Drettt… drettt…
Suara getar ponsel terdengar dari sebuah tas, membuat Teresa membuka matanya.
Gadis itu menghembuskan nafasnya. Mulai melebarkan matanya. Namun, hanya kegelapan yang ia lihat. Sesaat kemudian, baru ia menyadari kalau tubuhnya itu terikat.
"...." Teresa tak mampu berbicara lantaran mulutnya disumpal oleh kain.
Gadis itu menggoyang-goyangkan kursinya, mencoba melepas ikatan di tangan juga kakinya.
Brak!
Kursi itu roboh membuat tubuhnya menimpa lantai.
"Di mana aku?"
Gadis itu mencoba mengingat-ingat kembali apa yang terjadi padanya tadi. Setelah pikirannya menyelami kejadian beberapa menit yang lalu, ia baru teringat kalau ada Aryo yang telah melakukan semua ini padanya. Nasibnya itu masih mending, karena dosen berhidung belang itu tak sampai menodai dirinya.
Teresa terus berusaha untuk melepas diri. Hingga akhirnya satu ikatan di tangannya berhasil terlepas. Berganti satunya. Kini kedua tangannya benar-benar terlepas. Lalu ia mulai membuang kain yang menyumpal mulutnya kemudian melepaskan ikatan di kakinya.
Gadis itu menyembur napas berkali-kali. "Aku harus segera pergi dari sini sebelum dosen itu balik lagi!" gumamnya. Disambarnya tas di dekatnya itu. Lantas buru-buru membawa kakinya enyah dari sana.
Sampai di pintu Teresa kembali kesal lantaran pintu ruangan itu terkunci. "Sial!" umpatnya sembari menendang daun pintu yang terbuat dari aluminium itu.
"Aku harus cari cara lain agar bisa pergi dari sini!"
Teresa mencari ponselnya di dalam tas. Ia bersyukur ponselnya itu masih baik-baik saja. Kemudian ia membukanya, terkejut saat melihat banyak sekali panggilan tak terjawab. Ia tidak ingin menelepon balik saat ini, karena yang terpenting adalah bagaimana caranya agar bisa keluar dari ruangan itu terlebih dahulu.
Gadis itu menggunakan senter ponselnya untuk menerangi ruangan yang gelap itu. Kemudian ia mulai berjalan, mencari celah agar ia bisa bebas dari sana.
Nasib baik berpihak padanya. Ia menemukan sebuah pintu rahasia. Beruntungnya lagi pintu itu terbuat dari kayu. Yah, walau terkunci, tetapi setidaknya gadis itu bisa menghancurkan kayu lapuk tersebut.
"Aku harus mencari benda agar bisa menembus pintu ini. Pasti ada sesuatu yang bisa aku gunakan untuk menghancurkan pintu ini."
Gadis berambut panjang itu mulai melangkahkan kaki jenjangnya kembali. Ia mencari benda runcing dengan bantuan cahaya ponselnya. Ia tersenyum saat melihat sebongkah besi yang tergeletak di antara kursi-kursi kayu yang sudah rapuh.
Teressa segera mengambilnya. Lantas, ia mulai mengayunkan tongkat besi itu pada pintu. Walau tenaganya tak seberapa, namun ia terus berusaha sekeras mungkin. Menonjok dan mengikis pintu kayu itu hingga mulai bolong. Di sana tampaknya sangat gelap tak ada cahaya penerangan.
Teressa tak peduli, yang penting jalan itu lebih aman dari tempatnya sekarang. Dia juga tak memikirkan kalau tempat itu bakalan dihuni makhluk halus, karena sejatinya ia lebih takut dengan manusia berhati iblis daripada hantu itu sendiri.
Setelah bersusah payah mengerahkan banyak tenaga, akhirnya pintu itu berhasil dibobol. Walau tidak seutuhnya, setidaknya lubang itu bisa memuat tubuhnya untuk keluar dari sana.
Teressa membanting tongkat besinya. Lalu ia mulai memasukkan tubuhnya di lubang untuk keluar. Setelah berhasil, ia mulai berjalan menyusuri lorong yang gelap dengan bantuan cahaya senternya. Dilihatnya jam di ponselnya itu menunjuk pukul empat sore, jadi mungkin aktivitas di kampus mulai berkurang.
"Aku harap para iblis-iblis itu juga sudah pergi dari kampus masing-masing!" ujar Teressa merujuk pada mereka yang telah memburunya tadi.
Teressa segera mempercepat jalannya, ia berlari hingga menemukan sebuah pintu. Teressa menendang pintu itu dan berhasil terbuka. Ia bersyukur saat mengetahui kalau ternyata pintu itu menghubungkannya dengan kamar mandi.
"Aku harus segera pergi dari sini! Aku tidak ingin lagi berada di sini atau bahkan menempuh pendidikan di universitas ini lagi!" kata Teressa dengan nada jijik. Ia tak lagi sudi menjadi mahasiswa atau pun bagian dari kampus yang katanya terbaik di dunia tapi ternyata menyimpan rahasia gelap.
Gadis itu mempercepat langkahnya. Namun, ia berhenti saat terdapat pintu lagi. Dan lagi-lagi pintu itu terkunci.
"Sial!"
Teressa melihat seonggok besi di sudut, lalu ia gunakan besi itu untuk membongkar engsel pintunya.
Terbuka!
Gadis itu segera keluar melewati pintu tersebut. Namun ia terkejut saat menyadari ada orang di sana. Seorang gadis yang tengah telanjangg. Sepertinya gadis itu juga terkejut melihat Teresaa yang tiba-tiba datang memergokinya.
"Siapa kau?" tanya gadis itu gugup.
"Kau sendiri?" Teressa balik bertanya. Kemudian ia melihat ke arah laptop gadis itu. Ia menyadari kalau gadis itu sedang melakukan video pornografi atau pun prostitusi online.
"Astaga? Apa yang kau lakukan?" tanya Teressa kaget.
"Diam!" Gadis itu panik dan mulai memakai bajunya kembali.
"Luar biasa. Ternyata, tempat ini sangat najis untuk dipakai sebagai tempat belajar. Entah apa kesalahan peninggi kampus ini, sehingga dipenuhi oleh manusia-manusia rendahan seperti kalian!" kata Teressa dengan memandang jijik ke arah gadis berambut merah bercampur hitam itu.
"Hei, apa maksudmu dengan orang rendahan?!" Gadis itu tampak tak terima. "Apa kau Mahasiswa baru?" Kedua maniknya itu memperhatikan Teressa.
Setelah mengenakan pakaiannya yang super ketat, gadis itu berjalan mendekat.
"Siapa yang berani menghina Carolyn Vincent?!" Gadis bernama Carolyn itu menarik rambut Teresa. "Kau berani menghinaku sebagai wanita rendahan? Hah? Kau sendiri yang rendahan!" Carolyn semakin menambah kekuatan tarikannya pada rambut Teressa dengan kencang.
"Lepas!" Teressa melawan dan mendorong tubuh seksi gadis itu.
"Rektor harus tahu semua. Seluruh dunia harus tahu kebenaran tentang Universitas ini!" teriak Teressa ke arah gadis itu.
"Apa kau bilang? Kau ingin mengadukanku pada rektor kalau aku menjalankan bisnis pornografi? Berani sekali kau!" Carolyn menampar wajah Teressa. "Kau hanya mahasiswa baru. Beraninya kau mau merubah budaya kampus ini yang sudah mendarah daging. Kau pikir dirimu siapa? Hah?! Kau hanya makhluk rendahan!"
Plak!!
Teresa membalas tamparan Carolyn. Dan kini lebih keras.
"Namaku adalah Teressa! Beraninya kau merendahkan martabat seorang wanita dengan melakukan hal najis seperti itu? Kau yang murahan! Menjual tubuh hanya demi popularitas!"
Carolyn hendak membalas tamparan menampar, namun gadis itu menahannya kuat-kuat.
"Hentikan aku kalau kau bisa!" Teressa mendorong tubuh Carolyn hingga menempel tembok. Lantas, ia segera berlari dari sana.
"Berengsek!" Carolyn mengejar Teressa, sebelum gadis itu membocorkan semua rahasianya.
***
"Iya, aku akan mengecek gadis itu."
"..."
"Kau tenang saja, gadis itu tidak akan membongkar rahasia kita. Aku akan segera melenyapkannya!"
"....."
"Serahkan semuanya padaku!"
Aryo menutup teleponnya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Lantas ia mulai membuka ruang tadi tempatnya mengurung Teresa.
"Sayangku … aku datang kepadamu …" seru Aryo. Ia memasuki ruangan itu dengan bersenang-senang ria.
"Sayang … apa kau sudah siuman? Bolehkah kita melanjutkan adegan panas yang sempat tertunda tadi?"
Aryo melirik ke sebuah kursi yang roboh beserta tali yang berceceran. Seketika matanya melotot terkejut.
"Sialan! Gadis itu berhasil kabur!" umpatnya kesal.
Lalu ia merogoh ponselnya dari saku dan menelpon seseorang.
"Arjun! Cepat cari gadis tadi! Dia berhasil kabur!"
"Apa?! Bagaimana bisa?!" tanya Arjun dari seberang sana.
"Sudah jangan banyak tanya. Cepat kau kabari ibumu dan juga Lydia kalau gadis itu kabur lagi! Sebelum terlalu jauh, kita harus menangkapnya kembali!" perintah Aryo.
"Baik, Ayah!"
Aryo mematikan panggilannya dengan kesal. "Bagaimana gadis itu bisa kabur? Sedangkan pintu ruangan ini terkunci?"
Aryo menggunakan cahaya senter ponselnya untuk menerangi seluruh keadaan. Lalu, kemudian ia melihat lubang yang cukup besar di ujung sana. Ia berjalan mendekatinya. Itu adalah lubang pintu yang berhasil Teresa jebol tadi.
"Aku tidak pernah tahu kalau ada pintu lain yang menghubungkan antara ruangan lain, lalu bagaimana gadis itu bisa menemukannya dengan cepat?!" Aryo bertanya-tanya. "Benar-benar sialan!" umpatnya kesal. Lalu pria itu segera menuju ke arah pintu ruangan dan keluar dari sana.
"""
TO BE CONTINUED