"Aku rasa kalian tidak akan memberi tahu rahasia kalian begitu saja." Carolyn mengibaskan sedikit rambutnya yang menghalangi penglihatannya. Gadis itu menatap teman-temannya. "Baiklah, bagaimana kalau kita main kartu saja? Siapa pun yang kalah nantinya, harus membongkar rahasianya di depan kita, bagaimana?" tanya Carolyn membuat mereka tertegun.
"Kalian ini anak-anak tangguh, kan? Masa aku tantang bermain kartu saja tidak berani. Seciut itukah nyali kalian?" Carolyn terus mencoba memanas-manasi mereka.
"Kau sungguh keterlaluan ya, Carolyn." Rachel mulai geram.
"Bukan seperti itu, Rachel. Aku hanya ingin menantang kalian saja," kata Carolyn membantah. "Kalian tinggal menjawabnya, mau? Atau tidak?"
"Baiklah!" Suara Michael membuat mereka semua menatap ke arahnya. "Aku rasa permainan ini akan seru. Kenapa harus takut?"
"Mich!" Reyna berkata dengan beradu gigit. Mata memicing ke arahnya.
"Aku setuju sama Michael!" ujar Vallen menambah. Itu semakin membuat ketiga temannya–Rachel, Reyna, Jackie melototi. "Kita buktikan pada Carolyn, kalau kita bukan pecundang. Iya kan, Carolyn?" Vallen tersenyum ke arah gadis itu.
"Of course! Itu baru jagoan!" puji Carolyn membuat Vallen bangga. "Bagaimana?" tanyanya lagi ke arah Reyna dan Rachel. Kedua gadis itu langsung melengos.
"Rachel pasti setuju kalau Reyna setuju. Iya, kan? Rachel, Reyna?" kata Michael membuat kedua gadis itu mengepalkan tangannya.
Reyna menarik napas dan membuangnya perlahan. Gadis itu mencoba meredam emosinya, lantas menggoreskan senyum paksaan. "Baiklah!" katanya menyetujui.
"Rey?" Rachel mencubit sedikit celana jeans Reyna. Namun hanya dibalas senyuman oleh Reyna.
"Reyna sudah setuju, lalu bagaimana denganmu, Rachel?" tanya Carolyn tiba-tiba, membuat Rachel geram.
Rachel mengangguk ragu. "Baiklah," ucapnya saat semua pasang mata menatap ke arahnya.
"Fantastic!" Carolyn tampak senang telah membuat mereka menyetujui perkataannya. "Oke, kita mulai sekarang?"
"Tunggu! Apa tidak ada yang meminta pendapatku?" Jackie tiba-tiba angkat bicara. "Apa kalian tidak bertanya apa aku setuju atau tidak?" tanyanya lagi dengan nada kecewa karena merasa tak dianggap.
"Kita tidak peduli dengan pendapatmu, Jackie!" kata Vallen membalasnya. "Mau tidak mau kau harus mengikuti perintah kita!" imbuhnya semakin membuat Jackie emosi.
"Sudahlah!" Michael menepuk pundak Jackie, bermaksud menyadarkan posisinya.
Tak punya pilihan, Jackie hanya bisa diam menerima semua perlakuan mereka. Karena itu yang dia lakukan selama ini.
Mereka pun akhirnya duduk di posisi masing-masing. Kemudian mulai bermain kartu. Satu putaran, Carolyn berhasil memenangkan permainan, dan mengalahkan Jackie.
"Jadi, Jackie. Apa rahasia terbesarmu?" tanya Carolyn dengan nada angkuh.
Semua teman-temannya itu menatap ke arah Jackie. Seolah berusaha mengatakan untuk jangan membongkar rahasianya yang berhubungan dengan mereka.
"A...a…" Jackie tampak terbata-bata dan tak bisa menjawab.
"Katakan saja, aku tidak akan membocorkan pada siapa pun. Janji!" ujar Carolyn mencoba meyakinkan.
Jackie menjadi tegang. Lelaki itu mengerjap sejenak, dan akhirnya membuka suara, "Baiklah. Aku memiliki rahasia. Rahasiaku … aku … aku bekerja sebagai penyelundup-"
"Stop!" Michael berdiri dari duduknya membuat Jackie menghentikan perkataannya. Ia tahu kalau Jackie akan membongkar semua rahasianya. "Aku rasa pertemuan kita sudah cukup. Aku mau pergi. Hari ini aku masih ada kelas," ujarnya pada teman-temannya. Lantas pria itu meninggalkan bangku dan juga teman-teman yang masih duduk dengan kesal.
"Lanjutkan, Jackie …." kata Carolyn masih menagih.
"Kau tidak dengar tadi kata Michael? Pertemuan kita cukup sampai di sini. Aku juga ada pekerjaan lain, dan aku harus pergi!" Reyna pun ikut beranjak diikuti oleh Rachel setelah memberi tatapan sinis ke arah Carolyn.
"Apa kalian takut jika rahasia kalian terbongkar?" Pertanyaan Carolyn berhasil menghentikan langkah Rachel dan Reyna.
Dua gadis itu langsung berbalik. Reyna yang sudah tidak bisa menahan emosi lagi berjalan cepat ke arah meja. Gadis itu langsung memberantakan kartu-kartu yang berjejer di meja. "Kau pikir aku takut?" Reyna berbicara dengan menatap sinis ke arah Carolyn. "Sebelum mengejekku takut, seharusnya kau berkaca. Aku rasa wajah ketakutanmu itu tidak bisa kau sembunyikan. Kau juga takut kalau rahasiamu terbongkar kan?!" Kata-kata menohok yang meluncur dari mulut Reyna itu membuat Carolyn meneguk ludah.
"Reyna, ayo kita pergi. Tidak ada gunanya berbicara pada gadis jelata sepertinya!" ejek Rachel tertuju pada Carolyn. Gadis itu mengajak Reyna pergi dari sana.
Vallen dan Jackie hanya bisa diam melihat perdebatan mereka. Mereka kaget saat Reyna menutup pintunya dengan keras.
Carolyn mengerjap, mencoba menahan emosinya. Maniknya kembali menatap Jackie yang masih duduk berhadapan dengannya. "Ayo lanjutkan, Jackie!" ujarnya membuat Jackie melotot.
"Tidakkah kau tahu kalau permainannya sudah selesai?!" kata Jackie bernada ketus.
"Mereka yang selesai, Jackie. Kita masih belum. Aku sudah mengalahkanmu, jadi kau harus menjawabnya." Carolyn tampak bersikeras.
Jackie mengepalkan tangannya emosi. Ingin sekali ia menggampar mulut gadis itu. Vallen tampak memberinya isyarat untuk tenang. Jackie menurut begitu saja.
"Bukankah kita sebaiknya juga pergi, Carolyn?" Vallen mencoba menengahi mereka. "Kita bisa lakukan permainannya lain kali."
Tak punya pilihan, akhirnya Carolyn setuju. "Baiklah!"
Vallen mengajak Carolyn berdiri, dan menggandengnya berjalan menuju pintu. Sebelum mereka pergi, Vallen menoleh ke belakang. Menatap Jackie yang masih duduk di kursi. "Jack, jangan lupa kau bersihkan semuanya ya. Jangan lupa kunci ruangan ini juga setelah kau pergi!" perintahnya lantas melangkah keluar.
Brak!
Jackie menggebrakkan tangannya pada meja di depannya. "Kalian pikir aku b***k kalian?!"
Jackie berdiri dari duduknya. Menendang kursi di sampingnya hingga terbanting menatap tembok. "b******k!" umpatnya emosi.
"Seenaknya saja mereka menyuruhku. Kalau saja mereka bukan anak orang kaya, kalau saja mereka tidak membayarku setiap bulan, mereka sudah aku beri perhitungan!" Rahang pria itu mengeras, membuat otot-ototnya menonol. "Aku tidak bisa menerima perlakuan seperti ini terus menerus. Aku akan menciptakan mimpi buruk pada mereka. Aku tahu semua rahasia tentang mereka. Mereka akan membayar mahal kalau sampai aku direndahkan seperti ini lagi!"
Brak!!!
Jackie menggulingkan meja di depannya, membuat botol-botol kosong serta gelas pecah berceceran.
Jackie menepuk jidat melihatnya. "Kenapa kau malah merusak semua ini, Jackie. Kau hanya menambah beban pekerjaanmu saja."
Jackie akhirnya mulai membersihkan ruangan itu. Mengumpulkan pecahan gelas serta botol minuman dan menaruhnya ke dalam kantong besar. Menata meja dan kursinya kembali agar tampak rapi. Pria malang itu juga tak lupa menyapu ruangan itu sampai terlihat bersih. Karena mereka yang katanya 'teman-temannya' tidak peduli bagaimana keadaannya, pokoknya ruangan itu harus bersih kembali.
Berteman dengan anak-anak orang kaya ada baik dan buruknya. Baiknya mereka mau membayar Jackie, tetapi buruknya Jackie harus mau menuruti semua permintaannya.
"Nasib memang tidak pernah berpihak padaku," keluh Jackie. Pria itu memandangi ruangan yang sudah kembali bersih. Setelah pekerjaannya dirasa telah usia, pria itu langsung keluar dan mengunci ruangan itu rapat-rapat.
***
TO BE CONTINUED