Alina menunduk, mengusap air matanya lalu menatap ke arah putranya. "Arjun, kenapa kalian belum pergi? Everything is okay?" tanya Alina begitu melihat Arjun dan Lydia masih bersama.
Arjun dan Lydia berjalan ke arah Alina dan Aryo. "Mom, di luar hujan deras sekali. Jadi, aku takut jalanan macet. Lydia tidak akan betah jika terus menunggu di dalam mobil. So … kita menunggu hujannya reda saja, setelah itu aku akan mengantar Lydia pulang," jelas Arjun pada ibunya.
"Kenapa kau tidak menginap di sini saja, Lydia? Kau bisa menginap kalau kau mau," saran Alina. Matanya tertuju pada Lydia yang berdiri di samping Arjun.
"Oh yeah, ide bagus, Mom. Lydia, kau harus menginap di sini. Kau bisa tidur denganku nanti," seru Arjun gembira.
"Tidak!" Suara Aryo membentak tidak setuju, membuat mereka kaget. Tatapan mereka langsung tertuju ke arahnya. "Maksudnya … kalian tidak boleh tidur bersama, Arjun. Kalian belum menikah jadi ayah tidak menyarankan untuk kalian tidur satu ranjang!" tutur Aryo mencoba mencegah.
"Tapi ayah …." Arjun tampak ingin protes namun Aryo menegaskan lagi.
"Ayah bilang tidak ya tidak! Kalian tidak akan tahu apa yang akan terjadi jika kalian tidur bersama. Itu bisa merusak masa depan kalian!" bentak Aryo lagi.
"Arjun, ayahmu benar. Kalian tidak boleh tidur bersama selama kalian belum menikah," tutur Alina. Wanita itu tahu betul dampaknya akan buruk nantinya. Seperti yang pernah ia lakukan pada Aryo sebelum menikah, dan sebagai ganjaran dia hamil di luar pernikahan. Alina menelan ludah, lantas wanita itu menatap ke arah Lydia. "Lydia bisa tidur di kamar tamu atas, kau tidak apa-apa kan, Lydia?" ujarnya bertanya.
"Iya, Tante. Tidak apa-apa kok!" ucap Lydia pelan.
"Baiklah. Arjun, kau antar Lydia ke kamarnya," pinta Alina.
"Yes, Mom!" kata Arjun datar, menampilkan wajah yang cemberut. "Come on, Baby!" serunya pada Lydia. Lalu pria itu menggandeng Lydia dan mengajaknya ke kamar atas.
Aryo dan Alina masih berdiri di tempat. Alina menatap Aryo dan berkata, "Bisakah kau jangan membentak Arjun seperti itu? Kau bisa memberi tahunya dengan kepala dingin, Aryo. Tidak perlu membentak seperti itu apalagi di depan Lydia."
"Diam, Alina. Aku membentaknya karena dia salah. Apa kau ingin, kesalahan yang kita lakukan dulu terjadi juga pada anak kita? Bagaimana kalau Lydia hamil di luar nikah? Arjun pasti akan dituntut untuk bertanggung jawab!" kata Aryo menegaskan.
"Memang itu kan yang seharusnya? Berani berbuat memang harus berani mengambil risiko. Jangan lupa, Aryo. Mereka berdua saling mencintai-"
"-jangan lupa juga kalau dulu kita saling mencintai. Tapi apa sekarang?" Perkataan Aryo itu membuat Alina terdiam.
Wanita itu menyudutkan senyumnya. Menertawakan dirinya sendiri. "Dengan mengatakan itu, kau sudah mengakui kalau kau tidak lagi mencintaiku sekarang ini, iya kan, Aryo?!"
Kali ini ucapan Alina berhasil membungkam mulut Aryo. Pria itu terdiam tak berkutik. Ia hanya menoleh ke arah lain dengan wajah kekesalan.
"Lucu sekali hidupku ini. Orang yang aku cintai, bahkan aku rela memberikan keperawananku dulu, aku rela hamil sebelum kita menikah, lalu kita menikah dengan harapan hidupku akan jauh lebih indah lagi. Tapi apa yang terjadi sekarang?" Alina tertawa kecil–mengejek dirinya sendiri. "Orang itu benar-benar telah menghianatiku. Dan kau orang itu, Aryo! Kau!" bentak Alina ke arah Aryo.
"Aku tidak ada waktu untuk membicarakan omong kosong seperti ini. Jika kau masih ingin bersamaku, maka hormati aku sebagai suamimu!" tutup Aryo dengan suara mantap. Kemudian pria itu berjalan pergi meninggalkan Alina yang masih berdiam di tempat.
"Sialan!" Alina menumpahkan kekesalannya pada sisa-sisa makanan di meja. Ia mengobrak-abrik beberapa benda di sana. Lalu matanya menatap tajam ke arah Aryo yang berjalan menaiki tangga. "Aku tahu kau pasti memiliki wanita lain, Aryo. Aku berjanji aku pasti akan memberi perhitungan pada wanita! Ini adalah janjiku!" ujarnya penuh kebencian.
***
Di ruang atas Arjun tampak menunjukkan kamar pada kekasihnya. Ia membuka kamar yang cukup luas dengan interior ala gaya Skandinavia yang indah itu. Kemudian mereka berdua memasukinya.
"Kau suka?" tanyanya pada Lydia.
Lydia memandangi setiap sudut kamar yang rapi dan megah. Lalu ia menatap ke arah Arjun dan mengangguk tiga kali. "Suka banget. This is amazing, Arjun. Kau tahu, aku merasa di dalam hotel bintang lima," pujinya begitu menyaksikan betapa indahnya kamar itu.
"Ini baru kamar tamu, Sayang. Kamarku lebih indah dari ini," seru Arjun. Lalu ia mendekatkan wajahnya di samping Lydia. "Jika kau ingin kau bisa datang ke kamarku," bisiknya tepat di telinga Lydia.
"Keterlaluan, kau masih mencoba merayuku untuk tidur bersama," kata Lydia seraya mencubit pipi Arjun.
"Habis mau gimana lagi. Kita belum pernah tidur bersama. Lain kali kita tidur bersama ya? Pasti seru!" bujuk Arjun dengan wajah lugu yang dibuat-buatnya. Matanya itu berkedip dan pipinya memerah seperti anak kecil.
"Kita bisa atur nanti. Tapi, kau harus izin pada ayah dan ibumu dulu," kata Lydia membuat Arjun berubah ekspresi.
"Kau memang tidak bisa diajak kompromi!" Arjun mengusap rambut belakangnya. "Kau belum ngantuk kan? Bagaimana kalau kita mengobrol bersama? Di luar sedang hujan deras, jadi kita bisa mengobrol dan saling bercerita. Aku akan memelukmu jika kau kedinginan nanti, bagaimana?" Lagi-lagi Arjun mengeluarkan jurus matanya yang berkedip-kedip.
Sayangnya, Lydia tidak tertarik akan hal itu. "Kali ini kau tidak beruntung, Sayang. Aku sangat ngantuk malam ini. Setelah makan banyak, aku jadi kenyang dan ingin tidur saja. Apalagi, cuacanya sedang hujan begini. Pasti, enak sekali tidur." Lydia melebarkan senyumnya ke arah Arjun. "Kalau kau mau, kita bisa mengobrol dalam mimpi. Bercinta dan bermesraan, bagaimana?" ucap Lydia genit.
"Yah, tidak asyik dong kalau cuma mimpi. Nanti kalau bangun tiba-tiba celanku basah semua bagaimana? Ibu bisa menuduhku aku sedang ngompol!"
"Itu gampang, Sayang. Sekarang kan lagi hujan, kau alasan saja kalau atap kamarmu bocor. Hahaha!" pekik tawa Lydia sampai terdengar dari luar kamar.
"Ah, kau memang benar-benar nakal, ya!" Arjun mendekatkan tubuhnya pada Lydia. Kemudian ia mengecup keningnya. "Ya sudah, kalau begitu kau tidak saja. Aku juga sudah ngantuk," ujarnya.
Lydia mengangguk seraya menarik bibirnya untuk tersenyum.
"Good night! Have a nice dream!" seru Arjun, sembari merenggangkan pelukannya.
"Arjun!" Lydia menghentikan pacarnya itu yang hendak pergi. Kemudian ia dengan cepat memegang pipi Arjun dan mencium bibirnya. "Ini hadiah sebelum kau tidur," serunya setelah menyudahi ciuman kilatnya.
Arjun tersenyum bahagia. "Thank you, Baby!" Arjun mengelus pipi Lydia kemudian berjalan menuju pintu. "Jangan lupa kunci pintunya. Pelayan di rumah ini suka tidak tahan kalau lihat gadis seksi menginap di rumah ini," canda Arjun yang masih berdiri di ambang pintu.
"Iya … sayang …!" balas Lydia sembari berjalan ke arah pintu. Gadis itu menutup pintunya dan menguncinya dari dalam begitu Arjun sudah pergi. Lantas, ia berjalan ke arah spring bed dan membanting tubuhnya di sana.
"Ahhh … semua terasa indah. Aku beruntung sekali bisa memiliki Arjun, juga merasakan cinta ayahnya." Gadis itu tersenyum licik.
Tok … tok … tok ….
Suara ketukan pintu membuat Lydia membuka matanya setelah terpejam sejenak. Gadis membangunkan tubuhnya dari kasur. "Arjun memang keterlaluan. Dia tidak bisa membiarkanku istirahat," ujarnya sembari berjalan ke arah pintu.
Lydia mulai membuka pintunya. "Arjun kau-" Lydia terkejut dan tak jadi melanjutkan perkataannya begitu melihat seseorang yang berdiri di depan pintunya.
"K-kau?" ucap Lydia gugup begitu menyadari Aryo yang mengetuk pintunya tadi. Sekarang pria itu berdiri menatapnya dengan genit dan tersenyum sinis.
"Apa kau menginginkan orang lain yang datang?" tanyanya membuat Lydia meneguk ludah. Tanpa basa-basi, pria itu langsung masuk ke kamar begitu saja.
"Kenapa kau ke sini? Bagaimana kalau nanti istrimu melihatnya?" Lydia buru-buru menutup pintunya dan menguncinya kembali. "Dengar, aku tidak ingin mendapatkan masalah. Bagaimana kalau Arjun melihatmu ada di sini?" ujarnya cemas ke arah Aryo.
"Arjun … Arjun … Arjun …." Aryo mendekat ke arah Lydia dan menumpangkan kedua tangannya pada bahu Lydia. "Seharian ini kau selalu membicarakan Arjun. Apa kau tidak bosan? Bagaimana kalau kita membicarakan tentang kita saja?" tanyanya membuat Lydia ketakutan.
Lydia melangkah mundur, namun Aryo membuat tubuhnya itu semakin mendekat.
"Kenapa, Sayang? Apa kau tidak ingin bersamaku?" tanya Aryo membuat Lydia gugup.
Lydia melirik ke sudut-sudut kamarnya. "Dengar, tolong lepaskan aku. Bagaimana kalau di sini ada CCTV-nya? Aku tidak ingin kena masalah. Aku tidak ingin Arjun ataupun istrimu tahu soal ini. Please!" kata Lydia tak tenang.
Aryo menata wajah Lydia agar menatap ke arahnya. "Dengar, Sayang. Ini rumahku. Tidak ada CCTV di kamar ini. Lagipula, bukankah kalau di kampus kita selalu melakukan hal ini?" Perkataan Aryo membuat Lydia gugup.
"T-tapi … bagaimana kalau-"
"-husst!" Aryo menutup mulut Lydia dengan telunjuknya. "Kau terlalu khawatir. Kau tidak perlu mencemaskan hal itu, Sayang. Istriku dan putraku itu tidak akan tahu. Mereka semua pasti sudah berada di kamarnya dan tertidur, sedangkan kita … kita hanya berdua di sini. Bukankah kau sangat menginginkanku?"
"Bagaimana kalau Tante Alina mencarimu? Kau tidak ada di kamarnya, pasti dia curiga."
"Kau mencemaskan hal yang tidak perlu. Kau mau dengar kabar baik? Sudah lama kami tidak tidur satu ranjang. Jadi dia tidak akan mencariku. Sudah lama pula kami tidak melakukan hubungan layaknya suami istri. Hanya denganmu, hanya denganmu aku bisa menyalurkan hasratku yang tak tertahan ini." Aryo mulai membuka kancing kemejanya satu persatu, membuat dadanya yang bidang dan ditumbuhi bulu-bulu halus itu terekspos. "Bukankah kau selalu bilang kalau tubuhku ini sangat hot? Apa sebutannya? Oh ya … hot daddy!" Aryo tersenyum sinis.
Lydia membalikkan tubuhnya. Namun Aryo mendekatkan tubuhnya dari belakang. Ia mulai meraba lengan gadis itu sampai pada lengan atas membuat Lydia memejamkan mata.
"Kulitmu ini sungguh lembut, Sayang. Aku sangat menyukainya," bisiknya tepat di telinga Lydia.
Lydia tak tahan lagi. Kupu-kupu dalam perutnya serasa beterbangan. Ia merasakan betapa hangatnya napas Aryo. Sudah tak tahan dengan godaan 'Hot Daddy' itu, Lydia mulai membalikkan tubuhnya. Kini tubuh mereka saling beradu.
"Akhirnya kau menyerah," kata Aryo puas.
Lydia mulai meraba d**a bidang Aryo, melepaskan kancing kemejanya yang masih tersisa. Kini perut bak roti sobek itu terpampang di depan mata Lydia. Itu semakin membuatnya gila.
"Harus aku akui, kalau tubuhmu ini benar-benar hot. Bahkan otot perutmu ini tidak kalah dengan punya Arjun," puji Lydia dengan suara desah manja.
Aryo menyudutkan senyumnya. "Arjun tidak akan bisa mengalahkan ayahnya. Otot tangan Arjun itu hanya separuh dari ototku!" ujar Aryo sombong. Dia memang rajin olahraga, sehingga otot-ototnya itu terbentuk sempurna di tubuhnya.
"Ngomong-ngomong… kau juga sangat seksi, Sayang." Aryo mulai meraba pinggang ramping Lydia. "Tubuhmu ini sangat indah, jauh lebih indah daripada tubuh Alina. Kau ingat, aku pernah bilang kalau kau itu memiliki daya tarik yang kuat. Kau sudah melepaskan bajuku, sekarang bolehkah aku berbuat hal yang sama denganmu?" goda Aryo pada Lydia.
"Apa kau ingin melihatku tanpa busana? Baru saja kau melarang putramu untuk tidur bersamaku, lalu apa yang kau lakukan sekarang, Aryo? Kau sungguh tidak adil, dan juga licik" ujar Lydia membuat Aryo tersenyum licik.
"Tidak ada yang bisa mencicipimu, tidak Arjun atau siapa pun. Hanya aku! Aku yang berhak atas dirimu, Sayang!" Aryo mulai nekat. Tangannya memegang aset berharga Lydia dan mendekatkan wajahnya tepat di wajah gadis itu.
"Mari kita mulai malam kita!"
Tok… tok … tok ...
Suara ketukan pintu mengagetkan mereka. Mereka sontak saling melepas dan menatap ke arah pintu bersamaan.
"Lydia! Apa kau sudah tidak, Nak?" Itu suara Alina, disertai pula ketukan pintunya. Suara itu membuat jantung Lydia hampir terlonjak.
"Sialan. Wanita itu selalu mengganggu!" gusar Aryo kesal.
"Cepatlah sembunyi!" pinta Lydia pada Aryo.
Dengan kesal akhirnya Aryo bersembunyi di balik lemari besar. Ia berdiam di sana. Sedangkan Lydia merapikan dirinya dan berjalan ke arah pintu.
Lydia membuka pintu tersebut. "Tante?" ucapnya begitu melihat Alina berdiri di depan kamar. "Ada apa, Tante?" tanyanya.
"Tante hanya ingin memastikan kalau kau suka dengan kamarnya. Bagaimana, apa kau merasa nyaman?" tanya Alina.
Lydia mengangguk pasti. "Iya, Tante!"
Kemudian Alina berjalan masuk membuat Lydia melotot dan menegang.
"Bagus kalau kau suka kamarnya. Kamar ini tidak pernah digunakan sebelumnya, tapi pelayan selalu membersihkannya. Kau jangan khawatir, tidak akan ada tikus ataupun kecoa di sini."
Bruk! Terdengar bunyi sesuatu dari arah lemari. Tepat di tempat persembunyian Aryo.
"Kau dengar sesuatu?" tanya Alina sembari berusaha mendengarkan suara itu lagi.
"Em … nggak ... nggak, kok, Tante. Aku nggak mendengar apa-apa," sangkal Lydia dengan menggeleng cepat. Ia tidak ingin jika Alina mengetahui kalau suaminya itu sedang bersembunyi di kamar itu.
"Ya sudah, kau istirahat dulu ya. Tante juga mau ke kamar," ujar Alina. Ia mengusap rambut Lydia kemudian bergerak menuju pintu kamar.
Alina keluar dari kamar, dan Lydia buru-buru mengunci pintu kamarnya lagi.
"Ah, akhirnya …." Aryo keluar dengan menghela napas.
"Cepat kau pergi dari sini, sebelum terjadi masalah!" gertak Lydia.
"Lydia, kau terlalu berlebihan. Kau tidak perlu takut." Aryo berjalan ke arah Lydia dengan santai. Seolah ketegangannya tadi sudah sirna.
"Jangan membantah, Aryo. Kali ini kau berhasil sembunyi, lalu bagaimana jika Arjun yang datang tadi? Kau bisa ketahuan!" marah Lydia.
"Baiklah, baiklah. Aku akan keluar. Menyebalkan!" kesal Aryo sembari merapikan kancing kemejanya. "Semua orang memang suka sekali merusak rencana kita." Pria itu terus mengoceh.
"Cepat, Aryo! Mengancingkan baju saja kau tidak bisa!" Lydia turun tangan. Ia mendekat ke arah Aryo dan membantunya mengancingkan bajunya.
Aryo tersenyum gembira mendapat perhatian khusus dari Lydia. "Aku suka ini. Saat tubuhmu menjadi dekat denganku, jiwaku terasa bergetar. Jantungku berdebar-debar, oh … gadis pujanggaku. Kau-"
"-hentikan puisi murahanmu itu!" sungut Lydia memotong kata-kata manis Aryo.
"Kenapa kau marah-marah? Kau tahu, kau tampak lucu jika wajahmu seperti itu."
"Diam!" Lydia menatap tajam ke arah pria itu. "Sudah selesai, sekarang pergilah!" kata Lydia dengan mendorong sedikit tubuh Aryo.
Aryo menarik tangan Lydia dan mendekatkan tubuhnya kembali. "Katakan dulu, kau mencintaiku atau tidak?"
"Aku hanya mencintai anakmu, yaitu Arjun!" jawab Lydia kesal.
"Jangan berbohong. Kau mencintaiku juga, kan?" Aryo mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Lydia, membuat gadis itu ketakutan.
"Aryo hentikan omong kosong ini!"
"Katakan dulu, kau mencintaiku atau tidak? Jika kau tidak menjawabnya, maka aku tidak akan keluar dari kamar ini."
"Kau benar-benar keras kepala!"
"Itulah sikapku, Sayang. Sekarang katakan, kau mencintaiku atau tidak?"
"Baiklah, iya! A-aku mencintaimu!" ucap Lydia sedikit ragu.
"Aku juga mencintaimu, Sayang. Sangat mencintaimu!" Aryo mengecup bibir Lydia singkat kemudian melepaskan pegangannya dari pinggang Lydia. Lalu, pria itu bergerak ke arah pintu. Dia membukanya perlahan. Menengok ke kanan dan ke kiri. Begitu tidak ada siapa pun, ia segera keluar dari sana.
Lydia buru-buru menutup pintunya kembali dan menguncinya.
"Keterlaluan! Ayah dan anak sama saja. Mereka benar-benar menginginkanku!" ujar Lydia sembari berjalan ke arah cermin. Gadis itu memandangi tampilan wajahnya dari cermin. Lalu meraba wajahnya yang cantik itu dan berbicara dengan bayangan sendiri. "Kau memang beruntung, Lydia. Kau bisa mendapatkan cinta dua orang sekaligus. Menariknya mereka adalah bapak dan anak. Mereka sangat tergila-gila padamu, Lydia. Dan kau, siapa yang kau cintai di antara keduanya itu?" Lydia tersenyum licik. "Kalau bisa mendapatkan keduanya, why not?!" ujarnya sinis.
***
TO BE CONTINUED