"Terimakasih, Lydia." Alina melepaskan pelukannya, dan tersenyum ke arahnya.
"Iya, Tante. Serahkan semuanya padaku. Kau tidak perlu khawatir. Aku pasti akan mengawasi Om Aryo," kata Lydia tersenyum licik.
"Ya sudah, Tante pergi dulu, ya." Alina memegang pipi Lydia kemudian pergi dari sana.
Sementara Lydia tersenyum girang. "Bodoh! Dasar wanita bodoh. Malang sekali nasibmu, Tante Alina. Suami yang kau cintai harus berpaling dengan wanita lain," gumam Lydia. Lalu ia berjalan dari sana.
Crilingg…
Suara nada pesan masuk dari ponsel Lydia. gadis itu berhenti, mengambil ponselnya dan mengeceknya. Ada nomor tak dikenal yang mengirim pesan padanya.
Lydia mulai membuka pesannya dan membacanya.
Mata gadis itu seketika melotot dan tertegun.
"I KNOW YOUR SECRETS!"
Isi pesan itu, dan berhasil membuat gadis itu meneguk ludah berkali-kali.
***
TO BE CONTINUED
~Kutuliskan segala perasaanku dalam lembaran catatan kehidupan. Menjelajahi hidup dalam sebuah diary~
°°°
Hati Dave tergerak untuk membuka diary seukuran buku tulis, namun agak tebal sedikit. Perlahan ia buka lembar dari secarik kertasnya. Terdapat beberapa nama di halaman pertama.
“Twinkle Sahid Ali" Bibir Dave mengeja nama yang tertulis di lembar pertama.
“Mungkin ini nama gadis itu,” pikir Dave dalam hati.
Di bawahnya tertera juga tanggal lahirnya, ‘1 Januari 1998’. Dave menyadari ini juga tanggal 1 Januari, itu berarti hari ini adalah bertepatan dengan ulang tahun si gadis. Seharusnya ia merayakannya bersama keluarganya dengan bahagia, tapi gara-gara insiden ini, gadis malang itu harus merayakan ulang tahunnya dengan terbaring tak sadarkan diri di ruang ICU, lengkap dengan berbagai alat medis.
Dave beralih pandangannya pada kertas bagian bawah, terdapat juga foto kedua orang tuanya, lengkap dengan nama terang juga di bawahnya. Dave mengerakkan bibirnya, membaca tulisan yang tergores di bawah foto seorang pria dengan senyum lebar itu.
"Sahid Ali, My Dad." Ia berhenti sejenak, kemudian matanya melirik ke arah foto seorang wanita paruh baya yang juga memamerkan senyumnya. "Mira Sahid Ali." Dave tersenyum kecil.
Tiba-tiba, sang dokter menghampirinya. "Nak!" panggil dokter mengagetkannya.
Sontak Dave langsung menutup buku catatan kecil itu, dan mendongakkan kepalanya menatap dokter.
"Nak Dave, apa kau keluarga gadis itu?" tanya Dokter.
Dave menggelengkan kepalanya. "Tidak! Dia yang menyelamatkanku tadi." Ia berhenti sejenak, lalu bertanya pada dokter, "Bagaimana keadaannya sekarang, Dok?"
Dokter terdiam. "Begini, lukanya sangat dalam, kedua ginjalnya rusak akibat benturan yang keras, jadi ...." Dokter berhenti, ia mengambil napas panjang.
"Jadi apa, Dok?!"
"Jadi, mungkin dia harus dioperasi dengan segera, jika tidak ... maka kami tidak akan bisa menyelamatkannya."
Mendengar perkataan dokter, membuat Dave hening seketika. Ia semakin merasa bersalah, karena dia lah gadis tak berdosa itu mengalami hal seperti ini. Orang tua gadis itu pasti sedang menunggunya di rumah, tapi karena menyelamatkannya, gadis itu harus berkorban dan kehilangan ginjalnya sendiri.
"Kita harus mengoperasinya, atau nyawanya tidak akan bisa tertolong." Dokter terus mendesaknya.
"Tapi Dokter, orang tuanya?" tukas Dave.
"Saat ini keselamatannya lebih penting daripada menunggu persetujuan orang tuanya, kami akan segera mengoperasinya jika kau menandatangani semua formalitas mewakili orang tua korban," jelas Dokter.
Dave berpikir sejenak, ia mengingat bagaimana gadis itu tak memedulikan nyawanya dan menggantikan diri Dave yang seharusnya tertabrak mobil tadi.
"Baik, Dok! Lakukan operasi terbaik untuknya, tolong selamatkan dia dengan segera!" ucap Dave akhirnya menyetujui.
"Siapa nama gadis itu?" tanya Dokter.
"Twinkle," jawab Dave pelan. "Aku melihat dalam buku catatannya, mungkin namanya Twinkle Sahid Ali," tambahnya.
Dokter menulis nama Twinkle dalam kolom nama yang tertera dalam secarik formulir yang dipeganginya.
"Kalau nama terang Anda?" tanya d
Dokter lagi.
"Dave Ar ...." Dave tak jadi melanjutkan perkataannya.
"Hanya itu?"
Dave terdiam sejenak. "Iya Dok, hanya Dave saja."
Dokter memandang Dave, lalu menulis namanya juga. Kemudian ia menyodorkan formulir itu untuk ditandatangani olehnya.
"Kami akan segera melakukan operasinya setelah kau menandatanganinya."
Dave memegangi bolpoin, dengan agak canggung ia menandatangani formulir itu. "Lakukan apa pun untuk menyelamatkan gadis itu Dok!" pinta Dave.
Dokter menepuk bahu Dave. "Yang Maha tahu, Maha memberi hidup adalah Tuhan,"-Dokter menatap ke atas sejenak-“mintalah pada-Nya, kami para dokter hanya sebagai perantara saja, tapi yang menentukan hidup dan mati seseorang adalah Tuhan," jelas Dokter seraya tersenyum, lalu beranjak meninggalkan Dave.
Dave terpaku, selama ini ia tak pernah melakukan kewajibannya sebagai hamba Tuhan. Ia tak pernah menunaikan ibadah pada yang kuasa, di hatinya hanya ada kebencian karena telah menciptakan takdir yang menurutnya buruk. Sejak kecil ia telah beranggapan bahwa Tuhan tak pernah adil padanya, Dia yang merebut ibunya darinya dan membuat hidupnya seperti di neraka dengan memiliki ayah seperti Vivek.
Dave tak tahu, bahwa Tuhan itu lambang keadilan yang hakiki, takdir dan jalan hidup telah dikuasai-Nya. Dia yang Maha tahu untuk masa depan, kita sebagai manusia hanya perlu percaya bahwa keberadaan-Nya itu memang ada, yang menciptakan seluruh alam semesta seisinya. Mungkin takdir juga yang membawa Dave dalam masa sekarang, takdir yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Kepercayaan akan ketuhanan sangat minim di hati Dave, tapi mulai hari ini ia harus mengubah pemikirannya itu. Sekitar 360 derajat tentunya. Ia harus berdoa pada-Nya untuk keselamatan gadis yang telah menyelamatkannya. Sebenarnya, pria bertubuh gagah ini mempunyai kebaikan dan kelembutan hati yang tersimpan, hanya saja keadaan dan faktor internal maupun eksternal yang membuatnya menjadi seorang berandal, biadab, bahkan sampah masyarakat.
Dave kembali duduk merenung, ia menyadari selama ini yang ia lakukan adalah salah besar. Dalam insiden ini adalah bukti nyata bahwa Tuhan memang sayang pada umatnya, buktinya ia masih diberi kesempatan untuk bernapas lega sampai saat ini. Kecelakaan yang seharusnya ia jadi alami, kini malah gadis yang tak berdosa yang jadi korbannya. Yang harus ia lakukan adalah berdoa dan memohon pada sang Khaliq untuk menyelamatkan nyawa gadis itu.
Ia memejamkan matanya, perlahan setitik bulir keluar dari sudut matanya hingga mengalir ke pipi. Ia menyatukan kedua tangan dan mendongakkan kepalanya menatap ke atas. Bibirnya tergetar untuk mengucapkan sesuatu.
"Tuhan, jika engkau mau memaafkanku selama ini, maka aku akan bersyukur. Tuhan, aku mohon selamatkan gadis itu, dia tidak bersalah, dia hanya ingin berbuat baik pada hamba-Mu yang hina ini. Tolong jangan ambil nyawanya, kau bisa mengambil nyawaku, tapi dia ... jangan Tuhan."
Dave menghela napas. "Aku hanya hamba-Mu yang rendah tak bermaksud mengatur-Mu, tapi aku hanya memohon untuk keselamatan gadis yang telah menolongku," lirihnya, memanjatkan setiap relung doa yang tersumbat di benaknya.
Ia menyeka air matanya yang menggenang di kelopak mata. Dan menunggu kabar terbaru dari dokter. Berharap doanya tadi terkabulkan. Matanya terus terfokus pada jam dinding yang terus berdetak. Seolah ingin sekali masa-masa ini cepat berlalu. Dan gadis itu bisa terselamatkan, setidaknya itu akan mengurangi beban salahnya.
Dokter dan para perawat siap menjalankan operasi. Beberapa perawat memindahkan tubuh Twinkle ke ruang operasi untuk segera dijalankan sebelum terlambat. Berbagai alat medis tersaji di ruang operasi. Stetoskop telah terkalung di leher dokter, mesin anestesi telah siap sedia, nebulizer, defibrilator, regulator oksigen, dan lainya telah siap menemani sang dokter dalam menjalankan operasi. Lampu telah menyala terang di atas tubuh Twinkle yang tak sadarkan diri. Dokter dan perawat telah memakai sarung tangan komplit dengan seragam serasi.
Apa yang akan terjadi pada Twinkle? Apakah dia akan selamat? Apakah Dave akan sadar dari semua perbuatan salahnya? Akankah hati suci mencair pada diri Dave?
To be continued ...