Terbebas belenggu Dosa

460 Kata
"Sekarang aku sudah selesai baca, lantas mana setannya?" Pria itu mengamati langit-langit kamarnya. "Woyy setan!! Ke mana lo ga nongol-nongol!" teriaknya meremehkan. "Ah, bulshit ah mereka semua. Buktinya gue nggak kenapa-kenapa sekarang!" Ting Tung … Suara bel rumah mengagetkan Rio. Ting Tung … "Oh iya, yang di rumah kan hanya gue saja, ayah sama paman lagi ada pekerjaan di luar kota," gumam Rio. Lantas, pria itu beringsut dari ranjangnya. "Lagian siapa sih malam-malam begini pake bertamu segala. Kayak nggak ada hari lain saja!" Vallen membanting buku dongengnya di atas ranjang, kemudian ia mulai melangkah menuju pintu kamar. Dibukalah pintu kamarnya itu, dan Vallen menonjolkan tubuhnya keluar. Pria itu menaiki tangga dengan santai, namun saat suara bel terus berbunyi, ia mempercepat langkahnya. "Iya-iya … sebentar!" ujar Vallen sembari menuruni tangga. Sesampainya di anak tangga terakhir, Vallen segera menuju pintu utama rumahnya. Ia menengok arlojinya menunjuk pukul sebelas malam. "Mungkin itu tetangga rumah. Entah ada apa dengannya sampai malam-malam begini ke rumah ku!" pikir Rio. Setelah sampai di depan pintu, Valen segera mengotak kunci yang tertempel di pintu. Terbukalah pintu itu, menampilkan sesosok bungkuk tertutup selendang. Valen keheranan dibuatnya. Pria itu melangkah keluar, mengamati ternyata bukan tetangganya yang datang, melainkan sesosok wanita tua yang bungkuk, mengenakan baju compang-camping, dan rambutnya tertutup selendang yang panjang hingga menutup sampai punggungnya. "Siapa ya?" tanya Valen pada wanita tua itu. Wanita itu mulai bereaksi. Berjalan pelan mendekati Valen. Jalannya itu terseok-seok. Setibanya di hadapan Rio, wanita itu mendongakkan kepalanya ke arah Valen. Valen terkesiap. Wajahnya itu begitu renta, keriput, sampai tulang-tulang serta otot-ototnya kelihatan. Sedangkan kulitnya yang tipis berwarna pucat pasi. Sepucat mayat. Namun, tatapan matanya itu sangat tajam, menyerupai mata tengkorak. Rambut depannya tampak lapu. Wanita itu menggerakkan tangannya, menyentuh tangan Valen dan mengelusnya sampai ke atas. Tepat di pipinya, Valen merasakan betapa dinginnya sentuhan wanita tua itu. Sedangkan kulit tangannya itu kasar sekali. "A-anak ku?" Suara serak yang keluar dari kerongkongan wanita tua itu membuat Rio terkejut. "Anak?" Valen keheranan dan mundur satu langkah membuat tangan wanita itu terlepas dari pipinya. "Iya, anakku. Malin Kundang!" Jleg! Jantung Valen serasa berhenti berdetak untuk sesaat. Ia tersentak kaget saat Wanita itu mengatakan tentang Malin Kundang padanya. Kebetulan, ia juga habis membaca cerita Malin Kundang. Valen langsung mengingat cerita teman-temannya soal buku dongeng itu. Ia menjadi ketakutan dan bergegas mundur ke belakang. Lantas, ia masuk ke rumah dan menguncinya rapat-rapat. "Anakku … Malin Kundang … kenapa kau tidak mengakui ibumu ini?" Aku ibumu, Nak!" Suara serak basah wanita itu masih terdengar dari balik pintu bersamaan ketukan pintunya. "K-kau bukan ibuku. Aku tidak punya ibu. Ibuku sudah tiada sejak aku kecil!" kata Valen gugup. "Aku ibumu, Nak! Jangan durhaka sama ibumu sendiri!" kata wanita itu. "Tidak!" Valen menyangkal dan langsung bergegas lari menaiki tangga setelah mengunci pintu rumahnya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN