Teka-teki

1444 Kata
Beberapa menit kemudian, lift kembali berjalan normal dan berhenti di tempat yang seharusnya. Pintu lift itu membuka, memperlihatkan tubuh Lydia yang lemas tak sadarkan diri. Aryo yang kebetulan lewat, terkejut melihat Lydia di sana. Ia pun langsung bergerak menghampirinya. "Lydia! Lydia! Bangun!" Aryo mencoba membangunkannya namun gadis itu tetap tak mau membuka mata. "Ah, sial!" Aryo lalu membopong gadis itu dan membawanya ke rumah sakit universitas. Setelah diperiksa dokter, akhirnya Lydia berhasil selamat dan kini mulai membuka matanya. Ia terheran saat melihat ada Aryo dan juga Arjun yang menjenguknya. "Aku ada di mana?" tanyanya seraya memegang kepalanya merasa pening. "Dia baik-baik saja. Dia hanya butuh istirahat yang cukup. Kami sudah memberinya udara tadi tadi. Akibat pernafasannya yang sesak, mungkin tadi dia bisa saja tidak selamat. Namun, untungnya Anda membawanya ke sini tepat waktu," kata Dokter pada Aryo. "Terima kasih, Dok!" ujar Aryo. "Kalau begitu, saya permisi dulu!" katanya lalu pergi dari sana. Arjun mendekat ke arah Lydia dan memegang tangannya. "Sayang, aku sangat khawatir terhadapmu. Kenapa kau bisa sampai seperti ini?" tanyanya. "Tadi aku menemukanmu di lift. Kau tergeletak tak sadarkan diri," ujar Aryo memberitahu Lydia. "Lift?" Lydia tampak berpikir. Ia mengingat kejadian tadi saat lift tiba-tiba macet dan ada orang yang mengirim pesan misterius terhadapnya. "Oh no!" Lydia langsung membangunkan tubuhnya. Kini ekspresinya ketakutan dan pucat. "Sayang, kau tidak apa-apa kan?" tanya Arjun. "Dia ingin membunuhku!" ucap Lydia begitu saja membuat ayah dan anak itu keheranan. "Membunuh? Siapa yang ingin membunuhmu?" tanya Aryo. "Orang itu. Orang misterius." Lydia menatap ke arah Arjun dan juga Aryo. "Tadi aku mendapat pesan misterius. Pesan itu berbunyi 'I know your secrets!' . *** TO BE CONTINUED ~Kita bertemu setiap orang yang berbeda, dengan cara yang berbeda pula. Itulah Takdir, menjumpakan setiap keadaan dalam perbedaan~> Brakkk!!! Suara tabrakan mobil mengheningkan keadaan sesaat. Membuat setiap orang berlarian menjenguk. Siapa yang bernasib malang??? Dave terbangun dari jatuhnya. Ia menggerakkan tangannya, mengusap darah yang mengalir pelan dari keningnya. Sepertinya, kini ia telah sadar dari mabuknya akibat benturan keras yang mengenai kepalanya. Pandangannya tertuju pada segerombolan orang yang tengah membentuk lingkaran di tengah jalan. Ia bergerak menyingkirkan satu persatu dari mereka yang menghalangi pandangannya. Matanya melihat seorang gadis tengah tergeletak tak sadarkan diri, dengan tubuh yang dilapisi darah segar. Dave ingat saat sebuah mobil melaju ke arahnya tadi, lalu seorang gadis berteriak padanya dan mendorong tubuhnya menyingkir ke tepi, hingga kepalanya terbentur batu. Kini ia sadar semuanya. Gadis itu telah mencoba menolongnya, tapi ... bersamaan dengan itu, sang gadis yang akhirnya tertabrak mobil itu. Hati Dave bergeming, serasa ada yang memukulnya. Seolah ia merasa bersalah atas kecelakaan yang terjadi pada gadis itu. Pria itu hanya mematung, pandangan terus terfokus pada gadis yang telah menyelamatkan nyawanya, dengan mengorbankan nyawanya sendiri. Ia memungut tas kecil berwarna biru yang bernoda darah, tergeletak di bawah kakinya. Tangannya gemetaran ketika menyongsong tas milik gadis itu. Rasa kekecewaan dan penyesalan ia buat sejadi-jadinya. Sirene ambulans membising. Beberapa petugas rumah sakit dengan segera menggotong tubuh Twinkle ke dalam ambulans, lalu dilarikan ke rumah sakit dengan cepat. Dave juga ikut bersamanya di dalam mobil ambulans. Dengan perasaan segudang penyesalan, Dave memandangi Twinkle yang terbaring lemas. Tak lama polisi saling berdatangan. Para petugas berseragam hitam itu terlihat mengurus mobil rusak akibat kecelakaan tadi. Garis kuning telah dibentangkan sebagai tanda wilayah polisi. Sekerumunan orang sudah mulai enyah ketika polisi datang dan mengurus semuanya. Di sebuah rumah sakit besar Kashmir, dengan cepat tubuh Twinkle diangkut dengan derekkan beroda. Dokter beserta perawat dengan cepat menanganinya. Dave hanya mematung, memandangi Twinkle yang tak sadarkan diri di atas tandu beroda itu. Ia melirik pada tas biru kecil yang dipegangnya. Kemudian ia melangkah ke arah deretan kursi panjang yang tersedia di ruang tunggu. Perlahan ia dudukkan tubuhnya, lemas penuh dramatis dengan pandangan kosong. Seperti bangunan yang roboh tak berdaya, ia pun mengerut seketika. Ia tak memedulikan keningnya yang masih mengalir setetes darah. Seorang perawat menghampirinya. “Tuan, mari saya obati,” ajak perawat itu, sembari melirik kening Dave yang tersayat sedikit akibat benturan dengan aspal tadi. Dave masih termenung, terlarut dalam segudang penyesalan. Perawat itu berbicara sekali lagi hingga mengagetkan Dave dari lamunannya. “Tuan! Mari saya obati!” gertak perawat itu lagi. Dave menatap ke arah wanita berseragam perawat itu. Sayu penuh makna, seperti kucing kecil yang terlantar. “Lukaku ini tak separah gadis itu, tolong kau obati saja dia!” pinta Dave. “Iya, gadis itu sudah ditangani dokter. Sekarang biar aku yang menanganimu!” tegas perawat itu. Dave masih tak bergeming dari duduknya. Dengan paksa perawat menariknya ke sebuah ruangan, beberapa alat medis tersaji di dekatnya. Perawat menggerakkan tangannya mengobati luka di kening Dave. Sedangkan Dave hanya terpaku kosong. "Siapa nama Anda?" tanya sang perawat. Dave masih merenung. Kemudian ia sadar dari lamunannya. Ia menatap ke arah perawat yang sudah menunggu jawabannya. "Dave!" ucapnya pelan. Perawat itu mencatatnya dalam buku tugas, sebagai tanda pengenal daftar pasien rumah sakit. “Luka Anda sudah saya obati, kau bisa kembali ke luar,” tutupnya. Setelah selesai, Dave berjalan keluar dengan luka berbalut perban putih di keningnya. Ia kembali duduk di sebuah kursi panjang tadi. Pandangannya kosong, terdapat serpihan kaca-kaca kecil bercampur air bening yang membendung di kelopak matanya. Dave mengingat masa lalunya yang terjadi pada kehidupannya. Perlahan ia pejamkan matanya, sangat dalam, membuat serpihan kaca-kaca bening itu menitik air dari sudut pupilnya. Bayangan masa lalu seperti mengganggu pikirannya. Masa kelam yang seperti menyimpan seribu arti, entah sebuah kebahagiaan ataupun kesedihan yang mendalam. Dave menaruh begitu saja tas kecil milik Twinkle di samping duduknya. Matanya terus terpejam, ia ambil napas dalam nan berat. Kepalanya menunduk dan dipegangi oleh kedua tangannya. Ia kerutkan dahinya, mengeryit, dan menelan ludah. Ingatannya membawa arus masa satu tahun lalu, masa kelam dalam hidupnya. ( Flashback ) Di sebuah pengadilan, Dave dengan wajah pucat tengah berdiri mematung. Dikurung dalam sebuah tempat pengakuan, layaknya kursi merah yang memanas. Seperti pada umumnya, terdakwah ataupun pendakwah yang menyampaikan dakwahannya di tempat khusus untuknya. Seorang hakim mengetuk palunya tiga kali di atas meja kehormatannya. Setiap pukulan membuat telinga Dave bergeming. Apalagi kata-kata yang keluar dari bibir hakim itu, bahwa ia dijatuhi hukuman 3 tahun penjara. Palu itu menjadi saksi bisu atas diri Dave yang pernah berdiri di dalam kurungan panas pengadilan sebagai tersangka. Tuduhan yang dilemparkan pada Dave atas kejahatannya, yaitu berbuat onar di masyarakat, ia terima begitu saja. Toh memang ia melakukannya, walau itu tidak dengan dorongan hati nuraninya. Seorang pria berjas hitam memohon agar membebaskan Dave dengan uang jaminan. Vivek Ardonio, yang merupakan ayah kandung Dave, seorang pengacara sekaligus pengusaha Handal. Berbagai bisnisnya menyebar luas hingga ke luar negeri. Pria setengah baya, namun tak luput dari gaya bapak-bapak zaman now. Ia merasa sangat malu sebagai seorang pengacara, anaknya sendiri telah melakukan pelanggaran ham hingga membuatnya harus berada di ruang sidang seperti hari ini. Hakim mengabulkan permintaan ayah Dave, dengan syarat jika ada lagi laporan tentang kelakuan dan tindakannya yang meresahkan masyarakat, maka tidak akan ada lagi yang menyelamatkannya dari hukuman jeruji besi, bahkan berapun banyak uang tak akan bisa menjadi jaminannya. Pria paruh baya berkumis tebal, dan berjas layaknya pengusaha-pengusaha pada umunya itu, menggandeng Dave menuju keluar persidangan. Wajahnya penuh emosi yang menggebu seolah siap meledakkan bom amarahnya pada anak semata wayangnya, Dave. Langkahnya terhenti saat sudah berada di halaman gedung persidangan. Kemarahannya itu terlihat jelas di garis matanya yang tajam. Ia berbalik menatap anaknya yang menunduk malu. "Berapa kali kau akan memalukan ayahmu ini?! Anak tak tahu diri! Bukannya mengangkat derajat orang tua, malah mencoreng muka!" bentaknya. Dave hanya terdiam dan memalingkan pandangannya. Ia tahu bahwa ia memang salah. "Apa kau dengar! Anak sepertimu tidak layak jadi bagian dari keluarga Ardonio, pembawa sial!" ketus ayahnya lagi. Dave mulai emosi, ia tak terima dikatakan sebagai anak pembawa sial. Ia tahu dirinya memang salah, tapi ayahnya itu sudah melewati batasan sebagai orang tua dengan mengatakannya anak pembawa sial. Hati anak mana yang tak sakit ketika dituding ataupun dicap sebagai pembawa sial. Dave menatap tajam ke arah ayahnya itu yang sudah seperti musuhnya sendiri. "Diam kau ayah kejam! Di mana didikanmu selama ini? Di mana kasih sayangmu selama ini? Apa yang terjadi sekarang ini karena kelalaianmu sebagai orang tua!" bantah Dave. "Kau berani menentang ayahmu sendiri? Di mana rasa hormatmu pada orang tua?" "Rasa hormat? Ayah sepertimu tak layak untuk kehormatan, kau selalu sibuk dengan pekerjaan dan kekayaanmu, hingga lupa pada anak sendiri!” timpal Dave. “Seekor hewan saja akan menyayangi anaknya, melindungi anaknya di kala bahaya menghadang, tapi manusia sepertimu justru lari dari tanggung jawab! Belajarlah dari sikap hewan itu!” lanjut Dave yang semakin lantang. Perdebatan anak dan bapak itu semakin memanas, bak air mendidih di atas kompor, juga sulut api di musim panas. Beberapa orang di sekitar sampai melirik menyaksikan pertarungan seru ini. Pertarungan yang lebih mainstream daripada kucing dan seekor tikus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN