Bab 19-Malam Pertama

1208 Kata
Aku menyusui Attar di dalam kamar. Entah kenapa setelah kepergian Aldo, Attar terbangun dan rewel. Biasanya kalau sudah aku sodori asi, bayi kecilku itu akan diam dan menikmati minuman kesukaannya itu. Namun, tidak kali ini. Apakah Attar bisa merasakan kehadiran Aldo yang sebenarnya memang ayah biologisnya? Ah, Attar tidak juga mau diam. Dia malah semakin keras menangis. Aku menyudahi ritual menyusui dan menggendong bayi lelaki itu, tapi tetap saja Attar menangis. "Sini biar Mas yang gendong," tawar Mas Reza yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. Aku menyerahkan bayi Attar ke dalam gendongan suamiku. Tak butuh waktu lama, Attar sudah kembali terlelap. Walaupun Mas Reza bukan ayah biologis Attar, tapi dia terlihat nyaman dalam gendongan pria brewok itu. Perlahan, Mas Reza menidurkan Attar ke dalam box bayi, kemudian mengikuti duduk di sampingku. "Kamu memang pawangnya Attar, Mas," ucapku sambil tersenyum. Mas Reza membalas senyuman. Kedua tangan kekar pria yang tujuh bulan lalu sah menjadi suamiku itu memegang erat tanganku. "Kamu jangan banyak pikiran, As. Kalau kamu gelisah, Attar juga akan rewel," tutur Mas Reza lembut. "Iya, Mas. Hatiku memang sedang gelisah karena kemunculan Aldo," balasku jujur. Aku bahkan tak berani menatap wajah suamiku itu. "Asti, apa kamu ingin kembali pada Aldo?" tanyanya dengan kedua mata menatap dalam padaku. Jujur aku terkejut dengan pertanyaan pria di depanku ini. Gemuruh di dadaku tiba-tiba mengencang tatkala tatapan mata indah suamiku itu seolah masuk ke dalam dua bola mataku. "Kenapa Mas bertanya seperti itu?" tanyaku tergugup. "Aku lihat sorot matamu berbinar saat bertemu Aldo. Apa kamu masih mencintai Aldo?" Pertanyaan Mas Reza terasa seperti busur panah yang menembus tepat di jantungku. Aku masih terdiam, bibirku seolah kaku. "Aku tidak akan memaksamu, Asti. Kalau kamu ingin kita berpisah dan kembali pada Aldo, aku akan mengabulkannya. Mumpung kita belum nikah ulang di KUA," ucapnya datar tanpa ekspresi yang bisa aku mengerti. Mas, sebenarnya terbuat dari apa hatimu. Kamu selalu rela berkorban untukku, tapi kali ini aku tidak mau mengulang kesalahan dengan kembali pada Aldo. Aku tidak mungkin menyia-nyiakan pria yang telah tulus menolongku tanpa pamrih, apalagi kini aku sudah mulai menyayanginya. "Mas, aku tidak ingin kembali pada Aldo. Aku ingin kita menikah ulang di KUA dan membesarkan Attar bersama," jawabku sambil menunduk. Tak sanggup menatap mata teduh Mas Reza. "Benarkah, As? Kamu tidak mengatakan ini hanya karena tidak hati terhadapku?" tanyanya tak percaya. "Aku tidak ingin kamu terpaksa hidup denganku tanpa cinta. Aku tanya sekali lagi, apa kamu masih ingin melanjutkan pernikahan kita?" tanya Mas Reza lagi. Aku mengangguk lalu membenamkan kepalaku pada d**a bidangnya. Dia pun memeluk erat serta mencium rambutku. "Aku tidak akan mengulangi lagi kesalahanku, Mas. Meski Aldo telah mengatakan semua alasannya dengan jujur, tapi aku tetap akan bersamamu. Attar tetaplah anak kita," ucapku masih dalam pelukan Mas Reza. "Terima kasih, Sayang! Aku bahagia sekali mendengarnya." Mas Reza semakin mempererat pelukannya. Aku merasa damai berada dalam kehangatan pelukannya. Semoga pilihanku adalah yang terbaik. *** Rumah makan sudah buka kembali setelah libur selama tiga hari. Pagi-pagi sekali, Mas Reza sudah berangkat ke rumah makan. Suamiku memang pekerja keras, tak heran kalau usaha rumah makan yang ia buka bersama Ibu maju pesat. Ibu yang sudah bertambah usia memutuskan untuk lebih banyak di rumah membantuku mengasuh Attar. Sedangkan rumah makan, sepenuhnya dipegang Mas Reza. "Asti, Ibu mau ke toserba sebentar. Beli popok dan bahan makanan lain," pamit Ibu saat aku sedang duduk di halaman untuk berjemur bersama baby Attar. "Iya, Bu. Hati-hati," jawabku sambil meraih punggung tangan Ibu, lalu menciumnya. Sepeninggal Ibu, entah kenapa hatiku merasa resah. Ah, aku tidak boleh berprasangka buruk. Setelah cukup waktu berjemur, aku membawa baby Attar masuk. Ketika itu, sebuah mobil mewah memasuki pekarangan rumahku. Ternyata mobil Aldo, mau apa dia ke sini lagi? "Asti, aku--" "Pulanglah, Al. Suamiku sedang tidak ada, jadi aku harap kamu mengerti. Aku bukan lagi wanita lajang yang bebas bertemu dengan pria lain," tegasku ketika Aldo berjalan mendekat. "Aku hanya ingin melihat anakku, As! Plis!" Aldo memaksa dan bertambah mendekat. "Cukup, Al! Jangan mendekat lagi! Kalau memang kau ingin bertemu dengan Attar, kembalilah nanti sore, saat Mas Reza sudah di rumah," tolakku sambil menutup pintu depan. Aku bersandar di belakang pintu utama sambil mendekap Attar dalam pelukan. Aldo masih berusaha mengetuk pintu, tapi aku tidak menghiraukan. Sudah cukup, semua yang terjadi di antara kita hanya akan menjadi masa lalu, Al. Aku tak mau mengecewakan Mas Reza. Setelah kejadian itu, Aldo tidak pernah menyerah. Dia selalu datang ke rumah saat Ibu dan suamiku tidak ada. Walaupun aku selalu menolak tapi sepertinya dia belum menyerah. Aku gelisah, takut kalau Aldo berbuat sesuatu yang bisa menghancurkan rumah tanggaku dengan Mas Reza. Aldo tidak pernah datang saat Mas Reza atau Ibu di rumah, sepertinya dia sengaja mencari kesempatan ketika aku sendirian. "Kamu tampak gelisah, Sayang!" Tangan kekar Mas Reza menyentuh lembut bahuku, membuat aku tersadar dari lamunan. "Mas, kapan kita akan menikah ulang?" tanyaku sambil menatap manik mata pria di depanku. "Secepatnya setelah masa nifasmu lewat, Sayang. Kenapa? Kamu sudah tak sabar, ya!" Mas Reza mencubit hidungku, membuat wajah ini merona karena malu. Setelah masa nifasku lewat, Mas Reza memenuhi janjinya. Kami akan menikah ulang, tapi hanya dihadiri beberapa orang saksi. Karena tidak banyak yang tahu, jika anak yang aku kandung bukanlah anak Mas Reza. Tiga bulan setelah berakhirnya masa nifasku adalah hari dimana Mas Reza mengucapkan ijab kabul untuk yang kedua kalinya denganku. Akhirnya kami benar-benar halal sebagai suami istri. Terkadang aku merasa kasian melihat Mas Reza yang mati-matian menahan hasrat untuk tidak menyentuhku. Malam ini, aku akan melaksanakan tugasku sebagai istri seutuhnya untuk dia. Bayi Attar tidur bersama Ibu di kamar belakang. Wanita paruh baya itu sengaja mengambil Attar untuk tidur bersamanya agar aku bisa melayani Mas Reza malam ini. Aku juga sudah menyiapkan asi perah di dalam botol-botol kaca, sehingga Ibu tidak khawatir Attar akan rewel. Aku mematut diri di depan cermin. Dengan memakai lingerie hitam yang kontras dengan warna kulitku yang putih, membuatku terlihat cantik dan menawan. Meskipun sudah punya anak, aku tetap menjaga tubuhku agar selalu ramping. Tak berapa lama, pintu kamarku terbuka. Seorang lelaki masuk ke kamar dan memandangku takjub. Kedua matanya tidak berkedip sedikitpun melihat tubuh seksiku yang hanya terbalut lingerie tipis. "Kamu cantik sekali, Sayang. Apa kamu sudah siap?" tanyanya seraya mendekat. Aku hanya mengangguk, lalu Mas Reza menciumku dengan ciuman di bibir yang lembut dan hangat. Ini kali pertama dia menciumku di bagian bibir. Setelah napas kami tersengal, dia melepaskan tautan bibir kami. Lelaki itu membuka baju bagian atasnya, sehingga terlihat olehku bulu-bulu halus yang tumbuh di dadanya. Entah kenapa aku merasakan gelenyar yang aneh saat melihat tubuh seksi Mas Reza yang telanjang d**a. Pria itu menggendong tubuhku dan menjatuhkannya ke atas ranjang. Dia seperti singa kelaparan yang siap menerkam mangsanya. Tangan kekarnya mulai membuka bagian depan lingerie yang menempel di tubuhku lalu dia membuat tanda-tanda merah di sepanjang leher dan dadaku. Aku mendesah lirih menikmati setiap sentuhannya. Namun, tiba-tiba .... "Maaf, As! Aku belum bisa--" ucapnya lirih sambil duduk di tepi ranjang membelakangiku. Ada apa dengan Mas Reza? Bukankah seharusnya dia menikmati malam ini sebagai malam pertama sebagaimana pengantin baru? Aku merasa kecewa. Aku seperti di angkat ke angkasa lalu di jatuhkan begitu saja. Sakit, iya ... itu yang aku rasakan. Mengapa Mas Reza menolakku? Aku lihat keringat dingin mulai bercucuran dari pelipis lelaki itu. Ada apa denganmu, Mas?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN