2 Weeks After The Murder

1223 Kata
Dua minggu setelah kematian Teressa Pagi itu Michael, Rachel, dan Reyna tampak berkumpul bersama di sebuah ruangan. Seperti biasa mereka menjadikan ruangannya itu sebagai bar. Tidak ada yang berani masuk di sana, karena memang ruangan itu mulanya sebuah gudang yang kosong. Lalu mereka jadikan sebagai tempat tongkrongan. Ada banyak botol minuman di sana. Namun, tak ada yang tahu aktivitas yang terjadi di dalam sana, kecuali memang mereka-mereka yang menempatinya. Di kampus itu memang banyak sekali ruangan kosong. Hal itu malah menjadi surga bagi orang-orang yang 'nakal'. Mereka menyulap ruangan kosong menjadi markas sesuai kebutuhan mereka. "Tumben banget Vallen nggak ke sini," ujar Reyna yang kemudian meminum botol anggurnya. "Ada kelas mungkin!" sahut Rachel yang duduk dengan menumpangkan kakinya di atas meja. Kemudian ia sibuk bermain dengan ponselnya. "Sejak kapan anak itu menjadi rajin?" Michael berkata dengan nada mengejek. Ia menuangkan segelas anggur dari botol. Kemudian meneguknya. "Aku rasa dia terlalu parno kalau tidak lulus tahun ini," seru Reyna diakhiri senyum sumbang. Sedetik kemudian, suara ketukan pintu dari luar mengagetkan mereka. "Siapa itu?" Reyna berhenti menyesap anggurnya dan menatap kedua teman. Mereka saling pandang. Kemudian Michael berkata pelan, "Biar aku lihat dulu." Setelah mengelap tangannya yang basah, pria itu berjalan mendekati pintu. Sebelum membukanya, ia mengintip CCTV pintu. Terpampang sosok pria berseragam petugas kebersihan di luar sana. Michael langsung tahu siapa itu. Buru-buru ia membukanya. "Kenapa kau lama sekali membukanya, Sobat?" Jackie tersenyum sumringah ke arah Michael. Tangannya itu membawa box yang dikemas rapat. "Diamlah dan cepat masuk!" ujar Michael menyuruh Jackie masuk. Dengan santainya Jackie melangkahkam kaki ke dalam. Lantas Michael berniat menutup pintunya kembali. Namun seseorang menghentikan aksinya itu. "Kenapa kau terburu-buru, Sobat?" Vallen tampak berdiri di depan sana. Ia baru saja datang, tetapi tidak sendirian. Ada seorang gadis bersamanya. "Carolyn?" Michael menaikkan kedua alisnya–heran. Vallen tersenyum lebar. Ia mengajak Carolyn masuk ke dalam ruangan. Lalu Michael buru-buru mengunci pintunya sebelum orang lain melihatnya. "Hi, guys!" sapa Carolyn pada Reyna dan Rachel yang masih tertegun melihat kedatangannya. "Kenapa kalian terkejut? Apa kalian tidak ingin aku bergabung?" tanyanya sedikit menyindir. "Oh, tidak. Bukan begitu, Nona." Jackie bergerak ke arah Carolyn. "Mereka berdua hanya terkejut melihat kedatanganmu yang tiba-tiba, sebenarnya … mereka berdua itu baik-baik. Iya, kan? Nona Reyna? Nona Rachel?" Jackie menatap ke arah Reyna dan Rachel yang geram padanya. Reyna mencoba meredam amarahnya. Ia menarik napas dan mulai bergerak ke arah mereka. "Kau benar, Jackie!" katanya pada Jackie. Lantas pandangannya beralih ke arah Carolyn. "Kami terkejut dengan kedatanganmu, Carolyn. Kami juga heran, dengan mudahnya kau menerima dan menganggap kami teman," sindir Reyna. "Tapi kita memanglah teman. Iya, kan Carolyn?" Rachel ikut bergerak ke arah mereka. Dari gaya bicaranya, sepertinya dia tidak serius mengatakan hal itu. "Tepat sekali!" seru Vallen bersemangat. "Kita semua teman, jadi kita harus sering mengobrol bersama," lanjutnya. Michael berdiri di samping Vallen dan tersenyum ramah ke arah Carolyn. "Ayo kita berpesta!" ajak Reyna kemudian. Ia dan Rachel mulai menggandeng Carolyn ke meja tempat berjejer beberapa minuman. "Jackie ... kami membayarmu tidak untuk berdiam saja, kan?" Rachel berkata sembari menoleh ke arah Jackie, bermaksud memberi isyarat untuk menuangkan botol minumnya. "Oh tentu!" Jackie mulai bergerak ke arah meja juga, diikuti oleh Michael dan Valen. "Duduklah, Carolyn." Reyna mempersilakan Carolyn untuk duduk di kursi. Kemudian Rachel menuangkan anggur ke dalam gelas dan menyodorkan gelas itu pada Carolyn. Carolyn masih ragu untuk menerimanya. "Tenang saja. Aku tidak mencampurkan racun di gelas ini. Kau melihatnya sendiri kan, tadi?" ucap Rachel seraya tersenyum sumbang. "Jackie, cepat isi lagi botolnya. Kita akan minum banyak hari ini," perintah Vallen pada petugas kebersihan itu. Ia duduk di atas meja dan mulai meneguk botol yang masih tersisa. "Kalian tidak perlu khawatir, aku bawakan anggur impor dari luar negeri khusus untuk kalian." Jackie menaruh box yang dibawanya tadi dan mulai membukanya. Ada banyak botol di dalamnya itu. Semua itu merupakan anggur dengan merek berkelas yang mahal. "Begitu meminumnya, kalian akan merasa seperti terbang ke surga, nanti!" seru Jackie pada mereka. "Kau ini kebanyakan bacot. Cepat tuangkan satu gelas untukku!" pinta Michael tak sabaran. "Siap, Bos!" Jackie mulai membuka sebotol anggur dan menuangkannya ke dalam gelas. Lalu ia menyodorkan gelas itu pada Michael. "Ini, minumlah! Dan rasakan sensasi kenikmatannya," serunya. Michael langsung menyambar gelas itu dan segera meneguknya. "Ummm … kau memang tidak pernah bohong, Jack! Sungguh, ini anggur terlezat yang pernah aku minum," pujinya pada Jackie. "Aku bilang juga apa." Jackie tampak membanggakan diri. Kemudian ia mulai menuangkan lagi untuk dirinya sendiri. Reyna tersenyum seraya menggelengkan kepala melihat teman-temannya itu. Lalu, ia kembali terfokus pada Carolyn. "So … Carolyn. Kitakan sudah menjadi teman, bolehkah kau menceritakan tentang dirimu? Misalnya, kau dari mana? Di mana kau tinggal, semacam itu," ujar Reyna dengan wajah manus yang dibuat-buatnya. "Ayo, Carolyn. Aku juga ingin mendengarnya!" decak Rachel semangat. Carolyn menaruh gelasnya kembali di atas meja setelah meneguknya. Kemudian ia menarik napasnya, dan membuangnya perlahan. "Aku tinggal sendirian di kota ini. Orang tuaku sudah tiada. Aku pindah ke kota, dan kuliah di sini. Aku juga bekerja untuk mencukupi kebutuhan juga membayar uang kuliah. Aku tidak seperti anak-anak orang kaya yang hanya bisa menghabiskan uang orang tuanya begitu saja," ceritanya. Rachel dan Reyna meneguk ludah, saat mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Carolyn itu. "Dia benar-benar menyindir kami," kata Reyna dalam hati. "Kisahmu itu sangat menarik, Carolyn!" seru Vallen yang ikut mendengar cerita Carolyn. "Kau benar-benar hebat. Berjuang sendirian di kota besar seperti ini. Sungguh luar biasa!" decak Michael ikut memuji. "Aku sudah menceritakan kisahku, sekarang bolehkah aku meminta hal yang sama pada kalian?" tanya Carolyn percaya diri. Reyna dan Rachel saling pandang. Kemudian Rachel berkata, "Oh, tentu. Tentu kami akan menceritakan kisah hidup kami," serunya. Carolyn tersenyum. Kemudian menghela napas sejenak. Menatap ke arah mereka berdua dan berkata, "Sayangnya aku tidak tertarik mendengar kisah hidup kalian." "Lalu?" tanya Reyna dengan menaikkan alisnya sebelah. "Aku hanya ingin tahu rahasia kalian." "Maksudmu?" tanya Rachel tak mengerti. "Rahasia yang Teressa ketahui, sehingga kalian memburunya. Rahasia pada malam itu. Bisakah kalian menceritakan rahasia itu padaku?" tanya Carolyn membuat mereka tertegun. "Hahaha!" Tawa Michael memecah keheningan sesaat. "Kau suka sekali bercanda, Carolyn. Aku suka selera humormu itu," lanjutnya seraya masih tertawa. "Aku tidak sedang bercanda atau sedang mementaskan komedi, Michael. Aku bertanya serius," ujar Carolyn dengan senyuman santainya. "Ceritakan rahasia kalian padaku," sambungnya membuat mereka tertegun dan turun dari meja satu persatu. "Lancang sekali kau. Baru kenal kemarin kau sudah bertanya hal pribadi pada kami? Sungguh, keberanianmu memang patut diacungi jempol, Carolyn!" Reyna berkata dengan semu tawa, dan bernada menyindir. "Hidup ini memang penuh kejutan, Reyna. Kau akan bertemu dengan orang-orang dengan kepribadian yang berbeda-beda," balas Carolyn dengan suara santai. "Kalian lihat, Michael, Vallen. Teman baru kita ini sungguh luar biasa," sindir Rachel pada Carolyn namun dengan nada suara santai. Carolyn tersenyum ke arah mereka. Lalu terfokus lagi pada Rachel. "Berhentilah memujiku, Teman. Katakan saja pada intinya, kau mau menceritakan rahasiamu atau tidak?" tanyanya lagi membuat ekspresi Rachel berubah. "Gadis ini benar-benar licik sekali," ujar Jackie dalam hati. Lalu, ia ikut nimbrung ke arah mereka. "Wah, Carolyn. Kau sungguh tidak sopan. Inikah harga yang kau bayar setelah kau diberikan tempat pada pertemanan kita?" kata Jackie penuh percaya diri. "Kuakui saja, kalau kalian ini adalah orang-orang yang baik hati. Buktinya, petugas kebersihan saja kalian jadikan teman," kata Carolyn menyindir, membuat Jackie semakin geram. *** TO BE CONTINUED
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN