Prioritas Utama

1111 Kata

Beberapa hari kemudian, Kamelia diperbolehkan pulang. Hanya saja perempuan itu hanya duduk diam dan termangu di pinggir ranjang, padahal dia sudah siap untuk pulang. Tangannya saling meremas satu sama lain, dengan perasaan tak menentu memenuhi dadanya. “Apa yang harus kulakukan?” gumamnya gelisah. Setelah melihat kondisi ibunya tempo hari, sejak saat itu pula Aksa seolah menghilang dan tak datang lagi ke Rumah Sakit. Membuat Kamelia berpikir jika pria itu benar-benar tersinggung dengan ucapannya waktu itu. “Apa aku harus menemui dia dan meminta maaf secara langsung?” desahnya. Kamelia merasa tak enak hati, karena sudah bersikao terlalu terus terang. Seharusnya dia sadar diri dan diam saja meski tahu apa saja yang mungkin akan dilakukan orang-orang seperti Aksa. “Mereka punya uang dan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN