Aksa tahu jika Kamelia sudah merasakan kehadirannya, tapi perempuan itu enggan berbalik memandangnya. Dia bisa mengerti, mungkin Kamelia marah. “Sayang, kita ke dokter, yuk!” ajak Aksa seraya membelai lembut rambut Kamelia. “Nggak usah, ke dokter juga nggak bakalan dikasih obat!” sahutnya ketus. Aksa merapatkan bibir menahan senyum, suara Kamelia yang ketus malah terdengar lucu karena bindeng begitu. “Ya, seenggaknya dokter tahu obat apa yang aman untuk ibu hamil, ‘kan!” bujuknya lagi, disentuhnya bahu Kamelia namun perempuan itu menggerakkan bahunya menghindari dari Aksa dan bergeser menjauh. Justru itu seolah memberi ruang bagi Aksa untuk ikut berbaring di belakangnya, lelaki itu tersenyum gemas seraya melingkarkan tangan dan kakinya memeluk Kamelia. “Mas, ih, berat tauk!” gerutu K

