Mobil Pajero hitam kesayanganku memasuki gerbang rumah bertepatan dengan berkumandangnya azan Magrib. Bibi Arum, kepala ART di rumahku memberitahukan bahwa Papa akan menginap di Bandung malam ini. Aku sedikit lega, papa tidak tahu kalau aku ke rumah Asti.
Aku menghempaskan tubuh di atas ranjang sambil memijat kepala yang terasa berat. Ah, aku sudah kehilangan Asti. Aku sudah mengecewakannya. Semua ini karena Papa.
Hari-hari berikutnya, aku mencoba mendekati Asti disaat Reza dan Bu Santi tidak di rumah. Namun, semua sia-sia, bahkan Asti mengusirku saat aku berdalih ingin bertemu Attar, anakku.
Setelah berulang-kali ditolak, aku pasrah. Mungkin mengikhlaskan Asti untuk Reza adalah jalan terbaik. Akhirnya aku menerima perjodohan dengan Tamara. Papa dan Mama terlihat bahagia, begitu juga keluarga besar Tamara.
Pernikahanku dengan Tamara digelar dengan pesta yang sangat mewah di hotel berbintang terbaik di Jakarta. Banyak kolega-kolega Papa baik dari dalam maupun luar negeri yang datang. Mereka berdecak kagum dengan penampilan pasangan pengantin, aku dan Tamara yang tampak serasi dan berkelas. Gaun pengantin kami dirancang oleh desainer ternama di Jakarta. Semua nyaris sempurna, hanya saja hatiku tidak bahagia.
Tak dapat aku pungkiri, Tamara adalah gadis yang cantik. Mungkin sudah saatnya aku melupakan Asti dan mencoba membuka hati untuknya. Mulai hari ini aku akan move on dan memulai lembaran baru hidupku.
Setelah pesta usai, aku dan Tamara memasuki kamar pengantin yang telah dipersiapkan Om Brian di hotel mewah tempat pesta kami berlangsung. Aku langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sementara Tamara dibantu beberapa wanita perias dari wedding organizer, melepaskan gaun pengantin beserta seluruh atributnya.
Ketika aku keluar dari kamar mandi, aku terpesona melihat tubuh Tamara yang seksi hanya berbalut lingerie merah yang tipis, tapi cukup menyala seolah menantangku untuk memulai peperangan cinta.
Ternyata Tamara lebih agresif dari yang aku kira. Dia sepertinya sudah sangat lihai dalam hal memanjakan lelaki di atas ranjang. Namun, entah kenapa aku malah merasa aneh. Permainan ranjang Tamara bisa dibilang sangat memuaskan bagiku yang sudah cukup lama tidak menyentuh wanita, tapi aku tetap merasa kecewa. Tamara sudah tidak virgin, bahkan dilihat dari caranya bermain, dia seperti sudah sering melakukannya sebelum ini.
Kami berdua terkapar setelah pergelutan yang cukup menguras energi. Dia terlihat tersenyum puas sambil menaikkan selimut untuk menutupi tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun.
"Siapa yang pernah melakukannya padamu, Tam?" tanyaku sambil menatap tajam ke arah wanita yang barusan sah menjadi istriku itu.
"Melakukan apa maksud kamu, Do?" Dia malah balik bertanya. Pandangan matanya justru lebih tajam daripada aku.
"You're not a virgin anymore," ucapku kesal sambil membuang pandangan darinya.
"So what if I'm not a virgin? Jangan munafik, Aldo. Aku tahu, kamu juga sudah sering melakukannya sebelum kita menikah. Jadi, jangan sok suci!" umpatnya kesal. Tamara menutupi tubuhnya dengan selimut tanpa memperdulikan aku lagi.
Ya Tuhan, ini kah istri pilihan Papa. Seorang wanita yang bertahun-tahun tinggal di Australia dan menganut pergaulan bebas. Entah sudah berapa banyak lelaki yang dengan suka rela tidur bersama serta menikmati tubuhnya.
Tiba-tiba aku teringat Asti. Seandainya hari itu aku bisa menahan diri untuk tidak menodainya. Ah, dari sekian banyak wanita dalam hidupku, Asti masih yang paling istimewa dan belum tergantikan.
***
Kehidupanku bersama Tamara sudah mulai babak baru. Aku kembali sibuk di studio rekaman yang beberapa bulan ini kutinggalkan. Selama aku di Australia, tempat ini di pegang sepupuku, Andre, kakaknya Tania. Sementara istriku Tamara, kembali sibuk dengan dunia akting yang dulu pernah ia geluti sebelum kuliah di Australia.
Aku tak bisa melarangnya untuk meninggalkan pekerjaan itu, dia sudah masuk jajaran artis papan atas di ibukota. Namun, sebagai seorang istri dia berusaha pulang sebelum aku kembali dari kantor, kecuali kalau ada job luar kota.
Kehidupanku bersama Tamara terasa hambar. Tidak ada cinta yang aku rasakan, melainkan hanyalah sebuah kebutuhan yang harus tersalurkan. Aku kembali teringat pada Asti, tetapi aku tak berniat mengganggunya. Kubiarkan dia tenang hidup bersama Reza.
Tiga tahun berlalu semenjak pernikahanku dengan Tamara. Selama itu belum ada tanda-tanda jika istriku itu hamil. Mama dan Papa sudah mulai mendesak akan kehadiran seorang cucu. Bahkan Mbak Karin yang usia pernikahannya sudah hampir delapan tahun juga belum dikaruniai anak.
Papa menyarankan aku dan Tamara untuk memeriksakan diri ke dokter. Semula istriku itu menolak keras, tapi Mama berhasil membujuknya. Kami akhirnya memeriksakan diri di sebuah rumah sakit. Seminggu kemudian hasil pemeriksaan bisa diambil.
Sebuah tamparan keras seperti mengenai wajah Papa ketika mendapatkan kenyataan bahwa menantu kesayangannya divonis mandul oleh dokter. Ada masalah dengan rahimnya hingga sulit untuk hamil. Duniaku seolah runtuh, apakah ini karma karena Papa telah menolak anakku dengan Asti?
Sementara Tamara, sepertinya tidak begitu terpukul mendengar berita bahwa dirinya mandul. Dia seperti sudah tau hasil tes itu sebelumnya.
"Kami bisa mengadopsi anak. Jika memang Papa dan Mama sudah mengharapkan kehadiran cucu dalam pernikahan kami. Aku tidak keberatan jika harus mengasuh anak kecil," ujar Tamara santai.
"Papa tidak mau mengadopsi anak, Papa ingin anak kandung Aldo yang bisa menjadi penerus keluarga," tegas Papa dengan ekspresi marah. Sementara aku dan Mama hanya diam tanpa berani menyela pembicaraan Papa.
"Kalau begitu, Papa ambil saja anak haram Aldo. Tania bilang, Aldo pernah punya seorang anak laki-laki dari perempuan bernama Asti. Apa salahnya kita minta anak itu, toh dia anak Aldo." Ucapan Tamara membuat kami semua terkejut. Bisa-bisanya wanita ini memberikan usulan gila seperti itu. Aku yakin Asti maupun Reza tidak mungkin mengizinkan Attar untuk tinggal bersamaku.
Papa terdiam, sepertinya dia mulai sependapat dengan Tamara. Sementara Mama hanya menggeleng mendengar usulan menantu kesayangannya itu.
"Papa akan pikirkan usulanmu," ujar lelaki yang menjadi penguasa rumah ini.
"Aldo tidak setuju, Pa! Sebaiknya jangan lagi mengusik ketenangan Asti, bukankah dulu Papa sudah menolak kehadiran anak itu? Bahkan Asti bilang, Papa menyuruhnya menggugurkan kandungan. Apa Papa tidak malu dengan Asti dan Ibunya?" tanyaku geram.
"Pa,Ma ...." Panggilan seseorang dari pintu utama membuat kami semua menoleh ke arah sumber suara.
"Karin! Tumben kamu pulang kok gak ngabari Mama?" Mama berhambur memeluk Mbak Karin yang baru saja tiba. Wajah kusut kakak perempuanku itu menunjukkan ada hal buruk yang telah menimpanya.
"Apa yang terjadi, Mbak?" tanyaku sambil mendekat. Sementara Papa dan Tamara hanya diam dan tetap dalam posisinya.
Bik Arum tergopoh membawakan segelas minuman dingin untuk anak sulung keluarga ini. Mbak Karin terlihat kacau, matanya sembab dan terdapat lingkaran hitam di sekitarnya.
"Cerita, Sayang. Ada apa?" tanya Mama tak sabar setelah Mbak Karin menenggak minumannya.
"David punya wanita lain, Ma. Mereka sudah menikah siri bahkan punya anak berumur tiga tahun. Karin telah dikhianati dan sekarang diusir dengan alasan tidak bisa punya anak," jelas Mbak Karin sambil mengusap air matanya.
Tamparan kedua buat Papa dan Mama melihat anak perempuannya dicampakkan suami hanya karena tidak bisa punya anak. Sedangkan Asti yang jelas-jelas telah mengandung anakku tiga tahun yang lalu, mereka usir begitu saja.
Tuhan, ampunilah dosa-dosa kami. Semoga adikku Kayla tidak mengalami hal yang sama.