Bab 17-Kejutan Pasca Melahirkan

1193 Kata
Seminggu setelah menikah, Mas Reza mulai membuka usaha rumah makan sesuai dengan janjinya. Ibuku yang memang pandai memasak menjadi pendukung utama usaha ini. Mas Reza menjual rumah yang dia cicil selama bekerja di restoran Bu Alya untuk menyewa tempat dan modal membuka rumah makan. Sementara kami tetap tinggal di rumah lama peninggalan bapak. Alhamdulillah, usaha yang dirintis suami dan ibuku berjalan lancar, bahkan omsetnya selalu meningkat setiap harinya. Setelah waktu empat bulan, rumah makan kami mulai mempekerjakan empat karyawan. Satu orang membantu ibu memasak, dua lagi bagian pelayanan dan kebersihan serta satu orang security untuk menjaga keamanan. Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan pun berganti bulan. Selama itu Mas Reza menahan diri untuk tidak menyentuhku, meski tak jarang kami berkesempatan melakukannya. Perlakuan manis dan sayang dari pria bergelar suamiku itu semakin membuat aku tersentuh dan berlahan menghilangkan bayang-bayang Aldo dari pikiranku Semakin hari, kandunganku juga semakin membesar. Mas Reza berusaha menjadi suami siaga disamping tugasnya mengurus rumah makan bersama Ibu. Pria bergelar suamiku itu juga selalu sigap saat aku tiba-tiba ngidam sesuatu. Dia selalu berusaha mencarikan makanan apapun yang ingin aku makan. Katanya, biar bayiku nanti nggak ileran. Pernah suatu malam, aku ingin sekali makan manisan mangga. Mas Reza pergi mencari entah kemana, yang jelas dia pulang di tengah malam dengan membawa manisan itu. Namun, karena kelamaan aku sudah tertidur dan dia tidak tega membangunkanku hingga pagi menjelang. Aku benar-benar terharu dengan semua yang ia lakukan. Padahal yang di dalam perutku ini bukanlah darah dagingnya, tapi sikap peduli Mas Reza seolah-olah bayi ini adalah anak kandungnya. Bulan berganti bulan, tibalah waktu aku melahirkan, entah kenapa malam itu hujan badai dan petir menggelegar begitu menakutkan. Perutku terasa mulas, semakin lama frekuensi mulasnya semakin sering. Kata ibu, aku sedang kontraksi dan akan melahirkan. Mas Reza sudah sibuk memesan taksi online, namun karena cuaca buruk jadi lama datangnya. Dorongan urin di perutku tak bisa tertahan, aku bergegas ke kamar mandi untuk menuntaskan hajatku meskipun Ibu sudah berpesan agar aku tidak ke kamar mandi. Ibu takut bayiku keburu terlahir sebelum kami berangkat ke rumah sakit. Aku tidak mungkin buang air di tempat tidur, terpaksa aku ke kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, tiba-tiba pandanganku berputar. Aku tak bisa menguasai bobot tubuh ini dan akhirnya terjatuh. Sementara darah segar tiba-tiba mengalir dari daerah pribadiku sampai ke paha dan kakiku. Aku menjerit kesakitan membuat Mas Reza dan Ibu yang masih menunggu taksi menjadi panik. Mas Reza menggendongku masuk ke taksi yang kebetulan baru datang. Aku merasa tubuhku ringan dan roboh. Pandanganku gelap, aku tak sadarkan diri. *** Aku terbangun dalam kondisi lemah. Selang infus menancap di tangan kiri ku, serta alat bantu napas menempel di kedua lobang hidungku. Layar monitor yang terpasang di samping tempatku berbaring mengeluarkan bunyi yang beraturan. Sepertinya aku berada di ruang ICU. Tangan kananku menyentuh perut yang kini telah datar. Kemana bayiku? Aku teringat malam itu mengalami sakit yang sangat hebat hingga aku terjatuh di kamar mandi. Apakah bayiku selamat? Ibu dan Mas Reza, kemana mereka? Tak berapa lama seorang laki-laki dan perempuan berpakaian serba hijau memasuki ruangan. Setelah tahu aku tersadar, mereka memeriksaku sebentar lalu salah satu dari mereka yang laki-laki, tepatnya dokter keluar dari ruangan ini. Sementara yang perempuan atau sang perawat mengukur dan mencatat suhu tubuhku. "Bagaimana ibu Asti, apa sudah merasa enakan?" tanyanya ramah. Aku hanya mengangguk pelan. Entah kenapa tenggorokanku terasa kering. Aku haus sekali. "Asti, kamu sudah sadar, Sayang?" Suara Mas Reza muncul dari balik pintu. Lelaki itu mendekat dan menggenggam tanganku, lalu menciumnya. Ada raut kekhawatiran di wajahnya. "Anakku--" ucapku lirih. "Alhamdulillah, anak kita selamat, Sayang. Dia laki-laki, sekarang bersama ibu di kamar lain." Mas Reza menjelaskan dengan mata berbinar. "Anak kita?" tanyaku terbata. "Iya, As. Anakmu adalah anakku juga. Aku akan menyayanginya seperti anakku sendiri," janji Mas Reza. "Terima kasih, Mas. Maafkan aku," ucapku haru. Tak terasa air mataku mengalir. "Sudah, jangan menangis! Harusnya kamu bahagia karena sekarang sudah menjadi seorang ibu." Mas Reza menghapus air mataku. Dia lalu menceritakan bahwa setelah jatuh dari kamar mandi aku langsung dibawa ke IGD. Dokter menyarankan agar aku melahirkan secara sesar dan suamiku itu menyetujuinya, karena jika tidak segera diambil tindakan bisa membahayakan janinku. Menurut dokter, tali pusat bayi sudah terputus saat aku jatuh dari kamar mandi. Ya Allah ... aku bersyukur, Engkau telah menghadirkan lelaki sebaik Mas Reza dalam hidupku. Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tolong bukakan hati ini untuk menerima Mas Reza sebagai suami seutuhnya. Tiga hari kemudian, aku diperbolehkan pulang, begitu juga bayiku. Ibu dan Mas Reza sangat bahagia dengan kehadiran bayi mungilku. Namun, entah kenapa aku tidak begitu antusias. Wajah bayi laki-laki yang aku lahirkan itu ternyata sembilan puluh persen mirip dengan Aldo, membuatku jengah karena kembali teringat lelaki b******k itu. "Kamu ingin kasih nama apa untuk anak kita, Sayang?" tanya Mas Reza sambil menimang bayi mungil itu. "Terserah kamu, Mas. Kamu saja yang kasih nama," jawabku tanpa menoleh ke arah bayi itu. "Bagaimana kalau Rizky Attar Pratama? Attar artinya suci sedangkan Pratama adalah namaku. Berati bayi ini adalah rezeki kita yang suci," usul Mas Reza bersemangat. "Iya, Mas. Kita panggil Attar, ya!" Mas Reza mengangguk setuju. Bayi lelaki dalam gendongan Mas Reza tiba-tiba menangis. Ibu yang masih sibuk di dapur bergegas mendekati bayi dalam gendongan suamiku. "Asti, anakmu haus. Ayo susui dia!" Ibu mengambil Attar dari gendongan Mas Reza, lalu memberikan kepadaku. Aku segera menyusui bayi Attar, kulihat Mas Reza memalingkan pandangannya. Ah, walaupun kami sudah hampir delapan bulan menikah, tapi dia masih malu-malu. Memang kami belum menjadi suami istri seutuhnya. Dengan kehadiran bayi Attar, ibu tidak bisa fokus memasak di rumah makan, oleh karena itu Mas Reza menambah dua koki untuk membantu koki sebelumnya. Alhamdulillah, usaha suamiku berkembang pesat, dia juga mulai mengkredit mobil untuk kenyamananku bila kemana-mana bersama Attar. Ketika usia Attar menginjak empat belas hari, kami mengadakan acara aqiqah dengan mengundang beberapa tetangga terdekat. Rumah makan untuk dua hari kedepan sengaja ditutup oleh Mas Reza, agar karyawan bisa cuti istirahat. Acara aqiqah berjalan lancar. Kami mengundang Kyai Umar, seorang pemuka agama di kampung ini untuk membacakan doa. Setelah acara selesai, aku membawa Attar duduk di teras, sementara Ibu dan beberapa tetangga yang membantu masih terlihat sibuk membereskan semua peralatan dan sisa makanan. Mas Reza duduk di sampingku yang sedang menimang Attar. Lelaki yang sudah sah menjadi suamiku itu ikut larut menimang Attar yang lucu dan gembul. Karena aku hanya memberikan asi eksklusif, tubuh Attar terlihat montok. Berat badannya sudah naik satu setengah kilogram dari berat saat lahir, padahal baru empat belas hari. Dadaku berdebar saat wajah Mas Reza begitu dekat dengan wajahku. Kedua mata kami saling bertatap membuat desiran halus dihati ini. Sepertinya Mas Reza juga mengalami hal yang sama denganku. Wajah tampannya yang dihiasi bulu halus di bagian rahang begitu dekat hanya menyisakan jarak beberapa senti dari wajahku, hingga aku bisa merasakan hangatnya napas lelaki bergelar suamiku itu. Mas Reza semakin mendekat seolah hendak menciumku. Aku hanya diam dan pasrah dengan apa yang akan dia lakukan. Bayi Attar pun juga terdiam seolah memberikan kesempatan pada kedua orang tuanya. Ketika wajah kami sudah semakin dekat, tiba-tiba ..., "Asti." Suara bariton seorang lelaki mengejutkan kami. Segera kami tersadar dan menoleh ke arah sumber suara. Dia? Kenapa harus muncul lagi di hidupku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN