Aku mulai beraktivitas seperti biasa, masih tetap bekerja di kantor Aldo dan semua masih normal. Teman kerja semua tak ada masalah. Hanya saja, Tania-sepupu Aldo yang selalu bikin aku jengkel.
Pagi itu ketika Aldo sedang meeting, Tania menghampiriku yang sedang duduk di ruangan Aldo dan memandang dengan tatapan sinis. Kedua tangannya dilipat di depan d**a.
"Heh, w************n! Sudah berapa banyak lelaki yang tidur denganmu?" ucapnya mencibir.
"Apa maksudmu?" Aku berdiri dari duduk dan menatap Tania dengan pandangan tajam. Aku tidak terima mendengar tuduhan gadis itu, karena pada dasarnya hanya Aldo yang pernah melakukannya padaku dan itupun hanya sekali.
"Jangan pura-pura bodoh, Asti! Aku tau apa yang kalian lakukan di Bogor waktu itu. Aldo sudah sering melakukannya dengan banyak model di sini. Jadi, bukan kamu saja wanita yang pernah tidur dengannya. Aku ingatkan, ya! Jangan berharap lebih pada Aldo. Kamu itu bukan tipe menantu yang diharapkan Om Rudi. Ngaca dulu sana!" Tangan Tania mendorong pundakku lalu pergi meninggalkan ruangan.
Mendadak aku merasa lemas. Air mata mulai menitik di sudut mataku. Apakah Aldo hanya main-main? Benarkah dia sudah sering melakukan itu sebelum denganku?
Pikiranku bertambah kacau. Jam pulang kantor, Aldo masih belum pulang meeting. Aku putuskan untuk pulang sendiri dengan taksi online. Kata-kata Tania masih terngiang dalam pikiranku.
Aku mengempaskan tubuh di ranjang kamar. Ponsel berdering, panggilan dari Aldo, tapi kubiarkan tanpa mengangkatnya.
[Asti, kamu sudah sampai di rumah? Kenapa nggak nunggu aku?] Pesan dari Aldo.
[Aku pusing, Al. Maaf tadi aku pulang duluan. Jangan khawatir! Aku sudah di rumah.] Aku balas pesan Aldo supaya dia berhenti meneleponku.
***
"Asti, Reza kok jarang kesini sekarang? Apa kalian bertengkar?" tanya Ibu setelah selesai makan malam.
Aduh, bagimana aku menjelaskan pada Ibu kalau aku sudah putus dengan Mas Reza. Pasti Ibu akan sangat kecewa.
Tok-tok-tok!! Terdengar pintu depan diketuk. Ibu bergegas membuka pintu. Ah, selamat! Aku jadi tak perlu menjawab pertanyaannya tentang mas Reza.
"Asti, ada Pak Aldo mencarimu!" teriak Ibu ketika aku hendak merebahkan kembali tubuh ini di kamar.
"Ngapain bosmu malam-malam begini berkunjung, As?" tanya Ibu dengan tatapan curiga.
"Mana Asti tau, Bu! Ini juga baru mau Asti temui," jawabku tenang agar Ibu tidak curiga.
Ibu menggeleng lalu bergegas ke dapur membuatkan Aldo minum.
"As, kamu marah ya, kok tadi pulang duluan? Aku kan jadi khawatir." Aldo langsung bicara begitu aku nongol di ruang tamu.
“Ssssttttt ... jangan keras-keras! Ibu belum tau tentang hubungan kita!" Aku menempelkan jari telunjuk ke mulutku sebagai isyarat Aldo agar memelankan suaranya.
"Mau sampai kapan, As?" Aldo terlihat kesal. Aku terdiam, apa yang dikatakan Tania tadi siang masih terngiang dalam pikiranku. Namun, melihat kesungguhan di mata Aldo, aku merasa Tania hanya mensabotase aku supaya bertengkar dengan Aldo.
Iya, harusnya aku percaya pada Aldo, bukankah Tania selalu iri padaku?
"Pak Aldo, silahkan di minum tehnya." Ibu datang membawa nampan berisi dua gelas teh.
"Terima kasih, Bu. Tolong jangan panggil saya Pak. Saya belum tua banget lho, Bu. Panggil Aldo saja!" Aldo tersenyum pada ibu sambil mengambil gelas teh dan meminumnya.
"Eh iya, Aldo. Kalau begitu Ibu tinggal ke dalam ya!" Ibu masuk kembali, setelah meletakkan gelas.
"Asti, apa yang terjadi di kantor tadi? Kenapa kamu pulang duluan dan gak ngasih tau aku?" tanya Aldo pelan, agar tidak terdengar oleh Ibu.
"Kan sudah kubilang, kalau aku pusing?" jawabku malas.
"Jangan bohong, As! Tania mengganggu kamu, ya?" tanyanya lagi. Aku terbelalak, dari mana Aldo tau kalau sepupunya yang super judes itu tadi sudah menganggu aku.
"Apapun yang dikatakan Tania kepadamu, jangan pernah percaya. Dia hanya iri sama kamu," ucap Aldo meyakinkan.
"Iya Al, maafkan aku." Aku menunduk.
"Oiya satu lagi, aku minta kamu segera jujur pada Ibu tentang hubungan kita." Aldo memberikan penekanan.
"Iya, iya. Aku pasti akan bilang pada Ibu. Tapi plis, jangan sekarang ya. Bisa-bisa beliau ceramah sampai pagi," ucapku sambil senyum.
"Ya, udah aku pulang dulu ya, Sayang. Sampai besok!" Aldo berdiri dan berniat menciumku.
"Eits, nggak pakai acara cium! Ada Ibu." Aku menahan tubuh Aldo. Akhirnya dia mengalah dan pulang. Semoga Ibu tidak melihatnya.
Aku masih belum tahu bagaimana caranya memberitahukan Ibu tentang hubunganku dengan Aldo.
Satu bulan kemudian ....
Pagi ini entah kenapa badanku terasa berat, perutku mual dan ingin muntah muntah.
"Hoekk-hoekk ...." Aduh kenapa sih aku seperti ini. Rasanya lemas, pingin muntah tapi gak bisa keluar muntahnya. Tampaknya aku tak bisa masuk kerja.
"Asti, kamu sakit?" ibu tampak cemas.
"Gak tau, Bu. Kenapa tiba-tiba badan Asti lemes, perut Asti mual dan pingin muntah tapi gak bisa. Aduh ... tolong kerokin Asti, ya, Bu! Mungkin Asti masuk angin." Aku merengek pada Ibu.
"Apa, Nduk? Perutmu mual pingin muntah tapi nggak bisa? Jangan-jangan ...." Ibu terlihat panik.
"Jangan-jangan apa, Bu?" tanyaku tidak mengerti.
"Bulan ini kamu sudah datang bulan, Asti?" Eh kenapa Ibu jadi menanyakan datang bulanku? Spontan aku menggeleng dan tersadar lalu menutup mulut ini.
Ya, Tuhan! Aku sudah telat dua minggu, apa mungkin aku hamil? Oh, tidak!
"Tunggu, Ibu ke apotek sebentar!" Dengan wajah gusar Ibu pergi meninggalkanku. Tak berapa lama beliau kembali membawa dua buah testpack.
"Masuk ke kamar mandi dan cepat pakai ini!" Ibu melotot tajam ke arahku sehingga aku tak punya pilihan lain.
Tanganku gemetaran ketika memasukkan benda itu ke dalam air urinku. Astagfirullah ... dua garis merah terpampang jelas. Apa yang harus aku katakan pada Ibu?
"Asti, cepat keluar! Ayo, jangan bikin Ibu kesal!" Ibu menggedor pintu kamar mandi.
Pelan-pelan aku buka pintu kamar mandi, badanku gemetar melihat wajah Ibu yang merah padam menahan amarah. Secepat kilat Ibu menyambar testpack di tanganku.
Kedua mata Ibu membulat ketika melihat dua garis merah di testpack itu.
"Siapa yang melakukannya, Asti? Jawab!" Ibu benar-benar marah. Bibirku gemetaran tak mampu berucap.
"Apa Reza yang melakukannya? Apa karena itu dia jarang kemari sekarang?" Ibu masih menatap tajam kedua mataku. Aku masih diam seribu bahasa. Badanku terkulai di lantai, mulutku seolah terkunci tak bisa berucap.
Ibu menyambar dompet dan ponselnya kemudian pergi meninggalkan aku sendiri.
"Ibu, mau kemana?" tanyaku lirih dan hanya aku yang mendengar. Jangan-jangan Ibu mau ke rumah Mas Reza.
Bu, aku mohon kembali! Bukan Mas Reza yang melakukannya, Bu! Tiba-tiba pandanganku berputar dan semua menjadi gelap.
Aku tak sadarkan diri.