Jaja sudah duduk di lantai beralaskan karpet cukup tebal. Di depannya sudah duduk dengan tegap Pak Miharja, ayah dari Yasmin. Lelaki paruh baya itu tengah memperhatikan Jaja dengan seksama, bahkan tanpa berkedip. Yasmin keluar dari dapur, membawakan tiga cangkir teh manis, serta kue bolu gulung yang baru saja semalam ia buat untuk cemilan papanya. Beda dengan Jaja terdahulu, Jaja yang sekarang tanpa sungkan memandang Pak Miharja penuh hormat. Senyumnya selalu ia berikan pada Reza yang kini sudaha duduk di sampingnya. Pakaian yang ia kenakan juga bagus dan mahal, Pak Miharja tahu itu, karena ia pernah memilikinya dahulu saat masih jaya. “Apa kabar, Ja?” “Sehat, Pak. Alhamdulillah.” “Kamu dari mana saja?” “Spanyol, Pak.” “Hah? Apa?!” pekik tiga orang yang duduk mengelilingi Jaja. Ja

