Malam itu keluarga Aryo tengah mengadakan acara makan malam bersama. Di sana sudah duduk Aryo, Alina, Arjun, dan juga Lydia. Lydia malam itu tampak begitu cantik dan elegan. Gaun merah yang baru dibelinya bersama Arjun tampak begitu seksi terbalut di tubuhnya.
"Lydia, kau sangat cantik, Nak!" puji Alina seraya tersenyum memandangi calon menantunya itu. Yah, Lydia sudah dianggap sebagai calon menantu oleh Alina.
Lydia yang baru meneguk segelas anggur itu terseyum pada Alina. "Thank you, Bu Alina. Kau juga sangat cantik malam ini," pujinya lalu melirik ke arah Aryo.
"Lydia, kenapa kau memanggilku dengan sebutan Bu? Kau bisa memanggilku Tante kalau memang sedang tidak di kampus. Lupakan kalau aku adalah dekan fakultas. Anggap saja aku hanya ibunya pacarmu. Yah, biar lebih akrab saja," seru Alina.
"Ok, Tante."
Dari seberang meja sana Aryo tampak terus memandangi Lydia. Matanya itu tak bisa lepas dari gadis itu.
"Kau lihat, gaun pilihanku itu sangat cocok untukmu," bisik Arjun di telinga Lydia. "Ibu sangat menyukainya," serunya lagi.
"Kau memang yang terbaik, Arjun," balas Lydia berbisik.
"Uhuk-uhuk!" Aryo berpura-pura batuk saat melihat kedekatan mereka berdua. Lalu ia meneguk segelas anggur di depannya dengan ekspresi kesal dan mata yang terus terfokus pada mereka.
"Kenapa kalian bisik-bisik?" tanya Alina membuat mereka tersipu. "Aku jadi penasaran, apa yang sedang kalian bicarakan?" seru Alina lagi.
"Nggak ada kok, Mom. Lydia hanya minta hadiah dariku. Yeah, you know … one kiss," seru Arjun membuat Aryo melotot.
"Oh, ya? Lydia yang meminta atau kau yang memintanya?" canda Alina.
"Dia yang memintanya, Tante. Hehe," ucap Lydia malu-malu. "Arjun memang selalu seperti itu. Padahal, aku sudah sering memberinya," imbuh Lydia bermaksud memanas-manasi Aryo.
"Tapi apakah aku tidak berhak mendapatkan hadiahnya? Aku kan sudah membelikan gaun cantik ini padanya, apa dia tidak ingin memberiku ciuman?" Arjun tampak protes dengan wajah polosnya.
"Oh, kau mulai perhitungan ya sekarang?" canda Lydia ke arah Arjun. Itu semakin membuat Aryo terbakar api cemburu.
"Arjun … Arjun … kau bisa memintanya nanti. Tapi juga tidak di depan kami dong. Apa kau tidak malu bermesraan di depan ayah dan ibumu?" Alina menggeleng-gelengkan kepala seraya tersenyum.
Mereka bertiga tampak berbincang dan bercanda bersama. Sedangkan Aryo hanya menjadi penonton dan membisu. Hatinya itu kepanasan acap kali melihat Lydia yang tertawa bahagia bersama putranya.
"Kalian sudah kenyang?" tanya Alina pada mereka setelah menyelesaikan makan malamnya.
"Sudah, Tante!" jawab Lydia sopan. Lydia memang pandai sekali berakting. Di mana pun dia berada, dan dengan siapa, dia bisa memposisikan dirinya harus bersikap seperti apa. Dia bisa menjadi romantis saat bersama Arjun, bersikap bagai putri berhati mulia saat berhadapan dengan Alina, dan dia juga bisa menjadi binal saat bersama Aryo. Dia semacam bunglon.
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas kedatanganmu, Lydia. Tante senang sekali kau bisa makan malam bersama kami. Setelah sekian lama kalian berpacaran, kita baru kali ini bisa dinner di rumah seperti ini," seru Alina bahagia.
"Aku juga senang makan malam bersama kalian," ucap Lydia sembari melirik Aryo.
"Dan aku lebih senang lagi!" decak Arjun gembira. "And you, Dad? Apa kau senang dengan makan malam ini?" tanya Arjun ke arah Aryo yang sedari tadi diam.
"Oh, ya. Of course. I enjoy it!" ucap Aryo diakhiri dengan senyum paksaan.
Alina merasa kalau suaminya itu telah berbohong. Dia menyadari dengan betul kalau pikiran Aryo sedari tadi sedang tidak ada bersamanya. Wanita itu mengelap tangannya dengan tisu. Kemudian pandangannya menatap ke arah Arjun dan Lydia. "Ok, so … kita akhiri acara malam ini?" tanyanya pada mereka.
Lydia mengangguk seraya menggores senyum. "Iya, Tante. Aku … juga harus pulang," ujarnya.
"Ya sudah, aku akan mengantarmu sekarang!" ajak Arjun.
Lydia mengangguk. Dia berdiri dan berpamitan pada orang tua Arjun. "Tante, Om, Lydia pamit ya? Thanks for this dinner," serunya pada Aryo dan Alina.
"Oh, of course. Hati-hati di jalan, ya!" kata Alina ramah.
"Iya, Tante."
"Good night!" kata Aryo dingin.
"Ya sudah, ayo! Keburu hujan. Kayaknya tadi di luar mendung gelap banget," kata Arjun. Lalu pria itu menggandeng Lydia pergi dari tempat makan. Mereka berjalan bersama dengan saling memeluk pinggang.
Aryo yang melihat itu merasa emosi. Dia benar-benar menyimpan kekesalan yang mendalam. Tapi, apa boleh buat, bahkan ia tak bisa menumpaskan kekesalan itu pada pria yang bersama gadis pujaannya. Karena sejatinya, pria itu adalah putra kandungnya sendiri. Dan yah, Arjun juga sangat menyayangi Arjun sebagai putranya.
"Siapa dia?" tanya Alina pada Aryo. Wanita itu menatap suaminya tajam dengan melipat kedua tangannya di perut.
"What? What do you means?" tanya Aryo tak mengerti.
"Orang yang merebut pikiranmu." Alina menghela napas sejenak. "Kau pikir aku tidak tahu. Sikapmu itu berubah, Aryo! Kau berada di sini tapi pikiranmu bersama orang lain. Jadi, siapa dia?" tanya Alina dengan tatapan penuh penghakiman.
"Dia siapa? Apa yang kau maksud? Kau benar-benar aneh!" kata Aryo kesal. Lalu ia berniat untuk pergi dari sana nanun Alina menahan tangannya.
"Apa dia lebih cantik dariku?" Pertanyaan Alina semakin membuat Aryo kesal.
"Hentikan omong kosong ini!"
"Aryo! Aku tidak bodoh! Sedari tadi kau sedang memikirkan hal lain. Pacar putramu ada di sini, dan kau tidak mencoba bersikap ramah terhadapnya? Kau bahkan hanya diam saja tanpa berbicara. Aku semakin yakin kalau pikiranmu memang sedang tidak bersamamu. Katakan, kau sedang memikirkan hal lain kan?!"
"Iya! Dan aku sedang memikirkan pekerjaanku. Pekerjaanku sangat banyak di kampus. Memangnya dirimu, hanya duduk santai dan tinggal menerima gaji?!" sindir Aryo.
"Kau benar-benar sudah berubah, Aryo! Kau berbohong. Matamu itu mengatakan hal lain. Kau tidak sedang memikirkan pekerjaan, tapi kau memikirkan wanita!" bentak Alina marah. "Katakan, kau memiliki wanita simpanan, iya kan?!"
Aryo mencengkram janggut Alina dengan marah. "Dengar, apapun yang kau katakan itu omong kosong. Jangan coba-coba membentakku!" ancamnya.
Alina melepaskan cengekeraman tangan Aryo. Ia menyudutkan senyumnya. "Sudah jelas, dari sikapmu ini kalau kau menyembunyikan sesuatu dariku, Aryo! Kau berselingkuh dariku! Kau memiliki wanita lain, iya kan?!"
"Diam?!" Aryo hampir saja menampar istrinya itu. Namun ia mengurungkan niatnya.
"Kenapa berhenti? Hah? Kenapa? Ayo tampar! Dengan menamparku kau telah membuktikan kalau tuduhanku itu benar adanya!" ujar Alina, masih dengan suara lantang.
"Kau tidak bisa menuduhku tanpa bukti!"
Alina tersenyum mengejek. Ia membalikkan tubuhnya membelakangi suaminya. "Sikapmu belakang ini telah membuktikan kalau kau sedang bermain mata di belakangku. Aku yakin pasti ada wanita lain di dalam hatimu itu!" Alina membalikkan tubuhnya lagi menatap suaminya penuh amarah. "Apa kau tidak mencintaiku lagi? Hah?!"
Alina mendekat ke arah Aryo. Ia memukuli d**a bidang suaminya itu. "Kenapa kau melakukan ini padaku, Aryo! Kenapa? Dulu kita saling mencintai. Tapi kenapa sikapmu sekarang berubah? Katakan Aryo! Apa kau tidak sungguh-sungguh mencintaiku? Apa kau menikahiku hanya karena kasihan padaku karena aku hamil terlebih dahulu sebelum menikah?" Alina menangis di d**a Aryo. "Tapi aku hamil juga anak kandungmu, Aryo!" Alina memukuli Aryo yang hanya terdiam itu.
Bahkan Aryo sama sekali tidak ingin memeluk dan menenangkan istrinya. Hatinya itu sama sekali tak sudi untuk kasihan. Rasa cintanya pada Alina dulu benar-benar hilang. Semua cinta itu berpindah tempat pada hati Lydia.
"Katakan, Aryo. Kenapa kau menyakiti hatiku? Kenapa?!" rengek Alina.
"Mom? Dad?" Apa semuanya baik-baik saja?" Suara Arjun tiba-tiba mengagetkan mereka berdua.
***
TO BE CONTINUED