Seorang gadis tampak berjalan sembari memeluk sebuah map. Memijakkan kaki jenjangnya dengan santai dan berirama. Gadis itu meniup segelintir rambutnya yang menutupi matanya. Kemudian memandang ke depan penuh percaya diri. Sesampainya di sebuah ruangan, ia tersenyum memandangi papan nama yang terpasang di atas pintu itu. 'Ruang Dosen' dan di bawahnya ada nama 'Aryo Bramasta, S.Mb.,M.B.A.' Gadis itu membuka pintunya. Lantas, tubuhnya yang seksi itu memasuki ruangan begitu saja.
"Hey, beraninya kau masuk tanpa mengetuk-" Aryo yang berada
di dalam sana tampak marah, namun amarahnya itu meredam saat menyadari kalau Lydia yang memasuki ruangannya. "Lydia?"
Lydia dengan santainya menutup pintu ruangan itu. Lalu, ia kembali melangkah dengan seksi membuat Aryo tak lepas dari gerak-gerik tubuhnya.
"Ini laporan tugasku, Pak Aryo!" kata Lydia dengan suara desah saat menyebut nama Aryo.
Aryo memajukan tubuhnya. Tangannya itu memegangi map yang Lydia taruh di atas mejanya. Oh bukan pada mapnya, lebih tepatnya pada tangan lembut Lydia yang ia letakkan di atas map. Sedangkan matanya terfokus pada wajah gadis itu.
"Laporannya sudah selesai, sekarang… bolehkah aku pergi, Pak Aryo?" tanya Lydia dengan genit. Ia melirik tangan Aryo yang masih mengelus punggung tangannya.
"Kenapa kau terburu-buru? Ini belum selesai, sa-yang!" seru Aryo sembari tersenyum licik. "Ngomong-ngomong … tanganmu ini sangat mulus dan lembut, bagaimana aku bisa melepaskannya begitu saja?" Aryo mulai meraba tangan Lydia sampai ke lengannya.
Sayangnya, Lydia tidak risih akan hal itu. Justru, bisa dikatakan ia menikmatinya. Sekarang, gadis itu mendekatkan wajahnya, kemudian menarik dasi Aryo dan membuat pria itu menungging dengan wajah yang begitu dekat dengannya.
"Ini di kampus, Pak. Kau bisa dihukum karena telah bertindak c***l dengan seorang mahasiswi," bisik Lydia tepat di telinga Aryo. Tentu dengan suara yang meledek.
"Tapi, bagaimana jika mahasiswi itu merupakan wanita simpananku sendiri?" balas Aryo dengan tersenyum licik.
Lydia beralih pada wajah Aryo. Mata mereka saling terpaku satu sama lain. Kedua hidungnya saling menempel, sedangkan bibirnya hampir saja berdekatan. "Biar aku koreksi, Pak. Wanita simpananmu ini tidak lain adalah kekasih putramu sendiri," seru Lydia dengan suara desah namun terdengar menyakitkan di telinga Aryo.
"Itu kalau di depan dunia. Tapi, kalau hanya ada kita berdua, maka kita adalah sepasang kekasih," bisik Aryo lagi-lagi dengan tersenyum licik.
"Kau memang sangat licik."
"Jika aku tidak licik, maka aku tidak akan bisa mendapatkan apa yang aku inginkan." Aryo meraba kedua bahu Lydia sampai pada kepalanya. Kemudian mengelus pipi lembut gadis di depannya itu dengan tatapan binal. "Kemarin aku tidak bisa mencicipi bibir ranum ini, bolehkah aku mencicipinya sekarang?" bisiknya pelan. Tanpa menunggu persetujuan, pria itu hendak menyambar bibir seksi Lydia.
Drett… drett…
"Ah, sial. Ponsel ini memang perusak suasana saja!"
Aryo mengurungkan niatnya saat suara ponsel bergetar di mejanya. Pria itu menoleh ke bawah, tepatnya melirik pada ponselnya yang terus bergetar itu. Wajahnya berubah saat melihat istrinya yang menelpon.
Lydia ikut melirik. Ia tersenyum menyadari istri dosen itu menelepon. "Aku baru ingat, kalau kau punya tanggung jawab yang harus kau penuhi, Pak. Seorang istri!" ujar Lydia seraya menegakkan tubuhnya.
"Sialan. Wanita itu memang suka sekali menggangguku!" gerutu Aryo pada istrinya, kemudian ia menyambar ponselnya itu dan mengangkat teleponnya.
"Ada apa? Aku sedang mengajar!" ujar Aryo geram pada Alina.
Lydia tersenyum miring melihat Aryo telah berbohong pada istrinya.
"Aku juga tidak ingin mengganggumu!" kata Alina dari seberang sana. "Aku ingin bicara penting denganmu, bisakah kau tidak marah-marah terlebih dahulu."
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Aryo dengan beradu gigit, membuat suaranya memelan.
"Aryo, hentikan sikapmu ini. Kau tahu, kau itu cepat sekali marah. Ada apa denganmu? Aku jadi curiga!"
"Gawat, Alina tidak boleh mengetahui kalau aku sedang bersama Lydia," gumam Aryo dalam hati. Lantas, pria itu berjalan mendekati jendela. Ia takut kalau Lydia yang masih berdiri di depan mejanya itu mendengarnya.
"Baiklah. Katakan apa yang ingin kau bicarakan sampai harus mengganggu waktuku?" tanya Aryo pelan setelah sampai di depan jendela kaca.
"Arjun sudah mulai curiga. Dia sering melihat kita berdebat. Aryo, bisa nggak kita kalau bersama jangan berdebat? Aku rasa kita terlalu memperdebatkan hal-hal kecil, dan itu membuat Arjun terguncang. Memang dia sudah besar, tapi … aku tidak ingin dia sampai memikirkan masalah kita. Jadi tolong, kendalikan amarahmu saat di rumah. Jangan bawa urusan pekerjaanmu sampai ke rumah kita-"
"-bagaimana aku tidak kesal." Aryo memotong perkataan Alina yang belum usai. "Orang-orang dan para staf kampus mulai membicarakanku saat kau naik jabatan menjadi dekan. Kau tahu apa yang mereka katakan di belakangku? Mereka bilang bagaimana bisa seorang suami berpangkat sebatas dosen sedangkan istrinya menjadi seorang dekan. Itu jelas-jelas ngejomplang harga diriku," kata Aryo dengan ketus.
"Aryo, aku mengambil posisi ini demi kebaikan bersama, kan? Kita bisa meloloskan Arjun pada test OST dan memasukkan di universitas ini, itu juga karena posisiku sekarang ini!" bantah Alina. "Sudah, aku tidak ingin membicarakan hal ini di kampus, jika ada yang mendengar semua bisa kacau!" lanjutnya.
Aryo memutar mata bosan. "Baiklah sekarang to the point saja, kau tidak menelponku hanya untuk menceramahi saja, kan?" Kau benar-benar sudah membuang waktuku!" ujarnya.
"Arjun ingin nanti malam kita mengadakan quality time. Yah, sekadar makan malam keluarga," ucap Alina pada intinya.
Aryo tertawa kecil, nadanya terdengar mengejek. "Kau yang meminta atau Arjun yang meminta? Berhenti melibatkan Arjun dalam keinginanmu!"
"Jadi, kalau aku yang meminta kau tidak akan mau? Kenapa kau berubah Aryo? Dulu kita tidak seperti ini. Dulu kita …." Alina memotong perkataannya sendiri. Suara helaan napasnya terdengar dari telepon. "Lupakan. Aku hanya ingin nanti malam kita makan malam bersama. Dan ya, tidak hanya bertiga. Lydia juga akan bergabung."
Aryo tersenyum saat mendengar nama Lydia dalam acara makan malam itu.
"Memang aku belum bilang padanya, tapi … Arjun pasti akan membujuknya," cakap Alina. "Ya sudah, aku tutup telponnya. Aku juga masih punya banyak kerjaan," tutup Alina.
Aryo menyudutkan senyumnya. Kemudian, ia berbalik menatap ke arah Lydia yang sedang asyik duduk dengan memainkan kursi putarnya.
"Sudah selesai tukar menukar rindunya, Pak? Istrimu sudah puas dengan kata-kata romantismu, atau kau yang masih belum puas?" sindir Lydia.
Aryo mulai melangkah ke arahnya. Menyinggung senyum licik dan membuka kancing kerah kemejanya. Sesampainya di hadapan Lydia, ia mendekatkan tubuhnya membuat gadis itu diam membisu. Lalu, Aryo meraba pinggang Lydia dan menariknya untuk berdiri. Mereka berdiri berdekatan.
"Kau dapat undangan malam ini. Sebelum pacarmu mengatakannya, aku akan mengatakannya terlebih dahulu," bisik Aryo di depan bibir seksi Lydia.
"A-apa?" tanya Lydia sedikit gugup.
"Istriku yang super perhatian itu, mengundangmu untuk acara makan malam keluarga. Kita berempat akan dinner malam ini, so kau harus ikut, Sayang," kata Aryo genit.
"Kalau aku menolak?"
Aryo tersenyum mendengar jawaban Lydia. "Sejak kapan kau menolak permintaan Arjun?" tanyanya membuat Lydia menoleh ke arah lain.
Lalu, Lydia terfokus lagi pada Aryo. Ia mulai meraba d**a Aryo yang sedikit terbuka itu. "Aku jadi berpikir. Kalian mengadakan acara makan malam keluarga dan mengundangku. Jadi, ceritanya aku ini menjadi gadis yang akan dikenalkan pada calon mertuanya? Seperti seorang pria pada umumnya, Arjun memperkenalkanku pada orang tuanya. Tentu, aku ini calon menantu kalian!" ujar Lydia menyinggung perasaan Aryo.
Pria itu melepaskan tangannya dari pinggang Lydia, dan mengalihkan tubuh juga pandangannya ke arah lain. "Berhenti membicarakan soal menantu dan mertua!" Aryo menoleh ke arah Lydia lagi dan menarik gadis itu diperlukannya. "Kau bukanlah calon menantuku, tapi kau adalah calon ratuku!" ujarnya penuh penekanan.
Tok… tok… Suara ketukan pintu dari luar mengagetkan mereka. Mereka saling lepas dan merapikan diri.
"Keluarlah, jangan sampai ada yang memergoki kita!" perintah Aryo pada Lydia. "Oh, ya. Bawa kembali laporan tugasmu. Jangan sampai orang di luar sana curiga!" ujarnya lagi.
Lydia langsung berjalan ke arah meja. Ia mengambil mapnya kembali dan mulai berjalan menuju pintu. Ia melirik ke arah Aryo terlebih dahulu, sebelum akhirnya ia membuka pintunya.
Lydia sedikit terkejut saat melihat ada seorang dosen yang berdiri di depan pintu. Dengan anggun, ia menunduk dan berpura-pura bersikap sopan pada dosen tersebut.
"Selamat pagi, Pak!" sapanya dengan santun, lalu berjalan pergi. Ia menghela napas lega saat dosen tadi tak mencurigainya.
***
TO BE CONTINUED