Bab 12-Kecelakaan

1010 Kata
Semenjak kejadian malam itu di Bogor, aku merasa sangat bersalah pada Asti. Iya, aku tidak munafik memang ini bukan pertama kalinya aku melakukan hubungan badan dengan seorang wanita. Pergaulan bebas memang sudah kunikmati semenjak duduk di bangku kuliah. Asti gadis yang berbeda. Sebelumnya aku melakukan hubungan badan dengan banyak model video klip yang bekerja di kantorku, karena mereka yang merayu dan mendekatiku. Mereka semua rata-rata sudah sudah tidak perawan. Sedangkan Asti, akulah yang memaksanya karena kekhilafan dan kecemburuanku pada Reza. Aku tak menyangka jika Asti masih Virgin. Satu satunya wanita yang berhubungan denganku dan masih suci hanya Asti. Aku bertekad akan menikahinya, karena aku sudah merenggut mahkotanya. Aku mencintai Asti dan sejak itu aku tak pernah lagi berhubungan serius dengan wanita lain. Hanya Asti yang ada dalam hatiku. Aku melakukan berbagai cara agar Asti putus dengan Reza dan akhirnya berhasil, Asti menjadi milikku seutuhnya. Sebenarnya aku ingin mengenalkan Asti pada Mama dan Papa, tapi Asti selalu menolak. Dia masih grogi, takut kalau kedua orang tuaku tidak menerimanya. Akhirnya aku menunggu waktu yang tepat untuk mengenalkan Asti pada Mama Papa. Ternyata semua tak sesuai prediksiku, Papa mengetahui hubunganku dengan Asti dan menentangnya keras. Semua ini karena Tania yang ember itu. Dia pasti yang sudah menceritakan semua pada Papa. Aku harus memikirkan cara agar Papa bisa menerima Asti. Suatu siang, aku dikejutkan dengan kedatangan Reza di kantor. Begitu datang dia langsung memukul wajahku. Aku bingung, ada apa ini? Ternyata dia memintaku bertanggung jawab karena Asti hamil, anakku. Aku berjanji pada Asti dan ibunya, bahwa aku akan menikahi Asti secepat mungkin. Aku masih mencari waktu yang tepat untuk menyampaikan niatku menikahi Asti pada Mama dan Papa. Suatu sore, saat Mama dan Papa tampak rileks, aku mencoba mengutarakan niat menikahi Asti. Saat Papa sedang memeriksa laporan keuangan dari laptopnya, aku menyampaikan pada Papa jika Asti telah mengandung anakku. Aku ingin menikahi Asti secepatnya. Namun, reaksi Papa di luar dugaanku. "Berikan gadis itu cek kosong, suruh dia menulis sendiri berapa yang dia butuhkan. Papa yakin itu sudah lebih dari cukup untuk menggugurkan bayinya." jawab Papa tanpa menoleh dari laptopnya. "Pa, tega sekali Papa berkata seperti itu! Bayi itu anakku, Pa. Cucu Papa!" teriakku tidak terima dengan keputusan Papa. Aku tak menyangka jika Papa tidak punya nurani sehingga menyuruhku menggugurkan kandungan Asti. "Asti bukan level kamu Aldo. Papa sudah menjodohkan kamu dengan Tamara, anaknya Brian, teman bisnis Papa. Dia masih kuliah di Australia dan satu semester lagi lulus. Dan kamu tidak boleh menolaknya. Semua sudah Papa atur." Papa menatapku tajam. "Aku tidak mau dijodohkan, Pa! Aku tetap akan menikahi Asti, dengan atau tanpa izin Papa!" Aku beranjak meninggalkan Papa. Nampaknya pembicaraanku dengan Papa tidak akan menemui jalan mufakat. "Berani kamu menikahi gadis itu, Papa coret kamu dari daftar keluarga termasuk dari daftar ahli waris Papa!" Ancaman Papa membuatku menghentikan langkahku. Aku berbalik dan menatap tajam lelaki itu. "Sudahlah Aldo! Turuti saja kemauan Papa! Semua itu demi kebaikanmu, Sayang" Mama berusaha membujukku agar tidak menentang keputusan Papa. "Aku mencintai Asti, Ma. Aku tetap akan menikahi Asti apapun risikonya," jawabku yakin. "Kalau memang itu pilihanmu, cepat angkat kaki dari rumah ini dan jangan membawa apapun. Papa ingin tau, apakah gadis itu masih mau menerimamu jika sudah tidak punya apa-apa." Papa tidak main-main, dia benar-benar mengusirku. Apa aku siap hidup di luar sana tanpa bantuan papa? Dengan perasaan dongkol, aku masuk ke kamar dan mengambil beberapa baju kemudian memasukkannya ke dalam koper. Mama mengikuti aku dan terus menangis meminta supaya aku tidak pergi dan menuruti semua kemauan Papa. "Maaf Ma! Aldo harus pergi. Aldo harus menjadi lelaki yang bertanggung jawab. Ada seorang bayi, cucu Mama yang membutuhkan Aldo. Selamat tinggal, Ma!" Aku memeluk Mama yang masih berderai air mata. Maafkan aku, Ma! "Tunggu Aldo!" Papa memanggilku, aku berbalik ke arah Papa. Aku harap Papa membatalkan niatnya mengusirku dan merestui pernikahanku dengan Asti. "Berikan semua kartu kredit dan kunci mobil. Semua itu milik Papa, bukan? Kamu boleh pergi tanpa membawa apapun, kecuali baju-bajumu!" Jedder!! Ucapan Papa barusan bagaikan kilat yang menyambar di siang bolong. Papa benar benar keterlaluan. Aku terdiam menatap hampa pria paruh baya di depanku. "Kenapa diam? Apa kamu mulai gentar dan menuruti semua keputusan Papa?" Papa tersenyum sinis penuh kemenangan. Dia pikir aku akan menyerah setelah mendengar gertakannya. Nggak, Pa! Aku bukan lagi Aldo kecil yang selalu menurut dengan apapun keinginan Papa. Aku sudah dewasa, sudah saatnya aku menentukan sendiri jalan hidupku. Dengan berat hati aku tinggalkan kartu kredit dan kunci mobil. Tekatku sudah bulat, aku akan menikah dengan Asti dengan ataupun tanpa restu Mama dan Papa. "Papa tidak yakin kamu bisa bertahan di luar sana. Ingat Aldo, Jakarta itu kejam!" tandas Papa sambil memicingkan senyum. "Aldo ... tolong kembali, Sayang! Jangan nekat, Al! Setidaknya lakukan demi Mama! Mama tidak bisa hidup tanpa kamu," Isak Mama sambil menahan tanganku agar tidak pergi, air matanya berderai. Namun, Mama tidak bisa mengubah keputusanku. "Maafkan Aldo, Ma! Aldo tetep akan pergi!" ucapku sambil melepas pegangan tangan Mama. Aku berbalik arah menuju ke luar gerbang rumahku. "Aldo, tunggu! Jangan tinggalkan Mama! Pa, tolong cegah Aldo. Biarlah dia menikahi gadis itu, Pa. Aldo anak laki-laki kita satu-satunya." Mama memohon kepada Papa, tapi lelaki itu tetap teguh pada pendiriannya. Papa adalah lelaki yang keras kepala, setiap keputusannya tidak akan mungkin bisa dibantah, meskipun oleh Mama. Aku pun juga mewarisi sikap keras kepala Papa. Aku tidak akan mengubah keputusanku, meskipun harus meninggalkan semua kemewahan ini. Aku memang anak laki-laki satu-satunya di keluarga ini, dua saudaraku perempuan yaitu Mbak Karin, kakak perempuanku yang sekarang ikut suaminya ke Australia dan adikku Kayla yang masih kuliah di Singapura. Dengan menyeret koper aku melangkah keluar gerbang rumah megahku. Aku rela melepaskan semua kemewahan ini demi Asti. Kuharap keputusanku ini tidak salah, walaupun sejujurnya aku belum tau akan tinggal dimana malam ini. Aku tidak punya uang untuk sekadar menyewa kamar tidur. Ah, pikiranku kacau. Papa benar benar tega padaku. Ketika aku sudah berada di luar rumah, tiba-tiba .... Sebuah mobil dari arah kanan rumahku melaju kencang dan menghantam tubuhku hingga terpental. "Aldoo!!" Aku mendengar suara Mama dan Papa berteriak memanggilku. Namun tiba-tiba semua menjadi gelap. Aku tak sadarkan diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN