Bab 16-Menikah

1161 Kata
Mataku mengerjap ketika bau minyak angin tercium menyengat di hidungku. Perlahan kubuka kedua mata ini dan yang pertama kali kulihat adalah Ibu. Orang yang paling aku sayang dan selalu ada untukku, tapi aku telah mengecewakannya. Raut wajah ibu yang mulai menua terlihat menoreh kesedihan yang mendalam dan akulah penyebabnya. "Asti, syukurlah kamu sudah sadar," ucap Ibu sambil memelukku erat. Aku mencoba mengingat-ingat kejadian sebelum aku pingsan. Aku hampir bunuh diri dengan terjun dari atas jembatan Ancol, tapi Mas Reza menyelamatkanku. "Mas Reza mana, Bu?" tanyaku setelah mengedarkan pandangan ke seluruh kamar, tapi tak juga menemukan sosok lelaki itu. "Reza ada di luar. Dia sangat mengkhawatirkanmu. Apa mau ibu panggilkan?" tanya Ibu sambil beranjak berdiri, Sementara aku hanya mengangguk pelan. Tak berapa lama, sosok laki-laki berjamang tipis dengan kaos warna hitam polos masuk ke kamarku. Ibu meninggalkan kami berdua di kamar. "Mas, maafin aku!" ucapku ketika lelaki itu duduk di samping ranjang. "Kenapa kamu berbuat bodoh, As? Apa kau tidak berpikir bagaimana hancurnya Ibu jika kamu benar-benar pergi? Belum lagi dosa yang akan kamu bawa mati. Tolong, As! Jangan lakukan hal bodoh itu lagi," tutur Mas Reza seraya menggenggam jemari tanganku. "Aku hanya tidak ingin menyusahkanmu, Mas. Karena aku, kamu kehilangan pekerjaan dan karena aku ibu harus menanggung malu." Mas Reza terlihat terkejut dengan perkataanku. "Dari mana kamu tahu kalau aku dipecat?" tanyanya heran. "Dari Tania, Mas. Aku hanya bisa menyusahkanmu, aku tak pantas mendapatkan semua kebaikanmu. Aku hanya seorang gadis yang sudah ternoda." Tangisku pecah setelah mengungkapkan isi hati ini. Mas Reza memelukku erat dan mencoba menenangkan aku. "Asti, kamu jangan merasa membebani aku. Aku mencintaimu dengan tulus, apapun asal kamu bahagia pasti aku lakukan, bahkan--" Mas Reza menjeda kalimatnya lalu melepaskan pelukannya. "Bahkan apa, Mas?" tanyaku sambil menggoyang kedua tangan pria itu. Dia terdiam untuk beberapa saat. "Asti, aku tahu kamu tidak mencintaiku, tapi ijinkan aku menikahimu untuk menutupi aib ini. Aku tidak akan menuntutmu melayaniku di atas ranjang karena memang agama melarangnya sebelum anakmu lahir. Kalaupun nantinya Aldo datang dan ingin kembali padamu, aku ikhlas melepasmu," jelas Mas Reza tanpa melihat ke arahku. Lelaki itu berdiri dan berjalan mendekati jendela kamar, lalu menatap lepas keluar. Ya Allah ... terbuat dari apa hati lelaki ini, sehingga dia begitu baik dan tulus. Bodohnya aku selama ini telah mengabaikan pria sebaik dia, malah tergiur dengan hal keduniaan yang sifatnya hanya sementara. Aldo hanya menganggapku layaknya mainan yang akan dia buang setelah bosan. Cinta yang dia ucapkan hanya semata-mata nafsu belaka. "Mas, kenapa kau melakukan semua ini?" Aku berdiri dari ranjang dan berjalan mendekati Mas Reza. Pria itu berbalik menghadapku. "Kamu dan Bu Santi adalah keluargaku. Aku telah berjanji pada Almarhum bapakmu untuk menjaga kalian. Jika nantinya kita berjodoh, aku akan melindungi kalian sebagai suami dan menantu. Namun, jika memang kita tidak berjodoh, aku akan tetap melindungi kalian sebagai seorang kakak dan anak laki-laki," jelas Mas Reza dengan kedua mata berembun. "Subhanallah ... hatimu sungguh mulia, Mas. Semoga aku tidak akan mengecewakanmu," ucapku sambil menangis. Mas Reza menghapus air mataku dengan kedua ibu jarinya. "Soal pekerjaan, kamu jangan khawatir. Aku akan membuka rumah makan kecil-kecilan dengan Ibu. Insya Allah, jika kita berusaha, Allah pasti memberikan jalan." Ucapan Mas Reza menyejukkan hatiku. Aku berjanji dalam hati, tak akan mengecewakanmu, Mas. Semoga aku juga bisa mencintaimu. Lala, maafkan aku! Semoga di Bandung, kau menemukan kebahagiaanmu. Jika suatu saat nanti kita bertemu, aku berharap kamu sudah tidak marah padaku. Sebuah kecupan hangat mendarat di kening ini membuatku tersadar dari lamunan. Dia tersenyum menguatkanku. *** "Saya terima nikah dan kawinnya Asti Wulandari binti Doni Haryanto Almarhum dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." "Bagaimana para saksi? Sah?" "Saaaahhh ...." "Alhamdulillah." Seminggu setelah kejadian percobaan bunuh diri itu, aku menikah dengan Mas Reza. Pesta sederhana namun meriah digelar di sebuah gedung pertemuan yang telah disewa Mas Reza. Lelaki itu telah menyiapkan semuanya dengan baik. Aku dan Ibu tinggal menikmati. Dengan berbalut kebaya putih dan riasan pengantin adat Sunda, aku dan Mas Reza selayaknya raja dan ratu yang paling berbahagia hari itu. Aku melihat bias kebahagiaan pada raut wajah Ibu. Raut wanita yang sudah melahirkanku dua puluh tahun yang lalu itu terlihat cerah dan berseri. Tamu undangan, kerabat serta teman-temanku maupun Mas Reza tampak menikmati pesta. Mereka silih berganti mengucapkan selamat dan mendoakan kebahagiaan untuk kami berdua. Seusai pesta, aku dan Mas Reza sudah disediakan kamar pengantin yang merupakan bonus dari paket wedding organizer yang dipakai Mas Reza. Aku segera memasuki kamar karena ingin segera beristirahat setelah penat mengikuti serangkaian acara pernikahan, sementara Mas Reza masih berbincang dengan beberapa temannya yang belum pulang. Dengan dibantu dua orang wanita dari anggota perias, aku melepaskan aksesoris dan baju kebaya yang terasa menyiksa tubuhku. Aku merasa tersiksa karena memang sedang hamil. Seharusnya wanita hamil tidak boleh memakai stagen. Makanya, tadi aku meminta periasnya untuk tidak terlalu kencang memasangnya. Setelah dua wanita itu keluar dari kamar, aku segera membersihkan diri di kamar mandi. Ketika keluar dari kamar mandi, aku terbelalak melihat Mas Reza telanjang d**a. Bulu-bulu halus yang tumbuh di dadanya membuat lelaki itu terlihat seksi. Aku langsung memalingkan pandangan dan kembali masuk ke kamar mandi. Mas Reza yang menyadari kalau aku sudah keluar dari kamar mandi segera memakai kaos oblongnya. "Maaf, As. Aku tidak tahu kalau kamu sudah keluar dari kamar mandi," ujarnya sambil menggantung baju pengantin warna putih di tempat gantungan baju. Kamar ini cukup luas dan nyaman. Seandainya aku tidak melakukan hal bodoh dengan Aldo waktu itu, mungkin sekarang aku sedang menikmati indahnya malam pertama dengan Mas Reza. Ah, menyesal pun tiada guna. "Gak papa, Mas." Aku keluar setelah Mas Reza memakai kaosnya. Lelaki itu merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang berada di dekat jendela. Meski kami pengantin baru, tapi kami tidak boleh melakukan malam pertama. Mas Reza lelaki yang paham ilmu agama, dia tahu bahwa wanita hamil tidak halal dinikahi. Kami menikah hanya untuk menjaga kehormatan keluarga yang telah aku coreng. Setelah anak ini lahir nanti, kami akan menikah ulang di KUA. Mas Reza mungkin takut khilaf jika tidur di ranjang bersamaku. Dia mengalah dan tidur di sofa. Tanpa terasa air mataku menetes melihat ketulusan pria yang selama ini aku sakiti dan aku sia-siakan. Cinta tulusnya benar-benar tanpa pamrih. "Kenapa tidak tidur?" Suara bariton lelaki yang sudah sah menjadi suamiku itu membuyarkan lamunanku. "Belum bisa tidur, Mas!" jawabku sambil menghapus sisa air mata agar Mas Reza tidak tahu kalau aku menangis. "Kamu tidak bisa tidur karena ada aku di kamar, ya? Biar aku tidur di kamar sebelah," ucapnya sambil berdiri dari sofa. "Jangan pergi, Mas!" Aku mendekat dan mencekal pergelangan tangannya. "Kita pengantin baru, apa jadinya bila para kru wedding organizer itu tahu Mas tidur di kamar lain," tuturku setelah melepaskan pergelangan tangannya. "Kamu benar, As. Ya udah sekarang kamu tidur, ya! Udah malam." Mas Reza membelai rambutku lalu mencium keningku. Kedua mataku kembali berembun. Lelaki itu kemudian kembali merebahkan tubuhnya di sofa. Tak berapa lama sudah terdengar dengkuran halus. Kamu pasti kelelahan mengurus semuanya, Mas. Terima kasih Tuhan, kau telah mengirim lelaki sebaik dia. Semoga aku bisa membalas cintanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN