Aku tersadar disebuah ruangan yang serba putih. Apa aku masih hidup? Iya, aku teringat terakhir kali sebelum kehilangan kesadaran, aku ditabrak sebuah mobil yang melaju kencang di depan rumah. Apakah sekarang aku sudah mati dan berada di alam yang lain?
Aaargghhh ... kepalaku sakit dan tubuh ini terasa remuk semua. Pandanganku beredar ke seluruh ruangan ini. Ada selang infus di tangan kiri dan alat bantu pernapasan di kedua lobang hidungku. Sepertinya aku di rumah sakit, berarti aku masih hidup.
Ah, Asti ... berapa lama aku pingsan? Bagaimana jika dia mencariku? Tubuhku rasanya juga sulit di gerakkan. Kedua mataku menyusuri setiap sudut ruangan kamar, berharap menemukan seseorang.
Ceklek! Pintu kamar dibuka. Seorang dokter dan perawat datang memeriksaku. Keduanya seperti bukan orang Indonesia. Rambut mereka berwarna pirang dan bola mata agak kecoklatan. Hey! Dimana aku ini?
Dokter membisikkan sesuatu pada perawat kemudian wanita berpakaian putih itu keluar ruangan. Tak berapa lama datanglah dua orang wanita yang teramat aku kenal, Mama dan Mbak Karin. Aku terkejut, apakah kakak perempuanku itu pulang ke Jakarta? Atau aku yang sekarang dibawa ke Australia?
"Aldo, syukurlah kamu sudah sadar, Nak," ucap Mama sambil menangis dan menciumi aku.
"Ma, dimana aku? Sudah berapa lama aku pingsan?" tanyaku dengan suara serak dan parau.
"Sudah, dek! Jangan banyak bicara dulu. Nanti saja kalau keadaanmu sudah baikan!" ucap mbak Karin sambil membetulkan selimutku. Aku mencoba berdiri tapi mbak Karin menahanku.
"Mbak, lepaskan aku! Aku harus menemui Asti sekarang juga." Aku menepis tangan Mbak Karin yang menahanku.
"Aldo ... jangan! Kamu belum pulih, Al!" Kali ini Mama ikutan mencegahku. Ada yang aneh denganku. Kakiku kenapa tidak bisa bergerak? Kakiku seperti mati rasa, jangan-jangan ....
"Ada apa dengan kakiku, Ma?" tanyaku hampir menangis merasakan kedua kakiku sama sekali tak bisa digerakkan. Berkali-kali aku mencoba, tapi hasilnya nihil.
"Sabar ya, Al! Kata dokter ini hanya sementara. Beberapa minggu kedepan kamu pasti bisa jalan lagi dengan terapi yang rutin." Mama memelukku sambil menangis
"Jadi aku lumpuh? Tidak, Ma! Aku harus menemui Asti. Tolong ... suruh Asti kesini, Ma!" teriakku histeris. Aku yakin Asti sudah menungguku, dia pasti mencariku. Aku sudah berjanji akan segera menikahinya.
"Sudah, jangan pikirkan gadis miskin itu. Papa sudah memberikan dia cek kosong. Dia tak kan mencarimu lagi," terang Mama sambil menenangkan aku.
"Tidak ... tidak mungkin, Ma. Asti tidak menerimanya, bukan?" Aku menggoyang kedua tangan Mama.
"Sudahlah Aldo, jangan memikirkan gadis itu lagi! Lihat ini undangan pernikahan Asti dan Reza. Aku dapat dari Tante Alya." Mbak Karin mendekati aku dengan membawa kartu undangan berwarna merah hati.
Wanita dengan baju dress coklat selutut dan syal di leher itu kemudian menyerahkan undangan itu padaku. Tangan ini bergetar ketika membuka dan membaca undangan itu. Terpampang jelas nama Asti Wulandari dan Reza Pratama. Kenapa kamu menghianatiku, Asti?
Aku melempar undangan itu. Kenapa hatiku sesakit ini? Aku benar benar sudah jatuh cinta pada Asti. Aku tak mau kehilangan Asti. Tapi aku tak berdaya. Kenapa takdir tak berpihak kepadaku?
"Ma, tolong antar aku menemui Asti, sekali saja, Ma. Plis!" Aku menggoyang tangan Mama, memohon agar wanita yang sudah melahirkanku dua puluh lima tahun yang lalu itu sudi mengantarkan aku kepada Asti.
"Tidak mungkin, Al. Kita ini ada di Australia. Apa kamu gak liat dokter dan perawat yang memeriksa tadi? Mereka bukan orang Indonesia." Kata-kata Mbak Karin membuatku terkejut.
"Bagaimana mungkin aku bisa di Australia, Mbak? Aku ingat, kecelakaan itu terjadi di depan rumah," tanyaku sambil menggeleng tak percaya.
"Sudahlah, Al! Ayo, makan dulu. Biar kamu cepat sembuh!" Mama menyodorkan sesendok bubur ke mulutku. Namun, aku tetap bungkam dan enggan membuka mulut.
"Al, kalo kamu ingin cepat sembuh dan pulang ke Jakarta, sebaiknya kamu makan dan lakukan terapi agar cepet bisa jalan," bujuk Mbak Karin.
"Percuma aku pulang ke Jakarta, kalau Asti sudah menikah dengan Reza," jawabku ketus.
"Trus maumu bagaimana? Gak mungkin kamu pulang ke Jakarta dalam keadaan seperti ini," ujar Mbak Karin sambil meninggikan suaranya.
"Telpon Asti, Mbak! Aku ingin dia membatalkan pernikahannya dengan Reza. Aku ingin dia menungguku pulang!" Aku terus memohon pada Mbak Karin. Sedangkan Mama hanya terdiam tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Aku mana punya nomer telepon Asti, sedangkan ponselmu sudah rusak saat tertabrak mobil," tutur Mbak Karin membuatku terkejut. Ponselku rusak, pasti Asti mengira aku lari dari tanggung jawab, lalu Reza seperti pahlawan kesiangan menawarkan diri untuk menikahi Asti. Aarrggghhh ... kepalaku terasa pening sekali.
"Makanlah dulu! Nanti aku telponkan Tante Alya. Dia pasti punya nomor telepon calon suami Asti," usul Mbak Karin membuatku bersemangat.
"Cepat, Mbak! Telepon Tante Alya!" seruku bersemangat sambil merebut ponsel di tangan Mbak Alya.
"Makan dulu, baru aku telepon." Mbak Karin segera menyambar ponselnya dari tanganku. Akupun melengos kesal dengan perlakuan kakak perempuanku itu. Aku seperti anak kecil yang menginginkan mainan, tapi harus makan dulu jika ingin mendapatkanya.
Terpaksa aku makan bubur yang disuapkan Mama ke mulutku hingga habis. Meski terasa pahit di lidah, tapi aku tetap melahapnya, agar Mbak Karin cepat menelpon Tante Alya.
"Cepat telepon Tante Alya, Mbak!" seruku menagih janji. Mama hanya tersenyum sambil menggeleng melihat tingkahku. Entah apa yang beliau pikirkan, mungkin teringat masa kecilku. Sewaktu kecil, aku memang tidak pernah lupa menagih janji bila persyaratan sudah aku penuhi.
Mbak Karin mulai sibuk dengan benda pipih di tangannya, dia memenuhi janjinya menelepon Tante Alya.
"Halo Tante, ini Aldo. Aku bisa minta nomer telepon Reza?" Aku menyambar ponsel dari tangan Mbak Alya, ketika telepon telah tersambung dengan Tante Alya.
"Ya Ampun, Aldo. Kamu sudah sehat, ya?" tanya Tante Alya di seberang sana.
"Aku sudah sadar, tapi belum sehat. Tolong, Tant! Aku minta nomer telepon Reza. Ini penting, Tant!"
"Aku gak punya nomor telepon Reza, karena dia sudah tidak kerja di sini lagi. Papamu memintaku memecatnya beberapa hari yang lalu," jelas Tante Alya.
"Papa, kejam sekali dia! Kalau begitu, tolong sambungkan pada Lala. Aku ingin bicara dengannya," ucapku memohon.
"Lala juga sudah tidak kerja di sini. Seminggu yang lalu dia mengundurkan diri dan pindah ke Bandung." Penjelasan Tante Alya membuatku sedikit syok.
Kalau aku menunggu sampai sembuh untuk pulang ke Jakarta, aku akan terlambat. Asti pasti sudah menjadi istrinya Reza. Aaarrgggghhh ... aku mengacak kasar rambutku.
Ya Tuhan ... Papa benar-benar berhasil memisahkan aku dan Asti. Dia telah sukses mengawali penderitaan hidupku. Entah kenapa aku jadi membencimu, Pa!
Apakah Asti akan bahagia menikah dengan Reza? Kapan aku sembuh dan bisa kembali ke Jakarta. Hatiku sungguh tidak rela, apalagi membayangkan anakku akan memanggil Reza dengan sebutan Ayah. Asti pasti sangat membenciku.
Ah, aku benar-benar frustasi.