#R – Kokoh Dalam Rapuh

1614 Kata
Ulma benar – benar tidak mampu berkata apapun ketika dia melihat sosok yang selama ini sangat amat dia rindukan datang mengunjunginya di rumah sakit, senyuman di bibir Ulma perlahan mengembang saat langkah demi langkah laki – laki itu berjalan menghampirinya. “Aku datang bukan untuk menjenguk mu atau sekedar berbasa basi menanyakan keadaan mu karena aku tidak mempedulikan itu ! aku datang hanya untuk memberikan kau kesempatan, bukankah selama ini kau selalu ingin mendapatkan maaf dari ku karena kau sudah menyebabkan ibu mu lumpuh ?” tanyanya, sambil menatap Ulma tepat dibagian matanya. “Maksud Papah ?” tanya Ulma, dengan suaranya yang terdengar sangat lembut. “Besok, aku akan membawa putri ku menemui keluarga calon suaminya, aku tahu jika anak laki – laki itu akan terus mengejar putri ku sampai kapanpun, aku tidak ingin kehadirannya menganggu rencana pernikahan Alma dan Abyan, bahkan mungkin nanti dia bisa saja menjadi alasan kehancuran pernikahan putriku, jadi sebelum hal itu terjadi kau harus membuatnya menikahi mu apapun caranya, kau lamar dia lebih dulu, atau menjebak dia layaknya seorang jalangpun aku tidak peduli” ujar Firman, dengan tatapan matanya yang sudah terlihat berpaling seakan dia enggan bertatapan dengan Ulma. “Kalau kau tidak berhasil membuat laki – laki penganggu itu menikahi mu, maka jangan harap kau mendapat maaf ku, kau bahkan tidak akan ku biarkan masuk ke dalam rumah walau itu hanya satu jengkal saja” lanjut Firman, sambil beralih menatap kearah Ulma. Setelah itu, Firman berlalu pergi meninggalkan Ulma begitu saja. Pria itu benar – benar datang hanya sebagai ayah dari Alma bukan Ulma, dia bahkan tidak menanyakan bagaiamana keadaan Ulma karena nyatanya dia sendiri yang menjadi penyebab Ulma berada di rumah sakit. Ulma berusaha keras menutup mulutnya sendiri ketika dia benar – benar tidak mampu menahan tangisnya, dia terlalu takut jika tangisnya akan terdengar oleh orang lain. Beberapa hari terakhir Ulma memang sedang sangat – sangat tidak baik – baik saja, makian ayahnya, pukulan ayahnya sudah cukup membuatnya merasa sangat terluka. Beberapa jam lalu mendengar kalimat yang cukup menusuk pula keluar dari mulut Rifqo untuknya, berhasil memberikan goresan yang sangat besar di dalam hatinya. Setelah pembicaraan bersama ayahnya, Ulma tentu saja mengalami dilema besar, dia harus memilih antara menuruti permintaan ayahnya atau justru menjaga perasaan kakaknya. Karena ketika dia memiliki menuruti permintaan ayahnya saat itulah dia akan melukai perasaan kakaknya, ketika dia memilih untuk menjaga perasaan kakaknya saat itulah harapannya untuk mendapat maaf dan pengakuan sebagai anak dari ayahnya akan benar – benar lenyap. Hingga akhirnya malam itu Rifqo datang dan tiba – tiba masuk ke dalam kamarnya yang sedang Ulma tempati. Ulma terdiam menatap kearah samping saat dia merasakan sisi ranjang bergoyang pertanda ada seseorang yang baru saja menidurinya. Saat itu, seharusnya Ulma memberi tahu Rifqo atau paling tidak mengeluarkan suara untuk sekedar memberitahu Rifqo jika saat itu dia ada di sana. Namun, saat itu Ulma memilih diam dan menunggu Rifqo terlelap. Dalam keadaan kamar yang gelap sehingga Ulma tidak bisa melihat wajah Rifqo terlalu jelas, dia terdiam menatap wajah laki – laki itu dalam waktu yang lama. Ada helaan nafas berat yang keluar dari mulutnya, nyatanya saat itu dia benar – benar merasa gelisah apakah dia benar – benar harus melakukan apa yang saat itu dia pikirkan atau tidak. “Rifqo, terima kasih untuk semua kebaikan yang kamu berikan untuk ku, tapi aku minta maaf karena harus melakukan hal ini pada mu, aku benar – benar minta maaf” gumam Ulma, dengan matanya yang sudah mulai berkaca – kaca. “Ampuni aku ya Allah karena melakukan ini” gumam Ulma, dengan suaranya yang terdengar sangat pelan. Dengan sangat amat pelan – pelan, dan beberapa kali ringisan keluar dari mulutnya, Ulma berusaha mengubah posisinya hendak menyamping, dan hal itu sungguh membuatnya merasa kesakitan. Namun, Ulma mencoba menahannya sejenak, kemudian dengan pelan – pelan dia membuka kancing kemeja Rifqo, dan setelah itu membuka kerudungnya. Mengangit apa yang dia lakukan semalam, air mata berjatuhan semakin deras membasahi pipinya. Karena mengingat semua kejadian semalam membuat Ulma benar – benar merasa menjadi perempuan yang picik seperti yang Rifqo katakan. Namun, Ulma dengan cepat berusaha menghapus air mata yang sudah membasahi pipinya ketika dia mendengar pintu kamar terbuka. Bibirnya berusaha memperlihatkan senyuman dan menyembunyikan kesedihan yang dia rasakan ketika dia melihat siapa sosok yang beru saja datang mengunjunginya. “Kamu belum minum obatkan, aku datang membawakan sarapan untuk kamu sebelum meminum obatnya” ujar Risa, sambil mendudukan tubuhnya di samping Risa. Saat itu, Ulma hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Namun, meskipun tersenyum tapi Risa tahu jika saat itu Ulma baru saja selesai menangis, selain itu dia juga bisa melihat sorot kegelisahan yang terpancar dari mata gadis itu. Sejenak, Risa terdiam menatap Ulma. Kemudian dia membawa tangan Ulma ke dalam genggamannya, matanya menatap tepat dibagian mata gadis itu. “Tenanglah, semuanya akan baik – baik saja, Rifqo bersama Angga sedang pergi ke rumah ayah mu untuk mengurus pernikahan kalian secepatnya” ujar Risa, dengan suara yang terdengar lembut tapi saat itu dia tidak mampu menyembunyikan gurat ke prihatinan terhadap apa yang Ulma hadapi saat itu. Ulma yang sejak tadi mati – matian berusaha menyembunyikan ketakutan, kekhawatiran, dan kesedihannya dengan berusaha menampilkan senyuman, seketika tangisnya langsung pecah saat dia mendengar perkataan Risa. Perempuan itu, selalu berhasil membongkar semua kepura – puraan yang berusaha Ulma tunjukan dihadapannya. “Aku minta maaf Kak, aku minta maaf” ujar Ulma, di sela tangisnya. “Sudah, jangan terlalu kami pikirkan, semua akan segera membaik lagi, dan kamu tidak perlu meminta maaf atas sesuatu yang sudah terjadi di luar kendali mu” ujar Risa, sambil tersenyum kecil dan menghapus lelehan air mata yang membasahi pipi Ulma. *** Suara pecahan beling berhasil membuat perhatian Rifqo, Angga, dan Firman menoleh kearah tangga. Di sana ada Alma yang sedang berdiri mematung bersama gelas yang sudah pecah di bawah kakinya sambil menatap Rifqo dengan tatapan yang sulit untuk didefinisikan. Melihat keberadaan kekasihnya sejenak Rifqo ikut terdiam dalam posisinya yang juga sedang menatap kearah Alma. “Apa maksud mu Rifqo” ujar Alma, akhirnya bersuara setelah terdiam selama beberapa saat. “Kekasih mu bernama Alma Qorri Aina, bukan Ulma, lantas kenapa kamu datang untuk melamar Ulma bukan Alma ?” tanya Alma, sambil berjalan tanpa memdulikan pecahan gelas yang berserakan dan mungkin akan tanpa sengaja terinjak oleh kakinya. “Alma …” gumam Rifqo, laki – laki itu kehabisan kata – kata, dia benar – benar tidak tahu apa yang harus dia katakan kepada Alma mengenai hal yang terjadi antara dirinya dan Ulma. “Mereka sudah melakukan s*x bersama, dia dan juga anak itu sudah menghianati mu, bukankah sebelumnya sudah Papah katakan jika dia bukan laki – laki baik untuk mu, dan sudah ayah peringatkan pula pada mu untuk jangan dekat – dekat dengan anak itu, lihat sekarang dia menghianati mu” ujar Firman, dengan suaranya yang terdengar santai. Namun, pernyataan ayahnya itu berhasil membuat hati Alma merasa terpukul. Dia merasa terluka karena dua orang yang di cintainya justru menghianatinya. “Apa yang Papah katakan benar Rifqo ?” tanya Alma, sambil menatap Rifqo tepat dibagian matanya. “Al, kaki kamu berdarah, kenapa kamu menginjak pecahan gelasnya” ujar Rifqo, sambil berjalan menghampiri Alma dan menatap kaki gadis itu yang sudah mengeluarkan darah dan tercecer seiring kakinya melangkah. “Katakan pada ku jika apa yang baru saja aku dengan itu tidak benar, katakan” ujar Alma, sambil menatap Rifqo dengan genangan air mata yang sudah terkumpul di pelupuk matanya. Sejanak Rifqo terdiam dengan kepala menunduk, kemudian masih dalam tundukannya Rifqo menganggukkan kepala. Anggukan kepala Rifqo seakan berhasil menghacurkan hati Alma yang sebelumnya sudah terguncang, gadis itu langsung jatuh terduduk diatas lantai dengan air mata tanpa suara yang sudah mulai berjatuhan membasahi pipinya. “Aku minta maaf Al, tapi semua ini memang faktanya, aku tidak bisa mengelak lagi karena besok aku benar – benar akan menikahi adik mu secara resmi, tapi satu hal yang pasti dan harus selalu kamu ingat, cuma kamu satu – satunya perempuan yang pernah aku cintai seumur hidup ku” ujar Rifqo, sambil mendongak menatap Alma yang saat itu terdiam mematung dengan air mata yang sudah berjatuhan dalam bisu. Tubuh Alma, tiba – tiba jatuh terduduk diatas lantai dengan tatapan matanya yang terlihat kosong tapi air mata tidak berhenti mengalir membasahi pipinya. Melihat hal itu, Rifqo langsung berjongkok, menyamakan posisinya dengan Alma, dalam sejenak Rifqo terdiam menunggu reaksi selanjutnya yang akan Alma perlihatkan. “Tapi kenapa ? kenapa harus Ulma, kenapa dari sekian banyaknya perempuan di muka bumi ini kamu memilih menikahi adik ku sendiri” ujar Alma, sambil mendongak menatap Rifqo tepat di bagian matanya dengan air mata yang sudah mengalir deras dari pelupuk matanya. Angga yang saat itu ada di sana, memilih diam sementara Firman yang juga sama – sama ada di sana dalam beberapa menit hanya memperhatikan Rifqo dan Alma, hingga beberapa saat kemudian dia memanggil asisten rumah tangga mereka dan meminta dia membantu Ulma pergi ke kamarnya sekaligus mengobati lukanya. “Pembicaraan kita sudah selesai, dan keputusan sudah di tetapkan, kalian bisa pergi” ujar Firman, mengusir Rifqo dan Angga secara terang – terangan. “Ah aku hampir lupa, aku ucapkan terima kasih karena kau sudah bersedia menampung anak cacat dan pembawa sial itu bahkan menjadikan dia istri mu, kalian berdua memang terlihat sangat cocok” ujar Firman, sebelum benar – benar berlalu pergi. Saat itu, tidak ada tanggapan apapun dari Rifqo ataupun Angga, Rifqo masih terlihat diam menatap kepergian Alma yang dibantu oleh seorang pembantu menuju kamarnya. Saat itu, Rifqo seakan menerima kehancuran untuk yang kedua kalinya setelah sebelumnya dia hancur melihat kakasihnya bertunangan dengan laki – laki lain, dan saat itu dia hancur karena keadaan memaksanya melamar adik dari perempuan yang dia cintai, dan pastinya hal itu akan sangat melukai perasaan Alma juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN