bc

Butuh Suami TAMPAN

book_age18+
34
IKUTI
1K
BACA
HE
fated
blue collar
bxg
kicking
campus
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Kisah mencari jodoh antara wanita 29 tahun yang sudah terbiasa berpacaran dan seorang pria 29 tahun jomblo yang belum pernah berpacaran!

Namun, Nathalie butuh suami yang tampan dan rupawan agar melahirkan keturunan yang imut dan lucu-lucu.

Masalahnya, Alen yang merupakan sahabat baiknya malah merekomendasikan untuk mendekati salah satu karyawannya bernama Wahyu.

Apakah Wahyu yang tidak pernah berpacaran dan seorang Karyawan nasi Padang dapat jatuh cinta pada Celine yang sering patah hati karena gagal dalam asmara?

Namun, di hari pertama keduanya bertemu bubuk perselisihan selalu muncul karena salah paham. Ditambah lagi karakter Celine yang blak-blakan membuat Wahyu kesal setengah mati melayaninya.

“HeI! Mas Norak! Tolong dong bawakan makanan saya segera. Lapar nih!” panggil Celine pada Wahyu yang selesai merapikan meja makan.

“Hah? Mbak panggil saya?” tunjuk Wahyu pada dirinya, karena tidak yakin jika wanita galak ini memanggilnya.

“Iya kamu, masak setan!” sahut Celine galak.

“Oh, iya. Iya… sebentar Mbak,” kata Wahyu mengeringkan tangannya ke kain lap dan berjalan mendekati Celine.

“Mbaknya mau pesan apa?” tanya Wahyu ramah.

“Pesan apa sajalah yang penting cepat dan bikin kenyang. Buruan!” kata Celine mengibaskan tangannya.

Wahyu tersenyum sinis melihat lagak Celine yang menganggapnya jonggos. Padahal dia sudah beramah tamah menanyakan apa pesanan yang ingin dimakan wanita ini, namun ucapannya sangat kasar, batin Wahyu.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bujang Pengangguran
Wahyu Pratama, harus merasakan kegalauan saat menjadi pengangguran sejak dua bulan lalu memutuskan merantau ke kota metropolitan ini. Dia mengikuti sang kakak yang lebih dulu menetap di sini bersama anak dan juga suaminya. Sudah dua bulan juga dia mencari-cari pekerjaan, tapi tak satupun lowongan pekerjaaan yang mau menerima dirinya karena tidak punya pengalaman kerja. Maklum, dia hanya lulusan SMA, menjalankan komputer saja masih susah. Dan sekarang, semua karyawan yang paling dibutuhkan harus pintar bermain komputer karena sekarang era digital. Setelah bosan menunggu tawaran pekerjaan, sekarang Wahyu pun berpamitan kepada kakaknya untuk keluar mencari lowongan kerja. Sebelum melangkah keluar rumah, dia berharap ada keajaiban hari ini. Satu jam telah berlalu, dia terlihat kelelahan berjalan kaki di tengah teriknya cuaca kota Jakarta yang padat merayap. Bahkan kerongkongannya ikutan kering, selama menelusuri setiap jalanan dan tempat. Sambil meronggoh kantong saku belakangnya, Wahyu mengeluarkan satu lembar uang kertas dua puluh ribu dan dua uang koin seribuan dan ada juga koin lima ratus rupiah. “Haaahh. Uangku semakin menipis sekarang. Kapan ya aku bisa dapat kerjaan,” katanya menghela napas lemah. Mencari pekerjaan di kota besar, bukan perkara mudah. Bahkan bisa diibaratkan sama susahnya seperti membeli emas batangan di musim pandemi. Alih-alih diterima baik, mereka-mereka yang berkuasa itu pasti menetapkan banyak kriteria dan persyaratan yang bikin pelamar seperti dirinya pusing tujuh keliling. Apalagi Wahyu, yang hanya lulusan SMA dan tidak memiliki kemampuan lain selain bermain pintar bermain voli. Saat masih di kampung, dia adalah rajanya kidal, julukan sebagai ketua tim yang jago smash, memasukkan bola ke tempat lawan. Namun, sekarang hobi itu tidak bisa menghasilkan cukup uang untuk masa depannya. Dengan berjalan gontai, memegang kedua tali tas sandangnya, dia melirik ke sebuah restoran nasi Padang di pinggir jalan. Restoran itu lumayan ramai pembeli, ada banyak mobil terparkir di depannya. Rasa haus tadi kembali terasa. Namun, mengingat uangnya hanya 20 ribu, Wahyu merasa enggan untuk minum di sana. Bukannya merasa rendah diri, tapi takut tak mampu membayar harganya. Bisa-bisa dia jadi kang cuci piring dadakan nanti, pikirnya. Eits! Mendadak sebuah ide muncul dalam benaknya. Siapa tahu di dalam sana ada lowongan yang cocok untuk dirinya. Secara, pangkal lengannya lumayan berotot untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan berat. Dan hitung-hitung karena dia juga berasal dari Padang, mudah-mudahan si pemilik restoran itu mau menerimanya jadi pelayan atau tukang cuci piring juga tak apa, yang penting kerja, ucapnya dalam hati. Baiklah, Wahyu mulia berjalan dengan semangat menyeberangi jalan menuju rumah makan itu. Dengan semangat membara, dia berhenti sebentar sambil mengambil sisir kecil dalam saku bajunya untuk merapikan rambutnya yang sedikit lepek kena keringat. Siapa tahu, dengan tampang agak rapi orang-orang di sana bisa menerimanya dengan senang hati. Wahyu pun masuk ke dalam restoran, dan disambut baik oleh peayan yang menunggu tamu di bagian pintu masuk. “Selamat datang Mas, silahkan,” sambut pelayan yang berpakaian adat khas Sumatera Barat itu. Wahyu menggangguk sopan, dan berjalan masuk mencari tempat yang kosong. Restoran ini cukup besar, ada ruangan VIP dan ruagan biasa yang disediakan secara terpisah. Wahyu celingak-celinguk memandangi semua tempat di sana. Rasanya sangat nyaman jika dia bekerja di sini, ruangannya sangat bersih dan rapi. Bahkan tamu yang datang rata-rata adalah pejabat negara, karena dia melihat sekelompok polisi yang makan di meja yang berjarak 6 meter darinya. “Mau dihidangkan atau diambil pakai piring, Mas?” kata seorang pelayan wanita menghampirinya. Wahyu menelan ludah gugup, niat hati hanya ingin masuk sebentar sambil bertanya lowongan kerja. Namun, dia malah disuguhkan buku pesanan. "Habis Aku!" Jeritnya dalam hati. Sekarang hanya ada uang 20 ribuan di dalam saku, bisa-bisa jadi tukang cuci piring dadakan nih, pikirnya. “Hmmm, sebentar Mbak. Saya pesan es teh manis saja dulu. Kebetulan saya lagi menunggu teman datang ke sini,” bohong Wahyu, agar tidak malu-maluin hanya memesan air es teh manis di restoran semewah ini. “Oh, baik. Tunggu sebentar ya Mas,” kata pegawainya. “Iya, Mbak,” sahut Wahyu tersenyum ramah. Saat menunggu es teh manis datang, Wahyu memperhatikan setiap pengunjung yang masuk. Kebetulan saat ini jam makan siang, dia pun menjadi tak enak hati duduk berlama-lama di sana karena tamu semakin ramai tidak kebagian tempat duduk. Iseng-iseng, Wahyu menyapa seorang pelayan yang sedang merapikan sisa makanan dan piring kotor di samping mejanya. “Mas,” sapanya tersenyum, saat pelayan itu numpang permisi membersihkan meja di samping. “Udah mesan makan Mas?” tanya si pelayan, dan Wahyu mengangguk, "Sudah." “Mas, saya mau tanya. Kira-kira di sini ada lowongan kerja buat saya, ngak ya? Kebetulan saya lagi cari kerja Mas,” kata Wahyu membuka obrolan, sambil si pelayan itu merapikan mejanya. “Oh, jadi Mas mau cari kerja?” tanya. “Iya Mas, ada ngak kira-kira. Apa pun kerjanya saya siap kok. Cuci piring, mengepel lantai, nyapu, atau mencuci dandang pun saya mau Mas,” kata Wahyu bersemangat. Si pelayan sedikit tersenyum mendengar ucapan Wahyu yang mau menerima pekerjaan mencuci dandang. Ini jaman 2022 Mas, mana ada restoran memakai dandang lagi, jeritnya dalam hati. “Hm.. sepertinya sudah ngak ada Mas, karena kemarin baru saja perekrutan 5 orang pekerja baru. Tapi, nanti coba saya tahu ya Mas,” ucap si pegawai yang selesai membersihkan meja makan. “Ooooh begitu….” Katanya sambil berpikir. “Boleh saya mintak nomor hape Mas, siapa tahu nanti ada lowongan bisa kabari saya,” kata Wahyu berharap. Si pelayan memberikan nomor teleponnya. Dan pesanan es teh manis Wahyu juga datang bersamaan dengan si pelayan tadi pamit ke belakang untuk membawa piring kotor. Wahyu menimang-nimang sambil memikirkan ke mana arah tujuannya setelah ini. Ini sudah tempat yang ke-6 yang dia kunjungi sejak pagi tadi. Sambil menyeruput es teh di hadapannya, Wahyu terlihat melamun dan tak sadar ada seorang wanita cantik duduk di depannya. Kebetulan semua meja sedang penuh. Wanita itu, tak memperhatikan Wahyu yang asik melamun seperti sapi bodoh. Dia berkutat dengan smartphone di tangannya. Tak lama dia mengangkat telepon dari seseorang. “Ya Alen, aku udah ada di bawah nih, mau makan siang juga,” sahut si wanita mengangkat telepon. “Oke, oke. Aku tunggu di sini. Kamu jangan lama,” katanya lagi. Sekilas wahyu menatap wanita yang ada di di depannya ini. Namun dia tidak menghiraukannya karena kalut memikirkan nasib pekerjaan yang belum juga dapat. Engak mungkin dirinya betah menumpang lama-lama di tempat kakaknya. Dia juga tidak enak dengan kakak iparnya, karena sudah dua bulan tinggal di sana dan masih menganggur. Di saat dirinya sibuk dengan lamunan yang tak bertujuan, tiba-tiba satu orang wanita lagi bergabung di meja Wahyu. Mereka berdua sangat cantik dan wangi. Wahyu mendadak berhalusinasi serasa melihat sosok bidadari di padang tandus, seperti menghiburnya di saat kesusahan. “Aduhai Maak, apakah ini bidadari sungguhan?” katanya cengo. Dua orang wanita cantik di depannya tadi menjadi bergidik takut melihat gelagat Wahyu seperti orang ganjen, memandangi mereka tanpa berkedit sedetikpun. “Mas? anda kenapa ganjen begini menatapi kami berdua!” kata Celine, yang tak nyaman ditatapi pria di sampingnya ini. “Hah? Ganjen?” Wahyu kembali ke kenyataan. “Iya. Ngapain menatapi kita seperti tadi. Mas mau macam-macam ya?” tuding Celine dengan nada tak suka. “Bukan.. bukan Mbak, saya tadi menghayal kalau barusan saya melihat bidadari di sini,” ujar Wahyu mengangkat tangannya, menolak tuduhan itu. “Udahlah Cel, dia mungkin ngak bermaksud begitu. Yuk duduk lagi, aku sudah minta pegawaiku membawakan minuman spesial buat kamu,” kata Alen menenangkan sahabatnya itu. “Maaf ya Mas, mungkin teman saya salah paham,” kata Alen tak enak. Wahyu pun tak masalah, dan kembali menyeruput tehnya. Sedangkan Celine, dia melirik Wahyu dari samping. Sepertinya pria ini menarik juga, walau agak sedikit dekil karena kurang perawaatn kata Celine menilai sendiri. Saat Alen dan Celine mengobrol, Wahyu tak sengaja mencuri dengar. Celin baru saja curhat jika dia sedang galau karena habis putus cinta. Lalu Alen menggodanya agar tidak memikirkan masalah pria itu, dan menawarkan untuk mencari pengganti yang baru. Mendadak Wahyu geli sendiri mendengar curhatan kedua wanita cantik di sampingnya itu. Yang satu mengeluhkan sakitnya putus cinta, dan yang satunya sibuk menyebutkan daftar nama-nama yanh akan dicomblanginya. Apakah setiap wanita yang putus cinta akan beraksi seperti ini, merajuk, marah-marah, dan menghina segala kekurangan dari mantannya dulu. “Perempuan memang paling ribet ya. Diputusin malah nangis-nangis dan marah-marah sendiri. Jika dikejar, mereka malah sok jual mahal. Serba salah, no comment lah,” batin Wahyu ikut nimbrung. Celine kesal karena dia baru saja diputusin oleh pacarnya. Padahal mereka telah berpacaran selama satu tahun. Selama ini Celine memang jarang menjalin hubungan asmara terlalu lama, dan ini adalah rekornya. Tapi malah berakhir putus juga. “Aku kesal bangen Len, masak dia putusin aku Clcuma gara-gara aku jarang ada waktu buat kencan. Padahal kita udah komitmen mau menjalani hubungan secara dewasa. Dan aku juga ngak mau berpacaran terus, mana umurku udah mau masuk 26 tahun sekarang. Teman-teman kita aja udah pada kawin dan punya anak,” oceh Celine kesal. “Yang sabar Cel. Apa susahnya sih tinggal lupain tuh cowok dan cari yang baru, gampang kan?” Alen tertawa receh menggoda sahabatnya. “Yah, kamu mah enak. Mas Yudi sangat perhatian banget sama kamu. Dan kalian juga menjalani usaha restoran Padang ini.” Katanya. “Yah, makanya cari jodoh yang tepat, dan nikah juga sama kayak aku,” sahut Alen tersenyum Tada!!! seketika ide konyol terbesit di kepala Celine untuk meminta sahabatnya itu mencarikan pria Padang juga. Katanya, para uda Padang rata-rata memiliki tipe pekerja keras dan setia, itu selama ini yang dia dengar. Dan Alen adalah salah satunya yang mendapat pria berasal dari tanah Minang itu. “Omong-omong, gimana kalau kamu cariin aku Uda Minang. Siapa tahu aku juga bisa memiliki restoran Padang di kemudian hari. Aku sudah bosan menjalini bisnis Butik ini,” kata Celine tiba-tiba. “What! Celine? Kamu yang notabenya seorang wanita khas metropolitan dan hobi shopping mau mencari suami orang Padang?” kata Alen tak percaya. “Jangan ngadi-ngadi ya lu Cel. Rata-rata orang Padang itu tak suka boros loh. Apa kamu berani engak shoping di mall selama berbulan-bulan?” canda Alen. Wahyu yang sejak tadi ikut nimbrung jadi tertawa geli mendengarnya. Dia mengalihkan pandangan saat Celine melirik ke arahnya dengan mata tajam. “Kenapa Mas?” tanya Celine dengan nada sinis. “Oh,, hehe ngak apa-apa Mbak. Saya lagi menghayal jadi pelayan restoran ini,” jawab Wahyu asal, agar tak ketahuan menertawakan kekocakan Celine. Alen penasaran, apakah pria di sampingnya ini sedang membutuhkan pekerjaan. Lalu dia beralih menatap pesanan di meja Wahyu. Oh, pantesan pria ini duduk lama di sini. Ternyata memang kismin, batin Alen. Dari tadi Alen memperhatikan pria itu hanya memesan es teh manis yang sudah hampir tandas diminumnya, bahkan saat pelayannya mau menawarkan hidangan makan, dia menolaknya dengan alasan belum lapar. “Mas butuh kerjaan?” tanya Alen to the poin. “Hah? Apa Mbak?” tanya Wahyu kurang jelas. “Saya tanya, apa Mas ini sedang butuh pekerjaaan?” tanya Alen sekali lagi. “Iya, Mbak,” sahut Wahyu tersenyum, mengangguk mengiyakan. “Hmm, kalau begitu saya akan memberi Mas pekerjaan. Mau?” tawar Alen serius. “Mau Mbak, apa saya bisa bekerja secepatnya. Dimana tempatnya?” tanya Wahyu penuh semangat. “Disini?” sahut Alen. “Disini? Ngapain Mbak?” Wahyu masih belum paham kalau Alen adalah Istri dari pemilik restoran Padang ini. Alen memperkenalkan dirinya. Dia memberi tahu Wahyu jika dirinya adalah istri dari pemilik restoran Padang ini. Dan dia akan memberikan Wahyu pekerjaan sebagai penyambut tamu, karena jika dilihat dari tampang Wahyu lumayan menjual untuk menarik pengunjug. Wahyu merasa sangat senang, dan dia memberikan nomor ponselnya kepada Alen untuk info lebih lanjut. Dalam hatinya, Wahyu merasa bahagia sekali karena sebantar lagi dia akan berhenti jadi bujang pengangguran.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook