Penyamaran

1047 Kata
"Hey, kalau jalan pake mata!" Seorang pria tampak marah-marah ketika ada pria berkacamata menabraknya. "Apa kacamatamu itu tidak berfungsi sehingga kau tidak bisa melihat dengan benar? Dasar bego!" bentak pria lainnya pada si pria kacamata tersebut. "Dasar si mata empat!" hardik mereka. "M-maaf, a-aku tidak sengaja," ucap pria berkacamata itu dengan gugup. Wajahnya itu lugu dan cupu. Rambut yang disisir rapi ke samping, juga baju yang dimasukkan, menambah kesan culun pada penampilannya itu. "Hi!" sapa seorang pria lagi yang baru datang, berpakaian rapi dan selalu mengenakan jaket almamater kampus. Dia menunjukkan seolah-olah dialah mahasiswa paling teladan. "Maafkan temanku ini, ya. Dia nggak sengaja menabrak kalian," belanya. "Oh, jadi dia temanmu?" tanya pria yang ditabrak tadi tampak meremehkan. "Untung dia temanmu, Mich. Kalau nggak, bisa habis kami hajar," kata pria satunya. "Kau tahu, Mich. Kau tidak pantas berteman sama orang cupu macam dia. Dia bisa merusak reputasimu sebagai mahasiswa terpintar di kampus ini," sambungnya. "Sudahlah, kawan. Ayo kita pergi. Biarkan mereka!" Pria satunya itu mengajak temannya itu pergi dari sana. "Thank you ya, Mich!" Pria berkacamata mata itu mengucap terima kasih sembari membuka kacamatanya. "Vallen … Vallen … kau itu cerdik ya. Di luar kau tampil sebagai orang cupu dan lugu, sedangkan aslinya … kau orang yang sangat berbahaya, hahah!" Michael menepuk bahu Valen sembari tergelak. Pria berkacamata yang ternyata Valen itu tersenyum sinis. Dia menatap Michael dan berkata, "Kau juga sangat cerdik, Mich. Kau menyembunyikan kenakalanmu dengan kepintaranmu itu. Untung kau pintar, jadi tidak ada orang yang tahu sifat aslimu. Sedangkan aku … aku ini hanya orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Aku bisa lolos di universitas ini hanya bermodal keberuntungan. So … untuk menutupi kenakalanku, aku terpaksa bersikap dan menyamar sebagai orang culun!" aku Vallen seraya memasang kacamatanya kembali. "Kita ini memang aktor yang hebat, sobat. Akting kita bahkan pantas mendapatkan penghargaan piala Oscar!" seru sembari merangkul Valen. "Ayo kita pergi!" ajaknya. Mereka pun berjalan bersama. "Kau benar sekali. Tidak ada yang tahu penyamaran kita selain Rachel, Reyna, dan si bodoh Jackie itu. Mereka teman kita, sudah tentu mereka akan tutup mulut," kata Vallen. "Rupanya semakin bertambahnya semester, ingatanku juga semakin berkurang, ya?" ejek Michael sambil mengusap kepala Valen. "Apa kau sudah lupa, seminggu lalu rahasia kita hampir terbongkar oleh seorang gadis. Dan, karena nasib baik berpihak pada kita, rahasia kita itu tetap aman. Tapi ingat satu hal teman, ada delapan orang yang tahu wajah kita. Mereka belum tahu penyamaran kita sehari-hari, jadi ... tetap berhati-hatilah," ujar Michael memperingatkan. "Kenapa kita harus takut, Bro? Kita sama-sama melakukan kejahatan, bukankah peribahasa mengatakan kalau musuh dari musuhmu berarti adalah temanmu? Itu artinya, anggap saja mereka menjadi teman kita." Vallen menaikkan kedua alisnya seraya tersenyum lebar. Michael tampak berpikir. Kemudian ia menatap wajah temannya itu yang senyum sumringah. "Takku sangka, kau jenius juga ya rupanya!" serunya memuji. "Iya dong! Siapa dulu, Valentino Christopher!" ujar Valen sembari merapikan kerahnya dengan sombong. Michael tertawa renyah seraya menggelengkan kepala. Kemudian mereka kembali berjalan. Namun beberapa saat kemudian, langkah itu terhenti ketika sorot matanya menangkap seorang wanita yang baru saja keluar dari lift. Wanita itu tampak seksi dan tingginya semampai. Rambut dengan ujung bergelombang yang dibiarkan terurai dan dicat warna biru muda, membuatnya semakin memesona. Soal kecantikan, tidak bisa dipungkiri lagi. Dia cantik dan berkulit putih. Hanya saja, jalannya bak itu bak seorang pelacuur. Atau memang dia perempuan 'jalang'? "Lihat, gadis itu begitu cantik. Siapa namanya kemarin, oh ya … Carolyn. Ayo kita samperin!" ajak Valen pada Michael. Mereka pun dengan gesit membuntuti gadis itu. Gadis bernama Carolyn itu menghentikan langkahnya. Agaknya, ia tahu kalau dirinya itu sedang dibuntuti. Carolyn menoleh ke belakang, melihat Michael dan Vallen yang cengengesan. Carolyn menganalisa sejenak kedua pria itu. Ia tidak mengenali Vallen, tetapi dia tentu ingat dengan Michael. "Kau?" ujarnya ke arah Michael. Vallen dan Michael bergerak cepat menghampirinya. "Hi!" sapa mereka ramah–melambaikan kedua tangannya. Michael melangkah maju dan merapikan jas almamaternya. "Hi, apa kau masih ingat denganku? Aku Michael … pria yang dipuja se-fakultas hukum karena kepintarannya di kampus ini. Kemarin kita belum sempat ngobrol, so … bolehkah aku sekarang kenal dekat denganmu?" ujar Michael mencoba ramah pada Carolyn. Carolyn menatap Michael sejenak. "Yeah, I still remember you!" seru Carolyn tanpa senyuman. Gadis itu memang terbilang angkuh, terutama dengan orang yang baru dikenalnya. "But, I dunno you!" Carolyn mengerutkan dahi memperhatikan Valen. "Aduh, cantik. Kenapa kau tidak mengenaliku?" Vallen membuka kacamatanya dan tentu saja membuat Carolyn tercengang. "Kalau sekarang, sudah ingat kan?" tanyanya dengan memamerkan senyuman selebar-lebarnya. Carolyn menyorot penampilan Vallen dari kaki hingga ujung kepala. "Wait …. your name is Vallen, right?" tanya Carolyn memastikan. "Tepat sekali. Selain cantik, kau memang jenius!" seru Vallen memuji. Pria itu memang suka sekali mengumbar kata-kata manis. "Seriously? How you like that? Maksudnya … kau terlihat berbeda dari kemarin saat pertama berjumpa." Carolyn masih terlihat tak menyangka dengan penampilan Vallen yang 'culun'. "Kau benar, Carolyn. Sekarang dia tampak lebih jelek, kan. Hahaha!" ejek Michael yang dibalas picinganVallen. Carolyn tersenyum tipis. "Bukan aku yang bilang. But … kata Michael itu ada benarnya. Tapi bukan berarti kau tampak buruk." Carolyn memperhatikan mereka lagi. "Sungguh. Kalian tampak berbeda. Kalian memang pandai menyembunyikan jati diri, aku harus belajar dari kalian," pujinya dengan kepala mengangguk-angguk. "Oh seriously, berarti kau suka dengan penampilanku seperti ini?" tanya Vallen dengan cengengesan. "And me too?" tanya Michael juga. Carolyn menyipitkan matanya. "Menarik. Yeah, I like it!" jawaban Carolyn itu membuat mereka berdecak gembira. "Ngomong-ngomong, Carolyn, kau mahasiswa jurusan apa? Dan semester berapa?" tanya Michael kemudian. "Aku jurusan perhotelan. Tahun ini baru menginjak semester lima. Kalau kalian berdua?" tanyanya balik. "Aku teknik informatika. Dan sudah semester akhir. Tahun ini aku akan lulus," seru Michael. "Aku juga!" sahut Vallen ragu. "Maksudnya, aku juga mahasiswa akhir. Jurusan manajemen. Dan tahun ini merupakan tahun ketiga sidang skripsiku," ujarlen dengan suara sedih lantaran sudah dua kali skripsinya ditolak. "Oh, its ok, Vallen. Kau tahu … dunia luar itu lebih menyakitkan. Jadi, selama kau masih terikat dengan instansi, jangan terburu-buru untuk keluar." "Kenapa bisa begitu, Carolyn?" "Kalian memang tidak merasakannya karena kalian dari kecil hidup di keluarga mapan. Sedangkan aku, orang tuaku sudah lama meninggal. Aku hanya sendiri bertahan hidup di kota ini," ujar Carolyn dengan nada sedih. "But, its ok! Justru aku bahagia dengan keadaanku seperti ini. I feel like free! " "Kami turut berduka," ujar mereka bersamaan. *** TO BE CONTINUED
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN