13. Sunflower

1498 Kata
“Pesanlah sesuatu yang kau inginkan.” Milla mendongak menatap Michael yang baru saja memberikannya sebuah menu. Setelah itu tangannya terulur menerima menu tersebut lalu membukanya lembar demi lembar, menatap semua jenis makanan dengan tatapan kosong. Milla menghembuskan nafasnya pelan. Sejujurnya ia tidak merasa lapar sama sekali, ia tak ingin menyantap sesuatu karena dirinya masih merasa cukup terpukul dengan kenyataan yang menimpanya. “Milla ... .” “Samakan saja denganmu Michael.” ujar Milla pada akhirnya seraya menutup menu tersebut. Setelah itu ia mengalihkan pandangannya kearah taman belakang restoran yang tampak begitu cantik dengan dihiasi berbagai buka mawar yang tengah merekah sempurna. Berbanding terbalik dengan perasaannya yang terasa begitu kacau layaknya taman yang tak terawat. “Jika kau merasa ingin menangis, menangislah. Tak akan ada yang melihatmu.” Ujar Michael. “Aku mengerti kau mungkin sakit hati dan kecewa. Awalnya aku pun hanya ingin membiarkan saja dia seperti itu sampai kau mengetahui sendiri semua keburukan dia. Tapi aku tak tahan ketika mengetahui dia selalu bermain wanita. Kau ... berhak mendapatkan yang lebih baik dari lelaki itu Milla. Kau pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik, yang lebih bermartabat dari lelaki itu.”  “Seseorang yang lebih bermartabat?” Milla menarik ujung bibirnya sesaat. “Apa kau membicarakan dirimu sendiri Michael? Kau memiliki semuanya, kehormatan dan juga posisi.” Milla kemudian mengalihkan pandangannya menatap Michael lagi. “Sebenarnya aku tidak ingin menangis, aku juga tidak begitu sedih. Karena aku pun sebenarnya tanpa aku sadari aku hanya memanfaatkan Gary. Memanfaatkan pekerjaan yang ternyata hanya omong kosong.” Milla mengulas senyumannya lagi dengan mata yang masih intens menatap mata Michael. “Aku juga tak lebih baik dari Gary, Michael. Kau berhak mendapatkan perempuan yang lebih baik daripada aku. Karena aku tidak tidak baik dan tidak memiliki martabat yang tinggi juga. Aku tidak memiliki kehormatan dan posisi yang baik sepertimu.” Michael menarik nafas panjang kemudian menatap Milla dengan senyuman yang mulai terbentuk diwajahnya. Michael tak langsung membalas ucapan Milla. Lelaki itu justru menatap Milla dengan intens selama beberapa saat tanpa berujar sedikitpun. Milla termenung saat matanya bertemu tatap dengan tatapan tenang Michael. Tatapan lelaki yang selalu tajam itu kini terasa hangat, tatapan jenaka penuh godaannya menghilang digantikan tatapan yang begitu lembut dan sarat akan perasaan yang mendalam, yang terasa menyentuh hingga ke dasar hatinya. Terasa begitu hangat, terasa berdesir lembut hingga seluruh penjuru hatinya. Milla meneguk ludahnya kasar kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain. Sejak awal bertemu dengan lelaki dihadapannya ini, sebenarnya ia sudah menyadari keanehan yang hadir di dalam hatinya. Meskipun ia selalu mencoba mengelak, sekarang ia mengakuinya. Jika perasaan aneh itu benar-benar hadir saat Michael berada di hadapannya. Saat matanya menangkap eksistensi Michael disekitarnya. “Milla ... .” panggil Michael lagi, membuatnya menoleh menatap lelaki itu. Mata Milla mengejap ketika sebuah buket bunga matahari tiba-tiba diberikan Michael padanya. “Apa ini Michael?” “Ini ... untukmu.” Michael menarik tangan Milla untuk menerima bunga ditangannya. “Kau akan mengerti jika kau tahu makna dari bunganya.” “Aku tahu ... tapi untuk apa Michael?” Milla memandang Michael dengan tatapan heran. Sungguh, ia tak mengerti. Mengapa Michael memberikan bunga ini padanya? Sementara dirinya bukan pasangan Michael sama sekali. Tapi mengapa Michael memberikan ini padanya? “Untuk mengatakan perasaanku padamu.” Ujar Michael. “Sebenarnya aku tidak begitu pandai berkata-kata. Karena aku tak memiliki pengalaman dalam hal seperti ini Milla. Jadi aku memberikan ini sebagai perwakilan dari perasaanku padamu Milla.” Milla terdiam kemudian menatap buket bunga matahari yang begitu indah dimatanya. Bunga matahari sebuah bunga yang melambangkan ketulusan dan juga kesetiaan seseorang pada pasangannya. Bunga matahari juga merupakan salah satu kesukaannya yang menurutnya melambangkan sebuah kebahagiaan dan keceriaan. Bunga yang jarang diminati namun sangat ia sukai. “Aku berusaha menunjukkan ketulusanku dan kesetiaanku padamu. Aku hanya ingin menjunjukkan bahwa perasaanku terhadapmu tak main-main Milla. Aku tidak pernah berpikir untuk bermain-main atau hanya menggodamu saja. Aku melakukan semua ini karena aku benar-benar tulus, ingin melindungimu dan aku ... akan kupastikan, selamanya aku setia padamu Milla.” Milla terkekeh pelan. “Kau bilang tak bisa berkata-kata Michael. Tapi kalimat yang kau ucapkan cukup panjang juga.” Michael menghembuskan nafasnya lagi. “Apakah terdengar aneh? Sebenarnya aku benar-benar tidak pandai bekata-kata Milla. Aku takut jika terlalu banyak berbicara aku akan melakukan kesalahan. Jadi ... daripada berbicara aku lebih senang melakukan sesuatu.” Milla mengulas senyumannya. “Memang lebih baik kau simpan semua janjimu itu Michael, karena tak ada kata selamanya untuk hubungan antar manusia. Manusia akan selalu berubah, manusia akan selalu menemukan alasan untuk berubah. Manusia memiliki nafsu, manusia memiliki ego dan manusia memiliki obsesi. Manusia ... bisa berubah kapanpun. Setiap saat menjadi kesempatan bagi mereka untuk berubah.” “Tapi setidaknya manusia memiliki kesempatan untuk mendapatkan apapun. Manusia hanya perlu menggunakan peluang yang ada untuk mendapatkan apapun yang mereka inginkan Milla. Termasuk memiliki pasangan yang diinginkan. Termasuk juga membuktikan semua perkataannya, membuktikan semua janji pada pasangannya. Manusia memang bisa berubah. Benar ... kapanpun mereka akan berubah. Tapi ketika kau tidak memberikan kesempatan pada orang lain. Apakah itu termasuk memanusiakan manusia?” Michael menarik nafas panjang kemudian mengulas senyumannya. “Kau harus setidaknya satu kali memberikan seseorang kesempatan Milla.” Milla terdiam sesaat setelah mendengarkan kalimat yang di lontarkan oleh Michael. Memang benar ... setidaknya seseorang harus memberikan kesempatan pada orang lain. Tapi ... jujur saja, rasanya benar-benar berat memberikan kesempatan untuk Michael. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya yang membuatnya ragu dan enggan untuk memberikan kesempatan sedikitpun. Ada sesuatu yang ia sendiri tidak bisa menjelaskannya sama sekali. Hanya saja ... perasaan itu cukup menganggu, bahkan sangat mengganggunya hingga ia merasa jika ia memberikan kesempatan pada Michael akan sia-sia saja. “Manusia memang memiliki nafsu, ego dan juga obsesi. Tapi manusia juga memiliki hati dan perasaan yang bisa mengontrol semua itu.” lanjut Michael setelah melihat Milla yang tidak menanggapi ucapannya sama sekali. “Michael ... apa yang kau lihat dariku sampai kau melakukan ini semua?” Milla menghembuskan nafasnya pelan. “Aku bukan perempuan istimewa, aku juga bukan seorang puteri kerajaan. Aku hanya perempuan biasa yang kebetulan pernah menolongmu. Tak lebih dari itu Michael.” “Aku tahu ... Tapi perasaanku padamu lebih dari yang kau bayangkan Milla. Kau tak akan mengerti, kau tak akan pernah memahaminya jika kau masih tetap pada pendirianmu dengan tak ingin memberikanku kesempatan.” Jelas Michael setengah frustasi. Lelaki itu menghembuskan nafas pelan sebelum menatap kearah Milla yang masih menatap dengan tatapan intens. “Aku ... menyukaimu, aku ingin membuatmu tinggal bersamaku, untuk melindungimu dan memberikan semuanya untukmu.” Michael mendesah. “Aku tak memiliki apapun lagi yang bisa aku katakan Milla ... karena aku sekali lagi aku tegaskan. Aku tak bisa mengungkapkan semuanya dengan benar.” “Seseorang pasti memiliki alasan ketika menyukai seseorang Michael.” Milla berdiri kemudian mendudukkan dirinya di atas pangkuan Michael lalu mengalungkan kedua tangannya pada leher lelaki itu. Beruntunglah Michael mengambil private room, sehingga mereka berdua tak akan menjadi pusat perhatian seseorang. Michael menatap Milla, membiarkan perempuan itu melakukan semua hal yang diinginkannya. Sementara ia hanya memerhatikan dan menunggu, sejauh mana perbuatan yang akan perempuan itu lakukan terhadapnya. Milla mendekatkan wajahnya pada wajah Michael hingga hidung mereka saling bersentuhan. Mata kecoklatan itu bergulir menyisir wajah tampan lelaki dihadapannya itu dengan begitu intens, menatapnya inchi demi inchi, lalu menyentuhnya dengan kedua tangan, membelainya menyentuh setiap mahakarya yang terpampang nyata dihadapannya itu dengan begitu lembut. Michael sangat tampan, bahkan lebih tampan dari dugaannya. Seharusnya ia akan mudah mencintai lelaki itu jika melalui parasnya yang begitu menawan. Namun entah mengapa rasanya sulit. Apalagi obsidian itu ... mata hitam kelam itu ... serasa menyembunyikan beribu misteri yang akan menenggelamkannya. “Apakah kau menyukaiku karena parasku Michael?” tanya Milla. “Atau karena keindahan fisikku?” tanyanya lagi dengan penuh percaya diri. “Ataukah hanya karena ingin memiliki tubuhku?” Milla membelai wajah Michael. “Aku memang terlihat seperti perempuan baik-baik Michael, aku seperti perempuan suci dan terlihat baik. Tapi sebenarnya aku tidak sebaik itu. Aku hanya perempuan biasa, aku tak lebih dari perempuan-perempuan lain yang ada dikehidupanmu. Jadi ... ketika yang kau cintai adalah fisikku, tubuhku. Sebenarnya aku sudah kehilangannya sejak lama. Kau tak akan mendapatkannya Michael. karena aku bukan perempuan suci.” Michael menatap Milla dengan tatapan yang sangat intens. Tangan kanannya merambat membelai punggung Milla sementara tangan kirinya naik membelai wajah Milla, membelainya dengan ibu jari dan begitu lembut. “Aku belum memikirkannya Milla ... aku belum memikirkan hingga sejauh itu. Tapi jika kau tertarik untuk mencaritahunya ... aku tak akan keberatan untuk mencoba.” Ujar Michael seraya memiringkan wajahnya, lalu mengecup ringan permukaan bibir tipis yang berada dihadapannya itu. Milla terlonjak ketika ciuman itu menghantarkan sengatan yang tak biasa ke sekujur tubuhnya. Sengatan yang membuat sekujut tubuhnya meremang sekaligus menegang secara bersamaan. Ciuman yang membuahkan sensasi aneh di sekujur tubuhnya, layaknya pengalaman pertama. Padahal ini bukan ciuman pertamanya ... namun ketika Michael melakukan semua itu ia merasa semua yang ia dapatkan bagaikan pengalaman pertama baginya. Milla memejamkan matanya ketika bibir tebal itu kembali melumat bibirnya dan memperdalam ciumannya hingga menyisakan bunyi kecipakan diantara kedua bibir itu. Milla meremat jas yang dikenakan Michael ketika bibir lelaki itu mulai menginvasi, semakin melumat dan semakin memperdalam ciumannya. Milla semakin meremat jas Michael. Bibir itu, bibir penuh lelaki itu benar-benar membuatnya merasa gila, membuatnya terlena dan terhanyut hingga membuatnya serasa tenggelam dalam gelora yang tak biasa. Sayangnya ketika Milla mulai membalas ciuman itu, bibir Michael menjauh memberikan ruang diantara mereka. Membuat iris mata kecoklatannya kembali bertemu dengan obsidian indah milik Michael. Tak lama setelah itu, Michael berujar pelan.   “Aku sudah memutuskan ... mulai sekarang kau pasanganku Milla, dengan atau tanpa persetujuanmu.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN