#R – Pernikahan Tidak Dirindukan

1807 Kata
Setelah melakukan pembicaraan bersama ayah Ulma, Rifqo memilih langsung masuk ke dalam kamar tamu, selain hatinya yang sedang merasa tidak bersahabat, sejak semalam dia juga sudah merasa kepalanya sakit, sejak tadi dia terus menerus memaksa dirinya untuk tetap kuat, sehingga saat tiba di rumah dia memutuskan untuk langsung mengitirahatkan tubuhnya. Sementara itu, Ulma yang mendengar kabar jika Rifqo sudah pulang, dengan susah payah gadis itu berusaha bangun dari posisi berbaringnya. Meskipun terasa sangat menyakitkan gadis itu berusaha bangkit, dengan langkahnya yang sangat pelan – pelan, dia berjalan hendak menuruni tangga, karena saat itu Ulma merasa ingin menemui Rifqo untuk membicarakan suatu hal. Selama melangkahkan kakinya Ulma merasa bingung, karena saat itu tidak biasanya rumah orang tua Rifqo benar – benar terasa sepi, karena meskipun setelah 3 hari dia tinggal di rumah itu dan hanya diam di kamar, dia bisa merasakan kehangatannya tapi tidak dengan malam itu. Ulma memilih langsung melangkahkan kakinya menuju kamar tamu, karena menurut asisten rumah tangga keluarga Rifqo ketika Ulma tanya saat datang mengantar minum untuknya, Rifqo sedang beristirahat di kamar tamu. Dalam sejenak, Ulma terdiam mematung diambang pintu menatap tubuh Rifqo yang sedang tertidur lelap di atas ranjang kamar tamu, kemudian dengan sangat pelan – pelan dia melangkah menghampiri tubuh Rifqo. Ketika dia sudah berdiri tepat di samping tubuh Rifqo, saat itulah Ulma menyadari jika Rifqo sedang sakit, wajah laki – laki itu terlihat pucat, dia juga berkeringat dingin, dan saat Ulma periksa tubuhnya juga demam. Meskipun berjalan cukup membuatnya kesakitan, Ulma tetap memaksakan dirinya kembali berjalan, saat itu dia berniat untuk mengambil air dan kain untuk mengompres Rifqo. Namun, baru sampai ambang pintu, Ulma benar – benar sudah merasa sangat kesakitan, punggungnya benar – benar terasa sakit. “Mbak Ulma, kenapa di sini ? Mbak harusnya istirahat” ujar bibi yang bekerja di rumah Rifqo, dia terlihat kaget melihat Ulma tiba – tiba ada di lantai bawah, wajahnya juga terlihat menunjukan ke khawatiran ketika dia melihat Ulma kesakitan. “Tadinya aku mau menemui Rifqo Bi, tapi ternyata dia sakit dan sekarang sedang tidur, aku mau ambil air dan kain untuk mengompresnya, tapi punggung ku malah sakit” jawab Ulma, sambil terkekeh kecil tapi ekspresi kesakitan tetap masih tampak terlihat di wajahnya. “Ya sudah Mbak, nanti biar Bibi yang ambilkan sekalian kompres Mas Rifqo, Mbak Ulma keatas lagi aja, istirahat nanti tambah sakit, ayo Bibi bantu Mbak” ujarnya lagi, dengan sorot ke khawatiran yang terpancar sangat nyata dari wajahnya. Sejenak Ulma menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa saat itu dia tidak ingin kembali ke kamarnya. Hal itu, berhasil membuat pergerakan bibi terhenti dan menatap wajah Ulma sejenak, seakan sedang memastikan Ulma baik – baik saja atau tidak. “Enggak papa Bi, tolong ambilkan air dan kainnya saja, nanti biar aku yang kompresnya, maaf ya Bi sudah merepotkan” ujar Ulma, sambil tersenyum. “Enggak papa Mbak, ya sudah kalau Mbak Ulma mau di sini ayo bibi bantu jalan masuk ke dalam lagi” jawab bibi, sambil tersenyum kemudian membantu Ulma berjalan menuju ke dekat ranjang Rifqo. Setelah kepergian bibi, sejenak Ulma terdiam menatap wajah Rifqo dalam bisu. Ada banyak hal yang saat itu memenuhi kepala Ulma, baik itu tentang permasalahan cinta, tentang permasalahan baru yang tercipta antara dirinya dan Rifqo, tentang hubungan Rifqo dan kakaknya. kedatangan Ulma berniat untuk meluruskan semuanya, tapi ternyata laki – laki itu berada dalam kondisi yang tidak baik. Kemudian, dengan keadaan punggungnya yang masih sakit, Ulma berusaha berjongkok, menyamakan posisinya dengan Rifqo. Dalam sejenak dia menatap wajah Rifqo dari jarak yang cukup dekat. “Maaf untuk semua kekacauan yang sudah aku lakukan dalam hidup mu, maaf untuk luka yang tanpa sengaja aku berikan untuk mu, aku terpaksa melakukan semua ini, Rifqo” gumam Ulma, sambil menatap wajah Rifqo yang terlihat gelisah dalam tidurnya. “Aku tahu keputusan ku memang salah, tapi keadaan mamaksa ku untuk tetap melakukannya, maaf karena sudah menjadikan kamu dan Kak Alma korban dalam keputusan bodoh ku, tapi aku janji tidak akan lama, aku akan segera memberikan kamu kebebasan untuk semua kesalahan yang aku lakukan” ujar Ulma, sambil berusaha menerbitkan senyuman dalam rasa perih yang hatinya rasakan. Namun, Ulma tiba – tiba kaget ketika dia melihat mata Rifqo yang sejak tadi terpajam tiba – tiba terbuka dan menatap Ulma yang saat itu ada di hadapannya. Dalam sejenak, laki – laki itu memilih diam dan menatap Ulma dengan tatapan dingin tapi cukup sulit untuk didefinisikan, hingga tiba – tiba dia memalingkan wajah sambil tertawa hambar dan saat itulah Ulma menyadari bahwa kehadirannya di sana jelas tidak di sukai Rifqo. “Udah puas sekarang ? akhirnya bisa nikah sama cowo yang lo cintai ini ? gimana rasanya udah ngancurin hidup orang lain ?” tanya Rifqo, sambil menatap Ulma tepat di bagian matanya, kemudian mengubah posisinya menjadi duduk. “Ngapain lo dateng ke sini, mau jebak gue biar keadaannya makin panas karena lo takut gue gak nikahin lo karena kejadian yang semalam enggak terlalu gue inget ? mau goda gue lagi mumpung orang – orang lagi pada gak ada ?” tanya Rifqo, sambil menatap Ulma dengan sorot ketajaman yang terpancar dari matanya. Ulma langsung memalingkan wajahnya ketika kalimat – kalimat menyakitkan itu mulai keluar dari mulut Rifqo, ketika air matanya jatuh menetes dengan cepat Ulma berusaha menghapusnya, karena dia tidak ingin Rifqo melihat air matanya. Kemudian, Ulma kembali menoleh menatap kearah Rifqo yang saat itu masih menatapnya dengan tatapan datar. Sejenak, Ulma menghela nafas berat. “Lima bulan, aku hanya minta waktu lima bulan untuk kamu nikahi setelah itu kamu boleh menceraikan aku” ujar Ulma, sambil menatap Rifqo tepat dibagian matanya. “Berikan aku ke sempatan untuk menjadi istri mu, menjalankan tugas ku sebagai seorang istri dalam waktu 5 bulan” lanjut Ulma, dengan suaranya tetap dia jaga agar tidak berubah, karena kenyataannya saat itu Ulma sedang berusaha mati – matian menahan tangisnya. Mendengar perkataan Ulma, Rifqo terdiam antara kaget sekaligus tidak mengerti dengan apa yang Ulma sampaikan. Dalam beberapa saat, dia terdiam menatap Ulma yang sedang menatap kearahnya juga, saat itu dia mencoba menyelami apa yang sebenarnya Ulma pikirkan. “Aku janji, setelah 5 bulan aku akan pergi sejauh mungkin dan tidak akan pernah muncul di hadapan mu lagi” lanjut Ulma, sambil bangkit dari posisinya. Sejenak dia miringis kesakitan, satu tangannya dia gunakan untuk memegang pinggangnya, dan satu tangannya lagi dia gunakan untuk berpegangan pada tembok, karena saat itu Ulma merasa punggungnya merasa sangat sakit. Rifqo tersenyum kecut setelah beberapa saat terdiam, kemudian dia menoleh kearah Ulma yang sedang berdiri sambil berpegangan pada tembok dengan sirat kesakitan yang tergambar di wajahnya. “Drama apalagi yang sebenarnya ingin kamu lakukan ? aku jadi penasaran dengan apa yang akan istri ku lakukan pada 5 bulan yang akan datang” jawab Rifqo, dengan nada suara yang lebih terdengar seperti mengejeknya. “Pergi” ujar Rifqo, sambil memalingkan wajahnya. “Pergi dari sini !” lanjut Rifqo, dengan penekanan yang terdengar sangat jelas keluar dari mulutnya. Saat itu, Ulma terdiam selema beberapa saat, kemudian dengan langkah tertatih dia pergi meninggalkan kamar tamu, karena dia tidak ingin membuat Rifqo lebih marah lagi, terlebih Ulma tahu jika laki – laki itu sedang sakit. *** Ulma terdiam memandang wajah Rifqo yang saat itu baru saja mengucapkan kalimat qobul sehingga ucapan sah dari saksi terdengar untuk pernikahan mereka. Dalam posisinya yang sedang berbaring, Ulma benar – benar tidak mampu mendefinisikan perasaannya sendiri, melihat ekspresi datar yang terpancar dari wajah Rifqo, melihat Alma yang sejak tadi memalingkan wajahnya, membuat Ulma benar – benar di landa perasaan tidak enak. Dia sungguh merasa bersalah pada keduanya. “Sayang, cium tangan suami mu, dan Rifqo kamu cium kenang istri mu, Alhamdulillah sekarang kalian sudah sah menjadi sepasang suami istri” ujar Lina, sambil mengelus kepala Ulma kemudian beralih menatap wajah Rifqo. Ulma terdiam menatap Rifqo sejanak, kemudian dia mengulurkan tangannya. Pada awalnya laki – laki itu hanya diam sambil memalingkan wajahnya, tapi beberapa saat kemudian dia memberikan uluran tangannya juga. Meskipun dengan penuh keterpaksaan, laki – laki itu juga memberikan ciuman pertamanya di dahi Ulma setelah mereka resmi menjadi suami istri. “Aku ingin bicara bersama Ulma dan Rifqo, boleh ?” suara itu, berhasil membuat perhatian semua orang teralih menatap kearahnya. “Tentu Alma, biar kami semua menunggu kalian untuk makan bersama di bawah, kalian bicaralah dengan tenang di sini” ujar Lina, sambil tersenyum hangat. Kemudian, mereka yang saat itu ada di kamar Rifqo memilih untuk beranjak keluar. Pernikahan Ulma dan Rifqo memang dilakukan dengan sangat sederhana, mereka melangsungkan pernikahan di kamar Rifqo, hanya ada penghulu, Firman, dan keluarga inti Rifqo, karena keadaan Ulma masih belum memungkinkan jika pernikahan mereka harus di gelar dengan mewah. Firman, sebagai orang yang paling terakhir keluar, sejenak dia menolah menatap Rifqo dan Ulma secara bergantian. Kemudian dia kembali berbalik menghampiri Rifqo. “Terima kasih karena sudah meringankankan beban ku, terima kasih karena sudah membawa sumber kesialan dalam hidup ku” ujar Firman, tepat di samping telinga Rifqo sambil tersenyum kecut. “Untuk mu, aku ucapkan selamat, sejak awal aku memang sudah yakin jika kau memang punya jiwa murahan yang bisa kau obral seperti yang sudah kau lakukan padanya” ujar Firman, sambil tersenyum merendahkan pada Ulma. Tidak ada respon apapun yang saat itu Rifqo tunjukan, sementara Ulma hanya tersenyum untuk menutupi luka di dalam hatinya ketika dia mendengar apa yang ayahnya katakan tentang dirinya. Setelah itu Firman langsung berbalik pergi. Hanya tersisa Ulma, Alma dan Rifqo di dalam kamar itu, dalam sejenak ketiganya terjebak dalam sebuah kebisuan. Hingga akhirnya kekehan Alma berhasil membuat Rifqo dan Ulma menoleh kearahnya. “Makasih” ujar Alma, sambil menundukan kepalanya. “Makasih atas kasih sayang yang udah lo bales dengan penghianatan ini Ulma, lo hebat selama ini bersikap polos padahal otak lo penuh muslihat, dan selamat !” lanjut Alma, sambil tersenyum bersamaan dengan air mata yang sudah mengalir membasahi pipinya. “Selamat karena elo udah berhasil bikin hati gue hancur dan hidup gue berantakan” lanjutnya lagi, sambil memalingkan wajah menghapus jejak air mata yang sudah tidak mampu lagi dia bendung. Saat itu, Alma benar – benar meluapkan seluruh tangisnya di hadapan Ulma, dia memperlihatkan luka yang tersembunyi dalam hatinya. Melihat hal itu, tidak ada apapun yang bisa Ulma katakan, dia hanya bisa menangis dengan air mata yang juga sudah mengalir membasahi pipinya. “Aku minta maaf Al, aku minta maaf atas luka yang pasti tergores besar di dalam hati kamu, satu hal yang tentu pasti, aku akan selalu cinta kamu meskipun itu tidak akan memberi akhir kebersamaan, dimanapun kamu berada, bersama siapa aku hidup, cinta aku akan tetap milik kamu” ujar Rifqo, sambil menarik Ulma ke dalam pelukannya. Sakit, tentu saja itulah yang Ulma rasakan. Dihari pernikahannya, hari yang seharusnya menjadi hari paling membahagiaan, justru menjadi hari paling menyakitkan bagi Ulma, ungkapan cinta yang harusnya dia terima dari suaminya, justru malah di terima oleh kakaknya, tapi saat itu Ulma sadar jika dia pantas mendapatkan semua itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN