Bab 8-Kenyataan Pahit (Pov Reza)

1130 Kata
Hari ini aku kerja sif pagi. Kebetulan tidak ada teman yang bisa aku ajak tukar sif, padahal siang ini aku harus menjemput Bu Santi dari rumah sakit. Akhirnya aku mengirim pesan pada Asti. [Asti, hari ini Ibu sudah boleh pulang. Maaf, Mas gak bisa jemput. Nanti kamu pesan taksi online saja, ya! Mas masuk pagi.] Tak berapa lama pesanku sudah terlihat dua centang biru tanda sudah dibaca. [Iya, Mas. Terima kasih. Semangat kerjanya, ya!] Pesan balasan dari Asti membuat kerjaku hari ini tambah semangat. "Mas Reza, kamu dipanggil Bu Alya!" Lala datang menghampiriku dengan wajah cemas. "Ada apa Bu Alya memanggilku pagi-pagi begini?" tanyaku heran. Lala mengangkat kedua bahunya tanda tak mengerti. "Bu Alya menunggumu di ruang tamu, Mas. Kamu gak bikin kesalahan, kan?" tanyanya kemudian. Aku menggeleng lalu bergegas ke ruang tamu dengan isi kepala dipenuhi pertanyaan. Dengan kaki bergetar, aku memasuki ruang tamu, di sana Bu Alya sudah menungguku. Baru kali ini aku dipanggil secara pribadi oleh pemilik restoran, apa aku melakukan kesalahan? "Masuklah, Reza!" Suara Bu Alya dari dalam ruang tamu, pelan pelan aku melangkahkan kakiku masuk. "Ada yang ingin ketemu kamu, Reza. Duduklah!" Bu Alya menyuruhku duduk di sofa, kemudian dia menelepon seseorang. Tak berapa lama orang itu datang memasuki ruangan Bu Alya. Aldo, bukankah dia bosnya Asti? Untuk apa dia ingin bertemu aku? "Aldo ini keponakanku, aku rasa kamu sudah mengenal dia, kan?" Suara Bu Alya membuyarkan lamunanku. "Iya, Bu. Saya mengenalnya." jawabku sambil mengangguk. "Baiklah, aku tinggalkan kalian bicara berdua." Bu Alya meninggalkan ruang tamu. Kini hanya tinggal aku dan Aldo di ruangan itu. "Apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya?" tanyaku penasaran. "Aku ingin kamu putuskan Asti!" Aldo menatap tajam ke arahku. "Apa maksud Anda?" Aku masih tidak mengerti arah pembicaraan Aldo. "Kamu tidak mungkin begitu bodoh, Reza? Kamu pasti tahu kalau Asti tidak mencintaimu. Jadi, aku minta putuskan dia!" Suara Aldo sedikit meninggi. "Apa hak anda menyuruh saya memutuskan Asti?" tanyaku santai, aku tidak ingin terpancing emosi. "Aku dan Asti saling mencintai. Jadi, bila kamu gak ingin semakin tersakiti, putuskan dia!" Kata-kata Aldo barusan sangat menyayat hatiku. Sendi-sendi di kakiku terasa melemas. Iya, aku tau apa yang dikatakan lelaki di depanku ini memang benar adanya. Asti tidak mencintaiku, dia menerimaku sebagai pacar karena ibunya. Apa aku salah bila berharap Asti bisa mencintaiku seiring berjalannya waktu kebersamaan kami? Apa aku salah bila menjalankan amanah Pak Doni untuk menjaga Asti dan ibunya? "Pikirkan kembali, Reza. Aku tidak mau kamu semakin tersakiti, sebab kenyataannya cinta Asti memang bukan untukmu." Aldo meninggalkan aku sendiri di ruangan itu. Aku masih terdiam, mencerna kata-kata yang diucapkan Aldo. Mungkin selama ini aku egois dan tidak mau mengerti perasaan Asti. "Mas ... kamu gak apa-apa, kan?" Tiba-tiba Lala sudah di belakang memegang bahuku. "Apa kamu mendengar semua?" tanyaku pada Lala sambil berdiri dari tempatku duduk. "Maaf, Mas. Aku mendengarkan semua," ucap Lala sambil mundur beberapa langkah dengan perasaan takut. "Apa yang harus aku lakukan, La? Aku mencintai Asti. Apa aku harus melepasnya untuk laki-laki itu?" Aku menyunggar kasar rambutku. "Mas Reza, berhenti menjadi lelaki bodoh. Asti sudah mempermainkan perasaanmu tapi kamu masih saja tidak merasa. Buka matamu, Mas! Lihatlah cinta tulus yang ada di depanmu!" ujar Lala berapi-api lalu berbalik meninggalkan aku. Lala, apa kamu masih memendam perasaan itu untukku? Maafkan aku, La!! Hari ini aku kerja dengan perasaan canggung. Lala yang biasanya ceria dan bercanda tawa denganku kini jadi pendiam. Apa karena ucapannya tadi? Apa memang begitu besar cintanya untukku, sehingga dia tidak bisa move on dariku. Aku juga memikirkan Asti, bagaimana mungkin aku bisa memutuskan Asti? Apa yang akan aku katakan pada Bu Santi? Aaargghhh ... tiba-tiba kepalaku terasa berat. Seminggu berlalu sejak kejadian itu, aku belum menemui Asti. Dia pun tidak pernah meneleponku untuk sekadar menanyakan kenapa aku tidak pernah berkunjung ke rumahnya. Apa memang tidak ada ruang di hatinya untukku? Bu Santi yang setiap hari meneleponku, menanyakan kenapa seminggu ini aku tidak ke rumahnya. Namun, aku hanya beralasan bahwa aku sedang sibuk karena sering lembur. Maaf, Bu! Aku terpaksa berbohong. Aku mencoba menghindari Asti untuk mulai menjaga perasaan ini. Ponselku tiba-tiba berbunyi pagi itu. Panggilan dari Bu Santi. "Assalamualaikum, Bu!" ucapku setelah menggeser tombol merah di layar ponselku. " Wa alaikum salam. Nak Reza, hari ini masuk pagi atau siang?" "Saya masuk siang, Bu. Ada apa, ya?" "Tolong ke rumah, ya, Nak! Asti tidak enak badan. Ibu gak bisa nganter ke dokter karena harus masuk kerja. Gak enak sudah seminggu ini izin." "Oiya, Bu! Nanti saya antar Asti." "Terima kasih, Nak Reza. Assalamualaikum." "Sama-sama, Bu. Wa alaikum salam " Asti sakit apa ya? Hem, terpaksa aku harus ke rumah Asti. Aku akan mempersiapkan diriku. Aku akan meminta Asti memilih, tetap bersamaku atau dengan Aldo. Dengan d**a berdebar, hati bergemuruh tidak menentu, aku melajukan motor menuju rumah Asti. Kalau memang hari ini aku harus melepas Asti, aku sudah siap. Sesampainya di rumah Asti, aku melihat sebuah mobil mewah terparkir di depan rumah. Apa mungkin itu mobil Aldo? Dengan langkah berat aku memasuki rumah Asti dan melihat kenyataan pahit yang selama ini tersembunyi dariku. Asti dan Aldo berpelukan erat. Mata keduanya terpancar perasaan saling cinta. Ketika aku ingin berbalik, Asti melihatku dan melepaskan pelukannya dari Aldo. "Asti!" panggilku lirih. "Mas Reza ... kami--" Asti tidak meneruskan kalimatnya. Dia berjalan mendekati aku dan meraih kedua tanganku. "Mas, maafkan aku!" Kedua mata Asti berkaca-kaca, ada perasaan bersalah terpancar dari kedua mata indah itu. "Asti, jujurlah padaku. Apa kamu mencintai Aldo?" tanyaku sambil menatap lembut kedua matanya, mencari kejujuran yang selama ini dia sembunyikan dariku. "Mas, aku--" "Katakan semua padanya Asti! Katakan kalau kita saling mencintai. Sudah cukup kamu mempermainkan perasaan Reza." Aldo mendekati Asti dan memegang kedua pundak Asti. "Mas, maafkan aku!" Air mata mengalir dari kedua pelupuk mata Asti. "Asti, apa benar semua yang dikatakan Aldo? Jawab, As! Aku ingin dengar dari mulutmu sendiri!" Aku menatap lekat wajah Asti dan dia pun menganggukkan kepalanya. Dadaku terasa berdesir, sakit itu terasa sampai di ulu hatiku. Namun, aku harus kuat. Aku sudah mempersiapkan kemungkinan yang lebih buruk dari ini. "Baiklah As, mulai sekarang kita putus, sekarang aku bukan lagi pacarmu. Namun, aku tetap akan menjadi kakak laki-laki yang akan terus menjagamu sesuai amanah Pak Doni. Bila Aldo menyakitimu, dia akan berhadapan denganku." Asti memelukku erat. Tangisnya tumpah tidak bisa terbendung. "Terima kasih, Mas. Terima kasih atas kebesaran hatimu. Maafkan aku karena selama ini selalu menyakitimu." Asti masih terisak dalam pelukanku "Sudahlah, As. Aku rela asalkan kau bahagia." Aku melepaskan pelukan Asti, dan berjalan mendekati Aldo. "Jika kamu berani menyakiti Asti, aku pasti akan membuatmu menyesal, Aldo..!" Jari telunjukku mendorong satu sisi pundak Aldo, lelaki itu hanya terdiam. Aku melangkahkan kakiku meninggalkan rumah Asti. Hatiku terasa hancur berkeping-keping. Sebuah kenyataan pahit yang cepat atau lambat pasti akan aku lalui. Semoga Aldo bisa memberimu kebahagiaan, As. Aku akan mencoba untuk ikhlas demi kebahagiaanmu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN