Sirat Kelicikan Lydia

548 Kata
"Lydia, kau di sini?" tanya Alina membuat gadis itu gugup setengah mati. Lydia mulai berkeringat dan meremas ujung bajunya. Mulutnya itu mencoba mengatakan sesuatu. "I-iya, Tante. A-aku tadi … emm … aku tadi konsultasi soal tugas kuliah," kata Lydia beralasan. Alina masih memandanginya. Seolah belum puas dengan alasan gadis itu. "Lydia, kau boleh meninggalkan ruangan!" kata Aryo cepat. Ia tidak ingin kegugupan Lydia membuat Alina curiga. "B-baik, Pak!" Lydia mulai berjalan. Begitu ia melewati Alina, gadis itu sempat memandanginya terlebih dahulu dan berkata, "Sampai jumpa, Tante!" Gadis itupun pergi meninggalkan ruangan. "Mau apa kau ke sini!" tanya Aryo pada Alina dengan marah. "Aryo aku-" Tiba-tiba suara dering ponsel tersebut terdengar dari saku Aryo. Pria itu menberi kode pada istrinya untuk diam dulu sebentar. Lalu ia memilih untuk mengangkat teleponnya. "Halo!" "...." "Ya!" "...." "Baiklah! Aku segera ke sana!" Aryo menutup teleponnya dan menaruhnya dalam saku lagi. Lalu ia menatap ke arah Alina. "Aku ada urusan mendesak. Aku harus pergi!' ujarnya lalu membalikkan tubuhnya begitu saja. "Aryo, ada urusan apa kau? Kalau soal kampus kau bisa bilang padaku," kata Alina mencoba menahannya. "Ini bukan urusanmu dan tidak ada hubungannya dengan kampus!" balas Aryo tampak menoleh ke arahnya dan langsung pergi begitu saja. "Sialan!" Alina terlihat kesal. Kemudian wanita itu ikut pergi keluar setelah menutup pintunya. Di luar sana Alina melihat Aryo dan Lydia yang mengobrol sebentar dan kemudian Aryo buru-buru pergi. Alina terheran melihatnya. Kemudian, ia memanggil Lydia dan membuat gadis itu menghentikan langkahnya. "Lydia!" Alina berjalan cepat ke arah Lydia. "I-iya, Tante." Lydia membalikkan tubuhnya dengan takut. Ia terus meremas ujung bajunya seraya menggigit-gigit kecil bibirnya. "Aku ingin berbicara sesuatu denganmu. Ini sangat penting," ujar Alina. "A-apa, Tante?" Lydia mulai ketakutan. Ia mengedarkan bola matanya ke kanan dan ke kiri. "Awalnya aku sudah curiga soal Aryo, aku curiga kalau dia bermain mata di belakangku. Tetapi sekarang kecurigaanku itu semakin kuat. Aku tahu dia memiliki wanita lain," jelas Alina membuat Lydia melotot. "Wanita lain? S-siapa?" tanyanya mencoba sok polos. "Yang aku lihat kau sangat dekat dengan Aryo. Bahkan, kedekatan kalian mengalahkan kedekatan kita." Lydia semakin panik mendengar hal itu. Apakah mungkin Alina sudah tahu pasal hubungan mereka berdua? "B-bukan begitu, Tante. A-" "Kenapa kau menyangkalnya Lydia?" Alina mendekatkan jaraknya pada Lydia. Itu semakin membuat Lydia tertegun dan gemetar. "Apakah kau mau menbantuku?" "Bantu apa, Tante?" Alina memegang keuda pundak Lydia dengan pelan. "Lydia, kau sudah menganggap Aryo sebagai ayah mertuamu, kan? Dan kau tidak ingin melihat Arjun bersedih, kan?" Alina memberi jeda sejenak. "Aku yakin Aryo memiliki wanita lain. Jadi, maukah kau mencaritahu siapa wanita itu?" tanya Alina membuat Lydia menatapnya. "Aku kira dia mencurigaiku, ternyata … wanita ini belum tahu kalau aku wanita simpanan suaminya itu," sinis Lydia dalam hati. "Bagaimana?" Alina memegang janggut Lydia. "Ini demi kebaikan kita semua," ujarnya. "Iya, Tante. Aku pasti akan mengetahui wanita selingkuhan Om Aryo. Aku janji padamu," janji Lydia membuat Alina girang. "Baiklah, kalau begitu terima kasih, ya!" Alina memeluk tubuh Lydia. "Tante beruntung jika bisa memiliki menantu sepertimu," serunya gembira. Lydia tersenyum licik. Ia berkata dalam hati, "Bodoh sekali wanita ini. Dia tertipu akan wajah luguku. Dia bilang dia beruntung memiliki menantu sepertiku?" Lydia memiringkan senyumnya. "Bukan menantu, melainkan nyonya. Nyonya yang akan menguasai seluruh harta kekayaan keluarga Bramasta!" Lydia tersenyum licik. *** TO BE CONTINUED
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN