"Kau kira kau bisa bebas begitu saja dariku!" Aryo membungkam mulut Teresa, membuat gadis itu kesusahan untuk bernafas.
"..." Gadis itu tak bisa berbicara. Ia hanya bisa meronta-ronta, menginginkan sebuah kebebasan, namun pria berjas hitam itu tak akan sudi membebaskannya.
Teresa menginjak kaki Aryo, membuat pria itu refleks melepaskan bungkaman tangannya.
"f**k you!" Aryo mendorong tubuh Teresa hingga menempel di pojok lift. Kemudian, ia mendekatinya dan mengurung tubuh gadis itu dengan tangannya. "Rupanya, kau cantik juga ya?" Aryo tersenyum m***m. "Lihat lekukan tubuhmu ini, sangat seksi membuat hasratku b*******h. Dan bibirmu yang merona ini, bagaimana rasanya? Bolehkan aku mencicipinya?" bisik Aryo membuat Teresa ketakutan.
Teresa mendorong tubuh Aryo dari hadapannya, namun pria itu malah memegang tangan Teresa. Kemudian, Aryo meletakkan tangan lembut gadis itu di pipinya dan digunakan untuk merabanya. Ia menciumi tangan itu dengan bibirnya yang terapit brewok tipis membuat Teresa jijik.
"Kecantikanmu telah membuat tubuhku terbakar, Sayang. Bahkan kejantananku sampai menegang di bawah sana. Kau ingin menyentuhnya?" bisik Aryo m***m.
"Lepas!" Teresa masih mencoba memberontak. Namun Aryo semakin nekat, ia memegang erat tangan gadis itu dan menguncinya di belakang pinggang. Lantas, pria itu kembali mendekatkan tubuhnya untuk menempel dengan tubuh Teresa.
Aryo mulai beringas. Ia memandang Teressa dengan nafsu. Sedangkan gadis itu hanya bisa memejamkan mata ketakutan. Aryo tersenyum licik melihat wajah Terasa yang seperti itu. Bahkan, kini ia hendak mengecup bibir seksi merona milik gadis itu. Kedua bibir itu sudah hampir bersatu namun harus urung saat suara dering ponsel terdengar dari saku Aryo.
Pria membuang napas kesal. Ia mengurungkan niatnya untuk mencicipi bibir Teresa dan memilih mengecek siapa yang telah berani mengganggu adegan panasnya.
Aryo melotot saat melihat nama istrinya yang menelpon. Alina!
"Halo!" sapa Aryo malas.
"Bagaimana kau bisa membiarkan seorang gadis mengetahui rahasia kita?!" Suara wanita dari seberang sana terdengar marah-marah. "Gadis itu telah melaporkan kalian tadi di ruanganku. Cepat cari dia! Jangan sampai dia mengadu pada pejabat kampus atau bahkan rektor!"
Aryo melirik ke arah Teresa yang masih ketakutan. "Tenang saja, gadis itu sudah bersama denganku. Aku membungkam mulutnya!" sinis Aryo.
"Bagus!"
Aryo mematikan panggilannya dan menaruh ponselnya ke dalam saku kembali. Lantas ia terfokus pada Teressa lagi. Ia menyudutkan senyumnya.
"Oh, jadi kau sudah mengadu pada ibu dekan? Sayang sekali, kau telah mengadu pada orang yang salah. Ibu dekan itu adalah istriku, ibu dari anakku. Dia juga terlibat sama seperti kami." Aryo tersenyum beringas.
"Aku tidak akan membiarkan kebohongan ini terus berlanjut!" Teresa membuka suara.
"Oh ya? Apa yang akan kau lakukan? Hah? Sekarang kau ada di dalam genggamanku, kau tidak bisa bebas begitu saja." Aryo mendekatkan tubuhnya lagi pada Teresa. "Mari kita lanjutkan perbincangan panas kita lagi," senyumnya sinis.
"Jangan sentuh aku!" Teresa mengacungkan tangannya pada pria itu. "Kau adalah seorang dosen, harusnya kau malu melakukan hal ini pada mahasiswamu!"
"Lupakan soal dosen, Sayang. Dosen juga manusia, dia juga punya hasrat dan nafsu. Kau telah berani membangunkan hasratku, jadi apa salahnya jika aku menjamahmu?" Lagi-lagi Aryo tersenyum licik.
"Jangan berani menyentuhku atau aku akan mengatakan semuanya pada istrimu! Tentang gadis itu, kau juga mencoba bertindak c***l dengannya, aku akan memberitahu semua pada istrimu!" ancam Teresa. Ia ingat kalau tadi dosen berhidung belang di hadapannya itu juga memiliki hubungan dengan Lydia.
"Beraninya kau?!"
Plak!!
Aryo menampar Teresa dengan keras sampai membuat tubuh Teresa menatap dinding lift. Beruntungnya lift itu sudah membuka, jadi Aryo tidak jadi menyiksa gadis itu lagi.
Saat Teresa hendak melarikan diri, Aryo dengan cepat menarik tangannya dan dibawa keluar bersamanya. Teresa ingin memberontak, namun ia melihat pria tadi.
Jackie tampak mencari-cari keberadaannya. Dia tidak sendirian, tetapi ada juga Michael, Valen, Rachel, dan Reyna. Mereka semua tengah mencari Teresa.
"Itu dia!" Valen melihat Teressa yang berjalan dengan seorang dosen.
Mereka semua tampak ketakutan.
"Apa dia akan mengatakan segalanya pada dosen itu?" gumam Reyna.
"Sekarang nasib kita akan tamat jika seluruh kampus ini tahu perbuatan kita," Rachel terlihat cemas.
"Kita tidak bisa menangkapnya sekarang!" Michael mengepalkan tangannya kesal.
Teressa mulai ketakutan melihat mereka. Namun, satu ide terbesit dalam benaknya. "Aku harus bersikap biasa saja dengan dosen ini. Mereka tidak akan berani menangkapku jika aku terus bersama dosen ini. Lagipula, mereka juga tidak tahu kalau dosen ini juga tengah sedang menangkapku," gumam Teresa dalam hati.
Teresa mulai diam. Ia tidak lagi memberontak saat Aryo membawanya bersamanya. Mereka berjalan cepat, meninggalkan mahasiswa-mahasiswa tadi. Tiba di sebuah lorong-lorong yang sepi, Teressa mulai kembali memberontak. Ia hendak lari namun Aryo memegang pergelangan tangannya cukup kuat.
Teresa tak bisa mengenali ruangan-ruangan di sekitarnya itu. Semua ruangan itu tertutup dan tidak ada papan nama di atasnya. Rupanya, Aryo sengaja membawa gadis itu di ruangan rahasia di kampus itu.
"Masuk!" perintah Aryo pada Teresa.
"Tidak!" Gadis itu menolak.
"Sialan!" Aryo langsung mengangkat tubuh ramping Teresa dan memukulinya lalu dibawa masuk ke dalam satu satu ruangan.
"Lepas-lepas!" Teresa memukuli punggung Aryo dengan tasnya.
"Diam!" Aryo mendudukkan tubuh gadis itu di sebuah kursi.
"Cih!" Teresa meludahi wajah Aryo, membuat pria itu murka.
Aryo mengusap ludah di wajahnya. Lalu pria itu mulai memegang wajah Teresa. Lantas, dengan paksa ia mencium bibirnya. Ia melumat bibir seksi itu dengan ganas membuat Teresa tak bisa bernapas.
"Ah! b*****t!" Aryo menyudahi ciuman gilanya itu karena lidahnya telah digigit Teresa.
Plakk! Aryo menghadiahkan tamparan keras untuk kedua kalinya pada gadis itu, hingga membuat Teresa pingsan.
"Andai kau mau menikmati ciuman tadi, pasti kau tidak akan seperti ini!"
Aryo mengambil tali panjang di bawahnya, dan segera mengikat tubuh Teresa di kursi itu. Setelah terikat, ia juga menyumpal mulut gadis itu dengan kain.
Dret … dret … suara getar ponsel terdengar dari ponsel saku Aryo. Pria itu mengambil ponselnya dan mengangkat teleponnya.
"Kau sudah menangkapnya?" tanya Alina dari seberang telepon.
"Sudah. Aku mengurungnya di ruangan rahasia. Sekarang dia pingsan," kata Aryo mengabari istrinya.
"Bagus. Kau cepat pergi dari sana. Kita urus gadis itu nanti, sekarang waktumu mengajar. Aku tidak ingin semua staf dan juga dosen curiga."
"Oke!"
Setelah mengakhiri panggilannya, Aryo bergegas pergi dari sana meninggalkan Teresa yang pingsan terikat di kursi.
***
"Bagaimana?" Lydia bertanya pada Aryo saat melihat pria itu keluar dari lift.
"Kau tenang saja. Rahasia kita aman. Aku sudah mengatasi gadis itu." Aryo hendak menyentuh wajah Lydia, namun tiba-tiba Arjun datang. Aryo mengurungkan niatnya.
"Daddy, kami tidak menemukan gadis itu!" kata Arjun setelah sampai di dekat ayahnya.
"Ayah sudah berhasil menangkapnya. Sekarang, lebih baik ke kembali ke kelas dan ikuti pelajaran. Ayah yang akan mengurus semuanya," kata Aryo pada Arjun.
"Thanks God! Lydia, ayo… aku akan mengantarmu di kelas!" ajak Arjun pada Lydia.
"Oh, Lydia. Kalau kau mau kita juga bisa ke kelas bersama. Jam ini aku ada jadwal mengajar di kelasmu, bagaimana?" Aryo memang keterlaluan. Dia bahkan bisa melakukan berbagai cara agar bisa dekat dengan pacar anaknya itu.
Lydia melirik ke arah Arjun. Dan Arjun memberinya kode untuk pergi saja bersama ayahnya, karena dia dan Lydia berbeda jurusan. Lydia jurusan management dan Arjun jurusan bisnis ekonomi. Dan ayahnya adalah dosen manajemen, tentu saja Arjun mengizinkan mereka bersama. Bodohnya, pria itu mengira kalau Lydia akan menjadi dekat dengan calon mertuanya. Padahal, Aryo menginginkan hal lain.
Arjun segera pergi meninggalkan mereka berdua.
"Sekarang pengganggunya sudah pergi, bolehkah kita berjalan bersama?" Aryo berbisik genit di telinga Lydia.
Lydia menatap ke arah Aryo. Ia memandangi wajah pria itu, terutama bibirnya. Di sudut pipinya itu ada noda lipstik yang membekas. Lydia menjadi curiga. "Bersihkan dulu lipstik di sudut bibirmu itu!" kata Lydia dengan kesal, lalu ia beranjak meninggalkan Aryo.
Aryo mengusap lipstik di sudut bibirnya. Lydia tidak boleh tahu kalau dia habis mencium bibir gadis lain. Aryo mengejar kekasih putranya itu.
"Lydia, kau salah paham." Aryo menarik tangan Lydia.
Gadis itu menatap Aryo ragu. "Kau tidak perlu berbohong, Pak. Lagi pula, apa masalahnya dengan ku. Aku adalah pacar putramu. Dan kau, hanya seorang dosen. Oh aku lupa, kau adalah calon mertuaku."
Perkataan Lydia telah membuat Aryo kesal. "Jangan lupa, sama seperti Arjun, aku juga berhak memilikimu. Kau-"
"Pelankan nada bicaramu, Pak dosen. Jangan sampai semua orang mendengarnya!" Lydia berkata pelan.
"Makanya, turuti perintahku!" Aryo menggenggam tangan Lydia dan mengulum tersenyum. "Sekarang, kita pergi ke kelas?"
Lydia memutar mata bosan.
Mereka pun berjalan bersama dengan bergandengan tangan.
***
"Ini semua salahmu!" Michael menampar Jackie.
"Menguras gadis saja tidak becus!" Valen ikut hardik.
"Orang rendahan akan tetap menjadi orang rendahan!" sahut Reyna kesal. "Jika sampai nama kami dipanggil ke ruang rektor, maka yang akan tamat, Jackie!"
"Ini juga salah kita. Kita yang kurang hati-hati, lalu kenapa kalian menumpahkan kesalahan ini pada Jackie saja?" Rachel tampak membela petugas cleaning service itu.
"Chel, kenapa kau malah belain petugas tidak bejus ini?" Michael terheran.
"Aku tidak bela siapapun, Mich!" kata Rachel tegas. "Tapi aku hanya kasihan pada orang yang tidak sepenuhnya bersalah. Tuan Jackie sudah menjalankan bisnis narkoba ini bertahun-tahun, tapi kenapa baru kali ini ketahuan. Dan kalian sibuk menyalahkannya? Harusnya kalian berpikir bagaimana bisa gadis itu mengetahuinya!" Baru kali ini Rachel memarahi teman-temannya.
"T-tadi saat kita berbicara di luar, gadis itu melihat kami," ujar Jackie pada Valen.
Reyna menatap Valen penuh pertanyaan. "Jadi yang ceroboh siapa?!" bentaknya.
"Baiklah … baiklah … aku mengaku salah. Tapi aku juga tidak sengaja dalam hal ini." Valen mencoba membela diri. "Daripada kita saling mengalahkan, lebih baik kita mencari gadis itu! Kalau kita bunuh gadis itu!" ujar Valen pada mereka.
"Masalahnya kita tidak tahu kemana perginya gadis itu!" Michael mendesah kesal.
"Kita cari dosen tadi!" usul Rachel.
"Aku tahu dosen itu!" Jackie angkat bicara. "Dia adalah dosen jurusan management. Namanya Aryo. Aku sudah sering melihatnya menggoda mahasiswi-mahasiswi cantik. Tapi …" Jackie memotong perkataannya begitu saja.
"Tapi apa?" tanya Michael.
Jackie menjawab, "Istrinya itu adalah seorang dekan fakultas. Jika sampai dia menyampaikan hal ini pada dekan, maka dekan akan segera mengadukan pada rektor-"
"-dan kita akan tamat!" selak Valen cepat.
"Kalau begitu, kita bunuh saja mereka. Siapapun yang tahu rahasia kita, kita tidak bisa membiarkannya hidup lebih lama lagi!" ujar Michael sinis.
"Are you crazy?" Rachel menggeleng tak mengerti. "Mich, kau akan membunuh dosen dan dekan? Kita akan terkena kasus besar!" lanjutnya seperti tak setuju.
"Aku juga belum berani membunuh orang." Valen sudah menyerah terlebih dahulu.
"Kalau kalian tidak, aku juga ingin terseret kasus ini. Membunuh gadis itu masing mending, tapi dosen dan dekan? Itu susah, Mich!" tegas Reyna.
"Kalau begitu, suruh orang saja yang membunuhnya!" Michael tersenyum pada Jackie. Ia menepuk pundak petugas cleaning service itu dengan tatapan penuh arti. "Bagaimana, Tuan Jackie? Apa kau bisa melakukan pekerjaan ini?" tanya Michael sinis.
Jackie hendak menolak, namun ia tak berani saat melihat Valen dan Reyna melipat tangannya di perut dan memandang ke arahnya penuh angkuh.
"B-baiklah. A-akan aku coba!" ucap Jackie terpaksa.
Mereka semua tersenyum puas.
***
TO BE CONTINUED