Suatu hari aku pulang kerja larut malam. Restoran disewa seorang pengusaha muda yang kaya raya untuk acara ulang tahunnya. Jadi, malam itu aku dapat banyak uang tip dan juga uang lembur.
Alhamdulillah, aku yang hidup seorang diri di Jakarta bisa mandiri. Dengan pekerjaanku yang hanya seorang waiter di sebuah restoran, aku sudah bisa nyicil perumahan walaupun sederhana sehingga sekarang tidak perlu ngekos lagi.
Kedua orang tuaku sudah meninggal karena menjadi korban tabrak lari dan aku hanya anak tunggal. Aku merantau ke kota metropolitan ini, mengadu nasib dengan hanya berbekal ijazah SMA.
Ciiittttt!! Suara rem mendadak sebuah mobil yang berada beberapa meter di depanku. Mobil itu menyerempet sepeda motor yang ditumpangi sepasang suami istri.
Pengendara motor terjatuh, sedangkan pengendara mobil tanpa tanggung jawab melesat jauh meninggalkan kedua orang korban pengendara motor terkapar.
Sungguh miris melihat orang-orang yang berakhlak rendah seperti mereka. Aku benci orang-orang seperti mereka yang lima tahun lalu merenggut nyawa kedua orang tuaku.
Aku segera mendekati kedua orang pengendara motor yang kira-kira usianya sama dengan orang tuaku. Segera kupesan taksi online dan membawa mereka ke rumah sakit.
Si suami terluka parah dan masih kritis karena kepalanya terbentur batu hingga mengeluarkan banyak darah, sedangkan istrinya hanya luka ringan dan sekarang sudah sadar.
Aku segera mengurus administrasi mereka. Beruntung, tadi aku dapat rezeki yang banyak. Sehingga bisa untuk membayar biaya rumah sakit mereka.
"Terima kasih sudah menolong kami, Nak. Siapa namamu?" tanya si Istri yang aku perkirakan berumur sekitar empat puluh lima tahun.
"Saya Reza, Bu!" aku mengulurkan tanganku.
Ternyata, Ibu itu bernama Santi dan suaminya Doni. Mereka mempunyai seorang anak gadis yang berumur sekitar dua puluh tahun.
Beberapa hari mereka tinggal di rumah sakit, tapi keadaan Pak Doni semakin memburuk. Sepertinya beliau sudah tidak tertolong.
"Nak Reza, sepertinya Bapak sudah tidak kuat lagi. Bila terjadi apa apa pada Bapak, tolong titip Istri dan anak Bapak," kata Pak Doni dengan napas terengah-engah sore itu, ketika aku menjenguk mereka di rumah sakit.
Bu Santi, istrinya tak henti-hentinya menangis. Kebetulan anak gadisnya sedang keluar mencari makan.
"Pak, jangan bicara begitu! Bapak harus yakin bahwa Bapak akan sembuh," ucapku menenangkan.
“Bu, jaga anak kita baik-baik. Maafkan Bapak tidak bisa menemani Ibu sampai tua, seperti yang pernah Ibu inginkan." Setelah berkata demikian, Pak Doni melafalkan dua kalimat syahadat.
"Bapak!" Bu Santi terus menangis. Namun, Pak Doni akhirnya mengembuskan napas terakhirnya.
"Bapak!" Anak gadis mereka yang baru datang membeli makan berteriak histeris.
Keduanya, ibu dan anak itu menangis histeris karena kepergian Pak Doni. Mereka sangat terpukul, apalagi Pak Doni adalah tulang punggung keluarga.
Aku ikut meneteskan air mata, mengingat kejadian lima tahun lalu yang merenggut nyawa kedua orang tuaku. Kejadian yang sama dialami Pak Doni. Namun, beruntung Bu Santi selamat, sehingga anak gadisnya tidak akan mengalami hal sepertiku.
***
Setelah kepergian Pak Doni, aku menguatkan Bu Santi. Aku menganggapnya seperti ibuku sendiri. Termasuk membantu masalah finansialnya, karena memang Bu Santi selama ini hanyalah Ibu rumah tangga.
Aku mencoba mencarikan pekerjaan untuk Bu Santi, karena beliau tidak mau terus membebaniku dengan bergantung pada bantuan finansial tersebut. Padahal sebenarnya, aku tidak merasa terbebani.
Aku ikhlas melakukannya, karena bagiku seperti menemukan keluarga baru. Bu Santi dan anaknya seolah menggantikan keluargaku yang telah kembali pada Allah.
Akhirnya, atas rekomendasi salah seorang teman kerja, aku bisa memasukkan Bu Santi untuk bekerja di sebuah warung makan. Kebetulan memang Bu Santi pintar memasak dan masakannya sangat enak.
Anak gadis Bu Santi juga sudah aku anggap seperti saudaraku. Meski terkadang dia bersikap tidak baik padaku, tapi tetap saja aku menyayanginya.
Bertambah hari ternyata aku jatuh cinta pada anak gadis Bu Santi. Dia adalah Asti. Bu Santi sangat mendukung niatku menikahi Asti.
Namun, untuk sementara ini, aku pacaran dulu dengannya. Aku ingin Asti bisa lebih mengenal dan belajar mencintaiku. Aku akan sabar menunggu dan selalu menjadi pelindungnya, sampai dia merasa siap untuk menjadi istriku.
Aku tahu, Asti tidak mencintaiku. Namun, aku yakin dengan kesabaranku, dia akan belajar mencintaiku.
Beberapa hari setelah Asti kerja di sebuah studio rekaman, sikapnya mulai berubah padaku. Dia sering sibuk dan jarang berinteraksi denganku.
Dia mulai dekat dengan bosnya, seorang pria muda yang tampan dan mapan. Setidaknya itu yang diceritakan Lala kepadaku. Lala adalah sahabat Asti yang kebetulan juga teman kerjaku.
Semula aku tidak begitu menganggap cerita Lala tentang bos muda yang dekat dengan Asti, karena memang Lala menaruh hati padaku.
Akan tetapi, malam itu aku melihat sendiri bagaimana keakraban Asti dengan bosnya yang memang masih muda dan tampan, ketika mereka sedang makan malam di restoran tempatku bekerja.
Memang mereka tidak melakukan hal yang melanggar norma, tapi melihat sorot mata Asti ketika mereka bercanda tawa tidak bisa berbohong. Aku tau kalau Asti menyukai lelaki itu, begitu juga sebaliknya.
Menurut pengakuan Asti, hubungan dia dengan bosnya hanyalah sebatas atasan dan bawahan. Yah, aku percaya saja. Aku tahu pada akhirnya nanti Asti akan menyadari ketulusan cinta yang kuberikan.
***
Malam itu entah kenapa aku sangat gelisah, sudah tiga hari Asti ke Bogor untuk shooting video klip pertamanya. Karena perasaanku tidak enak, akhirnya aku memutuskan untuk mengunjungi Bu Santi.
Namun sesampainya di sana, rumah itu sepi. Lampu terasnya juga masih padam. Sepertinya Bu Santi belum pulang kerja. Ini aneh, biasanya sore hari beliau sudah pulang. Warung makan tempat Bu Santi bekerja hanya buka sampai sore. Apa mungkin Bu Santi lembur?
Aku mencoba menelepon Ani, temanku yang bekerja juga di warung makan itu. Ponselku terhubung dengannya dan berdering.
"Halo, Reza!"
"Ani, apa hari ini Bu Santi kerja lembur?"
"Oo, maaf Reza, aku tadi panik jadi lupa memberitahukan kamu. Bu Santi mengalami kecelakaan kerja, sekarang dia ada di Rumah Sakit Med*ka."
" Innalillahi ... kecelakaan kerja bagaimana maksudmu, An?"
"Tadi waktu menggoreng ikan, Bu Santi ketumpahan minyak panas, sepertinya beliau sedang tidak fokus kerja. Kedua kakinya melepuh dan tadi langsung di bawa oleh Bu Maya ke rumah sakit. Aku belum sempat melihat keadaannya, karena anakku rewel. Jadi, aku langsung pulang."
"Baiklah An, terima kasih infonya. Aku segera ke rumah sakit." Aku menyudahi panggilan dengan Ani. Segera kupacu motor menuju Rumah Sakit Med*ka. Ya Allah, ternyata perasaan gelisahku tadi karena memikirkan Bu Santi.
Bu Santi benar-benar sudah seperti ibuku sendiri. Aku seperti punya ikatan batin dengan beliau. Semoga tidak terjadi apa-apa padanya, sementara Asti masih di Bogor. Sebaiknya aku tidak usah mengabari Asti dulu. Toh, besok dia sudah pulang, aku tak mau gadis itu panik memikirkan ibunya.
Namun, aku tetap menelepon Asti. Aku hanya menanyakan kabarnya, mengingatkannya untuk makan serta menjaga dirinya. Entah kenapa perasaanku tidak tenang malam itu. Sepertinya aku merasa terjadi sesuatu pada Asti. Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Semoga Asti baik-baik saja.