"Baiklah, bagaimana kalau kita main kartu saja? Siapapun yang kalah, harus membongkar rahasianya di depan kita, bagaimana?" tanya Carolyn membuat mereka tertegun.
"Kalian ini anak-anak tangguh, kan? Masa, aku tantang bermain kartu saja tidak berani. Seciut itukah nyali kalian?" Carolyn terus mencoba memanas-manasi mereka.
"Kau sungguh keterlaluan ya, Carolyn." Rachel mengejek dengan nada suara santai.
"Bukan seperti itu, Rachel. Aku hanya ingin menantang kalian saja," kata Carolyn membantah. "Kalian tinggal menjawabnya, mau? Atau tidak?"
"Baiklah!" Suara Michael membuat mereka menatap ke arahnya. "Aku rasa permainan ini akan seru. Kenapa harus takut?"
"Mich!" Reyne menatapnya sinis.
"Aku setuju sama Michael!" ujar Vallen menambah. "Jika buktikan pada Carolyn, kalau kita bukan pecundang. Iya kan, Carolyn?" Vallen tersenyum ke arah gadis itu.
"Of course! Itu baru jagoan!" puji Carolyn membuat Valen bangga. "Bagaimana?" tanyanya lagi ke arah Reyna dan Rachel.
"Baiklah!" Akhirnya mereka menyetujuinya.
Mereka pun akhirnya duduk di posisi masing-masing. Kemudian bermain kartu. Satu putaran, Carolyn berhasil memenangkan permainan, dan mengalahkan Jackie.
"Jadi, Jackie. Apa rahasia terbesarmu?" tanya Carolyn dengan nada angkuh.
Semua teman-temannya itu menatap ke arah Jackie. Seolah berusaha mengatakan untuk jangan membongkar rahasianya yang berhubungan dengan mereka.
"A...a…" Jackie tampak terbata-bata dan tak bisa menjawab.
"Katakan saja, aku tidak akan membocorkan pada siapapun. Janji!" ujar Carolyn.
"Baiklah. Aku memiliki rahasia. Rahasiaku … aku … aku bekerja sebagai penyelundup-"
"Stop!" Michael berdiri dari duduknya membuat Jackie menghentikan perkataannya. "Aku rasa pertemuan kita sudah cukup. Aku mau pergi. Hari ini aku masih ada kelas," ujarnya kemudian pergi dari sana.
"Lanjutkan, Jackie …." kata Carolyn masih menagih.
"Kau tidak dengar tadi kata Michael? Pertemuan kita cukup sampai di sini. Aku juga ada pekerjaan lain, dan aku harus pergi!" Reyna pun ikut pergi diikuti oleh Rachel setelah memberi tatapan sinis ke arah Carolyn.
"Bukankah kita sebaiknya juga pergi, Carolyn?" tanya Valen ke arah gadis itu.
Tak punya pilihan, akhirnya ia setuju. "Baiklah!"
Mereka pun akhirnya meninggalkan ruangan rahasia itu dan menguncinya kembali.
~Sunyi membisik raga, mengusir keramaian dalam duka~
°°°
"Hari ini aku bisa menyelamatkanmu, tapi jika kau mengulanginya lagi, maka aku sendiri yang akan menyeretmu ke dalam sel! Biar saja kau membusuk dalam penjara!” Ayah satu anak itu terus mengomel pada putra semata wayangnya.
Dave semakin emosi pada pria yang berstatus sebagai ayah kandungnya itu. Seolah ia memilih untuk tak punya ayah sekalian daripada memiliki ayah sepertinya. Dave tak ada rasa takut sekalipun padanya. Rasa hormat pun sudah sirna dikalahkan emosi dan kekecewaannya yang mendalam.
"Dasar pria yang mementingkan diri sendiri! Kejam! Anarkis! bahkan kau lebih buruk dari anakmu ini, kau pikir aku tak tahu apa yang kau lakukan pada ibu?!" bentak Dave.
Plakk!!!
Tamparan keras nan hangat dari tangan Vivek menjadi pelengkap perdebatan yang semakin memanas bercampur tegang itu. Tamparan yang mendarat sempurna di pipi Dave itu membuatnya bungkam seribu bahasa. Bisu bagai patung. Dave mengelus pipinya yang memerah jambu.
"Dave Ardonio, mulai sekarang kau tak lagi bagian dari Ardonio. Aku menghapus nama Ardonio dari barisan nama belakangmu!” ketus Vivek, mengarahkan telunjuknya pada Dave. “Pergilah ke mana pun kau suka! Aku membebaskanmu hari ini!" tutup Vivek membuat Dave terpukul.
Mendengar perkataan ayahnya, Dave hanya memiringkan senyumnya. Dalam benaknya mengerang sakit yang luar biasa, terpukul untaian besi, tersayat tajamnya pisau, tertusuk seribu duri, namun semua itu masih tak bisa menandingi rasa sakit atas perkataan yang dilontarkan dari mulut ayah kandungnya sendiri.
Sebuah pengusiran!
Ia menggelengkan sedikit kepalanya, tak menyangka ayahnya sendiri memutuskan hubungan dengannya.
"Terima kasih tuan Vivek, selama ini kau telah mengasuhku dengan uang-uangmu, sejak kecil aku merasa lahir tanpa seorang ayah, jadi percuma kau sekarang memutuskan hubungan denganku, karena kita memang orang asing sejak dulu!" ucap Dave mantap.
"Dan ya, nama belakang yang kau bangga-banggakan tadi, apa namanya? Ah ya ... 'Ardonio', sejujurnya aku tak butuh lagi nama itu. Kelak kau akan tahu, nama yang kau bangga-banggakan itu akan hancur. Ardonio hanya akan menjadi sebatas nama yang terpahat dalam nisan saja, semua tidak akan abadi!" tutup Dave.
Vivek semakin kesal dengan ucapan anak semata wayangnya itu. Ia bahkan tak tersentuh pun dengan perkataan anaknya yang menyindir tentang kasih sayang seorang ayah pada anaknya. Buatnya, Dave hanya anak manja yang tak pernah tunduk pada orang tua, lebih baik ia tak memiliki anak sekalipun daripada memiliki anak tak ada rasa jeranya pada orang tua.
Dengan berat hati ia mengusir putranya dari segala kehidupannya. Bahkan anak itu tak lagi mendapatkan posisi di dalam hatinya. Jalan ini ia ambil dengan kemarahan, ia tak peduli meskipun ia kehilangan putra satu-satunya, pewaris tunggal keluarga Ardonio. Egonya mengalahkan segalanya, menghancurkan keluarga satu-satunya. Hancur! Bak badai petir yang menghantam pasir.
Vivek berbalik meninggalkan 'mantan' anaknya yang masih mematung. Dave pun hanya memiringkan senyumnya menyaksikan 'mantan' ayahnya pergi dengan mobil mewahnya. Dengan segudang rasa kekecewaan yang membekas lekat di raut wajah Dave.
~Flash back mode off~
(Kembali ke setting kisah masa sekarang, di sebuah rumah sakit)
Dave membuka mata, meninggalkan kenangan masa lalu yang suram bahkan mengerikan bagai empedu dalam nasi. Kenangan yang membuatnya terus terbebani dan terbengkalai, kenangan pahit yang tak seharusnya terjadi dalam kehidupannya. Memiliki seorang ayah yang tak bertanggung jawab adalah hal yang tak diinginkan bagi setiap anak, tapi Dave mengalaminya. Sejak kecil yang ia kurang akan kasih sayang orang tua.
Ibunya, Megan Ardonio telah berstatus cerai dengan ayahnya sejak ia berumur tujuh tahun. Kehidupan rumah tangga orang tuanya mengalami broken home. Kekerasan, cacian, perdebatan, pertengkaran selalu menjadi santapan setiap harinya, bumbu pedas yang terus tersaji selama tujuh tahun.
Dave yang tergolong masih kanak-kanak, tapi cukup tahu bahwa pertengkaran orang tuanya telah mengganggu mentalnya. Ia selalu menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, Ibunya dipukul, ditampar bahkan tak lupa dicaci oleh ayahnya sendiri yang kejam itu. Saat itu, ia hanya bisa berdiam diri, bersembunyi dengan ketakutan, bahkan di usianya yang masih dini seharusnya ada bimbingan dan didikan orang tua, tapi ia tak mendapatkannya sama sekali. Mungkin ia dibesarkan di keluarga yang cukup mampu, bahkan lebih dari mampu.
Rumah, apartement, Villa, perusahaan, mobil, dan lain sebagainya telah tersaji milik ayahnya sendiri, tapi Dave tak mendapatkan apa pun dari kemewahan itu, hanya kesendirian dan keterpurukan belaka. Setelah usianya beranjak 17 tahun, ibunya meninggal dunia karena serangan jantung. Entah apa sebabnya beliau bisa terserang penyakit jantung, tapi Dave memvonis bahwa itu akibat ulah ayahnya yang kejam, selalu bertengkar pada ibunya.
Sejak Megan meninggalkannya untuk selama-lamanya, Dave semakin sendiri, ia diasuh oleh bibinya hingga dewasa. Ayahnya sendiri lari dari tanggung jawabnya sebagai orang tua, ia hanya membiayai hidup anaknya itu. Berapa pun yang dibutuhkan, pria itu siap untuk memberikannya. Tapi hati kecil Dave sama sekali tak menginginkan uangnya, yang ia inginkan hanya kasih sayang dan cinta seorang ayah seperti anak-anak lainnya.
Ia tak mendapatkannya. Sama sekali tidak!
Semakin remaja ia bertambah nakal, hura-hura di jalan, keluar malam, dan selalu bolos sekolah. Perceraian, dan pertengkaran orang tuanya, ditambah dengan kabar kematian ibunya telah benar-benar mengganggu pikirannya. Kebahagiaan masa kecilnya telah direnggut paksa darinya. Terkadang ia berpikir untuk apa hidup dengan bergelimang harta, tapi tak pernah mendapat kasih sayang orang tua.
Jadi, ia dicap sebagai berandal masyarakat itu karena ayahnya yang tak pernah mendidiknya dengan benar, yang ia berikan hanya uang. Padahal uang itu tidak menjamin karakter seseorang, tapi kasih sayang orang tua dan didikan orang tualah yang lebih penting dan lebih mulia dibanding apa pun di dunia ini.
Ada masanya untuk mengungkap sebuah kesunyian, kesunyian yang pernah dialami setiap jiwa. Seperti Dave, titik akhir dari kebahagiaannya telah direnggut oleh masa lalu.
Ia merasakannya, bukan hanya dia, tapi kalian pasti juga pernah merasakannya. Merasakan di mana saat kalian merasa sendiri, sunyi, tak ada siapa pun yang bisa kalian ajak bicara, bahkan alam pun ikut membisu.
Ketika keheningan telah bersuara, maka kemari dan dengarkan mereka, keheningan itu.
Setelah menyentuhmu mereka akan mekar.
Panggil mereka ke rumahmu suatu hari nanti. Mereka yang gelisah untuk berbicara. Biarkan mereka berbicara!
Keheningan...!!! Kesunyian kita... !!!
Keheningan yang mencengkeram, membisu batu, tak berkutik untuk mengangkat pita suaranya. Apa Anda pernah merasakannya? Walau sebatas hiasan hidup?
Apakah kalian pernah melewati jalan kecil? Di mana tidak ada yang melewati sebelumnya?
Sejatinya waktu telah berhenti di jalan itu? Bagaimana jiwa harus mengungkapkan semua yang terjadi?
Air sungai juga mengalir tanpa suara di situ. Dalam cahaya bulan yang bersinar ini, ada jutaan kebisuan yang tersembunyi. Bahkan air hujan tidak ada gemingnya.
Di dalam hati yang terbakar, ada asap yang membara. Namun kobarannya tak menyerukan gulatan.
Keheningan itu seperti alat musik, untuk dimainkan dengan nada cerita.
Kadang kala keheningan seperti kata-kata yang tak mampu terucap.
Jika keheningan seperti Langit. Maukah kalian terbang di langit itu?
Jika keheningan seperti perasaan, dapatkah kalian merasakannya?
Merasakan betapa sunyinya dunia ini, tanpa ada siapa pun kecuali dirimu seorang.
Sejatinya hidup penuh dengan masa itu, sebuah kesunyian yang tak bisa lepas dari perjalanan setiap insan.
Dave mengusap wajahnya yang terguyur air mata. Ia menghela napas berat. Matanya melirik ke sebuah tas biru yang ada di dekatnya, tas milik gadis yang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkannya tadi.
Perlahan ia gerakkan tangannya untuk membuka tas kecil itu. Ia rogoh jemarinya ke dalam, mungkin ia akan menemukan sesuatu agar bisa menghubungi keluarga gadis itu. Tapi, bahkan ia tak menemukan ponselnya, hanya sebuah buku diary kecil yang terdapat di dalam tasnya. Ponsel milik Twinkle rupanya telah jatuh ketika tubuhnya terhempas benda dengan kelajuan tinggi tadi.
Memprihatinkan! Naas!
To be continued...
***
TO BE CONTINUED