Hana mengikuti perintah James untuk tinggal sementara di klinik. Wanita itu merebahkan diri di ranjang dengan selimut putih yang menutup hingga separuh badan. Pintu ruangan serba putih itu diketuk, karena terlalu malas untuk membuka mata, dia hanya mengabaikannya dan membiarkan siapa pun masuk. “Beneran tidur atau pura-pura?” Mata Hana seketika melebar. Dia bangun dengan tergesa saat mendapati sosok tinggi dan gagah itu berdiri di sisi ranjang. “Kenapa Bapak ada di sini?” James dengan ekspresi datarnya kini memosisikan diri di kursi, duduk menghadap Hana. Dalam hati ia merutuk karena terlalu basa-basi tadi pagi. Sejujurnya, ia ingin menyampaikan permintaan anaknya tentang pergi ke taman bermain, tetapi melihat keadaan Hana, dirinya berubah haluan. James terlalu tinggi ego untuk menga

