Valen mengajak Carolyn masuk ke dalam ruangan. Lalu Michael buru-buru mengunci pintunya sebelum orang lain melihatnya.
"Hi, guys!" sapa Carolyn pada Reyna dan Rachel yang masih tertegun melihat kedatangannya. "Kenapa kalian terkejut? Apa kalian tidak ingin aku bergabung?" tanyanya.
"Oh, tidak. Bukan begitu, Nona." Jackie bergerak ke arah Carolyn. "Mereka berdua hanya terkejut melihat kedatanganmu yang tiba-tiba, sebenarnya … mereka berdua itu baik-baik. Iya, kan? Nona Reyna? Nona Rachel?" Jackie menatap ke arah Reyna dan Rachel yang geram padanya.
Reyna mencoba meredam amarahnya. Ia menarik napas dan mulai bergerak ke arah mereka. "Kau benar, Jackie. Kami terkejut dengan kedatanganmu Carolyn. Kami juga heran, dengan mudahnya kau menerima dan menganggap kami teman," sindir Reyna.
"Tapi kita memanglah teman. Iya, kan Carolyn?" Rachel ikut bergerak ke arah mereka.
"Tepat sekali!" seru Valen. "Kita semua teman, jadi kita harus sering mengobrol bersama," lanjutnya.
Michael berdiri di samping Valen dan tersenyum ramah ke arah Carolyn.
"Ayo! Kita berpesta!" ajak Reyna. Ia dan Rachel mulai mengajak Carolyn ke meja tempat berjejer beberapa minuman.
"Jackie ... kami membayarmu tidak untuk berdiam saja, kan?" Rachel berkata sembari menoleh ke arah Jackie dan kemudian menatap ke depan lagi.
"Oh tentu!" Jackie mulai bergerak ke arah meja juga, diikuti oleh Michael dan Valen.
"Duduklah, Carolyn." Reyna mempersilakan Carolyn untuk duduk di kursi.
Kemudian Rachel menuangkan anggur ke dalam gelas dan menyodorkan gelas itu pada Carolyn.
Carolyn masih ragu untuk menerimanya.
"Tenang saja. Aku tidak mencampurkan racun di gelas ini. Kau melihatnya sendiri kan, tadi?" ucap Rachel seraya tersenyum sumbang.
"Jackie, cepat isi lagi botolnya. Kita akan minum banyak hari ini," perintah Valen pada petugas kebersihan itu. Ia duduk di atas meja dan mulain meneguk botol yang masih tersisa.
"Kalian tidak perlu khawatir, aku bawakan anggur impor dari luar negeri khusus untuk kalian." Jackie menaruh box yang dibawanya tadi dan mulai membukanya. Ada banyak botol di dalamnya itu. Semua itu merupakan anggur dengan merek yang mahal. "Begitu meminumnya, kalian akan merasa seperti terbang ke surga, nanti!" seru Jackie pada mereka.
"Kau ini ada-ada saja. Cepat tuangkan satu gelas untukku!" pinta Michael.
"Siap, Bos!" Jackie mulai membuka sebotol anggur dan menuangkan ke dalam gelas. Lalu ia menyodorkan gelas itu pada Michael. "Ini, minumlah! Dan rasakan sensasi kenikmatannya," serunya.
Michael langsung menyambar gelas itu dan segera meneguknya. "Ummm … kau memang tidak pernah bohong, Jack! Sungguh, ini anggur terlezat yang pernah aku minum," pujinya pada Jackie.
"Aku bilang juga apa." Jackie tampak membanggakan diri. Kemudian ia mulai menuangkan lagi untuk dirinya sendiri.
Reyna tersenyum seraya menggelengkan kepala melihat teman-temannya itu. Lalu, ia kembali terfokus pada Carolyn. "So … Carolyn. Kitakan sudah menjadi teman, bolehkah menceritakan tentang dirimu? Yah, kau dari mana? Di mana kau tinggal, semacam itu," ujarnya pada Carolyn.
"Ayo, Carolyn. Aku juga ingin mendengarnya!" decak Rachel semangat.
Carolyn menaruh gelasnya kembali di atas meja setelah meneguknya. Kemudian ia menarik napasnya, dan membuangnya perlahan. "Aku tinggal sendirian di kota ini. Orang tuaku sudah tiada. Aku pindah ke kota, dan kuliah di sini. Aku juga bekerja untuk mencukupi kebutuhan juga membayar uang kuliah. Aku tidak seperti anak-anak orang kaya yang hanya bisa menghabiskan uang orang tuanya begitu saja," ceritanya.
Rachel dan Reyna meneguk ludah, saat mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Carolyn itu.
"Dia benar-benar menyindir kami," kata Reyna dalam hati.
"Kisahmu itu sangat menarik, Carolyn!" seru Valen yang ikut mendengar cerita Carolyn.
"Kau benar-benar hebat. Berjuang sendirian di kota besar seperti ini. Sungguh luar biasa!" decak Michael ikut memuji.
"Aku sudah menceritakan kisahku, sekarang bolehkah aku meminta hal yang sama pada kalian?" tanya Carolyn percaya diri.
Reyna dan Rachel saling pandang. Kemudian Rachel berkata, "Oh, tentu. Tentu kami akan menceritakan kisah hidup kami," serunya.
Carolyn tersenyum. Kemudian menghela napss sejenak. Menatap ke arah mereka berdua dan berkata, "Sayangnya aku tidak tertarik mendengar kisah hidup kalian."
"Lalu?" tanya Reyna dengan menaikkan alisnya sebelah.
"Aku hanya ingin tahu rahasia kalian."
"Maksudmu?" tanya Rachel tak mengerti.
"Rahasia yang Teressa ketahui, sehingga kalian memburunya. Rahasia pada malam itu. Bisakah kalian menceritakan rahasia itu padaku?" tanya Carolyn membuat mereka tertegun.
"Hahaha!" Tawa Michael memecah keheningan sesaat. "Kau suka sekali bercanda, Carolyn. Aku suka selera humormu itu," lanjutnya seraya masih tertawa.
"Aku tidak sedang bercanda atau sedang mementaskan komedi, Michael. Aku bertanya serius," ujar Carolyn dengan senyuman santainya. "Ceritakan rahasia kalian padaku," sambungnya membuat mereka tertegun dan turun dari meja satu persatu.
***
TO BE CONTINUED