Hari ini, dua minggu semenjak Aldo berjanji akan membawa orang tuanya melamarku, tapi dia tidak juga menampakkan batang hidungnya.
Ponselnya pun sudah tidak aktif seminggu yang lalu dan ketika aku cari di kantor, sekretarisnya bilang Aldo sedang ada tugas ke luar negeri.
Sudah dua minggu ini aku tidak masuk kerja dan memutuskan keluar dari kantor, karena semenjak hamil aku selalu muntah-muntah tiap pagi, tidak selera makan dan badanku lemas.
Apakah Aldo sengaja lari dari tanggung jawabnya? Padahal dia sudah memohon restu pada Ibu untuk menikahi aku, tapi kenapa dia malah ke luar negeri?
Aku merasa ada yang tidak beres, Ibu juga terlihat marah sekali karena Aldo ingkar janji.
"Asti, perut kamu semakin lama akan semakin besar. Si Aldo belum juga datang melamarmu. Ibu khawatir dia ingkar janji," ucap Ibu dengan nada sedih.
"Asti akan ke rumah Aldo, Bu. Asti merasa ada yang gak beres."
"Ibu temani ya, Nduk!" Aku mengangguk kemudian memesan taksi online. Tak lama kemudian, taksinya datang.
Setelah setengah jam, aku sampai di rumah Aldo. Rumah mewah di kawasan elite yang terasnya saja dua kali lebih luas dari rumahku.
Sudah dua kali Aldo mengajakku ke sini, tapi aku menolak masuk. Entahlah, aku takut dan grogi.
Dengan sedikit ragu, aku dan Ibu memasuki rumah mewah itu. Seorang security mempersilahkan kami menunggu di teras rumah setelah menanyakan siapa kami dan apa tujuan kesini.
Tak berapa lama kemudian muncul seorang laki-laki paruh baya, berkaca mata dan berjamang tipis.
"Jadi, kamu yang namanya Asti?" tanyanya sambil menaikkan kacamata.
"I-iya, Pak," jawabku gugup. Ibu hanya diam memperhatikan laki-laki di hadapannya.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya laki laki itu.
"Kami ingin bertemu Aldo," ucapku seraya mengedarkan pandangan ke semua sudut halaman. Sepertinya tidak ada tanda-tanda keberadaan Aldo.
"Aldo sedang mengambil pendidikan S2 di Australia," jawab laki-laki itu santai.
"Apa maksud anda, Pak? Jadi, Aldo lari dari tanggung jawab setelah menghamili anak gadis saya?" Ibu tak bisa menahan emosi mendengar jawaban laki-laki itu. Aku tertuduk lemas mengetahui Aldo telah mengingkari janjinya.
"Ini ada cek kosong, tulis saja nominal yang kalian inginkan dan segera pergi dari hidup Aldo!" Laki-laki itu menyerahkan selembar cek kosong kepada Ibu.
"Saya tidak butuh cek ini, saya hanya mau Aldo bertanggung jawab pada bayinya dan menikahi Asti! " Ibu geram dan melemparkan cek itu pada laki-laki yang ternyata adalah papanya Aldo.
"Tulis saja berapa yang kalian mau, jangan jual mahal! Saya tau apa tujuan orang-orang seperti kalian mendekati anak saya. Ambil ceknya, tapi dengan satu syarat, tinggalkan Aldo. Saya tidak peduli kalaupun kalian mau menggugurkan bayi itu." Papa Aldo kembali menyerahkan cek itu pada ibu.
Dengan geram Ibu merobek cek itu dan melempar sobekannya ke wajah papa Aldo.
"Dengar ya, Pak! Kami memang orang miskin, tapi kami masih punya harga diri. Saya bersumpah, Anda akan menerima karma dari semua ini. Saya bisa membesarkan cucu saya tanpa bantuan dari Anda. Permisi!" Ibu marah dan memaksaku pulang. Papa Aldo tersenyum puas melihat kepergian kami.
Di dalam taksi, air mataku tumpah, aku tak menyangka Aldo tega meninggalkan aku, padahal dia tau aku mengandung anaknya.
Ibu sangat terpukul, beliau sangat marah, tetapi tak bisa berbuat apa-apa.
"Bu, maafkan Asti! Asti sudah bikin Ibu malu. Seandainya Asti menurut pada ibu, semua ini tidak akan terjadi. Asti tidak bisa menjaga diri, Bu! Maafkan Asti ..." Ibu memelukku yang terus menangis.
"Sudahlah, Nduk! Semua sudah takdir Tuhan." Ibu membelai rambutku. Air muka kecewa terpancar jelas di wajah Ibu yang mulai menua.
Maafkan Asti, Bu! Asti belum bisa membahagiakan Ibu. Asti hanya bisa membuat Ibu malu. Apa yang akan aku lakukan dengan bayi ini? Bayi yang akan lahir tanpa seorang ayah.
Apakah aku harus menggugurkan bayi tak berdosa ini? Tidak ... aku tidak sekejam itu. Ah ... aku pusing sekali.
Ketika kami sampai di rumah, sudah ada Mas Reza duduk di teras rumah. Ini kali pertama dia berkunjung ke rumah setelah kejadian dua minggu yang lalu.
"Ibu, Asti apa yang terjadi? Kenapa kalian menangis?" Begitu melihat kami datang dengan wajah penuh air mata, Mas Reza berdiri dari duduknya dan mendekatkan kami.
"Aldo Za ... Aldo kabur ke luar negeri." Ibu menangis sambil memegang tangan Mas Reza.
"Apa bu?" Mas Reza kaget dan mengarahkan pandangannya kepadaku.
Aku tak sanggup menatap mata itu, mata seorang laki-laki yang baik, tulus yang sudah sering aku sakiti, tapi tak pernah sedikitpun membenciku.
"Saya akan cari Aldo, Bu!" Mas Reza melangkah hendak meninggalkan rumah, tapi Ibu menahan lengannya.
"Sudahlah Reza, Ibu gak mau kamu dipermalukan juga sama keluarga Aldo. Biarlah ibu besarkan anak Asti berdua. Suatu saat mereka pasti akan menerima karmanya." Ibu duduk lemas di kursi teras, air mata yang tadinya menganak sungai kini berhenti. Wajah Ibu penuh kebencian.
"Selamat siang." Tiba-tiba seorang wanita datang ketika kami bertiga dalam keheningan.
"Mau apa kamu kesini?" tanyaku ketus pada wanita yang baru datang. Ternyata dia adalah Tania. Sementara Ibu dan Mas Reza hanya diam melihat ke arah gadis itu.
"Asti, aku sudah peringatkan kamu berkali-kali, bukan? Kamu jangan terlalu berharap pada Aldo. Bukan hanya kamu wanita yang pernah dicampakkan Aldo, tapi kamu nggak nyadar juga." Tania berkata dengan sinis, kedua tangannya dilipat di depan dadanya.
"Kalau kamu kesini hanya untuk menghina aku, lebih baik kamu pulang!" usirku geram.
"Aku ke sini disuruh Om Rudi memberikan ini sebagai kepeduliannya kepadamu dan bayi yang kamu kandung. Tapi jangan pernah kamu mengharapkan Aldo menikahimu, karena itu tidak akan mungkin terjadi." Tania tertawa lebar lalu memberikan selembar cek kepadaku sebagaimana tadi papa Aldo memberikannya kepada ibu.
"Aku gak butuh ini!" Aku menyambar cek itu dan merobeknya tepat di depan Tania, sama seperti yang Ibu lakukan tadi di rumah Aldo.
"Udah miskin, sombong!" cetus Tania sinis.
"Katakan padaku di mana Aldo sekarang?" Mas Reza mendekat dan mencengkram lengan Tania, gadis itu tampak ketakutan.
"Jawab!" gertak Mas Reza membuat Tania semakin tampak ketakutan.
"A-Aldo ada di Australia," jawabnya gugup. Mas Reza kesal dan melepaskan kasar lengan Tania.
"Jangan mengharapkan Aldo datang, Asti! Karena dia sudah mencampakkanmu!" Tania berteriak sambil pergi meninggalkan rumahku.
Aku lemas, tubuhku merosot ke lantai. Aldo, tega sekali kamu padaku. Ternyata kata kata cinta yang kau ucapkan semua palsu. Apakah aku harus membesarkan anak ini tanpa suami? Tiba-tiba aku membenci semua ini.
"Aku benci kamu, Aldo!!" aku berteriak dan memukul-mukul perutku. Ibu dan Mas Reza segera mendekat dan mencegah tanganku menyakiti janin dalam perut ini.
Mas Reza memelukku, tangan kekarnya mampu memberikan kehangatan dan meredam perasaan kalutku.
"Asti, aku akan menikahimu!" Mas Reza berbisik lembut di telingaku.
"Apa yang barusan kamu katakan, Reza?" Ibu terkejut begitu juga aku. Kemudian aku melepaskan pelukan Mas Reza.
"Jangan, Reza! Tak seharusnya kamu menanggung perbuatan yang tidak kamu lakukan. Biarkan Ibu dan Asti membesarkan anak itu berdua."
"Saya mencintai Asti, Bu. Ibu sudah seperti ibu saya sendiri. Tolong izinkan saya menikahi Asti, agar anak itu tidak menanggung malu di kemudian hari karena terlahir tanpa pernikahan."
"Tapi, Mas--" Aku tak sanggup melanjutkan ucapanku. Tak pernah terpikirkan, jika Mas Reza akan menikahiku untuk menjaga kehormatan keluarga. Mas Reza benar, bagaimana jika anak ini nanti lahir dan ternyata aku tidak punya suami? Pasti dia akan menjadi bahan pergunjingan.
"Asti, aku berjanji tidak akan menyentuhmu sampai anak itu lahir. Aku akan menyayanginya seperti anakku sendiri," ucap Mas Reza sambil menggenggam erat kedua tanganku.
"Terima kasih, Nak Reza!" Ibu terharu dan memeluk kami berdua.
Mas Reza, aku tidak tahu terbuat dari apa hatimu. Kenapa kamu selalu siap berkorban untukku. Kamu adalah pria terbaik yang pernah ada dalam hidupku setelah bapak.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Aldo?