Permainan Kartu

1029 Kata
"Lancang sekali kau. Baru kenal kemarin kau sudah bertanya hal pribadi pada kami? Sungguh, keberanianmu memang patut diacungi jempol, Carolyn!" Reyna berkata dengan semu tawa, dan bernada menyindir. "Hidup ini memang penuh kejutan, Reyna. Kau akan bertemu dengan orang-orang dengan kepribadian yang berbeda-beda," balas Carolyn dengan suara santai. "Kalian lihat, Michael, Valen. Teman baru kita ini sungguh luar biasa," sindir Rachel pada Carolyn namun dengan nada suara santai. Carolyn tersenyum ke arah mereka. Lalu terfokus pada Rachel. "Berhentilah memujiku, teman. Katakan saja pada intinya, kau mau menceritakan rahasiamu atau tidak?" tanyanya lagi membuat ekspresi Rachel berubah. "Gadis ini benar-benar licik sekali," ujar Jackie dalam hati. Lalu, ia ikut nimbrung ke arah mereka. "Wah, Carolyn. Kau sungguh tidak sopan. Inikah harga yang kau bayar setelah kau diberikan tempat pada pertemanan kita?" kata Jackie penuh percaya diri. "Kuakui saja, kalau kalian ini adalah orang-orang yang baik hati. Buktinya, petugas kebersihan saja kalian jadikan teman," kata Carolyn menyindir, membuat Jackie semakin geram. *** TO BE CONTINUED Sudah 3 hari Rosetta merawat pria asing yang ditemukannya kemarin. Namun, pria itu belum juga bangkit dari pingsannya. Tapi sepertinya luka yang ada di tubuhnya sudah mulai kering, dan pasti tak butuh waktu lama lagi untuk sembuh. Hanya saja jika pria itu bisa siuman dengan cepat maka akan lebih cepat pula ia sembuh. Seekor nyamuk mengiang di telinga Rosetta. Rosetta mencoba mengusirnya, namun nyamuk hitam berbintik putih itu hinggap di kening sang pria. Rupanya ia hendak menyerap darahnya dengan penghisap yang menjulur dari mulutnya itu. Rosetta berpikir untuk mengusik nyamuk itu. Ia mendekat ke arah sang pria, tangganya hendak menepuk kecil kepala sang pria. Namun, sebelum tangan hitam Rosetta mendarat di atas kening, nyamuk tiba-tiba terbang dengan bebas. Ia gagal untuk menangkap nyamuk itu, tapi setidaknya ia berhasil mengusirnya. Rosetta menatap kedua mata pria itu, wajahnya memang tampan. Pasti dia pemuda kota, karena kebanyakan wajah seperti itu hanya dimiliki oleh orang-orang berduit banyak. Kulit putih dengan mulut yang di apit kumis tipis, dan brewok tipis yang terpoles rapi menambah kemacoan pria itu. Rosetta terus memandangnya, dengan wajah yang sangat dekat dari sang pria. Hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Tiba-tiba, sepasang bola mata yang tadinya terus menutup itu kini mulai bergerak. Kini mata itu benar-benar terbuka lebar. Rupanya pemuda itu telah membuka matanya. Namun, matanya malah membengkak ketika melihat apa yang ada di depannya. "Aaaaa...!!!" teriaknya kencang membuat Rosetta kaget. Pemuda itu berusaha membangunkan tubuhnya yang masih lemah. Ia terkejut melihat penampakan yang ada di depan matanya. "Si-siapa kau?" Bibirnya gemetaran mengucap ke arah Rosetta yang juga kebingungan. "Apa kau malaikat maut? Atau penyihir penunggu neraka?" ucapnya lagi dengan nada seribu pertanyaan. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh gubuk milik Rosetta. "Apa aku sudah berada di alam lain? Apa aku benar-benar sudah mati?" Ia mulai kebingungan. Rosetta mencoba mengatakan sesuatu padanya. "Kau masih hidup," jelas Rosetta. "Tidak! Jangan mendekat, kau pasti penyihir yang ditugaskan untuk membawaku ke alam lain," kata pemuda itu. Wajahnya masih begitu ketakutan. Seperti melihat hantu. "Aku bukan penyihir!" elak Rosetta. "Lalu? Bagaimana dengan wajahmu itu, wajah hitam mengerikan itu hanya dimiliki oleh seorang penyihir. Kau pasti salah satu dari mereka." Kata-kata pemuda itu telah menyakiti hati Rosetta. Sejenak Rosetta diam, ia kemudian berpikir, wajar saja jika orang menyebutnya penyihir karena wajahnya memang berbeda dari manusia normal. Sang pria itu mencoba agak tenang, ia mengatur napasnya yang sedari tadi terpompa kencang. "Siapa sebenarnya dirimu?" tanyanya lagi. Rosetta menjawab, "Aku menemukanmu tergeletak di dekat gubukku, lalu aku merawatmu sejak hari terakhir." Sang pria berpikir sejenak mendengar penjelasan Rosetta. Kemudian ia mencoba memberanikan diri menatap ke arahnya. "Jadi kau yang menolongku?" tanyanya pelan. Rosetta menganggukkan sedikit kepalanya. "Kenapa kau tak membiarkan ku mati saja?" celoteh sang pria membuat Rosetta tertegun. Rosetta heran, entah kenapa ada orang yang lebih menginginkan kematian daripada kehidupan. Rosetta berkata pada pria itu. "Seekor semut yang jatuh terhanyut air, akan berusaha untuk berenang ketepian. Lalu mengapa kau yang ditakdirkan untuk tetap hidup malah menginginkan kematian?" Perkataan Rosetta membuat pria itu terdiam seribu bahasa. Ia benar-benar telah membisu mendengar asumsi gadis berwajah hitam itu. Ia melirik ke arah Rosetta, dengan berani ia menanyakan siapa nama yang ia miliki di balik wajah hitamnya itu. "Siapa namamu?" tanyanya. "Rosetta," jawab gadis berwajah hitam itu, dengan sedikit canggung. "Nama yang bagus, tapi kenapa namamu itu tak sesuai dengan kenyataannya?" "Maksudmu?" Rosetta mengernyit. "Oh tidak, tidak ada." bual pria itu. Dalam hati ia bergumam, "Namanya bagus tapi kok wajahnya buruk? Ini jelas-jelas penipuan!" Sang pria kemudian mendekat ke arah Rosetta, namun masih menjaga jarak darinya. "Namaku Ellen, Ellen Verma," ucap pemuda itu memperkenalkan diri. Tiba-tiba saja, dahak menyerang tenggorokan Ellen. Ia terbatuk-batuk seperti ada virus ataupun bakteri yang bersarang di tenggorokannya. "Di mana aku bisa mendapatkan air?" tanyanya sembari terus berdahak. Rosetta melirik ke sebuah guci kecil berisi air sungai yang ia ambil sendiri kemarin. Ia mengambil dan memberikannya kepada Ellen. "Ini minumlah!" Rosetta menyodorkan seguci air padanya. Tanpa berpikir lama, Ellen langsung saja meneguk beberapa air itu. Setelah air sungai itu masuk dan meresap ke alat perasanya, ia begitu saja menyemburkannya keluar. "Air apa ini?" "Itu air sungai," jawab Rosetta tanpa canggung. "What! Air sungai? Kau ingin aku meminum air menjijikkan ini?" Ellen menjatuhkan guci itu hingga membentur tanah. "Apa kau tak punya air mineral untuk diminum?!" bentak Ellen. "Sebenarnya permata air jauh dari sini, jadi aku tak bisa mengambilnya," jawab Rosetta memelas. "Ah! Katakan di mana tempatnya? Biar aku yang mengambilnya sendiri!" "Tidak! Kau masih belum pulih, air itu mengalir di pegunungan bukit sana!" cegah Rosetta. "Ah! Aku tak peduli! Aku sudah baikan." Ellen melangkahkan kakinya keluar dari gubuk kecil Rosetta. Begitu ia sampai di ambang pintu gubuk, tiba-tiba saja tornado menyerbu ke arahnya. Angin lebat tengah membantai di luar sana. Ellen terus mencoba keluar, ia memaksakan langkahnya. Lantaran daya tahannya yang masih lemas dan tubuhnya yang belum cukup pulih, ia roboh diterpa tornado yang tengah membengkam dari luar itu. Angin lebat itu membuat tubuhnya terlontar hingga ia terjatuh menimpa Rosettaenjoy with my story... Aku harap kalian suka... Dan jangan lupa tekan tombol bintang, comment, dan juga share cerita ini ke teman-teman kalian... Okeyyy... See you next part ...RRZaRRZai
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN