Pagi yang cerah di musim hujan, membuat cahaya terang memasuki kamar. Mentari dengan bangga memamerkan sinarnya dan mengusir tetesan embun yang masih menggumpal akibat hujan semalaman.
Lydia tampak menguap setelah membuka kedua matanya. Gadis itu mengambil ponsel di atas nakas dan mengeceknya. Jam menunjukan pukul delapan pagi. Dia tidur benar-benar lelap semalam. Baru juga menyadari, kalau dia tengah menginap di rumah pacarnya.
Tok ... tok ... tok ...
Suara ketukan pintu membuat Lydia refleks. Gadis itu buru-buru merapikan diri, dan beringsut dari ranjang. Lantas, ia langkahkan kakinya menuju pintu.
"Tante?" sapanya setelah membukakan pintu. Dia terkejut melihat Alina yang berdiri dengan senampan teh hangat.
"Selamat pagi, Lydia. Baru bangun, ya? Aku tidak menggangu tidurmu kan?" kata Alina yang melihat Lydia masih 'muka bantal'.
"E-nggak kok, Tante." Lydia menggeleng cepat. "Tante, kenapa repot-repot?" tanya Lydia sembari melirik teh hangat di atas nampan.
"Enggak, tadi pelayan yang buatkan teh untukku, sekalian aja aku buatkan untukmu juga," seru Alina.
"Ya sudah biar aku bawa masuk ke dalam saja, Tante. Nanti aku minum." Lydia mengambil nampan itu dari Alina. "Terima kasih ya, Tante."
Alina tersenyum, dan mengangguk. "Sebelum pulang, nanti sarapan dulu bersama. Ya?"
"Iya, Tante. Aku bersih diri dulu, ya."
Alina mengangguk dua kali. "Ya sudah. Kalau begitu Tante bangunin Arjun dulu, ya. Anak itu pasti masih molor."
"Iya, Tante."
Alina pun lantas pergi dari sana dan bergerak ke arah kamar Arjun. Sedangkan Lydia menutup pintunya kembali dan memutar matanya bosan.
"Sampai kapan aku harus berpura-pura manis di depannya?"
Lydia bergerak ke arah meja kec dan menaruh nampan berisi segelas teh itu di atasnya. Ia mengusap wajahnya, dan menarik napas.
"Kau sudah bangun?" Suara dari belakangnya berhasil membuat Lydia terlonjak.
Gadis itu menoleh cepat ke belakang. Matanya membola saat melihat Aryo yang tiba-tiba masuk ke kamarnya yang tak terkunci itu. "K-kau?" ujarnya agak terbata.
Aryo berjalan menghampiri Lydia yang masih tertegun. "Iya, aku," kata Aryo tanpa rasa bersalah.
Lydia bergerak cepat, melewati Aryo dan menuju ke arah pintu. Ia buru-buru mengunci pintunya. Lantas ia berbalik, menatap Aryo yang masih terlihat santai.
"Kenapa kau ke sini?" tanya Lydia dengan suara marah.
"Ini rumahku. Aku bebas ke mana-mana," jawab Aryo seadanya.
"Cepat keluar!" Lydia bergerak ke arah Aryo, menarik lengannya. "Keluar sebelum ada yang memergoki kita!"
Alih-alih menurut, Aryo justru balik menarik tangan Lydia. Tubuh Lydia menggelincir sempurna jatuh di dekapan Aryo. Pria itu membelai rambutnya. "Kenapa kau begitu takut, Sayang."
"Aryo hentikan! Jangan di sini!"
"Semalam kau menolakku, dan sekarang kau juga mau menolakku lagi?" Aryo menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ini tidak adil, Sayang. Setidaknya berikan dulu aku ciuman pembuka pagi."
"Ciuman pembuka pagi? Apa kau sudah gila!"
"Aku memang gila." Aryo memberi jeda sejenak. "Kalau kau tidak mau, ya sudah. Biar aku saja yang memulainya." Tanpa permisi, Aryo langsung menyabet bibir ranum Lydia.
Lydia menikmatinya sejenak, lantas menyingkirkan wajah Aryo darinya. "Sekarang pergilah!" gertaknya.
Aryo menggeleng.
"Pergi atau aku teriak!" ancam Lydia.
"Apa kau sungguh akan melakukan itu?"
"Aryo pergi!"
"Baiklah ... baiklah!" Aryo mengerjap sejenak, lantas berkata, "Hari ini kuliah libur. Apa kau ada rencana?"
"Tentu saja. Seharian ini aku akan menghabiskan waktu bersama pacar sahku!" jawab Lydia ketus.
"Kalian akan ke mana?"
"Bersenang-senang. Kau tidak perlu tahu, kan?"
"Jangan membuatku marah, Lydia."
"Kau yang membuatku marah. Caramu yang diam-diam menyelinap ke kamar seperti pencuri ini membuatku emosi. Apa kau tidak memikirkan apa yang akan terjadi nantinya?" Lydia mengerjap. "Sudahlah, lupakan. lebih baik kau cepat pergi dari sini!" Lydia menggeret tubuh lelaki itu ke pintu. Secara perlahan, gadis itu membuka pintunya dan menyuruh Aryo segera keluar sebelum ada yang melihatnya.
Tak punya pilihan, Aryo akhirnya keluar. Lantas Lydia buru-buru mengunci pintunya.
"Huffftt...." Lydia menghela napas.
***
Setelah sarapan pagi bersama, Arjun mengantar Lydia pulang. Sebelum pulang, sesuai rencana mereka menghabiskan waktu berlibur bersama. Mereka bersenang-senang mengunjungi tempat-tempat wisata. Sedangkan Aryo di rumah bersama Alina.
Saat itu Aryo tengah berendam di sebuah bathtub. Ponsel yang ia taruh di sebuah papan kecil di samping bathtub itu berdering. Aryo langsung mengangkatnya setelah melihat nama si pemanggil.
"Bagus. Pokoknya kau ikuti mereka berdua. Kemanapun mereka pergi, kabari aku." Aryo langsung menutup teleponnya setelah mengatakan hal itu. Pria itu tersenyum sinis. "Aku tidak akan membiarkan kalian melampaui batas. Putraku Arjun, Lydia itu tidak hanya milikmu, tapi dia juga milikku. Jadi aku tidak akan membiarkanmu bertindak terlalu jauh terhadap Lydia."
Dari caranya berbicara, Aryo sepertinya menyuruh seseorang untuk membuntuti putra dan pacarnya itu. Pria itu benar-benar terobsesi dengan Lydia. Setelah mendengar kabar dari kaki tangannya kalau putranya itu tidak macam-macam, Aryo menjadi lega. Ia merilekskan tubuhnya, memejamkan mata dan menikmati berendamnya.
"I Know Your Secret!"
Aryo membuka mata lebar-lebar saat sebuah suara tiba-tiba terngiang dalam telinganya. Suara itu seperti tak asing baginya. Suara seorang gadis, yang beberapa hari pernah ia dengar.
Aryo terdiam sejenak, mencoba menganalisa suara itu. Lantas, ia menggeleng. "Tidak mungkin! Itu suara gadis kemarin yang aku bunuh," ucapnya kaget.
Aryo memejamkan matanya lagi. Sebuah bayangan wajah gadis yang ia bunuh beramai-ramai terputar dalam rekaman matanya. "Tidak!" Aryo membuka matanya. Ia mengucek mata berkali-kali.
"Aku mungkin hanya berhalusinasi."
Pria itu mengambil napas panjang dan menyemburkannya perlahan. Sebuah ketukan pintu terdengar setelah itu. Jantung Aryo kembali berdegup.
Tok ... tok .. tok ...
Aryo sedang berada di kamar mandinya, namun suara ketukan pintu kamarnya itu terdengar nyaring melewati telinganya. Pria itu mengambil handuk, mengelap tubuhnya yang basah kuyup dengan handuk, lantas berdiri dan melilitkan handuknya untuk menutupi bagian bawahnya. Kemudian ia melangkah keluar bathtub.
Aryo menyabet sebuah piyama dan mengenakannya. Lantas pria itu berjalan menuju sumber ketukan pintu. Dengan langkah perlahan dan wajah was-was, pria itu mendekati pintu.
Tok ... tok ... tok ...
Aryo telah sampai di depan pintu. Tangannya itu gemetar saat hendak membukanya. Dia membuka pintunya.
"Kau?" Aryo menghela napas saat mengetahui yang berdiri di depan pintu itu istrinya.
"Kenapa wajahmu pucat begitu?" tanya Alina heran. "Kau seperti habis melihat hantu saja."
"Hantu?" Entah kenapa kata-kata itu membuat Aryo merinding.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Alina.
Aryo mengerjap. Membuang jauh-jauh pikiran negatifnya. "Oh tentu, aku baik-baik saja. Kenapa kau ke sini?" Kini nada bicaranya itu meninggi.
"Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting-"
"-aku sedang mandi. Aku tidak punya waktu. Nanti saja. Pasti masalah pekerjaan kan."
"Bukan."
"Lalu?"
"Aryo, aku ingin membicarakan masalah kita berdua. Tadi malam kau tidak mau bicara-"
"-lagi-lagi masalah itu. Aku bosan. Aku capek!"
"Aryo, pembicaraan kita tadi malam belum selesai. Kalau kau ingin hubungan kita langgeng, kita harus berbicara dan menyelesaikan masalah bersama!" Alina tampak menekankan.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Alina. Aku sudah capek. Aku-"
"-Aku sudah memiliki wanita lain. Itu kan yang ingin kau katakan?" selak Alina memotong ucapan Aryo.
"Jangan bicara omong kosong!" Aryo terlihat menyangkal.
"Memang itu yang sebenarnya, kan? Katakan saja kalau sudah memiliki wanita lain selain aku. Katakan kalau kau sudah tidak mencintaiku lagi. Akui saja kalau sebenarnya selama ini kau main mata di belakangku."
"Iya!" teriak Aryo membuat Alina melotot. "Aku sudah tidak mencintaimu lagi. Apa kau puas?!"
Bagai pedang, kata-kata yang keluar dari mulut Aryo menusuk jantung Alina. Bagai bara api, kata-kata itu telah membakar hati Alina. Wanita itu tidak terkejut, namun terluka. Luka yang teramat pedih. Suami yang dicintainya ternyata memiliki wanita lain dalam hidupnya.
"Kenapa kau lakukan ini padaku, Aryo. Kenapa? Kenapa kau jahat padaku? Kenapa?" Alina menangis sembari mengajak-acak piyama yang dikenakan suaminya. Ia memukuli d**a pria itu, hingga membuat Aryo kewalahan. Bahkan, tanpa sengaja handuk yang digunakan untuk menutupi bagian bawahnya itu sampai terlepas.
"Apa kau sudah gila!" Aryo mendorong tubuh Alina, dan memungut handuknya kembali. Ia lilitkan lagi di tubuhnya. "Jangan ganggu aku lagi!" pungkas Aryo lantas membanting pintu kamarnya.
"Aargghhh!" Alina mengacak-acak rambutnya. Bagai orang gila, ia memukul-mukul lantai. "Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Aryo. Tidak! Kau tidak bisa melakukannya!" Wanita itu menelan ludah, mengambil napas perlahan. "Aku pasti akan membongkar semuanya. Aku pasti bisa menemukan wanita simpananmu itu. Aku telah bersumpah atas diriku sendiri!"
Wanita itu mengusap air matanya dan membangunkan tubuhnya. "Kau akan membayar semua ini!" ujarnya penuh kebencian.
***
TO BE CONTINUED