"Ini pasti ulah si petugas kebersihan itu!" Lydia memicingkan mata marah setelah menerima pesan misterius dari seseorang. Ia berpikir bahwa pesan itu berasal Jackie. "Orang itu benar-benar harus dikasih pelajaran!" Lalu ia berjalan ke arah lift dan masuk ke dalamnya. Ia memencet tombol untuk turun.
Lydia berniat untuk menghubungi Arjun dan mengadukan semua itu. "Halo, Arjun!"
"Iya, Sayang!" balas Arjun dari seberang sana.
"Arjun, aku mendapat pesan…"
"...."
"Arjun kau mendengarku?" Lydia melihat ponselnya itu setelah mendengar suara sambungan yang buruk.
"Arjun, aku-"
Tit… tit … Telepon itu mati.
"Sial!" Lydia berniat menghubunginya kembali namun tiba-tiba lift itu berhenti. Lampu di dalam lift juga mendadak mati membuat lift gelap.
"What the hell?!" Lydia mengumpat kesal. Ia memencet tombol lift berkali-kali namun lift-nya itu tetap tidak mau berjalan.
"b******k. Kenapa harus macet di sini?!" Lydia mulai mengoperasikan ponselnya kembali. Ia menyalakan senter ponsel untuk meneranginya. Kemudian, nada ponsel kembali masuk. Masih nomor yang sama yang tak dikenal seperti tadi.
Lydia membuka pesan itu dan membaca isi pesannya.
"I Know your secret!"
Lydia melotot dan menelpon nomor itu. Namun dengan cepat pemilik nomor itu menolak panggilannya. Lantas, Lydia mulai mengirim pesan padanya.
"Dengar, Petugas kebersihan murahan. Hentikan drama ini atau kau akan menyesal!"
Lydia buru-buru mengirimnya setelah mengirimnya. Beberapa saat kemudian, pesan balasan masuk.
"Kau yang akan menyesal karena telah menghabisi seseorang!"
Lydia melotot dan berjalan mundur satu langkah. Satu pesan lagi masuk, membuat gadis itu semakin terkejut.
"Aku bukanlah petugas kebersihan itu!"
"Siapa kau?!" tanya Lydia lewat pesannya.
"Kematianmu!"
"Omong kosong apa yang buat ini? Dengar, kalau kau mengancamku, maka kau sendiri yang akan menyesal nantinya."
"Kau bisa melakukan sesuatu kalau kau bisa keluar dari lift itu. Namun, Sayangnya lift itu macet dan tak ada orang yang tahu."
"Jadi kau yang menyebabkan lift ini macet?!"
Orang itu hanya mengirimkan emoticon tengkorak dengan tulang menyilang. Tanda itu dianalisis sebagai tanda tidak akan selamat. Setelah itu tidak ada pesan lagi darinya. Lydia terus menghubunginya, menelponnya berkali-kali namun panggilan itu sekarang sedang sibuk. Itu artinya orang itu sudah mematikan ponselnya.
"Sial!" Lydia mengumpat kesal. Gadis itu terus memencet tombol lift berkali-kali namun tetap sama. Lift itu macet dan tak bisa turun. Keadaan di dalam sana juga mulai panas.
Lydia merasa gerah. Keringatnya bercucur membuatnya harus mengipasi dirinya sendiri dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya terus berusaha untuk menelpon Arjun.
"Arjun, ayo angkat. b******k!"
Menyadari ponsel Arjun sibuk, Lydia beralih menelpon Aryo. Namun, nasib malang menimpanya. Ponsel Aryo itu juga sibuk.
"Bapak dan anak itu b******k semua. Saat dibutuhkan selalu tidak ada, kalau tidak dibutuhkan saja mereka selalu datang dan menggodaku. Benar-benar sialan!" Lydia menendang pintu lift itu dengan sekuat tenaga. Namun hal itu hanya membuat kakinya sendiri merasa sakit.
"k*****t!" Lydia mengepal kesal. Ia mulai kesusahan untuk bernapas. Kemudian, ponselnya itu berdering. Lydia mengira itu Arjun atau Aryo yang menelponnya, namun dugaannya itu salah. Itu hanya nada sebagai pemberitahuan kalau baterai ponselnya itu hampir habis.
"Sialan!" cerca Lydia kesal. Lalu ia berniat untuk melepon Alina.
Setelah mencoba berkali-kali akhirnya Alina menerima panggilnya.
"Halo, Tante. Tante tolong aku, aku terjeb-"
Tit… tit … suara bunyi baterai telah habis dan membuat ponsel gadis itu mati. Lampu senternya pun ikut mati dan keadaan sekarang menjadi gelap total.
"What the hell!" Lydia mulai menggedor-gedor pintu lift dengan tangan juga kakinya. "Tolong! Apa ada orang yang mendengar?! Tolong!"
Lydia mulai terbatuk-batuk lantaran kehabisan napas. Di dalam sana pun juga panas. Keringat semakin deras membasahi tubuhnya. Lalu pernapasannya itu mulai kesusahan untuk bernapas, dan membuatnya lemas.
Brak!
Tubuh Lydia tumbang di dalam lift. Gadis itupun menutup kedua matanya dan tergeletak tak sadarkan diri.
***
TO BE CONTINUED