Bab 7-Permintaan Maaf

1042 Kata
Aldo mengantarku pulang selepas perjalanan dari Bogor. Di dalam mobil, aku hanya terdiam dan melempar pandangan ke luar jendela. "Asti, maafkan aku! Aku khilaf. Jangan diam terus dong, As!" Tangan kiri Aldo berusaha memegang tanganku, tapi langsung aku lepas. Ada rasa marah bercampur benci padanya. Dia sudah menghancurkan masa depanku. Kalau memang dia mencintaiku, kenapa tidak bisa melindungi dan menjagaku. Dia malah mengambil sesuatu yang sangat aku jaga. Tak berapa lama, sampai juga mobil Aldo di rumahku. Aku turun dari mobil tanpa menghiraukan Aldo. Dia menyusul dan menahan tanganku, tapi segera dia lepaskan ketika melihat Mas Reza sudah duduk di teras rumahku. "Asti, kamu sudah pulang? Ayo, ikut Mas ke rumah sakit!" Mas Reza berdiri dari duduknya dan menghampiriku. "Siapa yang sakit, Mas?" tanyaku sedikit kaget. "Ibu." Mas Reza menyambar konci motornya di meja, kemudian menarik tanganku. "Ibu, sakit apa? Kenapa Mas tidak ngabarin aku?" Aku menyerang Mas Reza dengan pertanyaan. "Udah, nanti saja ceritanya. Sekarang kita ke rumah sakit. Oiya Pak Aldo, terima kasih sudah mengantar Asti." Mas Reza terus menarik tanganku tanpa melihat ke arah Aldo. Tidak berapa lama, aku sudah duduk di jok belakang motornya. Aldo hanya terdiam mematung memandangi kami. Sesampainya di rumah sakit, Aku berhambur memeluk Ibu sambil menangis. Di sana sudah ada Lala, sahabatku yang menjaga Ibu. Ketika aku datang, Lala keluar ruangan diikuti Mas Reza dan duduk di kursi tunggu. "Asti, Ibu sudah baikan. Gak usah menangis. Ibu justru khawatir padamu. Kamu baik-baik saja kan, Nduk?" Ibu memegang kedua pipiku, kedua matanya menatap tajam kearahku seolah meminta kejujuranku. "Asti baik-baik saja, Bu." Aku berbohong pada ibu kemudian memeluknya. Rasa bersalah telah menghantui pikiranku. Pasti Ibu kecelakaan karena memikirkan aku, karena seorang Ibu punya ikatan batin yang kuat dengan anaknya. Maafkan Asti, Bu! Setelah menyuapi Ibu, aku keluar dari kamar. Namun, langkahku terhenti ketika melihat Mas Reza dan Lala bercanda tawa di kursi ruang tunggu. Apa yang mereka bicarakan sehingga Mas Reza tampak tertawa lepas. Mas, Lala memang lebih pantas untukmu, dia tulus mencintaimu. Sedangkan aku hanyalah gadis bodoh yang selalu mempermainkan perasaanmu. Kini aku merasa semakin tidak pantas menerima cintamu. Aku sudah kotor dan hina. Tak terasa air mataku mengalir. "Asti." Lala segera berdiri menghampiriku setelah menyadari aku berdiri di depan pintu kamar. Dia salah tingkah, Mas Reza juga terdiam. "Maaf, As. Tadi aku dan Mas Reza hanya--" "Apa aku mengganggu kalian?" tanyaku memotong ucapan Lala sambil menghapus air mataku. "Tentu tidak, Sayang. Duduklah!" Mas Reza menarik tanganku dan menyuruh duduk di sampingnya. Lala mengikuti duduk di sampingku. Ada sedikit perasaan canggung antara kami. "Ayo ceritakan pada kami apa saja yang kau lakukan di Bogor?" tanya Mas Reza sambil senyum dan merangkul pundakku. "Iya, As. Pasti di sana kamu senang, ya! Bisa kerja sambil jalan-jalan," timpal Lala sambil melempar pandangan dariku. Lala terlihat salah tingkah dengan perlakuan Mas Reza kepadaku. Maafkan aku, La! Aku tau kamu suka sama Mas Reza. Aku merasa kamu memang lebih pantas untuknya. Dua hari kemudian, Ibu sudah boleh pulang. Ketika kami bersiap untuk pulang, aku dikejutkan dengan kedatangan Aldo. Dia bilang mau membesuk ibu. Sudah dua hari ini aku mengabaikan pesan darinya. Telepon darinya pun tidak aku angkat. Aku masih kesal dan enggan bicara dengan cowok itu, apalagi melihat wajahnya. Namun, siang itu terpaksa aku ketemu dengan Aldo. Dia menawarkan diri mengantar Ibu pulang. Aku ingin menolak, tapi ibu terlanjur menerimanya. Kebetulan Mas Reza tidak bisa menjemput karena sedang kerja. Selama di perjalanan aku hanya terdiam sementara Aldo asyik mengobrol dengan Ibu. Dia pandai sekali mengambil hati Ibu, seolah-olah dia adalah bos yang sangat memperhatikan para karyawannya. Cih, seandainya Ibu tau kalau laki-laki ini sudah merenggut kehormatan anaknya, pasti ibu akan sangat marah dan mengusir Aldo. Setelah Ibu istirahat di kamar, Aldo pamit pulang. Ternyata dia tidak langsung pulang, tapi duduk di teras depan menungguku. "Asti, aku mohon jangan cuekin aku. Aku bisa gila, As. Katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkanku?" Aldo berdiri ketika aku muncul di pintu depan. "Beri aku waktu, Al!" jawabku sambil menutup pintu. "Asti, buka pintunya! Dengarkan aku dulu! Aaargghhh ...." Terdengar suara Aldo sangat kesal, lalu dia pergi dari rumahku. Seminggu berlalu, aku belum juga berangkat kerja. Aku masih belum siap bertemu Aldo. Aku memberikan alasan sakit kepada staf kantor. "Kalau kamu masih gak enak badan, periksa ke dokter saja, Nduk! Reza sebentar lagi kesini. Minta antar dia! Ibu mau berangkat kerja. Sudah seminggu libur, gak enak sama Bu Maya," kata Ibu pagi itu sambil memegang keningku. Aku hanya mengangguk lemah. Sejujurnya aku tidak sakit, Bu. Aku hanya syok karena perbuatan Aldo. Ting!! Pesan dari Aldo. [Kalau hari ini kamu belum masuk kerja, aku akan datang ke rumahmu] Aku menarik napas panjang dan mengabaikan pesan darinya. *** Tok-tok-tok. Pintu depan diketuk seseorang. Mungkin Mas Reza datang menjemputku untuk periksa ke dokter, karena tadi pagi Ibu meneleponnya untuk minta tolong mengantarku ke dokter. Segera kurapikan rambut dan bajuku kemudian bergegas keluar membuka pintu. Aku terkejut karena ternyata yang datang bukan Mas Reza, melainkan Aldo. Buru-buru aku menutup pintu kembali, tapi tangan Aldo dengan sigap menahannya. "Asti, tolong maafkan aku! Jangan siksa aku seperti ini!" Aldo meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Aku tetap diam. "Kamu tau kenapa aku melakukannya? Karena aku ingin kamu hanya jadi milikku. Aku ingin kamu putus dengan Reza! Tolong maafkan aku, Sayang." Aldo berlutut di hadapanku. Aku masih terdiam, sebenarnya aku juga mencintaimu Al, aku ingin jadi milikmu seutuhnya, tapi aku kecewa karena perlakuanmu malam itu. "Asti, aku belum pernah mencintai seorang wanita sedalam aku mencintaimu. Tolong, As! Jangan tinggalkan aku. Maafkan aku, As!" Kembali Aldo memohon dengan posisinya masih berlutut dan memegang kedua tanganku. "Bangunlah, Al!" Aku menarik tangan Aldo agar dia berdiri. "Aku gak akan bangun sebelum kamu memaafkanku." Aldo tetap dalam posisi berlutut. "Iya Al, aku maafin kamu, tapi dengan syarat," ucapku menggantung. "Syarat apapun akan aku lakukan, katakan As! " Mata Aldo berbinar. Aku menarik kedua tangannya dan dia berdiri. "Jangan pernah melakukan itu lagi, Al. Sebelum kita benar-benar menikah, aku ingin kau menjaga sikapmu." "Iya As, aku janji." Aldo memelukku erat seolah enggan melepaskan pelukannya, aku merasakan kehangatan tubuh Aldo. Benarkah keputusanku ini, Tuhan? Tak bisa aku pungkiri, kalau aku juga mencintai Aldo. Segera kulepaskan pelukan Aldo ketika seseorang muncul dari balik pintu depan dan memandang kami bergantian. "Asti," ucap seseorang yang barusan datang itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN