Bab 13 Bunuh Diri

1336 Kata
Aku menggeliat dan membuka mata ketika bau masakan ibu menyeruak ke seluruh penjuru rumah. Kedua mataku yang sembab karena semalaman menangis terasa masih sulit terbuka. "Hoek ... Hoek ...." Tiba-tiba perutku kembali mual. Aku berlari menuju wastafel dan berniat memuntahkan isi perut ini tapi hasilnya nihil. Sambil duduk di meja makan, aku memegang perut yang masih datar. "Asti, perutmu masih mual?" tanya Ibu yang tiba-tiba sudah berada di belakangku. "Iya, Bu. Kepala Asti juga pusing," jawabku seraya memijat kening. Ibu duduk di kursi ruang makan, kedua matanya terlihat berkaca-kaca. "Bu ... Ibu kenapa?" tanyaku seraya duduk di samping Ibu. "Ibu sudah gagal, Nduk. Ibu gagal memenuhi amanah Bapak untuk menjagamu. Ibu sudah lalai." Air mata Ibu berhambur tanpa permisi. Aku memeluknya, perasaan bersalah mulai memenuhi hatiku. "Asti yang bodoh, Bu. Asti terlena dengan rayuan Aldo. Asti tidak bisa menjaga diri. Maafkan Asti!" "Untung saja Reza mau menikah denganmu, Nduk. Ibu gak tau apa jadinya kalau tidak ada dia. Mungkin kita akan jadi bahan gunjingan tetangga karena kau hamil tanpa suami," ucap Ibu sambil menyeka air matanya. Ibu benar, Mas Reza memang selalu menjadi malaikat penolong untuk keluargaku. Bodohnya aku karena menolak pria sebaik dia hanya karena tergoda ketampanan dan kekayaan Aldo. Kini Aldo mencampakkan aku setelah dia mengambil sesuatu yang paling berharga milikku. "Nduk, hari ini Reza masuk siang. Nanti kalau badanmu sudah enakan, tolong kamu ke rumahnya buat nganter makanan. Tadi kan Ibu masak banyak, gak bakal habis juga kita makan berdua," ucap Ibu sambil memindahkan makanan ke dalam rantang. "Iya, Bu. Asti mandi dulu," jawabku sambil beranjak ke kamar mandi. "Lho, memang sudah gak pusing?" tanya Ibu heran. Aku hanya menggeleng dan tersenyum. Entah kenapa rasa mual dan pusing hilang begitu saja ketika Ibu menyuruhku mengantar makanan untuk Mas Reza. Apa mungkin aku rindu dengannya? Ah, aku bertekad akan melupakan Aldo dan belajar mencintai Mas Reza. Dia pria yang baik, tak kan sulit buatku untuk jatuh cinta padanya. *** Jalanan kota metropolitan yang padat merayap membuatku terhambat untuk cepat sampai ke rumah Mas Reza. Untung saja aku pakai ojek, kalo taksi bisa-bisa makanan ini gak jadi buat sarapan, melainkan makan siang. Sesampainya di depan rumah Mas Reza, aku terheran melihat motor metik milik Lala sudah terparkir di halaman rumah. Ngapain Lala sepagi ini di rumah Mas Reza? Aku membalikkan badan, dan membatalkan niatku ke rumah Mas Reza. Namun, rasa penasaranku membuat kaki ini melangkah pelan ke arah samping rumah, dekat jendela ruang tamu Mas Reza. Aku ingin tahu, apa yang mereka lakukan di dalam. Semoga mereka tidak melihatku. "Aku pikir kamu bakal membuka hati buatku, Mas. Ternyata aku salah. Selalu Asti yang ada dalam hatimu. Bahkan setelah dia nyakiti kamu, padahal sudah jelas Asti lebih memilih Aldo," ucap Lala sambil menangis. "Maafkan aku, La! Bu Santi dan Asti sudah seperti keluargaku. Aku ingin selalu melindungi mereka," jelas Mas Reza sambil mendekat ke arah Lala. "Dengan cara menikahi Asti yang jelas-jelas sudah mengandung benih laki-laki lain?" Pertanyaan Lala jelas membuat Mas Reza terdiam. Aku yang mendengar dari luar jendela merasa tercubit. "Kamu benar-benar sudah dibutakan cinta, Mas. Kamu nggak mikir kalo nanti setelah kalian menikah dan tiba-tiba Aldo datang, mengakui anaknya, lalu Asti memaafkannya. Kamu akan tersakiti lagi, Mas." "Aku tak peduli, kalaupun nanti Aldo datang lalu mengambil Asti dan anaknya kembali. Yang terpenting bagiku sekarang adalah menutupi aib Asti dan ibunya." "Aku gak ngerti jalan pikiranmu, Mas. Aku menyerah. Sampai kapanpun aku takkan pernah bisa mendapatkan hatimu. Dalam pikiranmu hanya ada Asti. Selamat tinggal, Mas!" Lala berdiri dari duduknya, tapi Mas Reza cepat menyahut pergelangan tangannya. "Kamu mau ke mana, La?" tanya Mas Reza masih dengan memegang pergelangan tangan Lala. "Aku mau pergi jauh dan melupakanmu, Mas. Aku tak sanggup melihatmu disakiti lagi oleh Asti. Semoga aku salah, Mas. Semoga kali ini, Asti benar-benar menghargai pengorbananmu." Lala melepaskan tangan Mas Reza dari pergelangannya, lalu bergegas keluar dengan wajah kesal. Aku memundurkan kaki agar tidak terlihat olehnya. Mas Reza terdiam tanpa berniat mencegahnya. Selang beberapa menit setelah Lala pergi, aku mengetuk rumah Mas Reza. Dia membuka pintu dan terkejut dengan kedatanganku. "Asti, tumben pagi-pagi kesini?" tanyanya heran "Iya, Mas. Aku diminta Ibu mengantar sarapan," jawabku seraya menyerahkan rantang padanya. "Ya Allah, As. Ngapain kamu repot-repot nganter makanan. Kamu kan lagi hamil. Jangan terlalu capek! Gak baik buat kandunganmu." "Nggak papa, Mas. Kebetulan aja ibu tadi masak banyak. Jadi beliau menyuruhku mengantar untukmu." "Oh, gitu. Terima kasih, ya! Kamu sudah sarapan?" tanyanya sambil membuka rantang makanan dariku. Aku hanya menggeleng. "Lho, kenapa belom makan? Ayo kita makan! Makanan ini terlalu banyak buat aku sendiri, As," Mas Reza membagi dua makanan yang aku bawa di rantang lalu mengambil sendok. Aku hanya menggeleng. "Nggak, Mas. Perutku mual kalau sarapan pagi-pagi," tolakku. "Kasihan bayi kamu, As. Ayo makan!" Mas Reza menyodorkan sesuap nasi ke mulutku. "Aa ... buka mulutmu!" Mas Reza memaksa, aku tak tega menolak. Akhirnya dia menyuapi aku hingga beberapa sendok dan anehnya aku tidak muntah. "Terima kasih, Mas." "Minumlah dulu, As!" Mas Reza menyodorkan segelas air putih dan aku meminumnya hingga habis. Kedua mataku tiba-tiba berembun. Haruskah lelaki sebaik Mas Reza mendapatkan wanita yang sudah kehilangan kehormatannya sepertiku? Lala benar, aku merasa tidak pantas untuknya. Aku berpamitan pada Mas Reza. Aku menolak ketika dia menawarkan untuk mengantarku. Aku melangkah gontai tanpa berniat memanggil ojek. Ketika sampai di tepi jalan raya, aku menaiki angkot yang melewati Ancol. Entah kenapa kaki ini tidak menggiringku pulang ke rumah. Sesampainya di Ancol, aku menelepon Lala. Dulu waktu SMA, kami sering nongkrong di kawasan ini. "Ada apa, As. Aku sedang sibuk!" "La, aku mau bicara." "Kalau soal Mas Reza, lebih baik gak usah. Aku ucapkan selamat buatmu, As. Kuharap kau tidak menyakiti dia dan bisa bahagia dengannya." "Bisa kita ketemu sebentar, La? Aku tunggu di dekat jembatan Ancol." "Maaf, As. Aku sibuk. Sore ini aku berangkat ke Bandung, aku dapat pekerjaan baru dan akan ngekos di sana. Maaf mungkin kita akan jarang bertemu. Semoga kau bahagia dengan Mas Reza." "Tunggu, La! Aku--" Belum sempat aku melanjutkan kalimatku, Lala sudah memutus sambungan telepon. Aku tahu Lala pasti kecewa padaku, tapi semua ini bukan kemauanku. Aku tidak pernah meminta Mas Reza untuk menikahiku. Dengan langkah gontai, aku menyusuri jalanan sekitar Ancol. Aku berjalan tanpa arah tujuan sambil merenungi nasibku. Aku selalu menyusahkan orang-orang yang dekat denganku, Ibu, Mas Reza dan Lala. Tiba-tiba aku menabrak seorang wanita. Dia melotot saat melihatku. "Asti! Lo punya mata gak, sih?" teriak wanita yang ternyata Tania. "Maaf," jawabku lirih sambil berlalu tanpa menghiraukan sepupu Aldo itu. "Tunggu, As!" Tania menahan lenganku. Apa sih maunya cewek ini? "Gue kasihan dengan nasib lo, As. Setelah dihamili Aldo, sekarang lo ditinggalin. Oh iya, gue dengar lo mau menikah dengan cowok bodoh itu, ya! Lo tuh pembawa sial. Gara-gara lo, Aldo diasingkan papanya di Australia dan gara-gara lo juga, Reza, malaikat penolong lo itu harus kehilangan pekerjaannya. Kalo gue jadi lo, gue dah terjun tuh dari atas jembatan Ancol. Biar gak nyusahin orang," ucap Tania panjang lebar, jari telunjuknya mengarah ke jembatan besar. "Apa maksud lo? Mas Reza kehilangan pekerjaan?" tanyaku tak mengerti. "Iya, lo gak tau kalo bosnya Reza itu adik kandungnya papa Aldo? Dia nyuruh adiknya memecat Reza. Sekarang Reza jadi pengangguran gara-gara kamu. Dah ngerti, kan?" Setelah berucap demikian, Tania meninggalkan aku. Aku terpaku memandang punggung Tania hingga menghilang di tikungan jalan. Mas Reza sekarang jadi pengangguran gara-gara aku? Apa benar kata Tania, kalo aku cuma bisa nyusahin orang? Ah, aku benar-benar putus Asa. Hingga siang tiba aku belum beranjak dari kawasan Ancol. Aku berdiri di atas jembatan. Dibawah sana ada sungai yang cukup lebar. Entah setan apa yang merasuki pikiranku, aku putus asa. Aku tak ingin lagi menyusahkan orang-orang yang menyayangiku. Mas Reza sampai kehilangan pekerjaan karena aku. Ibu harus menanggung malu karena perbuatanku. Sedangkan Lala sahabatku harus pergi dari Jakarta karena aku. Saat jalanan mulai sepi menjelang tengah hari, kaki kananku mulai melangkah pada pembatas jembatan. Mungkin dengan mengakhiri hidupku, aku tidak akan lagi menyusahkan orang-orang yang kusayangi. Ketika kaki kiriku mengayun melewati perbatasan jembatan, tiba-tiba ... "Berhenti, jangan bunuh diri di sini!" teriak seseorang membuatku menoleh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN