3 Weeks After The Murder

2264 Kata
Waktu begitu cepat berlalu, kini seminggu udah hampir habis dan besok mulai Minggu baru. Malam itu hujan turun deras sekali. Richard tampak keluar dari ruangan rahasia. Ruangan yang berada paling bawah dan diapit dengan lorong-lorong panjang yang menumpu bangunan besar nan megah Oxstandvard university. Pria itu masih berada di kampus, padahal jam sudah menunjuk pukul 12.00 malam waktu setempat. Dan juga ini merupakan hari Minggu. Kampus libur saat akhir pekan. Dengan bersenandung ria, pria yang usianya setengah abad itu berjalan menapaki lorong yang sunyi. Suara derap langkah kakinya terdengar nyaring di telinganya sendiri. Ia terus berjalan maju. Sayup suara hujan itu semakin lama semakin terdengar jelas. Itu menandakan kalau sebentar lagi dirinya itu akan mencapai tempat luar. Namun, saat dengan santainya ia berjalan, tiba-tiba bayangan hitam melesat cepat di depannya. Richard menghentikan langkahnya. Lalu, memastikan kalau ia salah lihat tadi. Setelah beberapa saat terdiam, tak ada lagi bayangan itu yang muncul. Kemudian ia segera pergi dari sana dengan terburu-buru. Sesampainya di luar, matanya itu langsung menangkap mobil hitam mewahnya yang terguyur hujan. Ia segera bergerak menuju mobilnya, dan masuk ke dalamnya. Kemudian, ia mulai melaju meninggalkan halaman kampus. Sesampainya di rumah besarnya, pria itu segera masuk. Ia menuju kamarnya dan membuka pintunya. "Jam segini baru pulang?" Seorang wanita cantik nan seksi itu bertanya padanya. Wanita itu mengenakan baju piyama dengan renda yang terbuka. "Sayang, kau belum tidur?" tanya Richard pada wanita itu yang merupakan istrinya. Istri Richard itu masih muda, cantik, nan seksi. Kalau dibanding dengannya, mungkin selisih 20 tahun. Tetapi, Richard masih terlihat seumuran dengan istrinya itu. Dia benar-benar awet muda. "Aku menunggumu. Jadi, aku tidak bisa tidur," ujar istrinya itu. "Sekarang aku sudah datang kan, ayo kita tidur bersama," seru Richard pada istrinya itu. Kemudian mereka mulai naik ke atas ranjang dan mematikan lampunya. Lalu, mereka mulai terlelap dengan saling berpelukan. *** "Bangunlah … waktu bersenang-senangmu sudah habis. Saatnya kau bangun dan membayar semua kejahatanmu!" Richard terbangun dari tidurnya saat suara seorang gadis terdengar nyaring di telinganya. "Bagus, kau sudah bangun. Sekarang … waktunya menerima hukuman atas tidak kejahatanmu!" Suara itu muncul kembali, membuat Richard bergeming. Ia mulai beringsut dari ranjang, dan berjalan pelan mendekati jendela kaca. Tirai jendela itu tampak beterbangan dihantam sang angin. Kemudian, dari balik jendela itu muncul sosok bayangan yang membuat tubuh Richard gemetar. Matanya melotot dan menalan ludah berkali-kali. Dari balik kaca itu, dia melihat sosok gadis yang telah ia bunuh beberapa Minggu lalu. Teressa, gadis itu. Tampilannya sangat mengenaskan, tubuhnya penuh luka, dan matanya menyimpan kebencian yang mendalam. "K-kau? Kau?" Richard melangkah mundur dengan tangannya yang menunjuk ke arah jendela. Ia terus melangkah, ketakutan melihat gadis yang sudah ia bunuh bangkit kembali. "Kau sudah tiada, kan?" Richard berlari keluar kamar. Namun di depannya itu terdapat sosok Teressa dengan noda darah di tubuhnya. Richard semakin terkesiap. Ia melangkah mundur ke arah tangga. Mulutnya yang gemetar itu terus berbicara. "Tidak mungkin! Kau sudah mati! Kau sudah-" Kaki Richard tersandung dan tubuhnya tergelincir dari tangga yang panjang. "Tidaaakk!" *** "Sayang, kau kenapa? Sayang?" Istrinya itu menggoyang-goyangkan tubuh Richard yang masih terlelap. Richard terbangun dari tidurnya, dan terkejut melihat wajah istrinya. "Sayang, kau kenapa? Kau mimpi buruk?" tanya istrinya itu keheranan. Richard melihat ke sekelilingnya. Ia menyadari kalau dirinya itu masih berada di atas ranjang. Itu berarti, semua tadi hanya mimpi buruknya belaka? "Sebentar!" Istrinya itu mengambil segelas air dan menyodorkannya pada Richard. "Ini, minumlah dulu!" ujarnya. Richard menerima gelas itu dengan ragu. Kemudian ia mulai meneguknya. Setelah habis, ia menyerahkan gelas itu pada istrinya lagi. Richard mulai mengatur napasnya yang masih belum normal. Bahkan peluh keringatnya itu begitu deras membasahi tubuhnya. Padahal, semalaman tadi hujan turun begitu deras. Richard menatap istrinya dan mulai berbicara. "A-aku … tadi mimpi buruk," ujarnya. Lalu matanya itu menoleh ke arah jendela yang sama yang tadi malam ia melihat sosok Teressa dalam mimpinya. Kemudian, ia bergidik ngeri. "Itu hanya mimpi, Sayang. Semua orang juga pernah bermimpi buruk," ujar istrinya menenangkan. "Baiklah, kau lebih baik mandi dan segarkan tubuhmu. Kau harus pergi ke kampus kan, pagi ini?" Istrinya itu mencium pipi Richard dan meletakkan gelasnya di atas nakas. "Aku turun dulu!" ujarnya kemudian bergerak ke arah pintu dan keluar. Richard mengerjap, menarik napas dan membuangnya lagi. "Untung hanya mimpi belaka. Aku takut, kalau itu benar-benar hantu Teressa. Apa mungkin dia bangkit dari kuburnya?" Richard menggeleng berkali-kali. "Tidak mungkin. Itu hanya mimpi dan tidak akan pernah menjadi kenyataan," ujarnya menekankan pada dirinya sendiri. Kemudian pria itu beringsut dan mulai berjalan ke dalam kamar mandi. *** Tiga Minggu setelah kematian Teressa Seperti biasa di hari Senin kampus tampak ramai sekali. Mereka para mahasiswa semangat sekali memulai Minggu pertama kuliahnya. Terlihat para mahasiswa saling berlalu lalang di halaman kampus. Mereka saling bertegur sapa dan berbincang satu sama lain. Tampak Reyna dan Rachel berjalan bersama, dan berbincang. Lalu, terlihat pula Michael dan Valen yang baru keluar dari mobil. Kedua pria itu berlari ke arah Rachel dan Reyna dan saling sapa. "Reyna, bagaimana penampilanku hari ini?" tanya Valen dengan memakai kacamata beningnya dan memamerkan senyuman terindahnya. "Seperti biasa. Kau tampak seperti orang culun dan cupu!" ejek Reyna, yang dibalas dengan gelak tawa Michael dan Rachel. "Kau memang tidak pernah berkata jujur!" Vallen memasang wajah cemberut. Saat mereka asyik bercanda, tiba-tiba Michael melihat Jackie yang tengah menyapu di halaman kampus. Petugas cleaning service itu juga sepertinya menyuruh Michael untuk menemuinya. "Jackie, kayaknya memanggil kita, deh!" kata Michael menghentikan candaan teman-temannya. Mereka pun mulai memandang ke arah Jackie di sana. "Ayo coba ke sana," ujar Valen mengajak. "Kau saja yang ke sana. Malas sekali jika bertemu dia dalam keadaan seperti ini. Apa kata orang nanti? Aku berbincang dengan petugas kebersihan?" Reyna menarik bibirnya ke samping. "Bisa hancur reputasiku!" lanjutnya angkuh. "Kau kan yang berpenampilan cupu. Kau saja yang ke sana," ujar Michael menambah. "Kalian ini memang selalu seperti," kata Valen kesal. "Baiklah-baiklah. Aku akan ke sana. Entah apa yang akan dibicarakan oleh pria itu." Akhirnya Valen setuju. Kemudian, pria berkacamata itu berjalan menghampiri Jackie. Sedangkan tiga teman lainnya memilih untuk melanjutkan perjalanannya menuju gedung kelas masing-masing. Seperti itulah mereka jika di luar, berpura-pura saling tidak kenal dan menghina satu sama lain. Sesampainya Valen di dekat Jackie, ia pun bertanya, "Kenapa kau memanggil?" "Barusan aku punya banyak narkoba impor. Kalau kalian mau, kita akan berpesta setelah jam kuliah kalian selesai. Bagaimana?" tanya Jackie ditambah senyum liciknya. "Kau memang benar-benar luar biasa, Jackie!" decak Valen girang. "Shut… jangan terlalu girang. Nanti ada orang yang curiga," ujar Jackie memperingatkan. "Baiklah-baiklah. Tapi aku harus berterima kasih padamu, teman!" Valen memeluk petugas kebersihan itu dengan gembira. Terlihat ada tiga mahasiswa orang menertawakan mereka. "Hey, cupu. Jadi itu temanmu?" tanya salah satu dari mereka dengan nada mengejek. "Seorang petugas kebersihan. Hahaha … kalian memang pantas bersahabat!" sahut salah satu dari mereka, lagi-lagi dengan suara mengejek. "Kenapa kalian mengurusi si cupu itu. Biarkan mereka saling mengobrol. Sampah bertemu sampah! Hahah!" ejek salah satu dari mereka. "Ayo, kita pergi!" ajaknya Kemudian. Mereka pun akhirnya pergi bersama. Valen langsung mendorong Jackie setelah dipeluknya tadi. "Keterlaluan. Awas saja jika aku ketemu mereka di luar kampus. Mereka akan habis!" ujar Valen marah sembari memandang tajam ke arah mereka dan mengepalkan kedua tangannya. "Sabarlah, teman. Mereka memang suka sekali mengejek. Padahal, mereka tidak tahu kalau sebenarnya kau adalah jagoan!" Jackie mencoba menenangkan Valen dengan menepuk-nepuk kecil bahunya. Valen menyingkirkan tangan Jackie darinya. "Kau juga jauh-jauh dariku kalau di luar!" ujar Valen menekankan lalu beranjak pergi dari sana dengan kesal. Jackie tersenyum sinis. "Benar-benar keterlaluan. Saat aku memberikan apa yang membuat mereka bahagia, mereka akan memujiku dan menanggap teman. Tapi setelah itu, mereka menghinaku!" ujarnya seraya menggelengkan kepalanya. Kemudian pria itu pun mulai melanjutkan pekerjaannya lagi, yaitu membersihkan halaman. Saat Jackie tengah asyik membersihkan halaman, tiba-tiba ada orang yang menabraknya. Jackie terkejut saat menyadari kalau mereka ada Arjun dan Lydia. "What the hell is going on?! Apa kau tidak punya mata, hah?!" Lydia tampak mengomel. Padahal, dia duluan yang menabrak petugas kebersihan itu. "Nona, kenapa marah-marah? Kau sendiri yang menabrakku duluan, harusnya aku dong yang berhak marah," kata Jackie seraya tersenyum. "Hey, diam kau! Kau bilang apa tadi? Kau akan memarahi kekasihku? Beraninya kau?!" Arjun mengepalkan tangan ke arah Jackie. Jackie pun ketakutan dibuatnya. "Tenang, kawan. Tenang … baiklah aku minta maaf, sekarang turunkan tanganmu, ya!" Jackie menurunkan kepalan tangan Arjun dan mencoba menenangkannya. Kemudian pria itu memperhatikan Arjun dan Lydia. "Jangan terlalu ganas denganku, kawan. Karena rahasia kalian ada di tanganku. Rahasia pada malam itu, saat kita semua membunuh seorang gadis dan menguburnya hidup-hidup!" kata Jackie membuat mereka melotot ke arahnya. "Lebih baik kita berteman saja. Bukankah yang tahu rahasia satu sama lain lebih baik menjadi teman, agar rahasia itu tetap terjaga baik-baik? Benar begitu bukan?" Jackie menaikkan sebelah alisnya. "Diam kau bodoh! Beraninya kau mengancam kami. Bukankah kau juga sama-sama melakukan kejahatan itu. Lalu bagaimana kau akan membocorkan rahasiamu sendiri? Apa kau sudah tidak waras?" kata Lydia dengan ketus. Jackie tampak tertawa menanggapi perkataan Lydia itu. "Aku ini hanya seorang dosen petugas kebersihan, Nona. Tidak ada pengaruhnya bagiku. Sedangkan kalian?" Jackie memandangi mereka berdua dengan menyunggingkan senyum liciknya. "Kalian adalah para primadona kampus. Aku tahu kalian anak orang-orang penting di kampus ini. Publik akan dengan cepat menghakimi kalian. Apa kalian tidak memikirkan hal itu?" "Shut up! b******k!" Arjun menarik kerah baju Jackie dengan paksa. "Berani kau mengancam kami? Aku bisa mengusir dan melemparmu dari sini jika aku mau. Jadi bersikap sopan terhadap kami jika kau masih menginginkan pekerjaan murahan ini!" kata Arjun ketus. "Tenang, kawan. Kau ini cepat sekali emosi, ya. Aku hanya mengandaikan saja. Rahasia itu akan aman, jika kalian juga bersikap sopan padaku." Jackie melepaskan pegangan tangan Arjun dari kerah bajunya. "Dan ya, yang kau hina tadi adalah pekerjaan mulia, kawan. Walau itu terlihat murahan di depan kalian, tapi itu terlihat mulia di mata orang-orang kecil sepertiku. Bersyukurlah kalian tidak memiliki nasib yang sama denganku, dan hargailah setiap pekerjaan seseorang jika kau juga ingin dihargai!" tutur Jackie membuat Arjun semakin geram. "Sudahlah, Arjun. Lebih kita pergi saja dari sini, dari kau mengotori demi orang rendahan seperti dia!" Lydia memicingkan mata ke arah Jackie. "Biarkan dia, kalau dia nekat … kita akan menempatkan posisi yang sebenarnya padanya!" Lydia menggandeng tangan Arjun dan mengajaknya pergi dari sana. "Kalian orang-orang kaya memang sama saja. Benar-benar, menyebalkan!" sinis Jackie. Kemudian, ia mulai melanjutkan pekerjaannya. *** Siang itu Lydia tampak berjalan ke sebuah ruangan. Gadis itu memasuki ruangan setelah sampai di tempat yang ia tuju. Senyumnya begitu lebar, saat melihat Aryo yang sedang sibuk dengan laptopnya. "Sesibuk itukah, sampai kau mengabaikan kedatangan wanitamu ini?" kata Lydia menyindir Aryo. Pria itu langsung menoleh dan menutup laptopnya. Ia tersenyum gembira. "Oh, kesayanganku. Kenapa kau tidak bilang-bilang kalau mau datang? Aku bisa berdandan tampan nanti," ujarnya sembari menata dasinya. Lalu ia mulai berjalan ke arah Lydia. "Lihat, kau tampak sangat cantik dan menawan. Kau juga sangat seksi," kata Aryo seraya memandangi tubuh Lydia. Bahkan pria itu menggigit sedikit bibir bawahnya. "Apa kau tidak bosan memujiku terus?" seru Lydia seraya mendekat ke arah Aryo. "Aku akan terus memujamu, Sayang. Kau adalah ratuku!" Aryo menarik tangan Lydia hingga tubuh langsing itu jatuh di pelukannya. "Bagaimana aku bisa tahan dengan kecantikanmu ini?" rayunya dengan suara mendesah. Lydia mulai meraba pipi kasar itu dengan tangan lembutnya. "Tidak bisa dipungkiri. Kau juga sangat tampan dan hot. Kau bahkan tak kalah dengan Arjun. Kau tahu, kalau kau berjalan bersama, kalian sudah seperti kakak beradik," puji Lydia dengan memamerkan bibir sensasionalnya itu. Aryo semakin mengeratkan pelukannya itu. "Katakan sekali kalau kau mencintaiku," pinta Aryo. "I love you, Sayang!" ucap Lydia membuat Aryo terpana. Pria itu mulai menciumi pipi Lydia. Menjelajahi wajah mulus nan cantik itu dengan bibirnya. Kemudian, sampai lehernya dan naik lagi ke bibirnya. Bibir mereka saling bertemu, namun dengan cepat Lydia menjauh. "Kenapa kau malu-malu, Sayang. Tidak ada siapapun di ruangan ini selain kita," kata Aryo mencoba menata wajah Lydia agar terfokus pada dirinya lagi. "Bukan begitu, hanya saja aku tidak percaya diri. Kau tahu, hari ini aku hanya memakai lipstik sedikit. Lipstik yang Arjun berikan itu tinggal sedikit. Kau juga tidak mau membelikannya, bukan?" "Kenapa kau berkata seperti itu, Sayang. Kalau kau minta, aku dengan senang hati akan membelinya untukmu!" ujar Aryo. "Katakan, lipstik apa yang ingin kau miliki?" tanyanya kemudian. "Kau tidak akan tahu. Kalau kau berniat membelikannya, lebih baik kau kirim uangnya saja. Aku bisa beli sendiri nanti," ujar Lydia memancing. "Apapun akan aku lakukan demi kekasihku tercinta." Aryo merogoh ponselnya. Kemudian ia memainkan ponselnya itu. "Lihat, 10 juta sudah masuk ke rekeningmu. Kau tidak perlu khawatir lagi, kau bisa membeli lipstik apa pun yang kau inginkan. Asalkan bisa menambah pesona bibir seksimu ini." Aryo mendekatkan bibirnya lagi ke arah Lydia. "Terima kasih banyak, Sayang!" seru Lydia, kemungkinan sebagai hadiah ia mencium pria itu. Mereka berciuman dengan sangat intens dan tak mempedulikan apa pun di dekatnya. Namun, suara ketukan pintu mengacaukan segalanya. Mereka menghentikan aksi panas mereka dan saling menjaga jarak satu sama lain. Kemudian, Aryo mulai berjalan bersama ke arah pintu. Aryo membuka pintunya, dan terkejut bukan main saat menyadari istrinya sudah berada di ambang pintu. Lydia pun juga terkejut melihatnya. Namun, ia tak bisa sembunyi karena jika Alina mengetahuinya itu akan malah membuat Alina curiga. "Kau? Mau apa kau ke sini?" tanya Aryo berusaha menutupi kegugupannya. "Apa seorang dekan butuh izin untuk bertemu dengan dosen?" tanya Alina membuat Aryo tertegun. "Ya, setidaknya kau membuat janji terlebih dahulu," ujar Aryo. Alina langsung masuk ke dalam begitu saja. Ia terkejut saat melihat ada Lydia yang berdiri di dalam ruangan Aryo. *** TO BE CONTINUED Don't forget to tap love
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN