Bak Bunglon

1144 Kata
Beberapa langkah dari sana, tampak dua gadis yang sedang memperhatikan perbincangan mereka. Satu gadis itu mengenakan kacamata tanpa kaca dan rambutnya dikepang dua. Sedangkan yang satunya rambutnya dikuncir kuda dengan tindik di hidungnya. Dua gadis itu merupakan Rachel dan Reyna. "Gadis itu memang pandai mengambil perhatian orang. Lihat, dalam sekejap Michael dan Vallen menjadi permen karet di dekatnya," ujar Reyna sinis. "Kau benar, Rey. Siapa namanya kemarin, Karolen. Yah, nama yang buruk cocok dengan orangnya yang juga sangat buruk itu!" caci Rachel meremehkan. "Kau tahu namanya secepat itu? Padahal kemarin kita belum kenalan padanya. Namanya siapa tadi katamu?" "Kalau tidak salah sih Karolen. Entahlah." "Kenapa nggak porselen aja sekalian!" ucap Reyna memplesetkan nama Carolyn. "Sebenarnya aku juga tidak tahu awalnya. Tapi, Michael terus saja membicarakan soal dia seminggu terakhir ini. Itu membuatku muak. Seolah-olah dia sudah tahu banyak tentangnya. Menyebalkan!" "Lihat, mereka datang ke sini!" Reyna meneguk ludah saat melihat Carolyn dan dua teman cowoknya itu berjalan ke depan. "Kita harus pura-pura tidak melihatnya!" usul Rachel. Kemudian dua gadis itu menoleh ke arah lain dengan memainkan ujung rambutnya masing-masing. "Eh, ada Rachel sama Reyna!" seru Valen begitu melihat dua temannya itu yang berdiri berdampingan. "Carolyn … perkenalkan … mereka Rachel dan Reyna. Mereka teman-teman kami," seru Michael memperkenalkan mereka pada gadis di tengahnya itu. "Juga para pelaku pembunuhan kemarin." Valen berbisik tepat di telinga Carolyn. "Hi, you guys!" sapa Carolyn pada Rachel dan Reyna. Tangan semulus pantaat bayi itu mengulur bermaksud minta dijabat. "Haduh… males banget kenalan sama dia. Valen dan Michael memang keterlaluan!" Reyna bergumam pelan. Senyum hambar mulai mengembang dari bibirnya. Gadis itu menjabat tangan Carolyn. "Reyna!" katanya memperkenalkan diri. "Carolyn!" jawab Carolyn memberitahu namanya. "Rachel!" Gadis berkacamata itu pun ikut memperkenalkan diri dan menjabat tangan Carolyn setelah Reyna. "Sorry … kemarin kita nggak saling bertegur sapa. Yah, kau tahu … kami terlalu takut–" "–memangnya … kau baru melakukan pembunuhan sekali?" tanya Carolyn memotong perkataan Rachel. "Kalau iya, Kenapa?" Reyna menyahut cepat. Kemudian tatapannya itu menyorot penuh curiga pada gadis berambut gelombang itu. "Kau bertanya seolah kau sudah sering melakukan pembunuhan." Carolyn meneguk ludah. Demi menghilangkan kegugupannya, ia bercakap, "Nggak. Hanya saja, aku melihat tampangmu seperti ahli psikopat." "Wow, kau lancang sekali ya. Berani sekali kau mengatakan hal itu pada orang yang baru kau kenal?" sindir Reyna namun dengan senyum paksaan. "Oh, sorry. Aku hanya bercanda," kata Carolyn bergurau. "Ngomong-ngomong, jika aku perhatikan … kalian ini hebat ya. Kalian berempat bisa menyamar bagai seekor bunglon. Lihat, kacamata dan rambut kepangmu ini,"-Carolyn memegang kepang rambut Rachel sebelah kiri-"dia tampak elegan di kepalamu," pujinya. "You are right, Carolyn! Kau bahkan juga misterius. Ujung rambutmu selalu berubah warna, bukankah itu juga termasuk penyamaran?" kata Reyna membalas sindiran temannya. "Oh ini?" Carolyn memegangi ujung rambutnya yang berwarna biru muda. "Ini hanya style saja, tidak lebih. Aku suka berganti-ganti gaya, hehe," ujarnya bernada angkuh diakhiri dengan kekehan. "Fantastis!" Rachel memperagakan ibu jari juga telunjuknya membentuk huruf 'O' ke arah Carolyn. Carolyn tersenyum pada mereka. "Ok, nice to meet you guys! Sepertinya aku harus cepat-cepat ke kelas, so good bye and see you later!" seru Carolyn yang kemudian berjalan elegan meninggalkan mereka. Reyna dan Rachel hanya memutar mata bosan dan memainkan bibirnya tanda tak suka. "Kau bilang namanya Karolen?" bisik Reyna tepat di telinga Rachel. "Aku tidak tahu juga. Lagian … apa peduliku dengan nama gadis itu!" sahut Rachel malas. "Hei, Carolyn, tunggu!" Michael tampak teringin mengejar Carolyn, namun dengan cepat Rachel menarik telinganya membuat pria itu berdiam. "Auuhh!" Michael mengaduh dan memegang tangan Rachel yang masih menarik telinganya. "Ada apa denganmu, Rachel?" "Kau yang ada apa?!" tanya Rachel sembari melepaskan tangannya dari telinga Michael. "Kenapa kalian menjadi sibuk terobsesi dengan gadis itu?" tanyanya juga pada Michael. "Ada apa dengan kalian. Carolyn kan teman kita," sanggah Valen. "Sejak kapan menjadi teman kita? Dia bukan siapa-siapa bagi kita. Hanya karena kita sama-sama melakukan pembunuhan itu, bukan berarti dia menjadi bagian dari kita!" ujar Reyna menegaskan. "Tapi…." Michael teringin menyangkal, namun tiba-tiba terdiam saat Rachel memicingkan mata kepadanya. "Aduh… kalian terlalu memperdebatkan hal-hal yang tidak penting. Lagi pula, kenapa kalau Carolyn menjadi teman kita? Kalian berdua ini walau bukan anak bisnis tapi kalian juga harus pintar berbisnis. Anggap saja Carolyn adalah keuntungan kita. Siapa tahu, dia bisa berguna pada kita," seru Vallen menjelaskan panjang lebar pada mereka. Rachel dan Reyna tampak berpikir. Kemudian, mereka saling tatap satu sama lain. "Pemikiran Mereka itu ada benarnya juga, ya. Kita bisa manfaatkan si gadis porselen itu!" seru Reyna pada Rachel. "Yeah, setidaknya … bisalah kita jadikan b***k! Hahaha!" Rachel memberi tos pada Reyna. "Kalian ini kenapa jahat sekali? Kasihan dia," ujar Valen tampak tak setuju. Reyna berjalan ke arah Valen dan berdiri di sampingnya. Memegang lengannya dan bersikap sok romantis. "Valen sayang … jadi orang itu jangan mudah kasihan pada orang yang baru kita kenal. Kau lihat kemarin, jika kau kasihan pada gadis kemarin dan tidak jadi membunuhnya … maka rahasiamu itu akan terbongkar. Kau mengerti?" cubit Reyna pada lengan Valen. "Shut … sebaiknya, kita jangan membicarakan soal pembunuhan itu di sini. Kalian tahu, semua dinding di sini bisa saja memiliki telinga!" tutur Michael. "Michael benar! Ya sudah, ayo kita sama-sama ke kelas, Mich!" ajak Valen pada Michael. Kemudian mereka berjalan pergi meninggalkan dua teman gadisnya itu. "Kau tidak ke kelas, Rey?" tanya Rachel pada Reyna. "Males! Kau tahu, aku tidak perlu ikut kelas untuk mendapatkan gelar sarjana hukum. Semua bisa diatur nantinya, tenang saja!" kata Reyna tampak meremehkan. Benar, Reyna itu orang yang simple dan tidak ingin ribet dalam hidupnya. Semua bisa ia dapatkan dengan instan karena memang dia dari keluarga 'sultan'. Ayahnya itu seorang pengacara, dan ibunya memiliki bisnis restoran. Sebagai mahasiswa hukum, dia diinginkan keluarganya untuk menjadi penerus ayahnya, yaitu menekuni bidang hukum. Namun, sayangnya kedua orangtuanya itu harus bernasib malang lantaran ternyata anaknya sendiri menyalahi hukum dengan melenyapkan nyawa seseorang. "Reyna … ingat satu hal. Lahir dari keluarga kaya raya bukan berarti kau akan dipandang 'wah' di kampus ini. Kau kan tahu sendiri, bahkan kampus ini menolak puluhan ribu mahasiswa kaya raya setiap tahunnya. Kita bisa lolos tes OST dulu emang kita lewat jalur 'haram'. Hahaha!" "Rachel, diamlah! Aku tidak ingin kau merusak rahasia kita itu. Ingat, hanya kita berdua yang tahu rahasia ini. Bahkan Valen juga Michael tidak mengetahui hal ini. Dulu kita lolos karena mengakali dua peserta yang lolos test, kita mengambil namanya. Entah kenapa nasib juga berpihak pada kita." Reyna tersenyum sinis. "Ngomong-ngomong, Rachel. Kau kan lumayan pintar dalam hitung menghitung, kenapa kau tidak mengambil jurusan matematika? Kau malah mengambil jurusan desain." "Desain itu hobiku, Reyna. Karena itulah aku menekuni bidang ini," ujar Rachel. "Sudah-sudah, kalau kau tidak ingin masuk ke kelas, setidaknya biarkan aku ke kelas. Aku pasti sudah ketinggalan pelajaran dari dosen. Aku pergi dulu!" tutup Rachel yang kemudian berjalan meninggalkan Reyna. "Rachel, jangan lupa nanti seperti biasa!" teriak Reyna memberitahu. "Ok!" jawab Rachel sembari terus berjalan. *** *** TO BE CONTINUED
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN