Satu Minggu kemudian
Sebuah mobil Lamborghini tampak memasuki jalanan kampus, melaju mengikuti alur menuju tempat parkir. Begitu mobil itu berhenti, seorang pria tampak keluar dari mobil. Pria itu mengenakan jas hitam dengan setelan kaca matanya membuatnya tampak berkharisma. Padahal, usianya masih sekitar kepala tiga.
Pria itu membuka kaca matanya dan memandangi megahnya bangunan kampus. Dia menyudutkan senyumnya, lalu berjalan menuju ke kampus.
"Selamat pagi, Pak Aryo!" sapa dua orang mahasiswa yang sedang berjalan melewatinya.
Tanpa menjawab, Aryo berlalu begitu saja. Dia memang terkenal sebagai dosen yang sombong dan angkuh. Namun, karena usianya yang masih bisa dikatakan 'muda', dia sering menjadi pusat perhatian para mahasiswi-mahasiswi juga staf wanita lainnya. Tidak bisa dipungkiri, Aryo memang dianugerahi wajah yang cukup berkarisma. Bahkan Arjun juga menuruni ketampanannya itu.
"Lihat dosen itu, dia tampan sekali ya!" seru seorang mahasiswi yang melihat Aryo berjalan gagah melewatinya.
"Kau tahu, dia itu ayahnya Arjun. Mahasiswa baru jurusan bisnis ekonomi itu," sahut mahasiswa lainnya.
"Bahkan dia tidak jauh beda dengan putranya. Mereka seperti kakak adik kalau tampak bersama."
Aryo hanya tersenyum bangga mendengar perbincangan mereka yang mulai bergosip tentangnya. Selama itu memujinya, orang itu akan tersenyum dalam hati dan melaluinya begitu saja. Tapi, jika ada yang berbicara kotor di belakangnya, pria itu tidak akan mengampuninya begitu saja.
Aryo berjalan menaiki tangga, setelah berada di atas ia memasuki lift untuk naik ke ruangannya yang berada di lantai tiga.
***
"Mom!" Arjun memanggil ibunya yang hendak masuk ke dalam lift.
Alina, ibunya Arjun serta istrinya Aryo sekaligus seorang dekan fakultas itu menoleh ke belakang. Ia tersenyum melihat putranya yang memanggilnya.
"Arjun?"
"Mom, kenapa kau tidak bareng Ayah, tadi?" tanya Arjun pada ibunya.
Alina terdiam sebelum menjawab. "Ibu tadi buru-buru. Ayahmu juga belum siap, jadi ibu pergi duluan. Kau nggak perlu khawatir, lagian … ibu juga dianter sama sopir, kan," kata Alina yang diakhiri dengan senyuman.
Arjun tahu, senyuman yang ibunya goreskan itu terlihat sumbang. Seperti terpaksa. "Mom, did you fight with Dad again?" tanya Arjun pelan.
"Nothing. Itu hanya pertengkaran kecil, Sayang. Do not worry about it. I can handle it." Alina mengelus pipi putranya itu. "Kami baik-baik saja. Oke?"
Arjun hanya menunduk. Ia tahu akhir-akhir ini ayah dan ibunya itu sering bertengkar. Yah, walau sebatas perdebatan kecil dan tidak sampai perlakuan fisik.
"By the way … di mana Lydia? Biasanya kalian selalu bersama?" tanya Alina mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Umm… tadi dia di kelas. Kami tadi berangkat bersama. Mungkin sekarang dia sudah mulai pelajaran," jawab Arjun tersenyum. Pria itu menjadi berseri-seri saat membicarakan tentang Lydia.
"Ya sudah, kalau begitu ibu pergi dulu, ya. Kau juga cepat ke kelas, sebelum dosenmu datang. Nanti kalau ada waktu kita makan malam bersama Lydia."
"And Daddy?" tanya Arjun membuat Alina terdiam.
"Baiklah, kita berempat!" serunya sembari mengusap rambut Arjun. "Ok, see you!" Alina mengecup kening Arjun kemudian ia berjalan menuju lift.
Alina melangkahkan kaki ke dalam lift sembari mengenakan kacamata hitamnya. Wanita itu memang sangat bergaya. Rambut sebahu yang lurus dan setelan jas abu-abu juga high heels hitam tampak serasi terhadapnya.
Arjun berbalik dan pergi dari sana. Pria berambut hitam yang disisir ke atas itu berjalan dengan menunduk. Ia memikirkan tentang hubungan ayah dan ibunya yang akhir-akhir ini mulai tidak membaik. Kemudian ia takut kalau sampai pertengkaran tersebut akan berlarut dan membuat hal yang tak diinginkan terjadi.
***
TO BE CONTINUED