainya seperti yang selama ini dia tunjukkan. Lelaki itu ... Ternyata hanya memanfaatkan kelemahannya saja demi keuntungan pribadi.
Sungguh ... sungguh ... ia tak percaya jika lelaki yang selama ini ternyata sangat baik dimatanya ternyata begitu buruk. Bahkan sangat buruk.
Apakah ini karma untuknya yang juga hanya memanfaatkan profesi lelaki itu? Ya ... Secara tidak langsung ia juga melakukan hal itu, ia memanfaatkan profesi tipuan lelaki itu untuk keuntungan pribadinya juga. Meskipun pada akhirnya ternyata ia yang lebih banyak ditipu atas hubungan mereka ini.
Milla menarik nafas panjang kemudian dihembuskan lagi selama beberapa kali. Jadi Michael melakukan ini semua benar-benar karena ingin melindunginya?
Hatinya tiba-tiba menghangat, meskipun pada akhirnya diiringi dengan rasa bersalah atas semua ucapan yang telah di lontarkannya pada lelaki itu.
Milla mendesah pelan. Jika sudah seperti ini, apa yang harus ia lakukan sekarang?