Setelah kamu memutuskan pergi, aku sudah bertekad untuk menghapus semua rasaku terhadapmu. Lantas bagaimana dengan hari ini?
*********
Sergio sepertinya memang dikenal sebagai pemuda yang tidak gampang menyerah, walau sudah sangat jelas dia mendengarkan sendiri bahwa Saska memang benar-benar tidak menginginkan kehadirannya lagi. Lantas kenapa lelaki itu sekarang masih berani menginjakkan kaki di rumah Saska?
Hari minggu, biasanya hari yang di tunggu-tunggu oleh pelajar SMA, waktunya untuk bermageran menghabiskan sepanjang waktu dengan mengurung diri di kamar. Hari minggu bagi orang yang sudah mempunyai pacar pasti akan menghabiskan waktu untuk memadu kasih, tapi tidak dengan Saska, setelah pesan dari Dafa yang mengatakan bahwa dirinya hari ini tidak bisa mengajak Saska untuk berkencan, karena besok adalah turnamen basket antar SMA. Dafa sekaligus kapten basket harus dapat membimbing anggotanya untuk dapat memenangkan turnamen ini, lagian ini adalah turnamen terakhirnya di masa putih Abu-abu.
Kedua sahabat Saska, Violeta dan Rena pun tidak mau di ajak hang out, mereka berdua lebih memutuskan untuk tidak keluar rumah karena hari minggu adalah hari yang tepat untuk bermalas-malasan.
Saska yang kini sudah mandi dan sarapan kembali lagi ke kamarnya untuk melanjutkan kegiatannya, dia sengaja mendownload banyak film supaya bisa menonton di akhir pekan seperti sekarang ini.
Celia, kakaknya sudah pergi bersama pacarnya, papanya sedang berada di luar kota untuk semingguan ini, sedangkan mamanya sibuk berkreasi dengan resep kue terbarunya.
"Saska, keluar sebentar sayang," panggil Helena yang sudah mengetuk pintu kamar Saska.
Saska yang sedang menonton sambil berbaring di atas kasurnya, bangun dan menemui Helena dengan langkah yang terkesan malas.
Ceklek.
Saska membuka pintu dan menatap mamanya yang masih memakai celemek juga sarung tangan anti panas. "Kenapa, ma?" tanya Saska.
"Kamu ke ruang tamu, ada yang nungguin tuh" kata Helena.
"Siapa ma?" tanya Saska. Seingat dirinya, dia tidak membuat janji dengan siapapun hari ini.
"Lihat aja, Mama mau ke dapur dulu, kuenya hampir jadi soalnya," ujar Helena kemudian berjalan mendahului Saska.
Saska yang mengenakan piyama beruang itu langsung menuju ke ruang tamu, langkahnya terhenti setelah melihat siapa yang sedang berada di ruang tamunya.
"Ngapain lagi sih lo?" tanya Saska, masih dengan nada yang menunjukkan tidak suka dengan kehadiran Sergio.
"Aku mau ngajak kamu jalan-jalan, pasti kamu bosan di rumah terus."
"Gue gak bosan kok di rumah, mendingan lo pulang aja. Gue lagi gak mau keluar kemana-mana hari ini," ujar Saska.
"Sas, please. Aku pengen banget pergi sama kamu, walau cuma ke taman dekat rumah kamu. Aku gak apa asalkan perginya sama kamu, udah lama kita gak pernah pergi bareng," pinta Sergio.
"Tunggu sepuluh menit gue ganti baju dulu."
Senyum terbit di bibir Sergio setelah mendengar jawaban Saska, Saska segera kembali menuju kamarnya sedangkan Sergio menunggu dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
Sepuluh menit berlalu, Saska menemui Sergio, dia memakai celana training hitam dengan hoodie abu-abu, ternyata benar kali ini Saska menerima ajakannya.
"Yuk, udah siap 'kan?"
"Iya, tapi gue gak mau pergi lama-lama," ujar Saska.
Sergio hanya tersenyum, setelah itu mereka berdua berpamitan kepada Helena untuk keluar sebentar.
Sergio dan Saska berjalan menelusuri taman komplek, keduanya sama-sama bungkam. Sergio menggaruk temgkuknya yang tidak gatal, dia bingung harus memulai topik apa.
"Duduk di sana aja yuk Sas," ujar Sergio menunjuk salah satu bangku yang berada di dekat penjual permen kapas.
Saska mengiyakan ajakan Sergio, mereka berdua duduk di bangku taman dengan pandangan sama-sama lurus ke depan. Beberapa menit kemudian Sergio menatap Saska, gadis itu masih cantik seperti saat pertama kali mereka bertemu bahkan makin cantik setelah lima tahun mereka berpisah.
"Kenapa?" tanya Saska setelah memergoki bahwa sedari tadi Sergio menatapnya tanpa kedip.
"Kamu cantik."
"Udah dari lahir," kata Saska.
Sergio kembali bungkam, entah kenapa susah sekali untuk mencari topik obrolan yang tepat, kenapa dia menjadi kaku seperti sekarang. Kenapa Saska seperti asing baginya.
"Lulus ini, mau lanjut kemana Sas?" tanya Sergio mencoba membuka obrolan.
"Oxford University," jawab Saska sekata.
"Pengen kuliah jurusan apa?"
"Belum tau," ujar Saska.
"Kok belum tau sih, kan enam bulan lagi udah lulus."
"Dafa belum kasih tau gue buat kuliah jurusan apa, makanya gue gak tau."
"Kenapa harus Dafa yang kasih tau, kuliah itu keinginan sendiri lho."
"Karena Dafa calon suami gue, lulus SMA gue sama Dafa tunangan," jawab Saska disertai senyum bahagia.
Sergio hanya menatap Saska, apa benar setelah lulus dia akan tunangan dan akan seutuhnya menjadi milik Dafa? Apa memang sudah takdirnya dia tidak bersama Saska sejauh apapun dia memperjuangkannya.
"Kok diem?" tanya Saska setelah menyadari Sergio yang bungkam.
"Gak apa, mau permen kapas?"
"Boleh," ujar Saska sambil tersenyum.
Senyum ini adalah senyum yang Sergio inginkan. Senyum tulus yang menghiasi wajah cantik Saska, jantungnya berdegup kencang. Sergio membeli satu permen kapas untuk Saska.
"Lo gak mau?" tanya Saska.
"Aku dari dulu emang gak suka permen kapas Sas," ujar Sergio.
"Sorry gue lupa," jawab Saska.
"Makasih Sas," ujar Sergio sembari menatap Saska yang tampak senang dengan permen kapas itu.
"Makasih buat apa?" Saska mengerutkan keningnya. "Perasaan gue gak ngelakuin apa-apa buat lo."
"Makasih udah mau jalan sama aku, meskipun cuma sekitaran sini doang. Tapi bisa berdua sama kamu, aku senang banget," ujar Sergio.
Saska kembali tersenyum, Sergio yang menatapnya juga ikut mengukir senyum. Setidaknya hari ini lebih baik dari hari sebelumnya.
"Segitu bahagianya kamu Sergio bisa pergi berdua sama aku? Sebegitu spesial itukah aku buat kamu? Entah kenapa bisa berdamai seperti ini aku bersama lebih baik dari sebelumnya, aku merasa ada sedikit luka yang tersembuhkan. aku tau rasa untukmu itu masih ada tapi tetap aku paksakan untuk mati, karena aku tidak mau mengkhianati cinta yang lebih tulus. Maafkan aku Gio." Saska berucap dalam hati sembari menatap Sergio yang masih tersenyum tulus.
"Kenapa kamu natap aku lama banget. Ada yang mau kamu omongin sama aku, Sas? Kalau ada kamu bisa kasih tau sekarang. Aku gak masalah sama apa yang mau kamu omongin."
Saska menggeleng. "Gak ada, Gio. Gue gak tau mau ngomong apalagi. Gue juga gak punya hak buat ngomong banyak sama lo, gue terlalu jahat. Sepatutnya lo jauhin gue." Saska bangun dari posisi duduknya. "Hayuk pulang, gue mau lanjut nonton drama. Pengen mageran juga mumpung hari minggu."