Bab 7

1038 Kata
" Kelamaan mas kalau nunggu nanti. Kenapa gak sekarang aja mas?" kata ku penasaran " Kalau sekarang ya jangan dulu lah. Nanti dia malah kepikiran Mel. Malah gak fokus sama sekolahnya. Malah ganggu dia nanti." kata mas Zaki " Ya kalau nunggu dia selesai sekolahnya kelamaan mas. Nanti dia malah di ambil orang mas." kata ku " Gak apa apa, kalau jodoh gak akan kemana Mel." kata mas Zaki " Pasrah banget mas." kata ku " Bukan nya pasrah Mel, tapi ya memang seperti itu kan. Karna jodoh, rezeki, maut kita gak akan pernah tau Mel. Kan yang memutuskan Allah Mel." kata mas Zaki " Ya maksud aku, kenapa gak mas ikat aja dia. Seperti dengan pertunangan gitu mas, kalau gak nikah aja." kata ku " Kalau nikah ya belum bisa Mel, kan dia masih sekolah. Nanti malah dia di keluarkan dari sekolah kalau sampe sekolah tau dia sudah menikah." kata mas Zaki " Iy juga ya. Tapi kan bisa mas ikat dengan pertunangan mas. Biar mas bisa dekat sama dia dan mas bisa kenal lebih dekat sama dia. Selain mas ikat dia, mas juga menghindari dia yang bisa di rebut orang lain mas." kata ku Mas Zaki pun terdiam mendengar perkataan ku, mungkin mas Zaki sedang memikirkan perkataan ku dan bingung apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Setelah asyik bercerita, aku dan mas Zaki kembali terdiam. Karna gak ada lagi yang mau dibahas aku diam menikmati perjalanan ini walaupun cuaca panas. Kemudian mas Zaki nanya ke aku di saat aku masih menikmati pemandangan. " Mel, sudah lapar gak." kata mas Zaki " Belum terlalu lapar banget sih mas. Kenapa mas?" tanya ku " Gak kenapa napa, mas cuma nanya aja." kata mas Zaki " Ooo.. Aku kira kenapa." kata ku " Maksud mas kalau belum begitu lapar banget, kita makan siangnya nanti di rumah orang tua mas aja gimana?" kata mas Zaki " Hhmm.. Ya gak apa apa juga mas." kata ku " Takutnya kalau cari makan di jalan ini belum ada yang buka Mel." kata mas Zaki " Iy mas. Kan masih suasana lebaran juga." kata ku " Gimana Mel? Makan di rumah orang tua mas aja ya. Masih tahan kan perutnya." kata mas Zaki " Ya udah makan di rumah orang tua mas Zaki aja. Aku masih tahan kok, lagian belum begitu lapar banget kok, masih bisa di tahan mas." kata ku " Ok. Kalau gitu mas agak ngebut dikit aja ya biar kita cepat sampai. Takutnya perut kita sakit karna nahan lapar kalau jalanya dengan kecepatan sedang seperti pergi tadi." kata mas Zaki " Iy mas, aku ikut aja apa kata mas. Kan aku hanya duduk aja di belakang mas, hanya menikmati perjalanan." kata ku " Ya udah, pegangan kalau gitu Mel. Nanti kamu malah jatuh lagi kalau gak pegangan." kata mas Zaki " Aku udah pegangan dari tadi tau mas. Mas aja yang gak lihat." kata ku " Ok. Mas ngebut ya." kata mas Zaki " Iy mas lanjut." kata ku Aku pun agak mengeratkan pegangan pada pinggiran baju mas Zaki yang di dekat lutut ku. Karna aku mulai merasakan mas Zaki menaikkan kecepatan motornya.Sekitar lima belas dalam perjalanan, aku dan mas Zaki pun sampai di rumah orang tua mas Zaki. Aku turun dari boncengan belakang, mas Zaki memarkirkan motornya di depan rumah. Kemudian mas Zaki turun dari motor dan melepaskan helm begitu juga aku. Mas Zaki pun berjalan ke arah pintu, kebetulan pintunya terbuka dan mas Zaki mengajak ku masuk. " Ayo Mel masuk." ajak mas Zaki " Iy mas." kata ku berjalan sambil meletakkan helm di motor " Assalammualaikum." mas Zaki dan aku mengucap salam barengan sambil masuk rumah " Wa'alaikumsalam." Jawab semua orang yang ada di rumah " Loh sudah datang toh, kirain masih lama." kata ibu mas Zaki Aku dan mas Zaki berjalan ke arah orang orang yang lagi kumpul. Kemudian ikut mas Zaki buat salim sambil mencium tangan ke mereka yang lebih tua. " Iy bu. Soalnya sudah lapar banget. Makanya agak ngebut tadi bawa motornya." kata mas Zaki " Oalah.. Kenapa gak berhenti cari makan dulu toh mas." kata ibu mas Zaki " Sepanjang jalan cari tempat makan belum ada yang buka bu. Makanya tadi cepat cepat ke sini, biar gak terlalu terlambat buat makan siang bu." kata mas Zski " Yo wes, gih ajak makan dulu Mela nya." kata ibu mas Zaki " Iy bu." kata mas Zaki " Loh ini Zaki toh, pangling banget aku." kata tamu laki laki " Iy pak. Pamit ke belakang dulu ya pak." kata mas Zaki sambil senyum " Langsung ke belakang aja mas, ayok Mel ke belakang." ajak ibu mas Zaki " Iy bu. permisi pak bu mau ke belakang dulu." kata ku permisi " Ibu masak yo seadanya mas, gak tau kalau kamu mau makan di sini apalagi ngajak Mela." kata ibu mas Zaki " Ya gak apa apa bu." kata mas Zaki " Gak apa apa kan Mel makan seadanya. Karna ibu gak tau kalau kita mau makan di sini." kata mas Zaki " Ya gak apa apa mas. Ini aja udah alhamdulilah bisa makan." kata ku " Maaf loh Mel, ibu masak seadanya aja. Soalnya mas mu gak kasih tau ibu kalau kamu mau ke sini dan makan di sini." kata inu gak enak " Gak apa apa kok bu. Mas Zaki juga tadi ngajaknya dadakan bu. Gak ada rencana mau ke sini. Tadi lagi di jalan mas Zaki langsung ngajak aku ke sini." kata ku menjelaskan agar ibu gak merasa bersalah " Iya bu. Tadi mas juga ngajaknya juga dadakan. Karna gak kepikiran mau ke sini sebenarnya sama Mela. Tadinya cuma mau ngajakin Mela buat jalan jalan aja biar dia tau daerah sini sama tempat tempat rekreasi yang bagus." kata mas Zaki " Yo wes makan gih. Ibu tinggal ke depan ya, makan yang banyak Mel." kata ibu " Iy bu. Makasih bu sudah repot repot." kata ku " Ya ndak repot toh Mel." kata ibu Kemudian Ibu meninggalkan aku dan mas Zaki di belakang untuk makan. Ibu ke depan lagi gabung bersama tamu. Aku pun makan dengan lahap karna perut sudah berbunyi minta di isi. Mas Zaki pun makan dengan lahap nya. Kami berdua bener bener lapar karna sudah lewat dari jam makan siang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN