Bab 18-Ingin Kembali (Pov Aldo)

1146 Kata
Hari-hari yang kulalui sangat membosankan. Setiap hari aku hanya berbaring di ruangan ini. Makan, minum dan melakukan terapi agar bisa segera berjalan kembali. Mama dan Mbak Karin yang selalu bergantian menemani hari-hariku di rumah sakit. Setelah dua bulan dirawat, akhirnya aku diperbolehkan rawat jalan dengan wajib kontrol dan terapi tiap dua hari sekali. Aku meminta Mbak Karin membelikan ponsel agar tidak bosan saat dia tinggal kerja, karena seminggu yang lalu Mama sudah kembali ke Jakarta. Aku tinggal bersama seorang perawat wanita yang telah disewa Papa untuk merawatku selama di rumah Mbak Karin. Meski sebenarnya Papa melarang, tapi Mbak Karin tetap membelikan aku ponsel, dia kasihan melihatku bosan tanpa punya kegiatan apapun. Setelah mendapatkan ponsel, aku segera mengaktifkan media sosialku dan mencari akun Asti. Karena ponsel lamaku hilang, aku pun kehilangan nomer Asti. Beberapa saat berkutat dengan benda pipih itu, akhirnya aku menemukan akun Asti. Aku segera mengirimkan beberapa pesan lewat massangers. Namun, hingga hari ketiga, pesanku belum dibaca olehnya. Akun Asti ternyata sudah tidak aktif sejak dua bulan yang lalu. Unggahan terakhir adalah sebuah foto pernikahannya dengan Reza. Entah kenapa d**a ini terasa berdesir, sakit sekali melihat wanita yang aku cintai bersanding dengan lelaki lain. Asti tampak bahagia, apakah dia sudah benar-benar melupakanku? Papa, semua ini gara-gara dia. Aku benar-benar tak menyangka, Papa akan setega ini padaku. Ah, kulempar ponsel di atas ranjang. Aku harus segera bisa jalan, agar aku bisa segera pulang ke Jakarta dan mencari Asti. Di bulan keenam aku tinggal di Australia, aku sudah bisa berjalan. Terapi yang aku lakukan di rumah sakit seminggu tiga kali membuahkan hasil. Aku sudah bisa berjalan normal. Mbak Karin sangat bahagia, dia lalu menelepon Papa untuk memberitahu kabar gembira ini. Selama tinggal bersama Mbak Karin, aku jarang melihat kakak perempuanku itu bersama suaminya. Keduanya sama-sama sibuk bekerja. Ah, rumah tangga macam apa itu. Bagaimana mungkin mereka bisa punya anak jika waktu untuk berdua saja jarang ada. Pernikahan mereka sudah memasuki tahun kelima, tapi belum ada tanda-tanda Mbak Karin hamil. Seminggu kemudian, Papa dan Mama datang menjengukku. Sikapku yang acuh dengan kedatangan Papa beberapa bulan yang lalu membuatnya marah. Mama berusaha membujukku untuk bersikap baik pada lelaki diktator itu, jika aku ingin segera pulang ke Jakarta. Mama benar, aku harus bersikap baik pada Papa dan berhenti membicarakan Asti. Jika aku sudah melupakan Asti, pasti Papa akan mengizinkanku pulang ke Jakarta. "Aldo, hari ini Tamara lulus kuliah. Aku dan Brian sudah sepakat menjodohkan kalian," ucap Papa bersemangat. Brian adalah papa Tamara. Aku hanya menarik napas panjang. Rupanya ini yang membuat Papa mati-matian memisahkan aku dan Asti. "Malam ini, Papa sudah mengatur pertemuan kalian. Jadi, jangan kecewakan Papa." Sikap diktator Papa tidak berubah sedikitpun. Aku hanya mengangguk pasrah dan berharap segera bisa kembali ke Jakarta. Malam harinya, aku mengikuti Papa untuk bertemu Om Brian. Akhirnya aku bertemu dengan gadis itu, Tamara. Dia cantik, blasteran Indonesia dan Spanyol, tubuhnya ramping dan seksi. Sebagai lelaki normal, tentu aku tertarik padanya. Namun, tidak mengalahkan cintaku untuk Asti. Pesona Asti yang cantik natural dan sederhana tidak bisa dikalahkan wanita manapun, meskipun sekelas Tamara. Aku berusaha bersikap baik di depan Om Brian dan Tamara dan menunjukkan seolah-olah menerima perjodohan ini, agar Papa bisa segera membawaku pulang ke Jakarta. Tamara tampaknya juga menyukaiku. Wanita mana yang bisa menolak pesona seorang Aldo. Akhirnya kami sepakat untuk membicarakan pernikahan nanti setelah tiba di Jakarta. Dua Minggu setelah pertemuan itu, Papa mengajakku pulang ke Jakarta. Hari yang sudah aku tunggu-tunggu selama ini. Akhirnya aku bisa kembali ke Jakarta. Hal yang pertama akan aku lakukan adalah mencari Asti. Sore itu, Papa ada meeting mendadak ke Bandung. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mencari Asti ke rumah ibunya. Bersama mobil Pajero hitam kesayanganku, aku segera meluncur ke rumah Asti. Mobilku berhenti tepat di depan rumah Asti. Tampaknya barusan ada acara hajatan. Terlihat banyak orang keluar dari rumah itu. Aku memarkirkan mobil tak jauh dari rumah Asti, lalu berniat turun dari mobil. Namun, segera kuurungkan niat ketika melihat Asti keluar dan duduk di teras dengan menggendong bayi. Bayi mungil itu pastilah anakku. Mungkin acara barusan adalah aqiqah untuk anakku. Setelah mengumpulkan keberanian, aku turun dari mobil dan mengayunkan langkah mendekati rumah Asti. Namun, lagi-lagi aku menghentikan langkah ketika melihat Reza keluar dari rumah dan duduk di samping Asti. Dadaku berdebar saat melihat wajah keduanya begitu dekat bahkan hampir berciuman. Aku tak tahan lagi, kaki ini segera melangkah mendekati mereka. "Asti," panggilku lirih membuat keduanya terkejut dan mengalihkan pandangan padaku. "Aldo." Asti dan Reza hampir bersamaan. Keduanya serentak berdiri dan menghadap ke arah aku. "Ngapain kamu ke sini lagi, pengecut!" hardik Asti sambil mundur beberapa langkah ketika aku mendekat. Reza mengambil alih bayi dalam gendongan Asti. "As, tolong dengarkan penjelasanku!" ucapku memohon. "Aku tidak butuh penjelasan darimu, Al! Pulanglah dan jangan ganggu kami!" usir Asti. "Reza, aku mohon. Beri aku kesempatan untuk menjelaskan semua pada Asti. Meskipun aku tahu semua sudah terlambat, tapi Asti harus tahu apa alasanku lari dari tanggung jawab," ucapku memelas pada Reza, berharap lelaki itu memberiku kesempatan bicara dengan Asti. Reza terdiam sejenak, pandangannya menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Asti, dengarkan penjelasan Aldo. Banyak yang harus kalian bicarakan. Aku akan membawa Attar ke dalam," putus Reza sambil melangkah memasuki rumah membawa bayi yang sudah pasti adalah anakku. Namun, Asti segera mencekal pergelangan lelaki itu. "Tunggu, Mas! Mas Reza di sini saja. Aku tidak mau berdua dengan lelaki yang bukan suamiku." Ucapan Asti cukup menusuk tepat di jantungku. Apa dia takut, aku berbuat yang tidak-tidak lagi terhadapnya? "Baiklah, As. Kita bicara bertiga," putusku. Reza mempersilahkan aku duduk, lalu keduanya bersiap mendengar penjelasanku. Aku pun menceritakan semua kejadian berawal saat Papa mengusirku karena berniat menikahi Asti, hingga akhirnya aku tertabrak mobil di depan rumah. Aku di bawa ke Australia dalam keadaan koma dan setelah siuman, aku malah mengalami kelumpuhan. Semua aku ceritakan pada Asti tanpa ada yang aku sembunyikan kecuali perjodohan dengan Tamara. Aku juga mengatakan pada Asti bahwa sempat mengirim pesan massangers dua bulan setelah aku dirawat di rumah sakit, tapi akunnya tidak aktif. Semua ini adalah rekayasa Papa untuk memisahkan aku dan Asti. Hatiku sedikit lega setelah menceritakan semua pada Asti maupun Reza. Mereka berdua juga mendengarkan dengan baik tanpa menyela penjelasanku. "Terus sekarang apa mau kamu, Al?" tanya Asti. Sementara Reza hanya terdiam mendengarkan. "Aku ingin kembali padamu, As. Aku masih sangat mencintaimu," jawabku sungguh-sungguh. Asti terlihat sangat terkejut, dia menggeleng dan melihat ke arah Reza. Namun, tiba-tiba .... "Mau apa lagi kamu kesini, dasar laki-laki b******k, penipu! Pergi jauh dan jangan ganggu kami!" Tiba-tiba ibu Asti datang dengan membawa sapu dan mengayunkan benda itu ke depan wajahku. "Bu, tolong dengarkan saya!" ucapku sambil menahan sapu dari tangan ibu Asti. "Ibu tidak mau mendengar apapun. Pergi!" usir ibu Asti. Akhirnya aku memilih pergi sebelum wanita paruh baya itu benar-benar memukulku dengan sapu. "Asti, aku menunggu jawabanmu!" teriakku sambil berbalik meninggalkan rumah Asti. Walaupun aku tidak yakin Asti akan menerimaku, tapi aku harus berusaha untuk mendapatkannya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN