Bab 14-Jembatan Ancol (Pov Reza)

1204 Kata
Aku membereskan rantang bekas sarapan bersama Asti sesaat setelah wanita itu berpamitan pulang. Sebenarnya aku sedikit khawatir padanya dan berniat mengantarkan pulang, tapi dia menolak. Dia berpikir jika aku harus segera bersiap berangkat kerja, karena yang dia tahu hari ini aku masuk sif siang. Maafkan aku, As! Aku belum sanggup jujur padamu, kalau kemarin Bu Alya telah memecatku. "Ibu memanggil saya?" tanyaku setelah duduk di hadapan Bu Alya kemarin siang. Aku sangat gugup karena bos memanggilku ke ruangannya. "Reza, saya minta maaf. Hari ini adalah hari terakhir kamu kerja di sini." Ucapan Bu Alya bagaikan batu besar yang menimpa tubuhku. "Hari terakhir ... maksudnya apa, Bu?" tanyaku dengan suara terserak. Seperti ada sesuatu menyangkut di tenggorokanku. "Saya memecat kamu. Gaji terakhir dan sedikit pesangon untuk membuka usaha sudah saya transfer ke rekeningmu," jawabnya sambil menyodorkan selembar kertas bukti transfer. "Ibu memecat saya? Apakah saya berbuat kesalahan?" tanyaku gugup. Jujur aku sangat berat meninggalkan tempat ini. Walau bagaimanapun tempat ini telah memberiku kehidupan selama bertahun-tahun ditengah kerasnya kota metropolitan. "Saya yang meminta Alya memecat kamu." Sebuah suara bariton membuatku menoleh ke arah sumber suara. Seorang lelaki paruh baya berkacamata mendekat padaku. "Anda siapa? Mengapa Anda meminta Bu Alya memecat saya, padahal saya tidak mengenal Anda?" tanyaku jujur. "Saya papanya Aldo. Karena saya tahu kamu akan menikahi wanita itu, maka saya meminta Alya memecatmu. Saya tidak ingin berhubungan lagi dengan wanita itu atau keluarganya," ucapnya membuatku geram. "Jadi, Anda papanya Aldo? Dimana dia sekarang? Kenapa jadi lelaki pengecut, berani menghamili anak orang, tapi lari dari tanggung jawab," hardikku sambil melihat reaksi lelaki paruh baya itu yang terlihat tenang. "Kamu pikir aku percaya, jika wanita itu mengandung anak Aldo? Bisa jadi itu anakmu, karena kau juga dekat dengannya, bukan?" Pertanyaan pria itu hampir membuatku naik darah. "Dengar, Tuan! Saya masih menghormati Anda, karena usia Anda lebih tua. Namun, jika Anda menghina Asti, saya tidak akan tinggal diam," ancamku yang disambut tawa mengejek oleh lelaki itu. "Dia w************n, kalau dia punya harga diri, tidak mungkin dia mau menyerahkan kehormatannya pada Aldo," ucapnya membuatku bertambah geram. Hampir saja kepalan tanganku melayang ke wajah lelaki paruh baya itu, tapi Bu Alya menahanku. "Sudahlah, Reza! Saya mohon pulanglah! Saya tidak ingin terjadi keributan di sini," ucap wanita yang sudah bertahun-tahun menjadi atasanku itu. Kalau bukan karena Bu Alya sudah sangat baik terhadapku, mungkin aku sudah menghajar mulut kurang ajar papanya Aldo itu. Aku meninggalkan ruangan Bu Alya dengan langkah berat. Sekilas terlihat senyum kemenangan di bibir papanya Aldo, tapi aku tak peduli. Aku yakin Allah akan memberiku rezeki di tempat lain. "Mas, kau mau kemana? Ini belum waktunya pulang, bukan?" Lala menghadangku ketika aku keluar membawa tas. "Aku dipecat, La!" Kedua mata gadis di depanku langsung melotot mendengar jawabanku. "Dipecat? Kenapa, Mas?" tanyanya lagi. "Maaf, La. Aku belum bisa cerita," jawabku sambil berlalu meninggalkan Lala yang masih bengong. Mungkin aku akan membuka usaha atau mencari pekerjaan lain, tapi nanti setelah pernikahanku dengan Asti. Mungkin ada hikmah di balik semua ini. Allah ingin aku fokus mengurus pernikahanku. Aku tersadar dari lamunan ketika ponselku berbunyi. Panggilan dari Bu Santi, segera aku menggeser tombol hijau ke atas. "Assalamualaikum, Bu," sapaku. "Wa alaikum salam. Reza, apakah Asti masih di sana?" "Asti sudah pulang tiga puluh menit yang lalu, Bu. Mungkin sebentar lagi sampai. Tadi saya mengajaknya sarapan." "Oh begitu, pantas lama. Ya udah, terima kasih ya, Nak!" "Sama-sama, Bu." Aku menutup panggilan dari Bu Santi, lalu bergegas mencuci rantang bekas sarapanku dengan Asti. Setelah ini aku akan ke tempat Rian, seorang temanku yang bekerja sebagai wedding organizer. Semua urusan pernikahanku dengan Asti sudah aku serahkan padanya. Ternyata Rian sudah mempersiapkan semua dengan baik, dia memang selalu bisa diandalkan. Aku sangat puas dengan hasil kerjanya, mulai dari undangan, rias, gedung, konsumsi bahkan kamar pengantin sudah beres. Entah kenapa aku sangat bahagia, meskipun wanita yang akan aku nikahi belum mencintaiku bahkan mengandung benih pria lain. Tiba-tiba dadaku terasa sesak. Bagaimana jika nanti Aldo kembali seperti yang dikatakan Lala, lalu Asti memaafkannya? Ah, aku tak mau berpikir yang tidak-tidak. Bunyi dering ponsel membuyarkan lamunanku. "Assalamualaikum, Bu. Ada apa?" tanyaku setelah menggeser tombol hijau dari ponsel yang ternyata lagi-lagi panggilan dari Bu Santi. "Wa alaikum salam. Reza, kenapa Asti belum pulang, ya? Ibu tidak jadi berangkat kerja karena menunggu Asti. Ini sudah lewat tengah hari," jawab Bu Santi dengan nada cemas. "Maksud Ibu, Asti belum pulang sedari rumah saya tadi pagi?" tanyaku meyakinkan. "Iya, kemana dia? Ibu sudah berkali-kali meneleponnya, tapi ponselnya tidak aktif." "Biar saya cari Asti, Bu." "Memang kamu tidak kerja?" "Mulai hari ini saya sudah libur, Bu. Saya mau mempersiapkan pernikahan, biar tidak ada yang terlewat," jawabku bohong. Nanti pasti aku akan cerita pada Ibu, kalau aku sudah dipecat. Namun, untuk sekarang belum waktunya. "Ya sudah, tolong Ibu ya, Reza. Tolong temukan Asti, Ibu khawatir." "Ibu yang tenang, insya Allah Asti baik-baik saja." Setelah mengakhiri panggilan, aku segera menelepon Lala. Sebenarnya aku tidak enak hati menghubungi gadis itu untuk menanyakan keberadaan Asti setelah pembicaraan kami tadi pagi. Namun, tak ada salahnya aku meneleponnya, siapa tahu Asti ke sana setelah dari rumahku. Dugaanku salah, ternyata Asti tidak bersama Lala. Gadis itu mengatakan bahwa Asti sempat menelepon dan mengajaknya ketemuan di Ancol, tapi dia menolak karena harus packing untuk ke Bandung besok. Aku segera meluncur ke Ancol dengan motor kesayanganku. Entah kenapa perasaanku tidak enak. Semoga Asti tidak kenapa-napa. Sesampainya di kawasan Ancol, aku memarkirkan motor dan berjalan menyusuri taman yang masih sepi, matahari baru sedikit bergeser ke arah barat. Kawasan ini biasanya ramai kalau hari menjelang sore. Setelah berputar beberapa kali, aku tetap tidak menemukan Asti. Berkali-kali aku menelepon, tapi ponselnya juga tidak aktif. Aku duduk sejenak melepas penat di sebuah kursi di bawah pohon dekat jembatan Ancol. Rasa dahaga membuatku merasa sangat nikmat menenggak air mineral dari botol kemasan yang aku beli dari seorang pedagang asongan. Matahari yang semakin terasa terik membuat keringatku semakin deras bercucuran. Mataku berkelana menyusuri seluruh penjuru kawasan Ancol. Asti, kamu di mana? "Berhenti! Jangan bunuh diri di sini!" Teriakan seorang lelaki membuatku menoleh ke arah sumber suara. Tampak seorang lelaki paruh baya berusaha mencegah seorang gadis yang hampir melompat dari jembatan. Ya Allah, gadis itu adalah Asti. Aku segera berdiri dan berlari mendekat jembatan. "Asti!" panggilku membuat gadis itu menoleh. "Apa yang kamu lakukan, As! Jangan bodoh!" ucapku sambil terus mendekati Asti. "Mas Reza diamlah di situ! Jangan mendekat lagi? Biarkan aku mati. Aku tak mau menyusahkan kamu dan juga Ibu." "Tolong jangan lakukan, As! Kamu akan melakukan dua dosa besar. Ingat, dalam perutmu ada bayi yang tidak berdosa. Istighfar, Asti!" "Aku selalu menyusahkanmu, Mas. Gara-gara aku, kamu kehilangan pekerjaan dan gara-gara aku, Ibu menanggung malu. Biarkan aku pergi, Mas!" Asti semakin nekat dan hampir terjun dari jembatan. Kedua matanya sudah basah oleh air mata Beberapa orang yang melihat kejadian itu juga tampak khawatir. Saat gadis itu fokus menghadap ke bawah jembatan, aku segera berlari dan menyambar tubuh Asti dalam pelukanku. Dia menjerit dan meronta, tapi aku tak peduli sampai akhirnya dia pingsan. Seorang lelaki membantuku mengangkat tubuh Asti. Aku segera memesan taksi dan membawa Asti yang masih pingsan pulang ke rumah Bu Santi. Di dalam taksi, kupandangi wajah Asti yang pucat. Dia terlihat sangat tersiksa dan putus asa. Kenapa dia ingin bunuh diri? Apa dia tidak mau menikah denganku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN