"Apa? Kau mendapatkannya juga?" Arjun terkejut saat Lydia mengatakan soal pesan misterius itu. "Aku juga mendapatkannya!" ujar Arjun mantap.
"Hah? Bagaimana bisa?!" Lydia terkejut.
"Aku mendapat pesan itu, terus aku menelpon ayah untuk datang," kata Arjun menjelaskan.
"Coba cek nomornya!" Lydia meminta ponsel Arjun. Ia memeriksa nomor itu setelah Arjun menyerahkannya. "Ini nomor yang sama!" kata Lydia mantap setelah mencocokkan nomor itu.
Drett… ponsel Aryo bergetar. Ia mengeceknya dan terkejut. Matanya itu melotot lalu menatap ke arah Arjun dan Lydia.
"Aku mendapatkan pesan yang sama!" katanya mantap. Lalu ia menunjukkan pesan itu pada mereka berdua.
Mereka berdua tertegun dan meneguk ludah. "I know your secrets!" Mereka membacanya serempak.
Arjun langsung berdiri dengan marah. "Siapa yang melakukan hal ini?!"
"Siapa lagi? Si petugas kebersihan itu, Arjun. Dia yang mengancam kita kan waktu itu kan?" kata Lydia membuat Arjun mengingat si Jackie.
***
To be continued
~Jika kesalahan telah tertorehkan, maka segudang penyesalan akan tertampung dalam pintu maaf~
°°°
Hari semakin cerah, butiran salju telah usai untuk terus berjatuhan. Lelehan es pun mulai mencair di setiap tempat. Pagi kini dalam zona siang. Namun belum ada juga tanda-tanda orang tua Twinkle yang datang, tapi mungkin polisi telah mengabarinya.
Hati Dave merasa tergetar, ia takut orang tuanya tak bisa menerima keadaan putrinya yang terbaring lemah di rumah sakit. Tapi ia harus segera memikirkan sesuatu untuk mengabarinya. Ia berdiri dari duduknya, dan berjalan menuju ruang resepsionis.
Tiba-tiba, terdapat dua orang suami istri yang memasang wajah kecemasan tengah datang dari pintu utama rumah sakit. Mereka bergerak menuju ruang resepsionis dengan tergesa-gesa. Kecemasan dan kekhawatiran terus ditonjolkan lewat raut mukanya.
Dave terhenti sejenak, memandangi dua orang itu yang sedang berbincang dengan petugas rumah sakit. Mereka terlihat berbicara agak serius. Dave yang masih mematung, ia mengambil langkah kecil menghampiri mereka.
Dari dekat Dave seperti tak asing dengan kedua wajah orang itu. Ia mencoba mengingatnya, dan tak salah lagi, ia melihat kedua wajah itu dalam potret yang tertempel dalam diary Twinkle.
"Di mana putriku?" tanya wanita paruh baya yang datang dengan suaminya itu sembari menepuk bangku resepsionis.
"Ada yang bisa saya bantu?" Petugas resepsionis mencoba melayani dengan baik.
"Di mana putriku?!" Wanita itu semakin membentak. Sang suami hanya menunduk dan memegangi kedua bahunya untuk menenangkannya.
Petugas resepsionis mulai takut dengan amukan yang tak ada asal-muasalnya itu. "Ibu tenang dulu!"
"Maaf, di ruang mana putri kami di rawat?" tanya suami wanita itu pelan.
"Apa kalian orang tua korban yang kecelakaan tadi? Dia sekarang harus dioperasi."
Mendengar penjelasan petugas resepsionis, sontak membuat jantung kedua pasutri itu tersedat, seketika tubuhnya roboh ke lantai.
"Tidak! Tidak! Putriku!" isak sang ibu yang mengetahui putrinya tengah menjalani operasi.
"Bagaimana ini terjadi? Hari ini adalah hari ulang tahunnya, tapi kenapa semua ini terjadi padanya?" Sang ayah pun ikut menangis.
Dave yang melihatnya merasa iba. Gara-gara dia, putri mereka harus berjuang demi hidupnya di hari ulang tahunnya. Ia mulai merasa bersalah, hatinya tergerak untuk menemui orang tua Twinkle dan meminta maaf pada mereka. Namun di sisi lain, ia takut menghadapi kemarahannya, tapi ia harus berani menghadapi risiko ini. Karena untuk menyelamatkannya, nyawa gadis itu sekarang di ambang maut.
Dave mengambil langkah kecil menghampiri kedua orang tua Twinkle. Dengan canggung, ia berdiri di dekatnya yang tengah menunduk di lantai, dengan terus mengurai derai air mata. Perlahan Dave menggerakkan tangannya, menyentuh pundak lelaki yang merupakan ayah Twinkle itu. Walaupun agak gemetaran, akhirnya jemarinya berhasil mendarat sempurna di pundak yang rapuh itu.
"Apa kalian orang tua Twinkle?" tanya Dave pelan.
Sontak pria paruh baya itu menatap Dave. "Kau siapa?"
Dave terdiam sejenak, ia mengambil napas sebelum menceritakan semuanya. "Putrimu tadi yang menyelamatkanku, dia berusaha menyelamatkanku, lalu dia tertabrak mobil," jelas Dave seraya menunduk.
"Jadi kau yang menyebabkan putriku terbaring di rumah sakit?!" bentak ibu Twinkle, ia bangkit dari duduknya dan langsung memegangi kerah kemeja Dave.
"Kau tahu hari ini ulang tahunnya, harusnya dia bahagia merayakan bersama kami sama seperti setiap tahunnya, tapi kau telah membuatnya terbaring tak sadarkan diri!" Omelan ibu Twinkle semakin lantang.
Dave hanya tertunduk, ia mengakui ia yang bersalah atas semua ini. "Aku tidak tahu ini akan terjadi, aku minta maaf," sesal Dave.
"Semudah itu? Bawa putriku kemari dalam keadaan bugar baru kau akan kumaafkan, apa kau bisa?!"
"Mira, tenangkan dirimu!" Ayah Twinkle mencoba menenangkan istrinya yang mengamuk. Ia memegangi kedua bahunya dan terus menyuruhnya untuk tenang.
Semua petugas dan pengunjung rumah sakit tersorot paku pada mereka. Mereka seolah ikut tegang dengan suasana yang menggemparkan rumah sakit itu.
Mira, yang merupakan ibu Twinkle memandangi Dave dengan saksama. "Apa kau pemabuk? Kau seperti anak jalanan yang tak tahu aturan, kau timpakan kecerobohanmu pada anakku. Pasti tadi kau mabuk dan putriku yang baik hati itu berniat menolongmu, tapi apa yang dia dapatkan?"
Dave terus tertunduk. Air mata mulai menggenang tertampung di kelopak mata, hingga membuat berkaca-kaca. Ia benar-benar menyesali semua ini. Wajahnya yang merah itu menjadi bukti atas penyesalannya.
Ayah Twinkle melepaskan jemari istrinya yang menggenggam erat kerah pria pemabuk itu.
"Tenangkan dirimu, Mira!"
"Bagaimana aku bisa tenang? Putriku sedang berjuang hidup di sana kau menyuruhku untuk tenang?!"
"Dia juga putriku, anggap saja ini sudah garis takdirnya!"
"Kenapa Tuhan melakukan semua ini? Putriku berniat menolong orang, tapi kenapa dia yang menjadi korban?!" Wanita itu semakin memekik seperti orang gila, ia robohkan lagi tubuhnya ke bawah. Derai air mata terus membanjir sebagai tanda seorang ibu yang tak ingin kehilangan putri satu-satunya.
Suaminya memeluknya dengan erat.
"Apa yang biasa kita doakan setiap ulang tahunnya? Umur panjang? Aku selalu mendoakan agar ia terus berumur panjang, kalau hari ini aku tak bisa menyelamatkan putriku, maka aku ayah terburuk di dunia ini," lirih ayah Twinkle yang juga mulai tak terkontrol emosinya.
Dave terbawa suasana, ia mulai menitikkan bulir air matanya yang sedari tadi tertampung. Ia melihat bagaimana seorang ayah yang menangis pilu melihat putrinya sakit, sementara ia sendiri tak pernah mendapat perlakuan seperti itu dari ayahnya.
Ayahnya hanya sibuk dengan pekerjaannya sehingga tak pernah tahu kapan putranya merasa sedih atau pun sakit. Dave mengusap air matanya, kini wajahnya benar-benar memerah. Ia tak tahan melihat kedua orang tua yang menangisi anaknya di depan matanya.
Tiba-tiba, pintu ruang operasi terbuka. Dokter keluar menuju ruang resepsionis menghampiri Dave. Namun, ia melihat kedua pasangan suami-istri dan berpikir itu pasti orang tua pasien. Ia melangkahkan kaki ke arah mereka.
"Apa kalian orang tuanya?" tanya Dokter mengagetkan mereka yang sedang saling memeluk dengan derai air mata.
"Iya Dokter, bagaimana kondisi anak saya?" ucap ayah Twinkle balik tanya.
Dokter hanya terdiam, ia mengambil napas dan menghembuskan perlahan, lalu menatap kedua orang tua Twinkle dan menggelengkan kepalanya tanda kepasrahan.
Seketika kedua orang tua Twinkle mematung tak berkutik, pandangan mereka kosong. Apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya? Apakah Twinkle bisa diselamatkan atau Tidak? Pikiran mereka seketika terserbu hal yang seharusnya tak terpikirkan.
To be continued...